Basa-Basi
Story by: Fidhil Rahyan
Setiap orang pasti punya kekurangan. Begitu juga dengan Helmi. Dia adalah seorang pria yang memiliki kekurangan yang terletak di telinga. Dia tidak bisa mendengar layaknya orang normal pada umumnya. Jika orang normal mendengar perkataan orang lain dengan sangat mudah, maka tidak dengan Helmi. Saat orang lain berbicara, yang bisa ia dengar hanyalah kesunyian.
Bukan tanpa alasan dia menjadi orang yang tuli. Kelainan ini, ia dapat saat duduk di bangku kelas 4 SD. Saat itu, sepulang sekolah, sedang ada band yang tampil di pentas pada acara pernikahan. Helmi dan beberapa teman-temannya berhasil menerobos ke bagian paling depan penonton.
Untuk pertama kalinya, Helmi yang masih kecil melihat speaker besar berwarna hitam. Tentu ia tidak tau fungsi alat itu, sehingga ia bertanya pada temannya, “Itu fungsinya untuk apa?”
Temannya menjawab, “Untuk mendengar lebih jelas,” dan tanpa pikir panjang, Helmi menempelkan telinganya di speaker itu, tepat saat musik paling keras pada lagu yang dimainkan berbunyi.
Sejak saat itu, Helmi dinyatakan tuli total, dan ia harus memakai alat pendengar di salah satu telinganya agar ia bisa mendengar suara layaknya orang normal pada umumnya. Namun, meskipun ia sudah memakai alat pendengar, terkadang ia masih tetap tidak bisa mendengar suara dengan jelas, terutama saat alat itu tiba-tiba rusak.
Hal ini terjadi pada satu bulan yang lalu, saat Helmi menyatakan cintanya kepada wanita yang ia sukai, bernama Rini. Tempatnya terjadi di Restoran Arjawai yang dekat dengan rumah Helmi. Tepat setelah ia menembak Rini, alat pendengarnya rusak, dan ia tidak bisa mendengar jawaban Rini. Sehingga ia harus memberitahu Rini tentang hal itu.
Namun, tanpa Helmi duga, Rini menurunkan alisnya, dan mengetik sesuatu di ponselnya. Kemudian, ponsel Helmi yang ada di saku tiba-tiba bergetar dan terdapat pesan WhatsApp dari Rini yang tertulis, “Maaf, gue nggak bisa nerima kekurangan lo.”
Jleb! Hati Helmi hancur. Rini yang berada di depannya lalu mengeluarkan uang 70 ribu, meletakkannya di meja, dan pergi dari situ, meninggalkan Helmi yang sedang patah hati. Kejadian itu, sangat membekas di ingatan Helmi, sehingga Helmi mempunyai prinsip: siapapun wanita yang ia sukai, maka wanita itu tidak boleh tau tentang kekurangannya ini.
“Udahlah, Hel. Jujur aja! Lo bakal kesulitan. Karna cepat atau lambat, dia pasti bakal tau tentang kekurangan lo,” ucap Joni, teman Helmi yang sedang main ke rumahnya. Dia memang sering main ke rumah Helmi. Mereka senang membahas tentang film-film yang mereka sukai, olahraga yang mereka gemari, dan game yang mereka senangi. Saat ini, Helmi baru saja memberitahu Joni tentang prinsipnya tersebut.
Setelah mendengar respon dari Joni, Helmi membalas, “Oh, tentu tidak. Lo nggak liat nih rambut gue?” tanya Helmi sambil menunjukkan rambutnya yang panjang hingga menutupi telinganya yang dipasangi alat pendengar. Orang asing tidak akan tau, apa yang ada di telinga Helmi. Bahkan semut pun tidak akan menyadarinya.
“Selain itu, gue juga pakai ini buat nyari cewek,” Helmi menunjukkan aplikasi Cari Teman di ponselnya, sebuah aplikasi chatting dengan orang asing untuk mencari teman. Namun kebanyakan orang menggunakannya untuk mencari seseorang yang mereka sebut lebih dari teman. Sama halnya dengan Helmi. Ia sudah menggunakan aplikasi itu selama tiga hari dan ia mendapat seorang teman wanita, bernama Salma.
Helmi tertarik dengan Salma dan mulai chattingan dengannya. Isi dari awal percakapan mereka adalah kenalan, basa-basi, dan basa-basi lagi hingga Helmi menyadari bahwa Salma adalah teman SD-nya yang pindah sekolah waktu ia kelas 4 SD. Tepat saat Helmi mulai dinyatakan tuli.
