Senyuman
Story by: Fidhil Rahyan
Jika
ada yang bertanya padaku tentang bagaimana kabarku hari ini, maka aku akan
menjawab dengan yakin bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. Lelah, pasrah,
kesepian, dan sedih, mungkin semua itu bisa mendeskripsikan diriku—seorang
gadis yang bernama Laras—saat ini.
Tugas sekolah yang bertumpuk harus kuselesaikan satu per satu sebelum makin bertambah. Sebab itu aku duduk sendiri di bangkuku dalam ruang kelas 11 IPS 2, menyelesaikan tugas bahasa Indonesia, salah satu tugas dari tumpukan buku-buku latihan yang belum dikumpulkan. Itu cukup membuatku lelah.
Teman-teman sekelasku juga sering menghinaku belakangan ini, terutama para laki-laki. Sejak aku memakai kawat gigi, mereka mulai menertawakanku. Salah satunya pernah berkata, "Hey. Jangan dekat-dekat sama Laras, nanti nyangkut di kawat giginya," dan satu kelas tertawa. Tentu, perkataan itu menyakitkan. Ingin melawan tetapi takut dikatakan baperan, ingin diam saja tetapi hatiku tergores. Hingga, aku hanya bisa pasrah.
Selain itu, entah kenapa satu-satunya teman dekatku, Erin, yang biasanya bersama denganku malah asyik bercanda ria dengan salah satu geng di kelas kami. Ditambah lagi, aku yang baru saja putus dengan pacarku, Nando. Walaupun aku tidak begitu mempermasalahkannya karena ia yang tidak begitu serius dengan hubungan kami. Namun, itu cukup membuatku kesepian.
Tak bisa dipungkiri bahwa kini aku sedang merasakan kesedihan di hatiku yang terdalam.
Tugas bahasa Indonesia yang kukerjakan akhirnya selesai. Tugas yang sangat menguras tenaga, yang berhasil menghabiskan tiga halaman buku tulis yang baru kubeli tadi pagi. Tugas ini seharusnya dikumpulkan kemarin, tetapi aku sama sekali tidak menyentuh buku latihan bahasa Indonesiaku karena sifat malasku dan juga buku latihanku yang tidak ada. Bahkan, buku tersebut tak terlihat hingga kini. Sebab itu aku menggunakan buku tulis baru.
Aku juga sengaja membeli buku tulis dengan kover bergambar para anggota Blackpink, karena aku tahu Pak Setyo, guru bahasa Indonesiaku, merupakan penggemar Blackpink. Aku berharap ini bisa membuatnya senang dan menutupi keterlambatanku dalam mengumpulkan tugas.
Aku lalu berdiri dari bangku dan berjalan keluar kelas. Di depan kelas, terlihat salah satu teman sekelasku, Hesty, yang sedang asyik bercanda ria dengan teman-teman satu gengnya. Tawanya yang menggelegar, wajahnya yang penuh dengan keriangan, dan keceriaan yang ia tebar berhasil menjadikannya orang yang paling menonjol dan disenangi di dalam gengnya.
Di dekat situ juga ada Jessica dan William, pasangan baru di kelasku. Jessica, seorang gadis dengan kecantikannya yang alami tanpa memakai skincare, dan William, seorang lelaki yang bisa dibilang paling tampan di kelasku. Tak heran mereka dapat berpacaran.
Aku mulai berjalan di koridor, lalu berpapasan dengan Rini yang baru kembali dari perpustakaan. Banyak teman-temanku yang bersalaman dan mengucapkan selamat padanya, mengingat ia adalah satu-satunya makhluk di kelas kami yang sangat berprestasi dan menjadi kebanggaan sekolah. Ia baru saja memenangkan lomba cerdas cermat antarsekolah sekabupaten. Siapa yang tidak kagum dengannya? Apalagi ia berhasil mengalahkan anak dari kelas IPA.
Aku lalu berhenti sebentar dan menoleh ke belakang. Aku melihat kembali semua yang telah kulihat tadi. Mereka semua ada di depan kelas dengan kebahagiaan dan keceriaan mereka masing-masing. Hatiku seolah iri melihat semua itu. Kebahagiaan Hesty, keromantisan Jessica dengan William, dan kesuksesan Rini, berhasil menampar diriku yang tidak memiliki apa yang mereka miliki saat ini, selain kesedihan.
