Anomali Suatu Desa

Story by: Fidhil Rahyan

Desa Imarado Nelaha, sebuah desa yang terletak di hutan. Tidak sedikit area yang dipenuhi  pohon, dan penduduknya juga tidak begitu ramai. Namun meskipun begitu, desa ini masih tidak bisa lepas dari yang namanya ketenangan. Terkadang ada teriakan, keributan, dan pertengkaran yang menggebu di desa ini.

Seperti yang terjadi pada suatu malam Jumat.

Saat itu, Pak Bendi baru saja pulang dari perpustakaan desa membawa sebuah buku. Memang, semenjak istrinya meninggal dan anaknya kerja di kota, meminjam buku dari perpustakaan sudah menjadi kebiasaannya. Untuk ke sana, ia akan mengambil jarak terdekat dari rumah, yaitu lewat belakang rumahnya.

Ia hampir sampai ke rumah, namun ia dikagetkan dengan kedatangan seseorang, “Waduh! Pak Rama bikin kaget saja,” ucap Pak Bendi. Ia melihat wajah Pak Rama yang tegang dan cemas sambil sesekali menoleh ke belakang.

“Pak Bendi, tolong! Ada hantu yang ngejar saya!” ucap Pak Rama.

“Ah. Ada-ada saja,” bantah Pak Bendi, “Yang namanya hantu tuh nggak ada.”

Pak Rama menggenggam kerah baju bagian depan Pak Bendi dan berbisik, “Dia masuk ke tubuh orang.”

Pak Bendi mendorong Pak Rama hingga genggamannya terlepas, “Jangan mengada-ngada, Pak. Sudah saya bilang hantu itu nggak ada. Sudah. Pulang saja ke rumah!” ucap Pak Bendi seraya pergi menuju rumahnya.

Pak Bendi masuk ke rumahnya lewat pintu belakang, lalu menuju kamar. Ia melihat buku yang ia pinjam: Monster di Antara Kita. Kemudian ia berbaring di atas kasur, membuka buku itu, dan membacanya.

Lima menit kemudian, saat Pak Bendi asyik membaca, ia lalu terhenti karena mendengar suara teriakan dari belakang rumahnya. Karena penasaran, ia lalu membuka tirai jendela kacanya dan melihat ternyata itu Pak Rama yang sedang berlari. Namun ia tidak sendiri, ada suatu makhluk yang mengejarnya.

Larinya lumayan cepat, tubuhnya ditutupi oleh kegelapan. Pak Bendi tidak bisa melihatnya dengan jelas karena ia kaget dan reflek menutup tirai. Ia terduduk di atas kasurnya dengan jantung yang berdebar-debar sambil bertanya-tanya, “Apa itu?”

Ia lalu menoleh ke sebelah kiri, terdapat buku yang ia baca tadi. Buku tentang monster yang mungkin ada di sekitar mereka. Monster yang mungkin ada di desa mereka.

***

Keesokan paginya, para warga berkerumun di belakang rumah Pak Bendi. Pak Bendi yang baru bangun tidur menghampiri mereka yang ternyata sedang melihat mayat yang penuh dengan luka, darah, dan semua orang mengenalnya dengan nama Pak Rama. Sontak, Pak Bendi tertegun dan merasa bersalah karena mengabaikan perkataan Pak Rama semalam. Namun ia juga menyalahkan Pak Rama yang tidak mengikuti perkataannya untuk segera pulang ke rumah.

Ia lalu melihat seorang pria bertopi dan memegang pipa rokok, serta berada paling dekat dengan mayat. Pak Bendi mengenalnya dengan nama Zino. Detektif Zino.

Dia adalah seorang yang baru tinggal di Desa Imarado selama 2 minggu. Ada yang bilang, tujuannya ke sini adalah untuk menyelidiki desa yang penuh misteri ini.

