Good Game

Story by: Fidhil Rahyan

Flicker123. Tanpa spasi dan tanpa huruf kapital,” ucap Reky pada Rendi, memberitahu password Wi-Fi kafe yang mereka berempat tempati di malam Minggu yang cukup ramai ini.

Rendi lalu mengetik password itu di ponselnya. Setelah berhasil terhubung ke jaringan Wi-Fi, ia membuka game bernama Mobile Legends, dan melakukan update pada game tersebut. Sementara itu, Reky dan Akmal sudah memulai proses peng-update-an game tersebut sejak lima menit yang lalu.

“Kesel banget kalo harus nunggu kayak gini,” resah Akmal.

“Ya, mau gimana lagi? Katanya sih Moonton pengen nambahin fitur terbaru,” sahut Reky. Moonton sendiri merupakan perusahaan yang menerbitkan game tersebut. Game yang katanya banyak dimainkan oleh anak-anak muda dari berbagai kalangan usia. Mulai dari anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar, hingga para pemuda yang tengah sibuk menyusun skripsi.

Mobile Legends. Sebuah game berbasis MOBA yang dimainkan secara daring oleh lima orang sebagai satu tim melawan tim lainnya. Targetnya adalah menghancurkan base lawan dengan meruntuhkan turret-turret atau menara-menara kecil mereka terlebih dahulu, serta bertarung melawan tim lawan. Setiap pemain dapat menggunakan berbagai jenis hero. Mulai dari hero jenis fighter, yaitu hero yang menyerang dari jarak dekat; marksman, yaitu hero yang menyerang dari jauh; hingga tank, yaitu hero dengan pertahanan yang tinggi.

Akmal, Reky, dan Rendi, menatap ponsel mereka yang ditaruh di atas meja, menunggu proses update game tersebut. Di antara mereka berempat, hanya Rizky yang tidak memainkan game Mobile Legends. Ia sama sekali belum pernah mengunduh game tersebut. Baginya, itu hanya membuang-buang waktu—menunggu proses update-nya saja sudah menguras banyak waktu mereka. Namun, meskipun begitu, waktu Rizky juga ikut terbuang sia-sia mengingat ia yang sedang melamun saat ini.

“Woy!” seru Akmal seraya menepuk pundaknya. Rizky tersadar dari lamunannya dan tersenyum kepada tiga temannya, tetapi matanya terlihat berkaca-kaca.

“Kenapa lu? Galau lagi?” tanya Akmal. Rizky lalu menghela napasnya dan mengangguk secara perlahan.

Reky menunjukkan wajah iba dan berkata, “Ceritalah, Bro!”

Rizky lalu menatap teman-temannya satu per satu, menghela napasnya sekali lagi, dan memberitahu sesuatu yang membuatnya melamun sejak tadi.

“Barusan, gue ngeliat status WA Fitri... jalan sama cowok lain.” Fitri merupakan gebetan Rizky sejak lima bulan yang lalu. Ketiga temannya sudah bosan mendengar cerita tentang gadis SMA bernama Fitri ini. Namun, kali ini, rasa bosan itu mereka singkirkan sejenak dan ganti dengan rasa iba.

Mendengar ucapan Rizky, mereka terkaget. Rendi sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan, Akmal sampai membuat kedua bola matanya membesar, dan Reky hanya mengangguk-ngangguk sambil menepuk pundak Rizky seraya berkata, “Ya siapa tahu itu cuman temennya.”

Rizky lalu menghela napasnya, “Entahlah. Kayaknya harapan gue udah sirna.”

Rendi spontan tertawa dengan menutup mulutnya menggunakan kedua tangan yang mengepal layaknya orang batuk. Akmal langsung memukul bahu Rendi dengan pelan seraya menurunkan alisnya. Rendi lalu menghilangkan senyumnya yang muncul karena perkataan Rizky yang ia anggap lebay.

“Daripada lu sedih gini, mending lu main Mobile Legends, Bro,” saran Reky.

“Nah, bener tuh,” sahut Akmal, “siapa tahu pikiran lu bakal teralihkan dari dia.”

Rizky lalu menjawab, “Entahlah. Gue nggak pandai main game itu. Yang ada nanti gue malah makin galau karena kalah mulu.”

“Ya kalau nggak dicoba, mana lu bisa tahu,” sanggah Akmal, “gue dulu juga mikir gitu, tapi lihat sekarang... Ya masih kalah mulu sih, tapi setidaknya ada keseruan di situ yang bisa menutup kesedihan lu, Ky.”

Rizky lalu menghela napas sekali lagi dan berkata, “Yaudah. Gue download dulu deh.”

“Nah, gitu dong,” ucap Reky, senang.