Aku lalu melanjutkan langkah kakiku, mencoba untuk tak mengindahkan mereka yang tidak peduli dengan kepiluan yang kualami saat ini. Hanya berjalan saja menuju kantor untuk mengumpulkan tugas bahasa Indonesia yang sangat melelahkan ini.
***
Usai kuserahkan buku tulisku, Pak Setyo tersenyum saat melihat kovernya yang bergambar para anggota Blackpink.
Lalu wajahnya berubah menjadi datar kembali serta bertanya, “Kenapa baru ngumpulin?”
Aku lalu menjawab dengan halus, “Banyak tugas dari mapel lain yang harus saya kerjakan, Pak.”
“Terus, kenapa teman-temanmu bisa selesai kemarin?”
“Kemarin saya belum ngerjain, Pak. Soalnya buku latihan saya hilang. Ini aja saya pake buku baru.”
Pak Setyo mengernyitkan alisnya dan segera membuka bukuku. Ia melihat isi buku itu yang hanya berisikan satu tugas.
“Loh, nggak bisa gini!” ucap Pak Setyo seraya menyerahkan buku tersebut.
“Kenapa, Pak?” tanyaku yang kaget sekaligus heran.
Pak Setyo menghela napas, “Kamu kan tahu, ini tugas terakhir di semester 1. Jadi, semua nilai dari tugas-tugas sebelumnya harus saya rangkum. Nah masalahnya, kamu pake buku baru, saya jadi nggak tahu nilai-nilai tugas kamu yang sebelumnya.’’
“Ya mau gimana lagi, Pak? Buku saya kan hilang.”
“Ya salah sendiri, kenapa nggak dijaga bukunya? Saya ingat kok semua buku kalian udah saya kembalikan.”
“Yaudah, Pak. Kalo gitu, ini tugasnya diterima saja dulu. Nanti kalau udah ketemu buku latihannya, saya kumpulin deh.”
“Loh, nggak bisa gitu dong! Saya pusing nanti ngurusinnya. Lagian kan saya sudah pernah bilang setiap orang harus punya satu buku latihan dan nggak boleh lebih.’’
“Berarti saya harus nyari bukunya dulu, terus ngerjain lagi di buku itu?”
“Ya terserah, mau kamu tulis ulang kek, atau kamu robek tugasnya dari buku ini terus tempel ke buku latihan kamu. Asal yang dikumpulin cuma buku latihan kamu.”
Aku menghela napasku, mengambil bukuku, dan berkata, “Yaudah, Pak. Nanti saya cari deh.”
“Ya. Dan saya mau kamu ngumpulinnya besok. Kalo tidak, berarti nilai kamu kosong.”
Kesal, geram, dan rasanya ingin mencekik guru ini, tetapi aku tertahan oleh sikap hormat dan peraturan sekolah. Jika Pak Setyo tidak lebih tua dariku atau bukan seorang guru di sekolah, mungkin aku sudah menamparnya dengan buku tulisku ini. Kemudian, ia tertawa karena buku ini bergambar anggota band yang ia suka. Mungkin baginya rasanya sama seperti dicium Jisoo di pipi.
“Ada lagi?” tanyanya, membuyarkan khayalanku yang jika dibiarkan akan semakin mengada-ngada. Aku lalu menggelengkan kepalaku dan pergi dari situ.
Sesampainya di kelas, aku mulai mengintip setiap laci meja teman-teman sekelasku. Hingga saat bel masuk kelas sudah berbunyi, aku telah mengecek seluruh laci meja, tetapi tak ada rupa-rupa dari buku latihanku.
Aku duduk di bangkuku dan menatap wajah teman-teman sekelasku satu per satu. Kali ini ternyata jam kosong, mereka semua berjalan ke sana-sini, berkumpul pada satu bangku, dan diam-diam memainkan ponsel.
Aku lalu berdiri dari bangku dan mulai bertanya pada mereka satu per satu. Namun, banyak sekali yang tidak mengindahkanku, hanya beberapa yang merespons. Kebanyakan dari mereka sibuk berbincang, memainkan Mobile Legend, dan menyaksikan “badut kelas” yang sedang menghibur seisi kelas layaknya sirkus. Aku terabaikan, sehingga aku kembali duduk di bangkuku bersama kesendirian.
