Ingatkah Kamu Denganku?
Story by: Fidhil Rahyan
Setiap kali aku menjengukmu, aku
selalu bertanya, “Masih ingatkah kamu denganku?”
Hari itu sepulang sekolah, seperti biasa, aku datang ke rumahmu dengan membawa sekantong buah jeruk yang ku beli menggunakan sisa uang jajanku. Menemuimu yang duduk di atas kursi roda di dalam kamarmu. Duduk di hadapanmu yang terdiam, mencoba mengingatkan siapa dirimu, dan mengenalkan diriku untuk ke sekian kalinya.
Namaku Jaka, hanya seorang siswa biasa kelas 3 SMA, yang mencoba untuk merawat sahabatnya yang kehilangan ingatan sejak satu setengah bulan yang lalu. Kamu bahkan lupa dengan namamu sendiri: Anya. Entah kenapa kamu bisa kehilangan ingatan setelah ditinggal oleh kekasihmu hari itu. Apakah kesedihan telah menyembunyikan seluruh ingatanmu? Atau air matamu yang telah menyapu bersih semua memori yang ada di dalam benakmu?
Apapun itu, aku sangat membencinya.
Saat ini, yang bisa ku lakukan hanyalah menemanimu setiap hari—setiap pulang sekolah, bahkan di hari libur—dan mencoba mengingatkanmu tentang dirimu, keluargamu, dan semua hal. Termasuk diriku ini, sahabatmu yang memendam rasa padamu sejak dulu.
Masih ingatkah kamu denganku? Masih ingatkah kamu tentang aku, sahabatmu yang selalu menemanimu di kala senang dan susah. Aku, teman sekelasmu yang memendam rasa padamu dan sukar untuk ku ungkapkan karena kamu yang sudah memiliki kekasih.
Kekasihmu saat itu bernama Alka. Dia tinggal di luar kota sejauh 200 km dari rumahmu. Hubungan jarak jauh membuat dirimu sering kali menghabiskan waktu dengan menatap layar ponsel atau memainkannya setiap kali aku bertemu denganmu. Bahkan, saat kamu tidak berkomunikasi online dengannya, kamu malah membicarakan tentang dia kepadaku.
Setiap kali kita bertemu, entah itu di kelas sewaktu istirahat, atau saat aku berkunjung ke rumahmu, kamu selalu membicarakan tentang kekasihmu, Alka. Tentang bagaimana ia menghabiskan hari-harinya sebagai mahasiswa, atau sekedar memberitahu cerita lucu yang ia alami bersama teman-temannya di sana. Tentang bagaimana kamu kagum padanya yang selalu mendapat nilai tinggi, dan tentang bagaimana dia mengirimimu barang atau uang dengan santai.
Aku selalu menanggapi semua itu dengan senyum, walau hatiku terasa tersayat. Satu demi satu sayatan.
Aku masih bisa menahan rasa sakit itu sejak aku terbiasa. Namun, saat kamu berkata bahwa kamu sangat menyayanginya dan akan setia padanya, rasa sakit itu tidak bisa ku lawan. Itu juga membuat harapanku sirna. Seperti burung yang kehilangan sayapnya, sedangkan ia ingin terbang melintasi awan. Seperti mobil yang kehilangan rodanya, sedangkan ia ingin pergi berkelana sejauh mungkin. Saat itu, aku berniat untuk menjauh darimu agar rasa ini hilang, tetapi ada sesuatu di hatiku yang menekan diriku agar terus berada di dekatmu. Ku rasa itu cinta.
Lalu, harapanku seakan kembali lagi saat kamu menceritakan pertengkaranmu dengan kekasihmu. Saat kamu meminta solusi atau alasan kenapa para pria melakukan hal itu sehingga kamu jadi kesal.
