Hingga Akhirnya
Story by: Fidhil Rahyan
Aku takkan pernah lupa hari saat aku
akhirnya bisa berbicara dan berjalan di sampingmu. Saat itu, pulang sekolah,
kamu berjalan bersama temanmu, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ku lontarkan
demi mengenalimu. Namun, sebelum hari itu tiba, banyak yang harus ku hadapi,
mulai dari rasa takut hingga penyesalan karena melewatkan banyak kesempatan.
Sekitar setahun sebelum itu, aku melihat wajahmu untuk pertama kalinya. Kau datang ke rumahku, berdiri di teras, memegang tiga bungkus bakso yang Kakakku pesan. Kamu memberikan bakso itu dan aku menyerahkan uang yang sejak tadi sudah disiapkan. Kemudian, kita saling mengucapkan terima kasih.
Kamu lalu pergi dengan motormu dan hatiku seolah berkata, “Siapa itu? Cantik juga, ya,” tetapi pikiranku berkata, “Iya, benar, dia cantik. Terus apa? Suka? Kamu juga tidak mungkin bisa mendapatkannya. Dia hanyalah orang asing yang sekedar melintas di hidupmu.”
Saat itu aku setuju dengan pikiranku, karena aku hanyalah laki-laki yang gemar memendam perasaan. Bahkan sukar untukku menunjukkan rasa suka kepada temanku sendiri, apalagi dengan orang asing sepertimu. Namamu saja tidak tahu. Bahkan kesempatan untuk berkenalan denganmu saja kecil.
Hingga pada suatu hari, di sekolah.
Tiga bulan sebelum akhirnya aku bisa berjalan di sampingmu, tahun ajaran baru pun dimulai. Kamu sebagai siswa baru dan aku sebagai kakak kelas tertua di sekolah. Aku tidak tahu kalau kamu baru kelas sepuluh, bahkan aku tidak tahu kalau kita satu sekolah. Aku baru tahu saat sahabatku sekaligus tetanggaku, Dafa, memberitahuku. Memang, dia sudah tahu bahwa aku tertarik padamu. Aku sering mengatakan padanya tentang ketertarikanku pada gadis pengantar bakso itu.
Dafa menanyakan tentangmu kepada teman sekelas kami, Zara, karena ia pernah melihatnya bicara denganmu di sekolah.
“Rian,” seru Zara, memanggil namaku, “kata Dafa, kamu nanyain tentang gadis pengantar bakso itu. Beneran?”
Aku tertegun, “Ah, enggak kok. Siapa yang nanyain dia,” jawabku, gengsi.
Dafa lalu datang, menepuk pundakku, dan berkata, “Nah, kebetulan. Kasih tau Zar, siapa nama gadis itu.”
Dasar Dafa! Bisa-bisanya dia langsung to the point. Memang the best sahabatku yang satu ini.
Zara lalu tertawa dan berkata, “Namanya Fira. Aku juga sering kok mesen bakso dari dia.”
Akhirnya, aku tahu namamu.
***
Berbulan-bulan setelah itu, aku masih memendam rasa kepadamu. Aku sering melihatmu di kantin, makan bersama teman-temanmu. Anehnya, setiap kali aku melihatmu sekilas, kamu juga ikut menatapku. Bahkan, kepalamu sampai memanjang demi melihat diriku. Apa maksudmu? Apakah itu artinya kamu juga tertarik padaku, atau cuma perasaanku saja yang berbohong?
Kalau pun benar kamu juga tertarik denganku, bagaimana mungkin? Kamu sama sekali tidak mengenaliku. Mungkin memang benar, saat kita suka dengan seseorang, hati memberi kita harapan, sedangkan pikiran menghilangkannya dengan menunjukkan realita.
Tak jarang, aku mencurahkan keresahan ini kepada sahabatku, Dafa, dan ia selalu menekankan ku untuk mendekatimu. Untuk memulai kisah cinta yang terpendam. Namun, aku merasa belum menemukan kesempatan.
Hingga pada suatu hari, di kantin.
Dua bulan sebelum akhirnya aku bisa berjalan di sampingmu, aku menemukanmu di kantin. Kamu berdiri tepat di dekatku. Aku hendak membayar air mineral yang ku beli dan kamu hendak membayar makanan yang baru saja kau habiskan. Oh my God. Ini dia. Inilah kesempatanku untuk bicara dengannya. Aku harus berani. Aku harus berani.