***
Sepulang sekolah, aku langsung bergegas ke kamar dan mengobrak-abrik lemari tempatku menyimpan buku-buku. Satu per satu kulihat buku-buku di situ, tetapi sama sekali tidak ada buku latihan bahasa Indonesiaku. Aku juga sudah mencari di sela-sela lemari, tetapi hasilnya nihil.
Kemudian, aku keluar dari kamar, pergi ke ruang tamu. Terkadang aku mengerjakan PR-ku di ruang tamu, sehingga aku mencari di sana: di bawah meja, di sela-sela sofa, di lemari, dan di penjuru ruangan. Namun, tidak ada.
Aku lalu memutuskan untuk membongkar lemari yang ada di ruang tengah. Biasanya, saat membersihkan rumah, ibuku akan menyimpan apapun yang ia anggap penting ke dalam lemari tersebut. Aku mulai membuka pintu lemari itu dan mengeluarkan barang-barang dari dalam satu per satu.
Hampir setengah jam berlalu, semua isi lemari itu telah berada di depannya dengan berantakan, dan bukuku masih belum ditemukan. Ibuku lalu datang menghampiri dan melihat diriku yang duduk di lantai bersama barang-barang yang berantakan itu.
“Astaga, Laras!” ucapnya dengan nyaring.
Aku lalu melihat di sekitarku dan menghela napas.
“Kenapa kamu masih pake seragam sekolah?” tanyanya.
“Hah?”
“Kotor dong kena debu. Kamu kan tahu lemari itu berdebu.”
“Nanti Laras cuci, Bu. Lagian besok baju ini nggak dipake.”
Ibuku menunjuk barang-barang yang berantakan di dekatku, “Ini juga semua nanti kamu beresin ya.”
“Iya, Bu.”
“Terus jangan lupa disapu lantainya!”
“Iya,” jawabku dengan datar.
“Terus sekalian dipel.”
“Lah?”
Ya biar bersih.”
“Okay, fine,” jawabku sambil satu per satu memasukkan barang-barang ini kembali ke dalam lemari. Ibuku terus memperhatikanku.
Tak lama, ia berkata, “Sekalian cuci piring.”
“Loh!?”
***
Saat jam menunjukkan pukul 16:30, aku sudah melakukan semua pekerjaan rumah yang ibuku suruh dan bukuku masih belum ketemu. Aku mulai menelepon teman-teman sekelasku satu per satu untuk menanyakan tentang bukuku.
“Ya, Laras. Kenapa?” tanya Jessica di seberang telepon.
“Jess. Buku latihan bahasa Indonesiaku ada di rumahmu nggak?” tanyaku
“Bukannya dikumpulin?”
“Aku belum ngumpulin. Bukunya hilang. Ada di rumahmu nggak?”
“Gak tahu. Aku lagi nggak ada di rumah nih,” ucap Jessica, “aku lagi di kafe bareng William. Dia baik banget lho. Aku aja sampe dibeliin...” dan teleponnya langsung kumatikan.
Aku lalu menelepon Rini dan menanyakan tentang bukuku yang hilang.
“Buku latihan bahasa Indonesia?” tanya Rini.
“Ya. Ada nggak?”
“Di rumahku sih nggak ada. Tapi kayaknya ketinggalan di rumah Hesty deh. Waktu itu kan kita kerja kelompok bareng di rumahnya, pelajaran bahasa Indonesia lagi.”
Mendengar itu, aku langsung tersadar. Sungguh tak terpikirkan olehku. Begitu pintarnya Rini sampai bisa mengatakan itu layaknya detektif andal. Mungkin saja, ia bisa memecahkan kasus Ferdy Sambo.
Aku langsung menelepon Hesty dan menanyakan perihal yang sama dengan Jessica dan Rini.
“Kayaknya ada deh. Bentar,” ucap Hesty.
“Tolong ya, Hes. Semoga ada,” ucapku.
“Ada nih, buku latihan bahasa Indonesia, kovernya batik.”
“Akhirnya, ketemu juga,” ucapku dengan penuh keriangan, hingga terdengar sedikit suara tawa dari Hesty.
“Besok aku anter deh,” ucapnya.