Aku juga merasa masih ada harapan saat kamu menangis di depanku karena ulah kekasihmu. Saat kamu mencurahkan isi hatimu tentang dia yang terlihat cuek atau tentang dia yang terlihat romantis dengan wanita lain yang kamu lihat di Instagram storynya. Aku hanya bisa menanggapi dengan berprasangka baik terhadap kekasihmu agar kamu tidak bersedih lagi atau membiarkanmu memelukku dengan air mata yang bercucuran supaya kamu bisa tenang.
Aku memang senang saat harapan itu kembali, tetapi aku tidak senang saat melihatmu menangis. Bahkan, aku juga ikut bersedih dan mencoba segala cara untuk mengembalikan senyum di wajahmu.
***
Masih ingatkah kamu denganku? Masih ingatkah kamu saat aku menjadi orang pertama yang kamu beritahu tentang kekasihmu yang akan segera pulang menemuimu. Aku ingat hari itu kamu sangat bahagia mendengar kabar bahwa Alka akan pulang sementara dan mampir ke rumahmu. Tentu, hal itu membuat harapanku kembali sirna, tapi entah kenapa, melihat wajahmu yang gembira membuatku tenang.
Namun, wajah gembira itu harus sirna saat kamu mendapat kabar bahwa Alka takkan berhasil sampai ke rumahnya dengan selamat. Seseorang memberitahu tentang kecelakaan motor di jalan raya sejauh 50 km dari rumahmu yang menimpa seorang pria. Orang itu adalah Alka, kekasihmu.
Awalnya, kamu tidak percaya. Namun, saat seseorang menunjukkan foto pria yang kamu kenal, tergeletak di aspal dengan darah yang tumpah di sekitarnya, kamu lalu teriak histeris, air matamu keluar seketika, kemudian kamu pingsan tepat di hadapanku. Seketika itu, aku langsung menyambutmu dan membawamu ke rumah.
Kamu terbangun beberapa jam kemudian di atas kasurmu, mencoba menyangkal tentang kematian kekasihmu. Namun, semua orang di rumahmu telah bersedih atas kepergiannya dan mencoba meyakinkanmu bahwa ia telah pergi. Aku tidak di sana saat itu, tetapi ibumu berkata bahwa kamu sempat berlagak seperti orang gila setelah mendapat kepastian bahwa kekasihmu telah tiada. Ibumu memelukmu, mencoba menenangkanmu, tetapi kamu malah makin menggila dan mengusirnya dari kamarmu. Hari itu, kamu mengurung diri di dalam kamarmu sepanjang hari.
Kamu sempat hadir di pemakaman Alka dengan air mata yang tak bisa berhenti keluar. Begitu pula aku, tak bisa menahan air mataku saat melihat kamu penuh dengan duka di seberang liang lahat sana. Teman-temanmu tak bisa berhenti memegangmu, menggandeng, dan memelukmu. Jika mereka tidak ada di sana, percayalah, aku yang akan berada di sampingmu.
Keesokan harinya, kamu seakan-akan berubah. Kamu tidak ada di kelas selama beberapa hari. Di buku absen tertulis bahwa kamu sakit. Kamu tak pernah membalas bahkan melihat pesan WhatsApp dariku. Padahal kamu selalu online atau terakhir dilihat beberapa menit yang lalu. Saat aku mengunjungimu, ibumu yang menghampiriku. Ia berkata bahwa kamu tidak keluar dari kamarmu belakangan itu. Hanya keluar saat buang air kecil ataupun besar. Itu pun jarang, karena ibumu bilang makananmu yang ia bawakan selalu tidak habis.
Aku mengetuk pintu kamarmu dan memanggil namamu, “Anya.. Anya.. Anya..”
Hening.
“Anya,” kataku, sekali lagi.
Masih hening.
“Anya. Ini aku.”
Masih tak terdengar jawaban darimu. Hingga saat aku ingin pergi, suaramu terdengar.
“Alka?”
Kali ini, aku yang terdiam.
“Itu kamu ya, Alka?”
Aku menghela napas, “Ini aku. Jaka.”
“Oh. Kirain Alka,” balasmu.