“Hey,” panggilku, dan kamu menoleh, “kayaknya aku pernah ngeliat kamu sebelumnya. Kamu bukannya yang nganter bakso itu ya? Ingat nggak denganku? Aku juga sering lho mesen. Ngomong-ngomong, namamu siapa?” Itu yang seharusnya aku katakan, namun ternyata tidak.
Mulutku seolah tertahan, seolah berat untuk mengatakan satu butir kata. Hingga, kamu sudah terlanjur pergi dari kantin itu.
Tentu, aku menyesal tidak memanfaatkan kesempatan itu. Untungnya, rasa menyesal itu terobati saat pulang sekolah tiba dan aku bertemu kamu lagi. Saat itu, aku berjalan sendirian dan melihatmu tepat di depanku, sudah berada di atas motor yang dikendarai oleh temanmu.
Aku melihat tasmu yang terbuka. Ingin sekali diriku membantu menutup retsleting tasmu, tetapi seolah ada rasa yang menahanku. Banyak motor yang berbaris di depanmu sehingga motormu tidak bergerak menjauhiku. Seolah keadaan memang memberiku kesempatan untuk berinteraksi denganmu.
Dengan keberanian ekstra, aku memegang retsleting tasmu dan menggerakkannya ke bawah seraya berkata, “Retsletingmu terbuka.”
Kamu menoleh tanganku, aku kesulitan karena retsletingmu macet, dan motor di depan mulai bergerak. Temanmu pun menjalankan motornya sedangkan aku yang masih memegang retsletingmu. Alhasil, aku tertarik ke depan.
“Eh. Eh. Bentar. Tunggu dulu!” ucapmu kepada temanmu.
“Hah! Kenapa sih?” tanyanya seraya berhenti.
“Ini, retsletingku terbuka,” jawabmu.
Aku lalu selesai menutup tasmu dengan sempurna, lalu pergi situ, melewati kalian. Aku tidak tahu apakah kamu melihatku atau tidak, dan apakah kamu menyadari kalau itu aku. Yang jelas, saat itu aku berjalan menuju motorku dengan bahagia. Akhirnya, aku bisa memanfaatkan kesempatan yang diberikan, walaupun aku masih belum bisa berkenalan denganmu.
Dafa memberikan tepuk tangan setelah aku menceritakan kejadian itu. Namun, ia sedikit kesal denganku setelah aku menceritakan kejadian di kantin. Dafa berkata bahwa aku harus memanfaatkan kesempatan yang diberikan, karena ia yakin, bahwa kesempatan hanya datang sekali, sisanya cari sendiri. Dan aku setuju dengan itu.
***
Terkadang, seorang pemendam perasaan juga merupakan seorang pengkhayal harapan. Di rumah, aku sering sekali membayangkan bisa berbicara denganmu.
Aku menemukanmu di kantin. Kamu berdiri tepat di dekatku. Aku hendak membayar air mineral yang ku beli dan kamu hendak membayar makanan yang baru saja kau habiskan. Aku lalu mulai bicara, “Kayaknya aku pernah ngeliat kamu sebelumnya. Kamu yang nganter bakso itu ya?”
“Iya,” jawabmu, singkat.
“Oh, pantesan. Ngomong-ngomong, namaku Rian. Nama kamu siapa?” tanyaku sambil mengulurkan tanganku.
Kamu lalu menjabat tanganku dan berkata, “Fira.”
“Oh, Fira. Masih nganterin bakso?”
Aku lalu memukul kepalaku, membuyarkan ekspektasi yang nyaris berlebihan itu. Aku sadar, terkadang, ekspektasi yang tinggi mustahil untuk terjadi. Namun, aku lalu beranggapan bahwa tadi bukanlah ekspektasi atau khayalan semata, melainkan sebuah bayangan tentang sesuatu yang akan ku lakukan jika mendapat kesempatan itu lagi.
Di hari-hari berikutnya, aku pun berusaha mencari sebuah kesempatan. Aku sering pergi ke kantin, berharap bisa bertemu denganmu lagi. Aku sering lewat di depan kelasmu, berharap kamu juga menolehku. Aku sering berkelana ke penjuru sekolah, berharap bisa berjumpa denganmu. Namun, saat kesempatan itu ada, aku malah tidak memanfaatkannya. Aku mulai menyalahkan keadaan yang tidak mendukungku untuk bisa leluasa bicara denganmu.
