Malam Saat Kau Mengungkapkan Perasaanmu

Story by: Fidhil Rahyan

“Aku.. sebenernya udah lama suka sama kamu,” ucapku dengan agak gugup. Aku lalu menghela napasku sekali lagi, dan berkata, “Oke. Jadi, aku sebenarnya udah lama suka sama kamu. Kamu mau nggak jadi pacarku?” Aku lalu diam. Memikirkan apakah aku bisa mengatakan itu di depannya secara langsung.

Saat ini, aku sedang berada di dalam kamarku, duduk di depan sebuah cermin persegi panjang yang besar. Aku menatap wajahku dan bertanya-tanya, “Apa jawabannya nanti?”

Aku lalu bersiap untuk latihan lagi, namun aku terhenti saat mendengar dering hpku. Terlihat panggilan WhatsApp dari temanku, Stefan. Tanpa pikir panjang, aku lalu menolak panggilannya. Dia sudah menelponku sebanyak tiga kali, dan aku menolaknya karena aku harus fokus dengan sesuatu yang sangat penting ini.

Aku juga sudah lelah menghadapi telpon dari banyak orang, mengingat pekerjaanku sebagai customer service sebuah perusahaan jual beli online. Mereka menelpon untuk memberikan komplain, pertanyaan, atau prank yang meresahkan. Dan aku, Alfi, seorang pria 25 tahun harus meladeni keanehan, kebingungan, dan keambiguan mereka.

Tetapi, meskipun begitu, saat aku bekerja di sana, aku tidak pernah merasa kesal ataupun lelah menghadapi mereka, karena kehadiran seorang wanita. Dia telah membuatku tenang dan semangat dalam bekerja. Namanya Fina, juga seorang customer service di perusahaan yang sama dengan ku, dan duduk tepat di samping kananku.

Wajahnya yang cantik, pikirannya yang seakan tau segala hal, sikap percaya diri dan baik hatinya, membuat ku menyukainya setelah satu hari sejak pertama kali kami bertemu. Tepatnya pada satu tahun yang lalu saat aku mulai bekerja di sana.

Bahkan, bukan hanya aku yang tertarik padanya. Hampir seluruh pria di kantor juga memperlihatkan rasa suka padanya. Mereka membicarakan Fina diam-diam, mengatakan betapa sukanya mereka pada dia. Aku juga punya teori bahwa ada dua jenis pria yang tidak suka dengan Fina, yaitu pria yang sudah punya pasangan, dan pria yang suka dengan pria.

Tapi, dengan banyaknya orang yang tertarik padanya, tidak membuatku putus asa untuk mengejarnya. Karena dari semua pria di kantor, akulah yang paling dekat dengan dia. Aku yang paling sering menghabiskan waktu bersamanya, paling sering berbincang dengannya, bercanda dan bertukar pikiran. Bahkan, saat istirahat makan siang, aku sering makan satu meja bersamanya. Hingga terlihat wajah cemburu dari beberapa teman kantorku.

Kedekatanku dengannya membuat ku yakin untuk mengungkapkan perasaanku. Terlebih lagi, aku sudah lama tidak mempunyai pacar sejak lima tahun yang lalu. Sejak aku diputusin oleh pacar pertamaku yang ku pikir akan menjadi pacar terakhirku, tetapi ternyata tidak. Padahal, sewaktu aku mengungkapkan perasaanku kepadanya, dia langsung menerima, tanpa berkata, “Aku butuh waktu.”

Namun, itu kisah lama. Aku sudah melupakannya. Sekarang, ada orang lain di hatiku.

Aku masih duduk di depan cermin kamarku, dan terus mengulang kalimat yang sama, namun dengan nada yang berbeda. “Jadi, sebenarnya aku sudah lama suka sama kamu,” ucapku, “Kamu mau nggak jadi pa..” hpku lalu berdering lagi. Sama seperti tadi, panggilan WhatsApp dari Stefan.

Ini adalah panggilan yang ke empat kalinya, sehingga membuatku menyerah dan menerima panggilannya, “Ya?”

“Alfi. Akhirnya lo jawab juga,” ucap Stefan. “Lo bisa bantuin gue nggak?”