Ia menghirup rokok dari pipanya dan mendekati salah satu warga yang bernama Pak Fedi. Ia bertanya pada Pak Fedi, “Kalo bapak? Apakah bapak dengar teriakan semalam?” Pak Fedi hanya diam, seolah tidak ada yang bicara dengan dia. Zino lalu berdehem dan memegang pundak Pak Fedi sambil memanggilnya, “Pak?”

Pak Fedi tersadar dan menoleh Zino. Zino kembali bertanya, “Teriakan semalam? Apa bapak juga mendengarnya?” Pak Fedi hanya menggelengkan kepalanya.

Pandangan Pak Bendi lalu teralihkan saat melihat beberapa warga yang berbondong-bondong ke suatu bangunan tua yang biasa menjadi tempat untuk para warga berdiskusi, rapat, dan mengadakan musyawarah. Pak Bendi lalu mendekati bangunan tua tersebut.

Di dalam bangunan tua, Para warga duduk di bangku yang sudah disusun menghadap podium yang ditempati oleh salah satu warga bernama Pak Surya. Ia mengatakan kepada para warga yang ada di situ bahwa ada hantu di Desa Imarado yang telah membunuh Pak Rama.

Dikutip dari buku yang ditulis Pak Rama, Pak Surya mengatakan bahwa hantu tersebut bisa masuk ke tubuh seseorang dan mengambil alih tubuhnya. “Mungkin saja, hantu itu masuk ke tubuh salah satu warga kita, dan menggunakannya untuk membunuh Pak Rama,” ucap Pak Surya.

Pak Bendi yang baru saja masuk lalu berteriak dan menyangkal perkataan Pak Surya. Ia berjalan menuju podium, menyingkirkan Pak Surya dan mengambil alih podium tersebut. Ia berkata, “Kalian semua, jangan percaya dengan ucapan Pak Surya!”

Ia lalu melanjutkan, “Hantu itu tidak nyata. Pak Rama terbunuh bukan karena makhluk yang Pak Surya sebut hantu itu.” 

Para Warga lalu ribut dan saling bicara satu sama lain. Salah satu warga lalu bertanya, “Terus, kalo bukan hantu, apa?”

Dengan perlahan, Pak Bendi menjawab, “Monster,” para warga terdiam. Dikutip dari buku yang ia baca semalam, Pak Bendi berkata, “Salah satu monster yang mungkin adalah monster pengubah bentuk. Dan mungkin saja, monster itu ada di antara kita. Dia menyamar sebagai salah satu warga dan bersiap untuk membunuh.”

Para warga saling pandang dan bicara satu sama lain. Pak Surya hendak membalas pendapat Pak Bendi, “Tapi Pak Bendi, kalo memang begitu, kenapa...”

“Diam! Anda tidak tau apa-apa tentang monster,” potong Pak Bendi.

“Iya, saya ngerti.. Tapi maksud saya gini...”

“Ah sudah!” kata Pak Bendi setengah teriak.

Kepala Desa Imarado, Pak Anaz, lalu mengambil alih podium dan memberitahu waktu pemakaman Pak Rama akan diadakan tengah hari. Pak Anaz lalu mengajak para warga untuk mengenang dan mendoakan Pak Rama.

Hampir seluruh warga desa menghadiri proses pemakaman Pak Rama. Pak Bendi melihat peti jenazah yang perlahan dimasukkan ke dalam galian. Ia lalu menoleh Detektif Zino yang menulis sesuatu dari buku kecilnya yang berwarna hitam. Pipa rokok juga tidak lepas dari mulutnya.

Pak Bendi juga menoleh Pak Surya yang masih memegang buku peninggalan Pak Rama, sehingga mengingatkannya dengan suatu hal. Ia pun membalikkan badannya, dan pulang menuju rumah.