Hingga pada suatu hari, di depan perpustakaan.
Sebulan sebelum akhirnya aku bisa berjalan di sampingmu, aku melihatmu lewat di depanku dan masuk ke perpustakaan. Dafa yang duduk bersantai di atas bangku depan perpustakaan bersamaku, lalu berkata, “Rian. Ini kesempatanmu!”
“Ah. Entahlah. Malu, banyak teman-teman,” kataku berbisik pada Dafa. Memang, saat itu, tidak hanya kami yang berkumpul di situ, tetapi beberapa teman sekelas kami juga.
“Ayolah! Entar nyesal lagi,” ucap Dafa.
Aku yang sejak tadi sudah deg-degan lalu memikirkan ucapan Dafa. Apakah aku harus menemuimu atau mengabaikan kesempatan itu? Kemudian, aku merasakan tanganku yang bergetar layaknya ponsel yang menerima telepon dalam mode getar. Aku berpikir jika seandainya aku menemuimu sekarang, sepertinya tubuhku tidak mendukung.
“Ah, sudahlah. Biarin saja!” ucapku pada Dafa.
Dafa terlihat kesal. Ia lalu berdiri dan segera masuk ke kantin. “Eh. Dafa!” seruku, tetapi diabaikan olehnya.
Tak lama, Dafa kembali dan duduk di sampingku. “Tadi kamu ngapain?” tanyaku.
“Ngasih kamu dorongan,” jawab Dafa.
Zara yang ternyata sejak tadi ada di dalam perpustakaan lalu keluar dan Dafa memanggilnya, “Zar. Gimana? Udah kamu kasih?”
“Udah. Aku bilang ke dia kalau ada cowok yang ngasih dia permen dan nyuruh dia buat baca di belakangnya. Terus, pas dia baca belakang permen itu, dia kayak salting gitu, menggeliat,” ujar Zara sambil tersenyum padaku.
“Kamu ngasih dia permen?” tanyaku ke Dafa, memastikan.
Dafa mengangguk. Mataku terbelalak. “Terus apa tulisan di belakang permen itu?”
“Be my love,” jawab Dafa.
“Hah!?” aku tertegun, “gila ya kalian!” Dalam hati aku berkata, “Oh my God. Thank you, guys!”
“Justru, ini aku ngasih kamu dorongan, Yan. Terserah, mau kamu manfaatkan atau tidak,” ucap Dafa.
“Cieee... Rian..” goda Zara seraya tertawa kecil dan pergi dari situ.
Setelah itu, beberapa teman sekelas kami pergi dari situ, menyisakan aku dan Dafa. Rasa yakin dan berani lalu merasukiku, sehingga aku berkata pada Dafa, “Oke. Saat dia keluar nanti, aku bakal ngomong dengan dia.”
“Oke. Aku harap itu benar,” jawab Dafa.
Kemudian, saat kamu keluar dari perpustakaan bersama dengan dua orang temanmu, aku memanggilmu, “Hey!”
Kamu menoleh. Aku lalu bertanya, “Udah dapat belum?”
“Udah,” jawabmu seraya berjalan menuju kelasmu.
Walaupun aku kurang yakin apakah kamu mengerti maksudku. Apakah kamu memahami makna tersirat bahwa aku yang telah memberimu permen itu dan membuatmu menggeliat serta tersipu malu?
Kamu lalu berhenti, menunggu temanmu yang sedang mengikat tali sepatunya. Dafa menyenggol pundakku dan matanya menunjukmu seolah berkata padaku, “Dia masih di situ, ayo ajak ngobrol!”
Aku lalu menghela napasku dan bertanya padamu, “Hey. Mau lagi nggak?”
Kamu tersenyum dan menjawab, “Enggak. Masih ada,” seraya menyentuh saku bajumu.
“Oh..” jawabku.
Bodohnya, sekarang aku yang salting. Memalingkan wajahku darimu dan tersenyum-senyum tak karuan. “Kamu jangan salting, bego! Stay cool!” bisik Dafa.
Aku lalu mencoba untuk tenang, walau jantung berdebar tak karuan, tangan gemetar tak tentu, dan rasa seolah ingin terus tersenyum. Tak lama, kamu dan teman-temanmu pergi dari situ.
Aku menghembuskan napasku. Dafa lalu memegang pundakku dan berkata, “Lumayan. Walaupun agak sedikit gugup tadi.”