“Aduh, gue lagi sibuk nih. Bantuin apa sih emangnya?” tanyaku sambil merasa terganggu.

Stefan lalu menjawab, “Bantuin gue nembak cewek.”

“Hah?” aku kaget sekaligus bingung, “Lo mau gue bantu lo nembak cewek? Kayak latihan, gitu?”

“Iya. Lo kan udah pengalaman, nembak cewek terus langsung diterima,” ucap Stefan. Aku lalu berpikir apakah aku akan membantunya atau tidak, mengingat aku sedang sibuk membantu diriku sendiri.

Aku lalu melihat masa lalu Stefan. Dia adalah temanku sejak SMA. Kami duduk sebangku, dan dia sering membicarakan tentang gebetannya yang hanya dia dan aku yang tau. Dia pernah bilang bahwa dia sangat mencintai gebetannya. Bahkan, ia rela menolak salah satu gadis cantik yang suka dengan dia, karena satu-satunya orang yang ia suka adalah gebetannya.

Dia juga pernah bilang bahwa ia akan mengungkapkan perasaannya kepada gebetannya, namun rencana itu harus ia hentikan saat kami melihat gebetannya bergandengan dengan seorang laki-laki. Belakangan, kami mendapat informasi bahwa laki-laki itu adalah pacar barunya gebetan Stefan.

Sejak itu, Stefan patah hati. Bisa dibilang, itu adalah patah hati terbesarnya yang aku tau. Bahkan, ia sampai tidak masuk sekolah selama beberapa minggu karena hal itu.

“Jadi gimana? Mau nggak?” tanya Stefan di telpon yang masih ada di dekat kupingku. Usai mengenang masa lalunya, aku lalu setuju untuk membantunya. Kami lalu membuat janji temu di Dwi Cafe pada jam dua sore nanti.

***

Kami duduk satu meja di Dwi Cafe, saling berhadapan, dengan dua cangkir kopi di atas meja. Aku menghirup kopiku dan mulai bertanya pada Stefan, “Beneran nih, lo mau nembak cewek?” Stefan membalas dengan anggukan. Aku lalu tersenyum, “Akhirnya, lo kembali lagi tertarik sama cewek.”

Stefan tersenyum, ia lalu berkata, “Makanya gue butuh bantuan lo. Ini pertama kalinya gue nembak cewek dan gue nggak mau gagal.”

“Tenang aja, bro. Gue bakal ngajarin lo persis seperti yang gue ajarin ke diri gue sendiri,” ucapku dengan percaya diri. “Tapi sebelumnya.. Lo yakin dia juga suka sama lo?”

“Yup. Gue yakin delapan puluh persen,” jawab Stefan lalu menghirup kopinya.

“Lah, kok cuma delapan puluh persen?”

“Kalo seratus persen, gue nggak bakal minta bantuan lo, Fi.”

Aku terdiam sebentar. “Terus. Apa yang buat lo suka sama dia?” tanyaku.

Stefan lalu mengawang sambil tersenyum, lalu ia menjawab, “Dia cantik, dia lucu, dia pinter, dia gampang ketawa, dia gemesin, dia pede, dan dia... punya selera musik yang sama dengan gue.”

Aku tersenyum mendengar ciri-ciri gebetan Stefan yang nyaris sempurna. “Gue jadi penasaran. Siapa sih dia?”

“Ah, lo nggak perlu tau,” ucap Stefan sambil tersenyum. Aku lalu tertawa.

Entah kenapa, aku lalu ikut memikirkan hal-hal yang membuat aku tertarik dengan Fina. Aku ingat saat dia mendapat telpon dari pelanggan yang komplain sambil marah-marah, bahkan mengeluarkan berbagai kata-kata kasar, respon Fina sangatlah sabar. Ia bahkan menjawab dengan lemah lembut seperti saat ia bicara denganku.

Aku juga ingat saat hari pertama aku bekerja di kantor itu. Ia menyapaku dengan ramah, memberitahu hal-hal menarik di kantor tersebut, dan mengajari beberapa hal yang tidak ku ketahui.

“Gue musti nembak di mana, ya?” tanya Stefan membuyarkan imajinasiku. “Soalnya gue malu kalo nembak di tempat umum. Takut dilihat orang. Apalagi kalo ditolak.”