“Anya. Boleh aku masuk? Aku ingin melihat kondisimu. Sudah tiga hari kamu tidak sekolah dan kami rindu kamu,” aku memejamkan mataku seraya memegang pintumu, “terutama aku.
Aku... rindu kamu.”
Lalu tak terdengar respons darimu.
“Baiklah, kalau memang kamu mau menyendiri untuk saat ini, aku akan membiarkanmu. Tapi, kalau kamu butuh seseorang untuk menemanimu atau sekedar menjadi teman curhat, panggil saja aku. Aku akan selalu ada untukmu,” ucapku, lalu perlahan melangkahkan kaki dari situ.
Jika aku tahu kalau itu adalah terakhir kalinya aku bicara padamu sebagai Anya yang mengenaliku, mungkin aku takkan membiarkanmu sendiri. Namun, aku bukanlah penyihir yang bisa meramal apa yang nanti akan terjadi. Saat mendengar kabar bahwa kamu kehilangan ingatan, aku langsung mengunjungimu.
Saat itu, jam pelajaran pertama, seorang guru piket menyampaikan berita tentangmu. Aku langsung mengangkat tangan, mengambil tasku, dan minta izin ke guru untuk menjengukmu. Awalnya, mereka tidak memperbolehkan, tetapi aku memaksa mereka, hingga aku bisa bergegas ke rumahmu.
Sesampainya di sana, aku melihatmu sudah duduk di kursi roda dalam kamarmu. Kamu terdiam dengan tatapan kosong.
“Anya!” ucapku, sambil terurai air mata. Aku berlutut di depanmu sambil memegang tanganmu. “Anya ini aku, Jaka. Kamu ingat ‘kan?”
Kamu hanya terdiam. Aku pun menangis di depanmu. Ibumu yang melihat kita dari pintu kamarmu juga ikut menangis, walau ia sudah menangis sejak pertama kali mendengar perkataan dokter tentang dirimu yang mengalami amnesia.
Sejak itu, teman-temanmu bersama aku, datang mengunjungimu setiap pulang sekolah. Kami mencoba mengingatkanmu tentang siapa dirimu dan siapa diri kami. Namun, kamu tak merespons layaknya robot yang belum diprogram.
Lama-kelamaan, satu per satu temanmu berhenti mengunjungimu. Mengatakan bahwa sudah tidak ada harapan untuk mengembalikan kenangan indahmu bersama mereka. Satu per satu temanmu tak lagi mampir ke rumahmu. Hingga, hanya aku yang tersisa.
***
Aku mengupas jeruk yang ku belikan untukmu dan memasukkannya ke dalam mulutmu. Kamu membuka mulut, mengunyah, dan menelan jeruk tersebut. Kamu lalu tersenyum.
“Enak?” tanyaku.
Kamu hanya terdiam dengan senyum yang masih melekat di wajah. Aku pun ikut tersenyum, walau hatiku masih berharap kamu mengingat segalanya. Ibumu lalu mengetuk pintu kamarmu dan menyuruhku untuk mendekat.
“Ada apa, Bu?” tanyaku. Ingatkah kamu dengan aku yang juga memanggil ibumu dengan sebutan “Ibu”?
Ibumu lalu menghela napasnya dan berkata, “Jaka. Kami sangat berterima kasih atas apa yang kamu lakukan pada Anya sebulan terakhir ini. Dan, kalaupun kamu mau berhenti, kami semua paham kok.”
“Oh, enggak, Bu. Saya akan tetap merawat Anya.”
Ibumu memandangku dengan tatapan haru. “Tapi Nak, kamu punya kehidupanmu sendiri. Masih ada sekolah yang harus kamu selesaikan dan cita-cita yang kamu capai, atau mungkin orang tua yang wajib kamu rawat.”