Di atas kasurnya yang masih berantakan, Pak Bendi lanjut membaca buku  Monster di Antara Kita, hingga ia menemukan jenis-jenis monster yang lainnya. Ia juga menemukan fakta bahwa jika monster pengubah bentuk berubah menjadi manusia dan dibunuh, monster tersebut akan berubah menjadi wujud aslinya sebagai monster.

Setelah seperempat jam dari awal ia membaca, seseorang lalu mengetok pintu rumahnya. Pak Bendi membuka pintu dan ternyata itu adalah Detektif Zino. Ia menyapa dan bersalaman dengan Pak Bendi.

Kemudian, ia berkata, “Untuk menindaklanjuti kasus kematian Pak Rama, saya berinisiatif untuk menyelidiki kasus ini. Dan karena lokasi kematiannya dekat dengan rumah Bapak, saya mau tanya beberapa hal. Boleh?”

“Dengan senang hati,” jawab Pak Bendi.

Detektif Zino lalu mengambil buku kecilnya dari saku belakang dan membukanya. Lalu ia bertanya, “Apakah semalam Bapak sempat bertemu dengan Pak Rama?”

“Ya. Semalam, saya pulang dari perpustakaan dan ketemu dia di belakang. Terus, wajahnya cemas. Dia bilang kalau dia sedang dikejar. Dan saya yakin, kalau dia sedang dikejar oleh monster.”

Detektif Zino mengernyitkan alisnya, dan menutup buku kecilnya, “Bapak serius?”

“Ya, iya lah. Dari buku yang saya baca, ada beberapa jenis monster yang mungkin saja telah membunuh Pak Rama,” jelas Pak Bendi.

Detektif Zino menghirup rokok dari pipa, dan saat ia ingin bicara, Pak Bendi memotongnya, “Sebentar!” lagi-lagi, ia melihat beberapa warga berjalan menuju bangunan tua. “Kita bahas lagi nanti,” ucap Pak Bendi lalu berlari menuju bangunan tua tersebut.

Di dalam bangunan tua, podium ditempati kembali oleh Pak Surya. Ia mengatakan kepada para warga yang hadir di situ bahwa ia telah berhasil menemukan beberapa petunjuk mengenai hantu yang ia bicarakan.

Dikutip dari buku peninggalan Pak Rama, ia memberitahu bahwa hantu itu disebut Sabta, Hantu Sabta (H.Sabta). Hantu tersebut dapat masuk ke tubuh seseorang, menetap, dan mengambil alih tubuhnya di waktu malam.

Salah satu warga membalas, “Tunggu dulu, menetap? Berarti satu-satunya cara untuk mengeluarkan monster itu adalah dengan membunuh orang yang ia rasuki?”

“Iya, tapi itu bukan satu-satunya cara,” jawab Pak Surya. Ia lalu melanjutkan, “Cara itu memang berhasil, dan siapapun yang membunuhnya dapat melihat hantu itu. Tetapi, kita semua tau kalau membunuh adalah perbuatan yang salah.”

Para warga mengangguk-ngangguk. Pak Surya lalu mengangkat buku peninggalan Pak Rama seraya berkata, “Itu sebabnya, saya memilih untuk menggunakan cara lain yang disebut mantra. Jika orang yang dirasuki dibacakan mantra, maka hantu itu akan keluar dan siapapun yang mendengar mantra itu, akan dapat melihat hantu tersebut.”

Salah satu warga lalu bertanya, “Mantranya gimana?” Pak Surya lalu membuka buku peninggalan Pak Rama dan berniat membaca mantra tersebut, namun Pak Bendi masuk ke tempat itu dan berteriak.

Semua orang memperhatikan Pak Bendi yang berjalan menuju podium. Dia menyingkirkan Pak Surya dan mengambil alih podium tersebut. Kemudian, ia berkata, “Kalian semua, jangan percaya dengan ucapan Pak Surya! Sudah saya bilang kalau monster lah yang telah meneror desa kita, bukan hantu.”

Para Warga lalu ribut dan saling bicara satu sama lain. Salah satu warga lalu bertanya, “Tapi, apa buktinya?”