Aku lalu menghirup kopiku, dan berkata, “Lo ingat dengan teknik tempat gak laku?” Stefan lalu mengernyitkan alisnya, dan menjawab, “Gue cuma ingat namanya sih, tapi kalo caranya gue lupa.” Aku melanjutkan, “Jadi, lo bayangin kalo cuma ada kalian berdua di tempat itu, seolah tempat itu beneran nggak laku, dan sepi pelanggan. Terserah mau di kafe atau restoran.”

“Oh, iya. Bener juga. Gue baru ingat,” ucap Stefan, “Oke, gue bakal terapin.”

Selanjutnya, ia bertanya tentang beberapa hal, dan aku memberikan solusi serta saran-saran yang tidak kalah penting. Setelah itu, ia mencoba latihan nembak. “Sebenarnya, aku sudah lama suka sama kamu. Kamu mau nggak jadi pacarku?”

Aku tersenyum dan menjawab, “Yes. Perfect. Terus kalian jadian deh.”

Stefan lalu tersenyum dan memegang bahuku seraya berkata, “Makasih, bro.”

“Santai,” ucapku lalu meneguk kopiku hingga habis.

“Gue jadi semakin yakin bakal diterima malam ini.”

“Wait. Malam ini?”

“Yup. Ini gue mau buat janji temu,” ucap Stefan seraya mengeluarkan hpnya.

Aku lalu tersenyum dan berkata, “Kalo gitu, good luck ya.” Dia lalu merespon dengan anggukan dan senyuman. “Sebenarnya.. malam ini, gue juga bakal nembak cewek,” ucapku.

“Serius? Kebetulan banget. Kalo gitu, gue harap kita sama-sama berhasil.”

“Thank you.”

Stefan lalu bertanya, “Siapa sih?

Aku tersenyum, “Lo tadi nggak mau ngasih tau siapa gebetan lo, dan sekarang lo malah mau tau siapa gebetan gue.”

Stefan tertawa, “Oke oke.. Lebih adil kalo lo juga gak ngasih tau.” Stefan lalu menghabiskan kopinya.

“Malam ini gue bakal ke rumahnya, terus kami ke Uno Resto buat dinner, dan gue nyatain perasaan gue,” ucapku.

“Sama,” ucap Stefan, “tapi, sorry kalo gue gak nyapa lo ya, soalnya gue lagi pake teknik tempat gak laku.” Kami lalu tertawa.

***

Pukul 7 malam pun tiba, aku dengan memakai kemeja kotak-kotak warna biru navy dan celana jeans yang tak terlalu ketat, sudah berada di atas motor matic-ku, sedang dalam perjalanan menuju rumah Fina. Aku lalu berhenti di lampu merah, melihat seorang penjual bunga keliling, dan membeli satu dari dia. Setangkai bunga mawar.

Beberapa menit kemudian, aku tiba di depan gang rumah Fina. Gang tersebut lumayan sempit. Aku bisa saja masuk ke dalam, namun ada sebuah mobil yang terparkir di gang tersebut, sehingga aku tidak bisa melewatinya dengan menggunakan motor ini. Aku lalu menumpangkan motorku di halaman sebuah toko yang ada di depan gang tersebut, dan masuk ke dalam dengan jalan kaki.

Aku berjalan menuju rumah Fina dengan hati riang, namun saat aku tiba di depan rumahnya, rasa riangku hilang seketika. Terlihat sebuah motor yang terparkir di halaman rumah Fina. Aku yakin itu bukan motornya. Aku lalu mendekat ke rumahnya, dan dari kaca jendela terlihat seorang pria yang memegang sebuah buket bunga. Dia sedang berbicara dengan Fina.

Karena penasaran, aku lalu mendekat lagi secara perlahan agar tidak diketahui, namun aku tidak sengaja menabrak tempat sampah. Beruntung aku sigap untuk segera menangkap tempat sampah itu, sehingga tidak menghasilkan suara yang mengundang perhatian. Aku lalu berdiri di samping terasnya, bersembunyi di balik tembok, dan mendengar pembicaraan mereka.