Itu berarti, Salma tidak tau tentang kondisi yang dialami Helmi, sehingga ia bisa merahasiakan kekurangannya ini kepada teman lamanya yang sekarang ia sukai. Ia bisa menggunakan prinsipnya.
Setelah satu hari berlalu dari awal chattingan-nya dengan Salma, Helmi lalu mendapat izin untuk mem-follow Instagram Salma, dan di-follback oleh Salma. Saat melihat foto-foto di Instagram Salma, hal yang pertama kali muncul dipikiran Helmi adalah Salma sangat berbeda dengan yang terakhir kali ia lihat sewaktu SD.
Itu jelas. Tetapi hal yang sangat membedakannya adalah cara ia berpakaian. Semua foto yang ia post, tidak ada satu pun yang tidak memakai jilbab. Feed Instagramnya dipenuhi oleh dirinya yang memakai jilbab.
Helmi bisa menarik kesimpulan bahwa dia adalah wanita yang soleha. Tetapi, itu bukan berarti Helmi akan memberitahu kalau ia tuli. Helmi akan tetap merahasiakan kekurangannya ini.
Satu bulan telah berlalu. Hubungan Helmi dan Salma semakin erat. Mereka yang awalnya chatting di aplikasi Cari Teman, kemudian beralih ke Instagram. Dari Instagram, mereka lalu beralih ke WhatsApp. Sekarang, foto profil WhatsApp Salma berada di paling atas. Salma adalah salah satu kontak yang ia pin selain bos kantornya yang suka menyuruh dia lembur secara tiba-tiba.
Hari-hari Helmi dalam satu bulan terakhir ini dipenuhi dengan chatting bersama Salma. Tak ada satu minggu tanpa chatting bersama Salma. Setidaknya sekali, setiap tiga hari. Ada masa di mana seharian Helmi tidak chatting dengan Salma. Itu pun saat ia sibuk dengan kerjaan kantornya, dan saat ia pulang ngantor di sore hari, ia super lelah. Tetapi, Salma yang baik hati, mengerti akan hal itu.
Tempat ia menghabiskan waktunya untuk chattingan juga bervariasi. Kadang di rumahnya, di kantor, bahkan di rumah Joni. Meskipun mereka—bisa dibilang—sudah cukup mengenal satu sama lain, Salma masih tidak tau tentang kekurangan Helmi. Saat ini, rahasia Helmi masih tertutup rapat.
“Serius lo?” tanya Joni yang tidak percaya. Helmi yang baru pulang dari kantor dan mampir ke rumah Joni itu lalu membalas dengan anggukan. “Satu bulan chattingan, dan dia masih nggak tau kalo lo itu tuli?”
“Yoi,” jawab Helmi, “Lihat, dugaan lo waktu itu salah kan?”
Joni menyangkal, “Enggak, enggak. Gue bilang ‘cepat atau lambat’. Siapa tau besok dia sudah mulai curiga. Saat lo ketemu ama dia, terus tiba-tiba alat pendengar lo rusak gitu.”
Helmi tersenyum tengil dan menjawab, “Ketemu aja nggak pernah nih.”
Mata Joni membesar. Sekali lagi, dia tidak percaya, “Serius lo?”
“Iya. Satu bulan ini kami nggak pernah ketemuan, cuma chattingan doang.”
Joni terdiam. Tak lama, dia memukul meja di depan dan berkata, “Kalo gitu, lo harus ketemuan sama dia.”
“Ah, enggak.”
“Hel! Gimana lo mau pacaran sama dia, kalo ketemuan aja nggak pernah?” pertanyaan Joni membuat Helmi berpikir kembali. Joni melanjutkan, “Ayolah, ajak dia nge-date! Setidaknya sekali.”
Helmi lalu memikirkan saran Joni. Jika ia tidak pernah ketemuan sama Salma, besar kemungkinan ia tidak akan pacaran, dan chat mereka akan berakhir secara tiba-tiba. Tapi jika ia ketemuan sama Salma, besar kemungkinan juga Salma akan mengetahui tentang kekurangan Helmi, sehingga rahasia Helmi terbongkar.
Tapi, Helmi berpikir lagi: jika ia ketemuan sama Salma, dan Salma masih tidak tau tentang kekurangan Helmi, maka perkataan Joni terbukti salah. Sehingga Joni tidak perlu lagi menyuruh Helmi untuk jujur akan kondisinya.
“Gimana?” tanya Joni. Helmi yang sejak tadi memegang ponsel lalu menoleh Joni. Sampai akhirnya, ia menerima saran Joni.