Pak Bendi tersenyum tengil, “Dari buku yang saya baca, ada beberapa jenis monster yang mungkin, yaitu monster pengubah bentuk, monster cepat, dan monster pengendali pikiran. Dan semua jenis monster itu bertujuan untuk membunuh manusia. Mereka ingin membuat kita punah.”

Pak Surya lalu berniat membalas dengan bertanya, “Tapi Pak Bendi, apa yang...”

“HEY! Anda tadi sudah bicara, sekarang giliran saya!” potong Pak Bendi.

“Iya Pak. Saya tau. Tapi, tadi saya belum selesai.”

“Ah! Saya tidak peduli! Pendapat Anda jelas-jelas tidak bisa dipercaya.”

Salah satu warga lalu mengangkat tangannya. Pak Bendi dan Pak Surya menoleh orang itu. Dia berkata, “Saya percaya.”

Warga lainnya juga mengangkat tangan dan berkata, “Saya Juga.” Kemudian, beberapa warga juga melakukan hal yang sama. Hampir seluruh orang yang hadir di tempat itu, percaya dengan ucapan Pak Surya. Pak Bendi lalu memukul podium dan pergi dari situ.

***

Malam hari pun tiba. Di atas kasur, Pak Bendi berbaring sambil memikirkan pendapatnya yang tidak dipercayai banyak orang. Kemudian, ia bangkit, duduk dan melihat seseorang di belakang rumahnya melalui jendela.

Dengan membawa senter, ia lalu pergi ke belakang dan menemui orang itu. Samar-samar, terlihat ia hanya berdiri, sambil sesekali menggerakkan kepalanya. Pak Bendi mengarahkan senter ke orang itu dan dia langsung menoleh.

Pak Bendi mengenal orang itu. Ternyata, ia adalah Pak Fedi. Namun ada yang beda: matanya merah dan wajahnya putih pucat. Pak Bendi kaget dan Pak Fedi langsung berlari menghampirinya. Melihat itu, Pak Bendi spontan berlari.

Ia terus berlari sekuat tenaga sambil sesekali melihat ke belakang. Wajah Pak Fedi sungguh menyeramkan. Ia lalu berbelok ke arah kiri dan bersembunyi di balik batu besar. Dengan jantung yang berdetak kencang, ia berharap tidak ditemukan.

Pak Fedi lalu berhenti di depannya, ia menoleh kiri-kanan dan lanjut berlari menjauhi Pak Bendi. Pak Bendi sangat yakin kalau Pak Fedi adalah monster.

Esok harinya, Pak Bendi menempati podium dan berusaha meyakinkan orang-orang bahwa Pak Fedi adalah monsternya. Namun, para warga malah tertawa. Salah satu warga berkata, “Pak Bendi... Dari awal, kami agak kurang yakin dengan pendapat Bapak. Sekarang, Bapak malah semakin mengada-ngada.”

“Saya nggak mengada-ngada,” bantah Pak Bendi, “Lihat saja! Dia cuma diam dari tadi,” katanya sambil menunjuk Pak Fedi yang duduk di salah satu bangku.

“Pak Fedi orangnya memang gitu.. Pendiam,” ucap Pak Surya yang berada di samping Pak Bendi. “Makanya kalau mau nuduh orang itu kenali lebih dalam, bukannya dilihat berdasarkan buku fiktif yang Anda baca.”

Pak Bendi mengepalkan tangannya, dia lalu berkata sambil menunjuk Pak Surya, “Anda jangan sembarangan kalau ngomong! Anda tidak tau apa-apa tentang monster.”

“Oh iya? Anda juga tidak tau apa-apa tentang hantu.”

Pak Bendi semakin geram, “Lihat saja nanti! Saat Anda sadar kalau saya benar dan Anda salah, Anda akan benar-benar merasa malu.”