“Huh... Gilaaa!!” ucapku seraya mengibas-ngibaskan tanganku.
Entah kenapa, setelah kejadian itu, kamu seolah mulai menyadari kehadiranku dan mungkin tertarik juga denganku. Apalagi, saat aku izin ke toilet pada jam pelajaran dan lewat di depan kelasmu. Aku selalu melihatmu yang juga ikut menatapku. Namun, terkadang aku melihatmu fokus dengan tanganmu yang menulis. Silahkan salahkan aku jika memang aku hanya gede rasa, karena terkadang aku juga beranggapan demikian.
Hingga pada suatu hari, di toilet.
Seminggu sebelum akhirnya aku bisa berjalan di sampingmu, aku baru saja selesai olahraga dan ganti baju di toilet. Awalnya, aku bersama dengan temanku, tetapi ia sudah pergi duluan karena ia merasa bahwa toilet pria itu bau. Tinggallah aku sendiri di toilet tersebut.
Setelah aku selesai ganti baju, aku lalu mengikat tali sepatuku. Kemudian, terlihat kamu dan temanmu yang lewat di depan toilet pria, menatapku sekilas, dan masuk ke dalam toilet wanita di samping.
Seperti harapan menjadi kenyataan. Sebelumnya, aku memang berharap bisa bertemu denganmu di sekitar situ. Aku lalu keluar dan melihat ke dalam toilet wanita.
Terlihat kamu yang menunggu temanmu di dalam toilet. Aku pun menunggumu keluar agar aku bisa menjalankan apa yang selama ini aku bayangkan. Namun, saat kamu dan temanmu keluar dari toilet, kakimu melangkah dengan sangat cepat, sehingga aku tidak sempat menyapamu dan bertanya tentang beberapa hal. Lagi-lagi, aku melewatkan kesempatan. Aku lalu berjalan di belakangmu.
Selanjutnya, betapa terkejut dan herannya aku saat melihatmu sesekali menoleh ke belakang, tepatnya ke arahku. Untuk memastikan, aku lalu menoleh ke belakang. Tidak ada siapapun. Kamu melihat ke belakang lagi dan kembali ke depan. Tingkahmu saat itu membuatku tersenyum dan memberiku harapan.
Saat sampai di kelasmu, kalian lalu masuk dan aku bisa melihat dengan jelas bahwa kamu berhenti di depan papan tulis. Aku juga bisa mendengar dengan jelas temanmu berkata, “Kamu ini kenapa, sih?”
Oh my God. Apa ini? Dia salting apa gimana?
Aku lanjut berjalan ke kelas dengan hati yang penuh kegembiraan.
***
Sekarang adalah bulan Oktober, yang mana sekolah akan mengadakan berbagai perlombaan dalam rangka memperingati Bulan Bahasa. Perlombaan itu terdiri dari bernyanyi, cipta puisi, baca puisi, hingga lomba cerdas cermat. Para guru sudah mengumumkan tentang hal ini jauh-jauh hari, sehingga sudah ada kelas yang memilih para siswanya untuk mewakili masing-masing perlombaan. Aku sendiri mengikuti lomba cipta puisi.
Sebelum acara tersebut dimulai, sangat ingin diriku bertanya padamu tentang lomba yang mungkin kamu ikuti. Namun, sepertinya kesempatan untuk bicara denganmu sudah tidak ada lagi.
Hingga akhirnya, di halaman sekolah, aku bisa bicara empat mata denganmu dan berjalan di sampingmu. Awalnya, aku pikir akan melewatkan kesempatan ini lagi seperti biasanya, tetapi ternyata keberanianku sudah meningkat.
Saat itu pulang sekolah, tepat satu hari sebelum acara Bulan Bahasa dimulai, aku melihatmu berjalan dengan temanmu di halaman sekolah. Kemudian, aku segera berlari menghampirimu dan berjalan tepat di sampingmu.
Kamu tak menoleh. Aku lalu berdehem dan kamu baru menoleh. “Kamu Fira kan?” tanyaku.
“Iya,” jawabmu, singkat.
“Kamu ikut lomba apa besok?”
“Lomba baca puisi.”
“Ooh.. Lomba baca puisi,” ucapku. Sungguh tak disangka. Ternyata, kamu mengikuti lomba yang mengharuskan kamu untuk tampil di hadapan banyak orang. Aku tidak sabar melihat pesonamu nanti.