“Ayolah, Fin. Kita temanan dari SD loh, aku udah kenal banget sama kamu. Aku udah nemenin kamu selama bertahun-tahun, dan aku juga selalu ada buat kamu,” ucap pria itu. Mendengarnya, hatiku kacau. “Aku sudah baik sama kamu, dan... sekarang aku cuma mau balasan cinta darimu.”

Aku mengintip dari jendela, telihat Fina yang seperti kebingungan. Ia menundukkan kepalanya, lalu berkata, “Makasih atas kebaikanmu, Yon. Tapi, maaf.. Aku nggak bisa nerima kamu.” Aku bingung harus bereaksi senang atau ikut sedih. Fina lanjut berkata, “Aku udah nganggep kamu temen dari dulu, dan... akan selamanya begitu.”

Aku menoleh pria itu. Terlihat wajah sedih, kecewa, dan putus asa, menjadi satu. Aku bisa mengerti perasaannya. Dia lalu menghela napas, memejamkan matanya, dan menggelengkan kepalanya.

Fina menatap wajahnya, memegang bahunya, dan berkata, “Yon. Sekali lagi, maaf ya. Karena kamu minta jawabannya sekarang, ya, inilah jawabannya.”

“Kenapa, Fin? Kenapa?” tanya pria itu, “Setelah apa yang aku lakuin buat kamu, dan balasannya ini?” dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Fina terdiam. Aku lalu menatap bunga yang ku pegang.

Kemudian, Fina berkata, “Kamu nggak sendiri, Yon.” Mendengar itu, aku tertegun, pria itu juga. Fina melanjutkan, “Belakangan ini, banyak cowok yang nembak aku. Tapi gak ada satupun yang aku terima,” kami terdiam. “Aku sulit untuk jatuh cinta, aku juga belum memikirkan itu, dan... aku nggak bisa memaksakannya.”

Pria itu lalu mengangguk perlahan, tersenyum, dan berkata, “Oke. Aku ngerti,” Fina ikut tersenyum. Aku kembali menatap bunga yang ku pegang, dan memikirkan sesuatu. Aku lalu menghela napasku, dan membuang bunga tersebut ke tempat sampah yang berada tepat di sampingku.

Aku lalu berjalan menjauh dari rumah Fina. Berjalan. Terus berjalan, dan sama sekali tidak menoleh ke belakang.

***

Aku duduk di Dwi Cafe dengan secangkir kopi di depanku yang baru saja tiba. Melalui WhatsApp, aku bilang ke Fina untuk membatalkan dinner kami malam ini. Ia lalu menjawab “Oh, oke, yaudah. Mungkin lain kali,” padahal jawaban yang ku harapkan adalah “Yah.. Kenapa nggak jadi?”

Aku lalu meletakkan hpku di meja dengan agak kencang, dan menggosok mukaku dengan kedua tangan. Aku mengambil kopiku, dan menghirupnya. Kemudian, mataku terarah ke seorang pria yang ku kenal, Stefan. Ia memakai jas hitam, dengan kemeja biru, dan dasi merah maroon garis-garis, duduk bersama dengan seorang wanita. Jarak tempat duduk mereka lumayan dekat dengan tempatku, hanya terpisah oleh satu meja, sehingga aku bisa mendengar ucapan Stefan.

“Sebenarnya aku sudah lama suka sama kamu. Kamu mau nggak jadi pacarku?” ucap Stefan. Wanita itu lalu kaget, kemudian terdiam. Stefan menatapnya dan berkata, “Gimana?”

Wanita itu lalu menjawab, “Maaf. Gue nggak bisa.”

Stefan terkaku, “Ngga.. Nggak bisa?”

 “Maaf ya. Gue nggak bisa nerima lu,” ucapnya seraya berdiri.

“Tapi...” ucap Stefan dengan mata yang berkaca-kaca.

Wanita lalu menggelengkan kepalanya, dan pergi dari situ. “Naura!” teriak Stefan. Ia lalu menangis sambil menutup matanya dengan tangan. Aku ikut sedih atas apa yang terjadi.

Aku melihat wanita itu telah pergi meninggalkan kafe. Aku yang merasa empati dengan Stefan lalu berdiri, dan berniat menghampirinya. Namun tiba-tiba, Stefan berhenti menangis, dan berdiri dari tempat duduknya dengan tenang dan menghela napas. Ia lalu mengambil tisu dari kantong jasnya, dan menghapus air matanya. Kemudian, ia tersenyum. Aku sontak heran, serta menunda untuk menghampirinya.