“Eh tunggu! Aku butuh sekarang,” ucapku. Namun, perkataanku tidak kalah cepat dengan Hesty yang mematikan telepon.
Aku mendengus dan meneleponnya lagi, tetapi ia malah tidak aktif. Aku mengirimkan pesan di WhatsApp, tetapi hanya centang satu. Rasanya ingin berteriak, tetapi tak ada gunanya. Aku lalu langsung bergegas ganti baju untuk pergi ke rumahnya demi mengambil buku tersebut.
Sesampainya di rumah Hesty, terlihat pintu rumahnya yang tertutup. Aku khawatir ia tidak ada di rumah. Saat hendak naik ke teras rumahnya, pintunya lalu terbuka dengan kencang oleh seorang pria yang merupakan Ayah Hesty. Mukanya terlihat masam, berjalan dengan sangat cepat, dan melewatiku tanpa menoleh sedikit pun.
Kemudian, Ibu Hesty juga keluar dari rumah dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Saat melihatku, ia langsung masuk lagi ke dalam rumah dan menyembunyikan dirinya. Aku yang tertegun dan bingung lalu perlahan melangkah mendekati pintu.
Ibu Hesty keluar lagi dengan senyuman di wajah yang sudah tidak lagi basah oleh air matanya.
“Ya? Ada perlu apa?” tanyanya.
“Hestynya ada, Tante?” tanyaku dengan agak ragu.
“Oh, ada. Masuk aja ke dalam,” ucapnya dengan nada gemetar seolah menahan sendu.
Aku sedikit kaget, “Tante gapapa?” ia tersenyum, walau terlihat kalau itu adalah senyuman terpaksa.
Ia lalu langsung bergegas pergi ke luar seraya berkata, “Tante ada urusan nih.”
Aku menatapnya yang pergi menjauh dari rumahnya. Sepertinya ia ingin menyusul suaminya tadi.
Karena sudah diizinkan, aku lalu masuk ke dalam rumahnya. Terlihat beberapa barang yang berantakan, seperti telah terjadi perampokan di rumah ini. Aku lalu memanggil Hesty, tetapi suaranya tidak terdengar.
Tak lama, aku mendengar suara tangis. Aku mendekat ke arah suara itu, sebuah kamar dengan pintu yang sedikit terbuka. Aku mendekatkan kupingku ke pintu dan menyadari kalau itu adalah suara Hesty. Aku lalu membuka pintu kamarnya secara perlahan dan melihat Hesty yang menangis di lantai kamarnya dengan beberapa barang di sekitarnya.
Ia menolehku dan segera menghapus air matanya, “Laras? Kok nggak ngasih tahu bakal dateng?” ucapnya seraya tertawa kecil.
Aku menatapnya dan terkaku. Tak disangka, seorang yang selama ini kulihat selalu ceria di sekolah, ternyata juga bisa mengeluarkan air mata kesedihan.
Ia lalu berdiri, mengambil buku latihanku, memberikannya padaku seraya berkata, “Nih. Sorry ya.”
“Gapapa. Makasih,” ucapku lalu perlahan pergi meninggalkannya. Kakiku mulai melangkah menjauhi kamarnya. Tiba-tiba, pintu kamarnya tertutup. Aku menoleh ke belakang, ke arah pintu kamarnya, dan merasa iba. Aku menghentikan langkah kakiku dan membayangkan diriku di kelas sendirian, bersedih, dan melamun. Setelah itu, aku kembali mendekati pintunya dan mengetuknya.
Hesty membuka pintu kamarnya dan menunjukkan dirinya dengan senyuman di wajahnya, walau aku tahu itu adalah senyuman terpaksa.
“Apa lagi, Ras?” tanyanya.
“Kamu gapapa?” tanyaku.
Ia tersenyum hingga terlihat giginya, lalu berkata seraya tertawa kecil, “Gapapa. Kenapa emang?”
“Yakin kamu gapapa?”
“Iya. Gapapa,” ucapnya seraya tersenyum. Namun, terlihat matanya yang berkaca-kaca.
Aku lalu berkata, “Kamu tadi nangis lho.”
Perlahan, senyum di wajahnya hilang, matanya semakin basah, dan mimik mukanya berubah menjadi sedih. Ia langsung memelukku disertai tangis yang membara. Aku terkaku, masih tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.