Helmi mengetik pesan WhatsApp di ponselnya: “Salma. Weekend ini kamu kosong nggak?” lalu mengirimnya ke Salma. Ia tidak sabar menunggu jawaban Salma, dan karena hari sudah petang, Helmi lalu pamit pulang.
Di malam harinya, tepatnya tiga jam setelah Helmi pamit pulang, Joni lalu ditelpon oleh Helmi. “Gawat Jon!” teriak Helmi. Joni yang kaget lalu bertanya, dan Helmi menyuruh Joni untuk ke rumahnya.
Joni datang ke rumah Helmi, dan Helmi memberitahu kalau Salma menerima ajakan Helmi untuk nge-date. Tempatnya di Restoran Arjawai, pada malam Minggu nanti. “Ya bagus dong,” ucap Joni.
Helmi lalu menjawab, “Iya sih bagus. Tapi, gue takut kalo tiba-tiba alat pendengar gue ini rusak, dan dia tau kalo gue ini tuli.”
“Ya bagus dong. Berarti dugaan gue bener.”
Helmi lalu memohon pada Joni, “Please, Jon, bantu gue! Nanti pas gue nge-date, lo tinggal di sini aja! Terus kalo gue nge-whatsapp minta ambilin alat pendengar, lo ambilin di situ!” Helmi menunjuk sebuah kotak yang ada di atas lemari setinggi pinggang. Kotak itu berisi banyak alat pendengar.
“Aduh, Hel! Kenapa sih lo nggak jujur aja?” tanya Joni, kesal.
“Ayolah, Jon. Please!” bujuk Helmi.
“Nggak.”
“Gue kasih 50 ribu deh.”
“Nggak.”
“100 ribu?”
“Nggak.”
“Yaudah, gue kasih setengah gaji gue.”
“Oke, siap!”
“Deal ya?”
“Deal!” mereka lalu berjabat tangan.
***
Malam Minggu pun tiba. Helmi sudah berada di Restoran Arjawai, pada meja nomor 9, dengan menggunakan baju yang sangat rapi. Dia menoleh jam tangannya, menarik dan menghembuskan napasnya. Dari kejauhan, ia lalu melihat seorang wanita dengan memakai jilbab yang sedang melihat kiri-kanan. Ia yakin itu Salma, sehingga ia berdiri dan memanggilnya, “Salma!”
Wanita itu menoleh, dan langsung menghampiri Helmi. Dia menunjuk Helmi dan bertanya, “Helmi?”
Helmi tersenyum dan membalas, “Iya dong.”
Salma tertawa dan mereka lalu cipika-cipiki. “Udah lama nunggu?” tanya Salma.
“Nggak juga,” jawab Helmi, ”Silakan duduk!” mereka berdua lalu duduk secara bersamaan dan saling berhadapan. Helmi lalu bertanya, “Kamu apa kabar?”
“Baik,” jawab Salma sambil tersenyum dengan senyum yang membuat hati Helmi luluh.
Helmi lalu mengangguk-ngangguk, sebuah respon atas jawaban Salma. Ia lalu bertanya lagi, “Tadi naik apa?”
“Naik ojek online,” jawab Salma. Kemudian hening. Hanya suara bincang orang-orang di sekitar mereka yang terdengar. Helmi tersenyum, Salma lalu membalasnya. Helmi terlalu takut dengan alat pendengarannya yang tiba-tiba rusak, sampai ia tidak terpikir untuk takut akan ada kecanggungan antara mereka. Hingga hal itu pun terjadi.
Saat ini, mereka hanya duduk berhadapan, saling senyum, mengangguk, dan tak bersuara. Selama satu bulan ini, sudah banyak topik yang mereka bicarakan lewat chat, sehingga mereka kehabisan bahan obrolan.
Helmi lalu melihat buku menu, mengambilnya, dan bertanya, “Langsung pesan aja kali ya?”
“Oh. Iya,” jawab Salma sambil mengambil buku menu. Helmi membuka buku menu, dan bukannya membaca menu-menu yang ada, ia malah memikirkan apa yang akan ia bicarakan pada Salma.
Mereka sudah pernah membahas tentang pekerjaan, keluarga, teman dekat, hobi, hingga film-film kesukaan mereka masing-masing. Sehingga Helmi bingung mau membahas tentang apa lagi. Salma lalu berkata, “Gue pesen ini aja deh, steak.”
Helmi terdiam. Kemudian ia menjawab, “Iya. Gue juga.” Salma lalu menutup buku menu, dan memanggil pelayan.