“Tidak apa-apa, Bu. Saya yakin dan selalu berharap bahwa Anya bisa melihat sahabatnya ini menyelesaikan sekolah dan mencapai cita-citanya. Dan juga, orang tua saya kerja di luar kota, Bu, bagaimana saya bisa merawat mereka selain dengan memanjatkan doa?” ibumu terdiam, “lagi pula, kalau saya ikhlas dan mampu, kenapa tidak?
“Tapi, kami merasa nggak nyaman, Nak.”
“Tidak apa-apa, Bu. Ini kemauan saya sendiri, bukan karena paksaan dari Ibu dan keluarga.”
“Ibu takkan bisa membalas besarnya kebaikan yang telah kamu lakukan, Nak,” ucap ibumu seraya memelukku.
“Saya tidak mengharapkan balasan, Bu. Saya melakukan ini karena saya cinta dengan Anya serta keluarganya.”
Memang benar, aku tidak mengharapkan balasan apapun. Aku melakukan semua ini bukan karena ingin mendapat restu dari ibumu atau ingin membuatmu agar menjadikanku sebagai pengganti Alka saat kamu sembuh nanti. Aku melakukan semua ini karena rasa cinta yang ada di hatiku.
Pernah sekali aku mencoba untuk tidak menjengukmu dan itu berhasil membuat hatiku gelisah serta khawatir padamu. Walau aku tahu takkan ada badai besar yang menghantam rumahmu atau seorang pencuri yang akan mengambil kursi rodamu, aku tetap merasa khawatir.
Satu-satunya yang ku harapkan dari perlakuanku ini adalah kamu dapat kembali mengingat segalanya. Aku sangat berharap kamu kembali menjadi Anya yang dulu, tetapi sudah menerima kenyataan tentang kekasihnya yang telah pergi.
Hingga hari-hari berikutnya, harapanku perlahan terwujud.
Pertama, kamu mulai mengingat beberapa patah kata dan nama-nama benda di sekitar. Kamu mulai berbicara walau masih belum fasih. Kamu mulai menyebut satu kalimat walau masih terasa kurang. Tetapi yang paling berkesan adalah saat kamu mulai mengingat namamu.
Suatu hari, aku tertidur di kursi depanmu, kemudian terdengar suaramu.
“Anya,” aku terbangun, “namaku Anya ‘kan?”
Mataku melotot dan langsung mendekatimu, “Kamu bilang apa tadi?”
“Na.. Namaku Anya!” ucapmu dengan yakin, “Namaku Anya!”
Terlihat senyum lebar di wajahmu saat mengatakan itu, hingga ibumu langsung menghampiri.
“Ada apa, Jaka?” tanya ibumu.
“Bu. Anya sudah ingat namanya,” teriakku.
“Alhamdulillah!” ucap ibumu seraya bersujud di depanku. Aku tersenyum dan hampir mengeluarkan air mata haru. Tidak sia-sia penantianku selama tiga bulan ini.
Kemudian, kamu mulai mengingat keluargamu. Saat aku datang ke rumahmu, aku melihat ibumu, ayahmu, dan adikmu, menangis di depanmu. Awalnya, aku pikir itu tangisan putus asa, tetapi ternyata itu tangisan haru.
“Jaka. Sini, Nak!” panggil ibumu saat melihatku masuk.
Ibumu menunjukkanku padamu dan bertanya, “Anya. Kamu ingat Jaka?”
Kamu menatapku, lalu tersenyum ragu, dan menggelengkan kepalamu.
“Tunggu. Anya sudah ingat Ibu?” tanyaku pada ibumu.
“Tidak cuma Ibu. Anya sudah ingat dengan ayah dan adiknya,” ucap ibumu.
“Terima kasih, Nak. Kamu juga punya andil atas ini,” ucap ayahmu seraya memelukku.
Aku ikut tersenyum melihat keluargamu yang bahagia. Namun, aku masih bertanya-tanya, “Kenapa kamu masih belum mengingatku?”