Pak Surya lalu menjawab dengan santai, “Oke,” dan Pak Bendi terdiam.

Saat malam hari tiba, Pak Bendi duduk di dapur sambil memikirkan pendapatnya yang masih tidak dipercayai. Kemudian ia menoleh jendela, melihat seseorang di belakang rumahnya, dan segera mengambil kapak yang tersandar dinding.

Melalui pintu belakang, ia pergi ke belakang rumah dan menghampiri orang itu. Tanpa pikir panjang, ia langsung menetak leher orang itu. Dia terjatuh sambil menggelepar dan memegang lehernya yang berdarah.

Sesuai dugaannya, orang itu adalah Pak Fedi. Dia lalu langsung mengangkat kapaknya lagi, dan menetak bagian perut dan dada Pak Fedi berkali-kali. Tanpa ia sadari, salah satu warga melihatnya dan pergi dari situ.

Pak Bendi terus mengayunkan kapaknya, darah bercipratan di wajah dan tubuhnya. Kemudian, ia berhenti dan memegang kapaknya sambil terengah-engah. Ia menunggu monster itu menunjukkan bentuk aslinya, namun hal itu tidak terjadi.

Ia lalu cemas, dan menoleh kiri-kanan. Tiba-tiba, sebuah makhluk seperti asap yang bersinar keluar dari tubuh Pak Fedi, membuat Pak Bendi kaget dan terjatuh ke tanah. Ia melihat makhluk itu bermata merah, bergigi taring, tangan dua dengan kuku tajam, dan kaki yang hampir tidak terlihat.

Makhluk itu tertawa, kemudian berkata, “Setelah sekian lama, akhirnya aku menemukan orang yang ku cari-cari. Egois, keras kepala, pembunuh, dan sifat-sifat jahat lainnya yang dahulu ku miliki.”

Pak Bendi yang ketakutan lalu bertanya, “Siapa kamu?”

Makhluk itu lalu berkata, “Aku tidak yakin aku ini apa. Tapi, para manusia menyebutku hantu.”

Dengan terbata-bata, Pak Bendi berkata, “Ha..ha..hantuuu..?”

“Ya,” hantu itu lanjut tertawa. Kemudian, ia berkata, “Terima kasih temanku. Aku sangat bangga bertemu dengan kamu,” Pak Bendi hanya terdiam, sambil cemas dan memikirkan pendapatnya yang ternyata salah.

Hantu itu lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Pak Bendi lalu berkata, “Jangan pernah berubah!” lalu ia pergi dari situ, menjauh memasuki hutan.

Pak Bendi terkaku, gemetar, dan masih terduduk di atas tanah. Perlahan ia lalu berdiri, dan menatap mayat Pak Fedi. Tiba-tiba, seseorang berteriak dari belakang, memanggil namanya. Ia lalu menoleh, dan melihat para warga yang berkumpul dan menatap Pak Bendi dengan wajah kaget. “Apa yang Pak Bendi lakukan?” tanya Pak Anaz.

Pak Bendi lalu kembali menatap mayat Pak Fedi, melihat darah di tangan dan tubuhnya, lalu kembali menoleh para warga. Kemudian, ia teriak, dan jatuh ke tanah. Ia menggelepar seolah sedang kerasukan. 

Para warga lalu bergegas menuju Pak Bendi. Mereka memegang tubuh Pak Bendi agar ia tidak bergerak melawan. Kemudian, Pak Surya memegang kepala Pak Bendi dengan kedua tangannya dan mengucapkan mantra untuk mengeluarkan hantu dengan nyaring, “Pvofziozs kiraizp! Pvofziozs kiraizp! Pvofziozs kiraizp!! AAAAAAAAAAAA!!”

Pak Bendi lalu tersadar walau sejak tadi ia hanya berpura-pura. Ia batuk dan bertanya, “Ada apa ini?”