Seorang pelayan datang, menanyakan pesan, dan Salma menjawabnya. Mereka memesan pesanan yang sama: steak dengan tingkat kematangan medium-rare. “Minumnya?” tanya pelayan tersebut.
Helmi dan Salma saling pandang. Lalu, secara spontan, Helmi menjawab, “Lemon ice!” dan dengan bahasa isyarat, Salma mengatakan, “Aku juga,” Helmi yang mengerti lalu berkata pada pelayan, “Dua.”
“Oke,” kata pelayan itu seraya pergi dari situ membawa buku catatan yang ia pegang.
Karena Helmi tidak mau kesunyian melanda mereka lagi, ia lalu mendapatkan topik untuk mereka bicarakan. Dan ia pun mulai membuka mulut dan berkata, “Kamu udah pernah ke sini sebelumnya?”
Salma menoleh dan menjawab, “Sudah. Sekali. Bareng temen. Kalo kamu?”
“Restoran ini deket rumah gue, jadi gue lumayan sering,” jawab Helmi.
Selanjutnya, obrolan mereka mengarah ke berbagai topik. Helmi cukup bersyukur keheningan tidak melanda mereka lagi. Ia juga bersyukur alat pendengarnya tidak rusak.
Setelah kurang lebih 7 menit mereka bicara, pesanan lalu tiba. Dua steak medium-rare dan dua lemon ice itu ditaruh di meja mereka. Bau steak yang menyengat membuat Helmi segera mengambil pisau dan garpu, lalu siap untuk menyantap.
Ia memotong daging sapi tersebut seraya bertanya pada Salma, “Kamu udah pernah makan ini?”
Salma menjawab sambil memotong steak-nya, “Kalo di sini sih, belum. Tapi kalo di restoran lain, sudah. Dan kalo lu mau tau,” Salma menurunkan volume suaranya, “Di FidResto, steak-nya nggak enak loh,” kata Salma, memberikan pegalaman lidahnya saat mencicipi steak di suatu restoran yang ia sebut FidResto.
Dia lalu mengangkat satu potong daging steak dengan garpu dan berkata, “Berharap, steak yang ini nggak sama kayak di restoran itu.”
“Semoga,” jawab Helmi lalu melahap sepotong daging steak yang sudah ia iris. Berutung, daging yang masuk ke mulut Helmi lumayan enak. Ia lalu menoleh Salma, berpikir apakah steak ini enak baginya? Kemudian, Salma lalu bicara dengan pelan, hingga Helmi tak bisa mendengar dengan jelas.
“Apa?” tanya Helmi. Salma lalu berkata lagi. Kali ini, ia tidak pelan, tetapi tidak bersuara. Helmi kaget, karena ia menyadari alat pendengarannya rusak. Rasa ingin mengumpat, dan ingin membalikkan meja di depan pun muncul. Helmi benci hal yang ia takutkan terjadi.
Salma lalu menunjukkan ekspresi bingung, dan ia terlihat mengajukan pertanyaan pada Helmi. Helmi lalu berkata, “Sorry, gue ke toilet dulu ya,” Salma mengangguk dan Helmi beranjak dari tempat duduknya.
Ia berjalan dengan gesa melewati meja-meja, dan masuk dengan cepat ke dalam toilet. Di depan wastafel dan cermin, Helmi mengirimkan pesan WhatsApp ke Joni: “Jon. Bawa alat pendengar gue sekarang!”
Di depan televisi yang ada di ruang tengah rumah Helmi, Joni duduk di atas sofa dan melihat pesan dari Helmi. Ia lalu tertawa dan berkata, “Gue bilang juga apa,” sambil membalas pesan Helmi: “Sudahlah, Hel. Jujur aja! Kan udah gue bilang, lo bakal kesulitan.”
Helmi lalu kesal, ia menggaruk kepalanya, dan mengirim pesan suara pada Joni, “Iya deh, lo bener. Tapi, cepat bawain sekarang! Ingat, setengah gaji gue milik lo.”
Joni yang mendengar pesan suara tersebut lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia berdiri dari sofa, menuju lemari yang menyimpan sekotak alat pendengar, lalu mengambilnya satu. Kemudian, ia menuju pintu keluar, siap membawakan alat pendengar tersebut pada Helmi.
Karena jarak antara rumah Helmi dan Restoran Arjawai yang dekat, Joni lalu tiba hanya dalam waktu 1 menit. Ia masuk ke dalam restoran, melewati Salma yang sedang sibuk melahap steak-nya, dan tiba di toilet. Ia masuk ke dalam toilet dan langsung dihampiri oleh Helmi.