***
Minggu demi minggu berganti, aku tetap di sampingmu. Beribu kali aku bertanya “Ingatkah kamu denganku?” tetapi jawabannya selalu “tidak.” Kamu sudah bicara lumayan fasih dan kamu sangat ingat dengan keluarga kecilmu. Selanjutnya, kamu ingat dengan seseorang. Ku pikir orang itu adalah aku. Namun, ternyata bukan.
“Aku punya pacar,” ucapmu. Aku yang duduk di depanmu langsung tertegun dan menolehmu.
“Aku ingat. Aku punya pacar. Namanya... Alka.”
Aku terdiam. Tak tahu harus merespons apa.
Kamu melanjutkan dengan wajah riang dan yakin, “Iya, benar. Alka. Ia tinggal di luar kota. Aku harus telpon dia,” ucapmu seraya mencoba meraih ponselmu yang ada di atas meja sampingmu.
Aku langsung berdiri dan memegang tanganmu, “Maaf, Anya. Kamu tidak bisa menghubunginya.”
Kamu menolehku dengan tatapan heran, “Kenapa?”
Aku hanya terdiam. Kamu lalu berkata dengan nada agak tinggi, “Sekarang aku sangat ingat kalau aku punya pacar namanya Alka. Dia... sedang sekolah di luar kota saat ini. Sudah! Jangan halangi aku!”
“Tapi...” ucapku yang masih memegang erat tanganmu.
Ibumu lalu datang menghampiri, “Ada apa, Anya, Jaka?”
“Ibu. Benar ‘kan aku punya pacar yang namanya Alka?”
Ibumu tertegun memegang dadanya. Ia terdiam menatapku yang juga ikut menatapnya. Aku seolah bertelepati kepada ibumu tentang apa yang harus kami perbuat untuk menanggapimu. Lalu, ibumu menghela napasnya dan menghampirimu dengan tenang.
“Anya. Kamu ingat dengan Alka?”
Aku melepaskan tanganmu dan kamu menaruhnya di atas pahamu, “Iya, Bu. Aku ingat dia. Aku ingat wajahnya, suaranya, sikapnya, dan aku ingat kami masih bersama.”
Ibumu menatapku. Aku berbisik, “Bagaimana ini, Bu?”
Ibumu menghela napasnya lagi dan berkata padaku, “Maaf, Nak. Ibu nggak berani.”
“Bagaimana kalau saya saja yang ngasih tahu, Bu?”
Ibumu lalu mengangguk.
“Ee.. Memangnya ada apa?” tanyamu, “Alka masih pacarku ‘kan?”
Aku menatapmu, menghela napasku, dan memegang pundakmu. Perlahan, aku berkata padamu, “Maaf ya, Anya. Alka sudah tidak ada. Dia sudah lama meninggalkan kita sejak beberapa bulan yang lalu.”
Kamu lalu tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalamu, “Enggak enggak enggak. Alka masih ada. Aku ingat terakhir kali aku nge-chat dia. Dia cerita tentang... dia dan temannya yang pergi ke... suatu tempat.”
“Anya,” ibumu mulai bersuara, “benar apa kata Jaka. Alka sudah tidak ada. Ibu tahu ini berat, tapi itu sudah lama. Kamu harus merelakannya.”
Kamu malah semakin menggeleng-gelengkan kepalamu, “Enggak enggak enggak.”
“Anya. Maaf ya. Kami semua mengerti bagaimana perasaanmu,” ucap ibumu.
“Enggak, Bu.. Dia masih ada!”
“Anya. Sudahlah.”
“ENGGAK!” teriakmu membuat jantung kami berdetak kencang.
“Dia masih ada, Bu! Aku tahu itu!” katamu seraya meraih ponselmu.
“Tidak, Anya,” ucapku seraya menahan tanganmu lagi.
“Lepaskan aku!” teriakmu.
Ayah dan adikmu lalu datang menghampiri. “Ada apa ini?” tanya ayahmu.
“Anya. Kami sudah memberitahumu kalau Alka sudah tidak ada,” ucapku sekali lagi, “dan itu bukan salahmu. Itu memang sudah takdir. Tuhan yang menentukannya.”