Pak Surya serta para warga menoleh sekitar. Salah satu warga lalu bertanya kepada Pak Surya, “Loh? Kok nggak ada, Pak? Gimana sih?”

Pak Surya sangat bingung dan berkata, “Saya juga tidak tau.”

“Maaf semuanya,” teriak Detektif Zino, “Saya tidak mengerti. Apa yang tidak ada?”

“Ya, hantu,” jawab salah satu warga, “Kami semua percaya dengan perkataan Pak Surya yang bilang kalau ada hantu di desa ini yang telah merasuki warga.”

Pak Bendi lalu berlagak seolah tak berdaya dan sakit kepala. “Maaf semuanya. Tadi saya menemui Pak Fedi di hutan sana. Dia ketakutan dan bilang ada monster. Terus saya menghampiri monster itu sambil membawa kapak, tapi saya salah,” ucap Pak Bendi sambil pura-pura menangis.

Ia melanjutnya, “Saya seharusnya tau kalau itu adalah monster pengendali pikiran. Dan Pak Fedi mungkin takkan berakhir seperti ini.”

Salah satu warga memegang bahu Pak Bendi, lalu berkata, “Tidak. Ini salah kami. Kalau saja kami percaya dengan ucapan Bapak, mungkin ini takkan terjadi.”

Pak Bendi lalu tersedu dan para warga membantunya berdiri. Saat mereka merangkul Pak Bendi untuk berjalan menuju rumah, jujur, di dalam hati, Pak Bendi merasakan penyesalan. Ia menyesal karena telah membunuh Pak Fedi dan tidak percaya dengan ucapan Pak Surya, namun ia tidak mau mengakuinya.

Para warga menaruh Pak Bendi di atas kasurnya. Mereka menyuruh Pak Bendi untuk istirahat, namun Pak Bendi terjaga sepanjang malam. Ia dihantui oleh penyesalan dan berharap tidak dihantui oleh hantu yang ia lihat tadi.

Saat pukul 3 dini hari, Pak Bendi lalu bangkit dan duduk di atas tempat tidur. Ia menatap sebuah tas yang tergantung dan berkata dalam hati, “Aku harus meninggalkan desa ini.”

Ia lalu mengambil pakaiannya dari lemari, uang dan benda berharga dari tempat ia menyembunyikannya, kemudian memasukkannya ke dalam tas. Ia lalu tertegun menoleh buku Monster di Antara Kita. Ia mengambil buku itu, memandangnya dengan pendangan kesal, dan melemparnya ke dinding. Buku itu pun tergeletak di pojok kamarnya.

Pada pagi hari, Pak Bendi keluar dari rumahnya dengan pakaian rapi dan membawa tas. Ia menghampiri beberapa orang yang berkumpul melihat proses pembuatan peti jenazah untuk Pak Fedi. Salah satu warga lalu bertanya padanya, “Loh? Pak Bendi? Mau kemana?”

Pak Bendi lalu menjawab dengan kebohongan, “Karena kejadian semalam, saya jadi teringat dengan anak saya di kota. Jadi saya mau menemuinya.”

“Tapi Pak, bagaimana dengan monster itu? Kan cuma Bapak yang mengerti.” Pak Bendi lalu tersenyum dan menyerahkan buku Monster di Antara Kita.

Sementara itu, Pak Surya, Detektif Zino, dan beberapa orang lainnya berdiri menghadap api yang membakar sampah. Pak Surya memegang buku peninggalan Pak Rama, lalu ia membuangnya ke api. Detektif Zino membuka buku kecilnya, merobek beberapa lembar kertas dan juga membuangnya ke api.

Pak Bendi berjalan dan berhenti di perbatasan desa. Ia lalu menoleh ke arah belakang dan melihat papan nama Desa Imarado Nelaha. Kemudian, ia menghela napasnya, melanjutkan langkahnya untuk pergi dari desa tersebut, dan tidak akan pernah kembali.


Komentar

Posting Komentar