Joni menyerahkan alat pendengar tersebut dan Helmi langsung memakainya di telinga kanannya. Helmi juga menyerahkan alat pendengarnya yang rusak kepada Joni seraya berkata, “Nih, bawa ke rumah!” kemudian, dia langsung keluar dari toilet meninggalkan Joni.
Ia berjalan dengan normal melewati meja-meja, dan kembali duduk di tempat duduknya dengan tenang. Salma menoleh Helmi dan bertanya, “Kamu kenapa? Kok tiba-tiba ke toilet?”
“Kebelet pipis,” jawab Helmi sambil cengengesan.
“Oh. Tadinya aku pikir, kamu mau....” perkataan Salma lalu terhenti tiba-tiba. Helmi pikir Salma memang berhenti bicara, namun ia kaget saat melihat mulut Salma masih bergerak dan tak mengeluarkan suara. Sungguh sial. Alat pendengar yang dibawakan Joni ternyata juga rusak.
Salma terlihat tertawa, Helmi ikut tertawa. Salma terlihat bertanya, Helmi hanya terdiam. Salma terlihat bertanya lagi, Helmi masih terdiam. Salma menurunkan alisnya, dan Helmi pun menghela napas. Ia akhirnya menyerah, dan berniat untuk mengaku.
“Salma. Sebelumnya maafin gue,” Salma mendengarkan, “Ada sesuatu yang gue belum bilang ke kamu sejak awal kita chattingan.”
“Apa?” tanya Salma walau Helmi tidak bisa mendengar. Ia hanya membaca dari gerakan mulut Salma.
Helmi menghela napas, dan melanjutkan, “Sebenarnya gue... tuli,” Salma terlihat kaget. Helmi lalu melepas alat pedengarnya dari telinga dan berkata, “Alat pendengar ini rusak, dan... sekali lagi, gue minta maaf.”
Saat itu, Helmi sudah siap untuk ditinggalkan oleh Salma. Namun, tanpa Helmi duga, Salma tersenyum. Dia membuka sedikit jilbabnya, dan menunjukkan telinganya yang juga dipasangi alat yang sama dengan yang dipegang Helmi.
Helmi yang kaget lalu bertanya, “Tunggu dulu. Kamu..?”
Salma lalu mengangguk, dan dia bicara dengan bahasa isyarat: “Aku juga tuli.”
Helmi lalu bertanya dengan bahasa isyarat: “Sejak kapan?”
Salma lalu menjelaskan bahwa ia dinyatakan tuli sejak kecil. Tepatnya, pada kelas 4 SD. Saat itu, sepulang sekolah, sedang ada band yang tampil di pentas pada acara pernikahan. Dan dengan bodohnya, Salma yang masih kecil menempelkan telinganya pada speaker besar bersama dengan seorang teman sekelasnya yang ia lupa. Tapi, sekarang ia ingat, orang itu adalah Helmi.
Helmi merasa tidak percaya dan ia lalu tertawa. Begitu juga dengan Salma. Helmi lalu mengajukan pertanyaan yang sebenarnya juga harus diajukan ke dirinya: “Kenapa kamu nggak ngasih tau aku tentang hal ini dari awal?”
Masih dengan bahasa isyarat, Salma menjawab kalau ia malu untuk memberitahukan kekurangannya. Bahkan, sejak ia dinyatakan tuli, ia merasa tidak percaya diri sehingga ia memutuskan untuk pindah sekolah serta pindah kota. Ia takut teman-temannya tidak akan menerima kekurangannya ini.
Tetapi, sekarang, ia—dan Helmi—sadar. Buat apa susah-susah menyembunyikan kekurangan yang dimiliki? Mereka sudah hidup susah dengan kekurangan yang ada. Biarlah orang lain memutuskan untuk menerima kekurangan mereka atau tidak. Dan mereka tau, orang yang baik mau menerima dengan tulus.
Helmi lalu tersenyum, dibalas dengan senyuman Salma yang membuat hati Helmi luluh. Kemudian, mereka menggerakkan tangan, berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Meski keheningan menerpa mereka, namun itu tidak masalah. Mereka adalah dua orang dengan kekurangan yang sama.
Mereka, dua orang yang duduk pada satu meja di malam Minggu yang indah, dan berbasa-basi tanpa suara.
Cerita pertama di Cerpen Fid. Diawali dengan "Basa-Basi"
BalasHapus