Aku lalu menyarankan Hesty untuk mencurahkan isi hatinya padaku. Awalnya ia ragu padaku, tetapi apa boleh buat. Aku sudah melihat ia menangis dan jika ia tetap merahasiakannya, takutnya aku bisa berpikir yang tidak-tidak.
Ia mulai menceritakan keluh kesahnya kepadaku di dalam kamarnya. Ia merasa susah dan khawatir kepada orang tuanya yang selalu ribut setiap harinya. Bahkan, ayahnya sering kali melakukan tindak kekerasan kepada ibunya. Hesty sempat melihat ibunya menangis karena merasa suaminya yang tidak lagi mencintainya seperti dulu. Ibu Hesty ingin pergi dari suaminya, tetapi perasaan cinta mencegatnya untuk mulai melangkahkan kaki.
Hesty juga menceritakan keresahannya yang membuatku sedikit tidak percaya. Ia mengungkapkan bahwa dirinya sudah lama memendam rasa kepada William, lelaki yang saat ini menjalin hubungan dengan Jessica.
Ia berurai air mata saat menunjukkan story WhatsApp Jessica yang berisi keromantisan mereka.
“Tapi, kok kamu kelihatan baik-baik aja di depan mereka? Kayak kamu nggak ada perasaan apa-apa pada William,” tanyaku.
Hesty memandangku dan tersenyum.
Ia lalu berkata, “Ya aku harus tetap terlihat ceria, kalo tidak, teman-temanku nggak akan mau ngedeketin aku.”
Diriku seolah tertampar. Selama ini, aku selalu terlihat murung di kelas. Tak heran, tiada yang mau berbaur denganku.
Hesty melanjutkan, “Bahkan saat pulang sekolah aja, teman-teman satu gengku pada sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Dan tiap pulang sekolah, aku selalu kesepian.”
Aku menatap Hesty dengan iba. Ini yang aku takutkan saat berurusan dengan orang yang sedang bersedih. Rasanya ingin memberikan kata-kata, tetapi takut salah bicara dan malah membuatnya semakin terpuruk.
Hesty masih menangis. Aku lalu memegang pundaknya, lalu perlahan aku memeluknya, dan mengusap-usap punggungnya.
“Jangan bilang ke siapa-siapa soal ini ya, Ras,” ucap Hesty.
“Ya. Aku janji nggak akan bilang ke siapa-siapa,” ucapku dengan serius.
***
“Sorry ya, Ras, aku jadi melampiaskan semuanya ke kamu,” ucap Hesty di pintu depan rumahnya.
“Gapapa,” ucapku seraya tersenyum.
“Makasih ya,” ucapnya, “Sorry juga soal bukumu.”
Tadinya, aku kesal dengan Hesty yang telah menahan bukuku di rumahnya. Namun, melihat kondisinya tadi dan mengingat betapa cerianya dia di sekolah, betapa luar biasanya senyuman yang telah menutup pilu di hatinya, aku hanya bisa berkata, “Ah, nggak masalah. Cuma buku doang kok.”
Aku lalu tertawa kecil dan ia tersenyum.
“Aku pulang dulu ya,” ucapku.
“Ya. Sekali lagi, makasih,” ucapnya. Ia lalu menutup pintu rumahnya bersamaan dengan aku yang mulai melangkah pergi.
Sambil berjalan, aku menatap buku latihan bahasa Indonesia yang kupegang dan teringat berbagai kesedihan serta kesulitan yang kurasakan. Aku lalu menghentikan langkahku dan menoleh rumah Hesty. Entah kenapa, rumahnya terlihat tenang, bahkan seperti tidak ada penghuni saja.
Suara burung terdengar dari sebuah pohon di depanku. Burung itu terbang ke udara menyusul beberapa yang sudah terbang. Aku lalu menatap langit yang hampir berubah menjadi jingga dan terpikir bahwa langit dapat berubah-ubah dari terang ke gelap setiap harinya. Mungkin saja Hesty mengikuti cara langit.
Aku yang saat ini memasang wajah murung, perlahan tersenyum, dan bersiap untuk senyuman di hari esok.
Senyuman yang dapat menutup rasa pilu di hati.
Komentar
Posting Komentar