Ia mengambil hp dari kantong celananya, dan menelpon seseorang. “Helo?” ia terdiam sebentar dan berkata, “Iya betul, Three Cafe,” ucapnya, “Ini gue udah mau OTW kok.” Aku jadi tambah bingung. Siapa yang ia telpon? Ada apa di Three Cafe?

Usai menelpon, Ia lalu pergi dari tempat duduknya, dan menuju kasir untuk membayar. Setelah itu, ia lalu keluar dari kafe, bahkan tanpa sedikit pun menoleh aku. Teknik tempat gak laku memang berhasil.

Rasa penasaran lalu menghampiriku. Aku lalu menghabiskan kopiku, membayarnya, lalu keluar dari kafe, segera naik ke motor, dan pergi ke Three Cafe.

Sesampainya di sana, aku lalu duduk di tempat duduk yang dekat dengan meja Stefan. Ia masih menerapkan teknik tempat gak laku. Pelayan datang dan aku memesan secangkir kopi. Aku lalu melihat Stefan yang duduk bersama dengan seorang wanita lain. Mereka membicarakan tentang pekerjaan mereka. Ternyata wanita itu adalah teman kerjanya.

Setelah beberapa menit kemudian, saat kopi yang ku pesan sudah tinggal setengah, Stefan lalu berkata pada wanita itu, “Eeee.. Olivia. Aku mau jujur kalo sebenarnya aku sudah lama suka sama kamu.”

Wanita itu kaget, begitu juga dengan aku. “Kamu mau nggak jadi pacarku?” tanya Stefan. “Hah? What the hell?“ ucapku dalam hati.

“Kita satu kantor loh, Fan,” jawab wanita itu.

“Yaa... terus?”

“Gue nggak bisa.. Gue nggak bisa jadian sama teman kerja gue,” mata Stefan kembali berkaca-kaca. Wanita itu memutar bola matanya, dan berkata, “Sorry ya, Stefan. Gue benar-benar nggak bisa. Lagian, gue juga udah nganggep lo teman.”

Air mata Stefan mulai mengalir. Wanita itu berdiri, “Sorry ya. Gue bener-bener.... Sorry,” ucapnya seraya pergi dari situ.

Aku hanya duduk di tempat dudukku dengan mulut yang terbuka dan alis yang mengerut. Lagi-lagi, Stefan berdiri tenang, menghapus air matanya, tersenyum, dan menelpon seseorang. “Helo? Iya benar, FidCafe,” Stefan lalu tertawa, “Iya, sorry.. Ini gue udah mau OTW kok.”

“Ada lagi?” ucapku dalam hati.

“Oke,” ucap Stefan lalu menutup telponnya, membayar minumannya, dan pergi dari situ. Tanpa pikir panjang, aku kembali mengikutinya.

Saat tiba di FidCafe, Stefan bertemu dengan wanita lain. Ia melakukan hal yang sama persis  seperti yang ia lakukan dengan wanita sebelumnya: basa-basi, berbincang-bincang, lalu perlahan mengungkapkan persaaan. Namun, kali ini, jawaban wanita tersebut berbeda.

“Ya. Aku mau,” ucapnya.

“Serius?” tanya Stefan.

Wanita itu mengangguk sambil tersenyum manis. Stefan lalu tersenyum bahagia. Aku yang kesal lalu berdiri dari tempat dudukku dan segera menghampirinya. “Stefan!” seruku.

Ia menoleh, “Alfi? Wah, pas banget. Nih kenalin pacar gue, Jessica.”

Kami lalu berkenalan. Kemudian, aku menoleh Stefan dan berkata, “Bisa bicara sebentar?”

“Oke,” ucap Stefan kemudian berdiri. Kami lalu pergi ke toilet, tempat untuk kami berbicara. Aku masuk ke toilet, dan disusul oleh Stefan. Ia berkata, “Alfi. Gue bener-bener berterima kasih sama lo, karena....”

“Lo suka sama banyak cewek?” tanyaku, memotong perkataannya.

What?”

“Lo suka sama banyak cewek sekaligus?!” Aku sedikit menaikkan suaraku.