“Kalo gitu, aku mau nonton deh nanti,” kataku seraya melihat temanmu di samping yang senyum-senyum sendiri. “Tampil urutan ke berapa?” tanyaku lagi.
“Sembilan,” jawabmu dan ku balas dengan anggukan. Sepanjang perjalanan menuju tempat parkir, aku terus melontarkan berbagai pertanyaan dan kamu menjawabnya dengan singkat. Hingga kita tiba di tempat parkir, menyudahi obrolan singkat ini.
“Oke, Fira. Sampai jumpa besok,” ucapku dan kita berpisah di tempat parkir itu. Aku menuju motorku dengan perasaan riang gembira dan sama sekali tidak bisa menyembunyikan senyum di wajahku.
Sebuah penantian yang panjang akhirnya menjadi kenyataan. Ekspektasi yang selama ini dikhayalkan menjadi terlaksana, walau tak sama. Kesempatan yang diberikan akhirnya dimanfaatkan dan tak lagi menyalahkan keadaan. Betapa bersyukurnya aku saat itu.
Hingga, hari esok pun tiba. Hari yang ku sebut sebagai titik balik dalam kisah percintaan ini.
Di hari itu, aku sedang fokus menulis puisi di dalam ruangan kelas. Sudah separuh dari selesai, lalu terdengar suara pembawa acara yang mengatakan, “Selanjutnya, peserta dengan nomor urut sembilan...”
Mendengar itu, aku terhenti menulis. Aku lalu mengangkat tanganku dan meminta izin kepada pengawas lomba untuk pergi ke toilet. Setelah diizinkan, aku langsung berdiri dari bangku dan berlari ke lapangan demi menyaksikanmu tampil membaca puisi di atas pentas.
Aku duduk di tempat duduk yang tersedia dan melihatmu di atas pentas yang mulai membuka mulut.
“Dengan latar belakang gubuk-gubuk karton, aku terkenang akan wajahmu.”
Terlihat kamu yang agak gugup, tetapi berusaha tetap santai, ibarat aku saat bicara denganmu kemarin.
“Di atas debu kemiskinan, aku berdiri menghadapmu.”
Aku terus menontonmu hingga kamu mengucapkan baris terakhir dari puisi karya W.S. Rendra tersebut.
“Wajah indah dan rambutmu menjadi pelangi di cakrawalaku.”
Kamu lalu memberi penutupan dan orang-orang bertepuk tangan. Termasuk aku yang bertepuk tangan dengan sangat nyaring. Kemudian, aku kembali ke ruangan lomba cipta puisi. Tentu, aku tidak ingin didiskualifikasi.
Tak lama, aku lalu selesai menulis puisi dan berkelana ke berbagai tempat. Di hari itu, seluruh siswa bebas membawa ponsel, bebas berfoto ria, seperti yang kamu dan teman-temanmu lakukan di lapangan sekolah.
Aku lalu menghampirimu dan memanggil namamu, “Fira,” kamu menoleh, “Foto yuk!” ajakku.
Entah kenapa, saat itu aku bisa bersikap spontaneous[1] hingga mampu mengajakmu berfoto. Aku juga tidak tahu apakah itu tindakan berani atau ceroboh, yang jelas aku haus akan kesempatan.
Kamu lalu menunjukkan wajah heran dan terkejut. “Foto?” tanyamu.
“Iya, foto. Pakai hpmu saja, hpku dibawa teman tadi,” ucapku. Memang, sebelumnya aku menitipkan ponselku ke temanku, tepatnya saat melihat kamu sedang berfoto ria di lapangan.
“Bentar ya. Aku foto dengan temanku dulu,” jawabmu.
Aku lalu mengiyakan dan menunggumu.
Setelah kurang lebih lima menit, aku lalu mendekati kalian yang seolah semakin menjauh dan aku berkata padamu, “Aku masih menunggu.”
Kalian lalu menatapku, kemudian saling berbisik. Setelah itu, kamu berdiri di sampingku. Temanmu sudah siap memegang ponselmu yang mengarah ke kita. Aku sudah siap berdiri tegak dan tersenyum. Namun, secara mengejutkan, temanmu yang hendak memotret kita, mengatakan sesuatu yang membuat jantungku berdebar.
Ia mengatakan, “Satu foto aja ya, soalnya sudah ada cowoknya.”
JEP! Aku tertegun. Namun, saat itu aku tidak percaya dan yakin kalau itu hanya alasan. Aku pun tetap berusaha santai dan berkata, “Ah! Tidak apa-apa. Foto saja!”