“TIIDAAAAAKK!! DIAM KAMU!” teriakmu dengan sangat nyaring. “Aku tidak percaya kamu! Aku tidak mengenalimu!” ucapmu seraya mendorongku hingga terjatuh ke belakang.
Mendengar itu, hatiku seolah hancur seketika tanpa retak di awal. Aku langsung bisa merasakan sesak di dadaku dan air mata yang hendak keluar.
“PERGI KAMU! Kamu... bukan Alka!” ucapmu. Tanpa pikir panjang, aku langsung berdiri, mengambil barang-barangku, dan pergi dari situ.
“Jaka!” teriak ibumu.
Aku berjalan keluar dari rumah menuju motorku yang terparkir di samping terasmu. Baru sampai teras, ibumu sudah ada di belakangku dan memanggil namaku. Aku menolehnya dengan air mata yang sudah membasahi pipiku.
“Maaf ya, Nak. Ibu sangat-sangat minta maaf. Tak Ibu sangka Anya bisa berkata begitu,” ucap ibumu yang ternyata juga sudah berurai air mata.
“Kenapa, Bu? Kenapa?” tanyaku, “Atas apa yang saya lakukan selama ini padanya, kenapa ia masih belum bisa mengingatku? Kenapa malah Alka, seseorang yang tidak ada di sisinya selama ini, yang ia ingat? Kenapa bukan saya?”
Ibumu terdiam, hanya menangis.
“Saya tahu saya tidak mengharapkan apa-apa, tetapi setidaknya...” aku mencoba menahan isak tangis, “kenapa ini yang saya dapatkan atas kesetiaan ini?”
Ibumu mendekatiku dengan perlahan dan memelukku. Aku berhasil membasahi pundak ibumu dengan air mataku. Ibumu mencoba menenangkanku dengan mengusap-usap punggungku.
Lalu, ibumu mengatakan sesuatu yang takkan pernah ku lupakan, “Jika kamu bisa setia dengan Anya, maka Anya pun juga begitu. Anya juga bisa setia dengan Alka.”
Ibumu melepas pelukannya dan memegang kedua pundakku dengan tangannya, “Jika kamu mengerti bagaimana rasanya setia pada seseorang, seharusnya kamu paham kenapa Anya bisa bertindak seperti itu.”
Aku menghapus air mataku. Kemudian, terdengar teriakanmu dari dalam rumah. Aku ingin sekali berlari menghampirimu, tetapi rasa sakit di hati menahan langkah kakiku.
Ibumu terlihat cemas dan berkata, “Sekali lagi maaf ya, Jaka. Ibu yakin kok, suatu saat Anya akan ingat tentang kamu. Ia akan ingat pengorbanan yang telah kamu lakukan dan betapa setianya kamu.”
Ibumu menghapus air mataku di pipi dan aku tersenyum, “Iya, Bu. Terima kasih,” ucapku.
“Ibu masuk dulu, ya,” ucap ibumu dan ku balas dengan anggukan. Ibumu lalu masuk ke dalam rumah dan menghampirimu.
Aku lalu berjalan menuju motorku dan berusaha menahan rasa sakit yang masih menggelora di dalam dadaku. Tiba-tiba, air mataku keluar lagi. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan dan apa yang selanjutnya harus ku perbuat? Haruskah aku bertahan atau pergi meninggalkanmu? Aku tahu kedua-duanya bisa menyakitkan.
Lalu, aku berdiri di samping motorku, membiarkan air mata ini keluar membasahi pipi. Berharap kesedihan ini dapat menghapuskan ingatanku tentang dirimu. Tentang betapa cintanya aku padamu. Tentang betapa setianya aku padamu.
Seperti kesedihan yang telah menghapus ingatanmu akan segalanya.
Terkadang, harga yang harus dibayar dari sebuah kesetiaan adalah patah hati.
BalasHapus