“Loh? Gue pikir lo udah tau,” ucap Stefan, “Kan gue pernah bilang kalo dia cantik, dia lucu, dia pinter, dia gemesin, dia pede, dan dia punya selera musik yang sama dengan gue.”

“Ya gue pikir itu satu orang.”

“Mana ada orang sesempurna itu. Kalo pun ada, banyak yang suka sama dia,” ucap Stefan.

Aku lalu menggeleng-gelengkan kepala, “Gue nggak abis pikir, lo bisa ngelakuin hal ini.”

Bro! You know me!” Stefan menaikkan suaranya, “Gue pernah suka sama satu cewek. Satu.. Cuma satu orang.. Dan lihat gimana akhirnya. Gue sakit hati! Gue nggak bisa pindah ke yang lain karena gue cuma suka dia.”

Aku lalu membalas, “Itulah cinta yang sesungguhnya!” Ia terdiam. “Saat lo suka sama satu orang. Saat lo bener-bener jatuh cinta sama seseorang.”

Stefan tertawa kecil dan berkata, “Bullshit! Kalo cinta lo ditolak, lo yakin bisa baik-baik aja tanpa pindah ke yang lain? Hah?”

Aku terdiam. Aku benar-benar kesal dengan Stefan. Aku lalu mencoba menyadarkannya, “Kalo lo suka sama banyak orang, terus salah satunya nerima, lo nggak kasian sama dia? Dia nerima lo karena yakin kalo lo cuma suka sama dia, dan gak ada orang lain.”

“Gue nggak peduli! Yang penting gue udah punya seseorang. Itu tujuannya,” ucap Stefan dengan lantang, “Ini adalah cara gue untuk dapat memiliki seseorang, tanpa sakit hati.”

Lagi-lagi, aku terdiam. Mencoba memahami ucapan dan tindakan Stefan. “Dan gue yakin, lo pasti juga begitu?” tanya Stefan yang sudah kembali tenang.

Aku menggelengkan kepalaku dan berkata, “Cuma dia orang yang gue suka.”

“Terus, lo diterima?”

Aku menundukkan kepalaku, tak menggubris pertanyaan itu. Stefan mendekat dan berkata, “Dengar, Alfi. Gue sangat-sangat berterima kasih karena lo udah ngajarin gue, bahkan ngasih saran. Dan kalo gue boleh ngasih saran juga, gue cuma mau bilang..” ia memegang pundakku, “suka lah sama banyak cewek. Itu cara untuk menghindari patah hati.”

Aku ingin membalas, tapi aku tidak ingin memperpanjang perdebatan ini. Selain itu, hati kecilku juga sepertinya setuju dengan saran tersebut. Ia lalu menepuk pundakku, kemudian pergi dari toilet yang sepi ini.

Butuh beberapa saat untukku keluar dari toilet ini, dan berjalan kembali ke tempat dudukku tadi. Aku duduk, dan memperhatikan Stefan yang asik tertawa dengan pacar barunya. Aku tidak bisa mendengar percakapan mereka lagi, aku hanya bisa mendengar saran Stefan tadi yang menggema di pikiranku.

Stefan dan pacarnya lalu berdiri dari tempat duduk, lalu membayar minuman mereka,  menghampiriku, dan Stefan berkata, “Alfi. Kami duluan ya?” Aku hanya membalas dengan anggukan dan senyuman palsu. Mereka pergi meninggalkan ku sendiri di kafe yang terasa sepi ini, di malam yang terasa sunyi ini. Padahal, aku tidak sedang menggunakan teknik tempat gak laku.

Saran Stefan masih menggema di pikiranku. Aku lalu mengambil hp dari saku celanaku, membuka WhatsApp, Instagram, dan sosial media lainnya untuk mendapatkan wanita lain yang mungkin bisa aku sukai. Namun, pada akhirnya, aku tidak menemukan satu pun. Tidak seperti Stefan. Saat suka dengan seseorang, aku hanya mencintai dia.

Hanya dia.

Aku lalu terdiam di kafe ini sambil menatap secangkir kopiku yang sudah dingin. Hanya duduk diam di kafe pada malam ini. Malam saat aku sendirian.

Komentar

Posting Komentar