Kita lalu difoto, kemudian kamu melihat hasilnya. “Bagus juga,” ucap salah satu temanmu.
Aku lalu berkata padamu, “Oke. Entar kirim ya. Sini, aku kasih nomor WA-ku.” Sebuah taktik yang mantap bukan?
Kamu menyerahkan ponselmu, aku mengetik nomorku, dan menyimpannya sebagai Rian.
“Sudah?” tanyamu.
“Sudah. Nih, ‘Rian’,” ucapku seraya menunjukkan kontakku ke kamu.
“Oke. Nanti aku kirim kalau sudah di rumah.”
“Kenapa nggak sekarang aja?”
Kamu tersenyum, “Entar aja, di rumah.”
“Oke deh, kalau begitu. Aku akan menunggu.”
Kamu dan teman-temanmu lalu perlahan pergi dari situ. Aku juga pergi seraya mengucapkan terima kasih.
Sungguh momen yang luar biasa, walaupun kata-kata temanmu tadi membuatku kalut.
***
Sepulang sekolah, aku menceritakan kejadian tadi ke Dafa yang sedang main ke rumahku, seraya menunggu pesan WhatsApp darimu. Selesai bercerita, Dafa memberikan tepuk tangan dan menatapku dengan bangga. Namun, ia sedikit terkejut saat aku memberitahu bahwa kamu sudah punya kekasih.
“Tapi.. menurutmu, dia beneran sudah punya pacar nggak, sih?” tanyaku.
“Bisa iya, bisa tidak,” jawab Dafa.
Pesan WhatsApp dari nomor anonim lalu masuk ke ponselku. Seperti yang diduga, nomor itu mengirimkan foto kita berdua, sehingga membuatku senang. Namun, pesan selanjutnya berhasil menghilangkan perasaan itu.
Pesan itu tertulis, “Jangan deketin cewekku. Ini cowoknya,” kemudian aku diblok.
JEP! Hatiku seakan retak seketika dan serpihannya berjatuhan membuatku berteriak, “AAAAAAAAAAAHH!!!!”
Aku menunjukkan ponselku ke Dafa. Ia hanya bisa iba dan berkata, “Yang sabar ya.”
“Ke.. Kenapa!?” tanyaku.
“Ya, satu hal yang harus kamu tahu, Rian: terkadang, cinta memang begitu.”
Aku bersedih, tapi tak mampu menangis. Semua ekspektasi yang ku bayangkan, menjadi mustahil seketika. Semua harapan yang ku miliki, berubah menjadi putus asa. Semua kesempatan yang ingin ku dapatkan, direnggut oleh “kekasih”-mu yang tak ingin aku kenali.
Dia sama sekali tidak memberi kesempatan untukku mengenalimu lebih dalam dan kesempatan untukmu yang mungkin ingin memilih. Namun, aku sadar, jika seandainya aku berada di posisinya, aku juga akan melakukan hal yang sama. Siapa yang tidak resah saat kekasihnya didekati oleh orang lain?
Hari itu serta hari-hari berikutnya, yang ku rasakan hanyalah sendu dan putus asa. Memang, aku terlihat bahagia di hari esok maupun lusa, tetapi di dalam hati, aku dapat merasakan hatiku yang terluka.
Sekarang, aku hanya duduk di kelasku sementara waktu sudah istirahat. Aku jadi malu lewat di depan kelasmu atau ke kantin. Namun, aku sadar bahwa aku tidak boleh terlihat begitu. Aku harus terlihat baik-baik saja.
Aku pun berdiri dari bangku dan pergi keluar kelas. Aku tiba di kantin, sama sekali tidak terlihat batang hidungmu. Namun, saat aku kembali ke kelas, terlihat kamu yang duduk di depan kelasmu bersama teman-temanmu. Aku terus menolehmu dengan niatan tersenyum padamu. Namun, kamu sama sekali tidak menolehku, hanya menunduk dan menatap sepatumu.
Ingin sekali aku mengucapkan terima kasih atas rasa yang kau berikan selama ini. Ingin sekali aku minta maaf karena telah mengganggu hubungan kalian. Dan ingin sekali aku mengatakan bahwa aku takkan mendekatimu lagi, walau kesempatan itu ada.
Karena aku sadar, menyukaimu tak semestinya harus memilikimu.
Komentar
Posting Komentar