Rizky lalu mengunduh Mobile Legends di ponselnya bersamaan dengan teman-temannya yang mengupdate game tersebut. Setelah semuanya selesai, mereka lalu mengajari Rizky cara memainkan Mobile Legends. Perlahan tapi pasti, di malam itu, Rizky akhirnya mengerti cara memainkannya dan tujuan dari permainan tersebut.

Di malam itu juga ia menemukan kesenangan baru.

Pada hari-hari berikutnya, ia menjadi kecanduan. Satu hari tak pernah lepas dari yang namanya melihat logo Moonton di ponselnya. Suara pertarungan dari game tersebut selalu terdengar setiap jam. Teriakan penuh semangat dan kegirangan tak jarang keluar dari mulutnya. Setiap baterai ponselnya terisi penuh, ia tersenyum. Namun, setiap baterai ponselnya habis, ia merenung. Tentu, ia masih sedih atas harapannya yang pupus.

Setiap kali hatinya dihancurkan oleh status WhatsApp Fitri, ia mulai menghancurkan turret-turret lawan dan mendapatkan victory (kemenangan). Setiap kali ia teringat akan cintanya yang bertepuk sebelah tangan, ia mulai memilih hero untuk dimainkan. Setiap kali ia merasakan api cemburu yang menyesakkan di dadanya, ia mulai memiringkan ponsel dan mengubah api itu menjadi api semangat yang membara.

Semua kesenduan itu tetap ada, hingga pada suatu hari setelah seminggu berlalu.

Seperti biasa, ia duduk di atas kasurnya memainkan game Mobile Legends. Ia menggunakan hero jenis fighter, mencoba melawan salah satu musuh. Saat itu darahnya sudah sedikit dan ia tengah kewalahan. Ia sudah yakin akan mati. Namun, saat salah satu pemain dari timnya—dengan menggunakan hero jenis marksman—datang membantu, rasa pesimisnya hilang dan mereka berhasil membunuh lawan tersebut.

Rizky merasa senang sudah terbantu. Terlebih lagi, saat pemain dengan hero marksman itu mengikutinya dan ikut membantu meruntuhkan turret lawan. Hingga akhirnya, mereka pun berhasil menang.

Rizky senang dengan pemain satu itu. Ia lalu memfollow akunnya usai pertandingan tadi dan tak disangka pemain itu memfollow balik. Pemain itu bernama Julie1315. Dilihat dari akunnya, ia merupakan seorang wanita.

Rizky lalu mengechat Julie1315 di kolom percakapan yang ada di game tersebut.

Hai,” sapa Rizky.

Hai juga,” balas Julie1315.

Good game. I like it.” (Permainan yang bagus. Aku suka)

Thanks,” balasnya.

“Main lagi yuk!” ajak Rizky. Julie1315 pun setuju dan mereka bermain lagi.

Pada hari-hari berikutnya, ia selalu bermain dengan gadis ini. Satu hari tak pernah lepas dari yang namanya menghancurkan turret dan membunuh lawan bersamanya. Percakapan mereka di game tersebut juga tak pernah hilang. Setiap pertandingan berakhir, Rizky selalu mengechat Julie1315. Setiap mendapat balasan dari gadis itu, ia tersenyum dan merasa bahwa ia sudah melupakan Fitri.

Namun, kesenangan itu tidak selalu ia rasakan. Terlebih lagi dengan sikap Julie1315 yang susah ditebak. Rizky menganggap gadis itu baik, ramah, dan tak pernah menolak ajakannya untuk bermain, tetapi ia juga merasa bahwa gadis itu agak cuek dan penuh rahasia.

Ada beberapa ucapan atau pertanyaan dari Rizky yang enggan ia jawab—entah itu disengaja atau tidak. Seperti saat Rizky bertanya dengan niatan gombal, “Papa kamu tukang jahit ya?” ia tidak membalas, meskipun Rizky sudah memancing-mancingnya, “Jawab dong, ‘Iya. Kenapa?’ gitu,” tetapi tetap saja ia tidak membalas. Mungkin saja ia tidak suka gombalan.

Selain itu, Julie1315 juga penuh dengan misteri. Rizky tidak tahu pasti siapa nama asli gadis itu karena saat ia bertanya, “Nama kamu siapa ya?” ia malah menjawab, “Julie1315.

Rizky bertanya lagi, “Enggak. Maksudnya nama asli kamu siapa?” dan ia masih menjawab, “Julie1315.

Sempat terbesit di pikiran Rizky bahwa mungkin memang benar nama asli gadis itu adalah Julie1315. Tetapi sudahlah, Rizky tidak terlalu menghiraukan itu. Yang penting ia senang bisa bermain dan berkomunikasi dengan Julie1315 dan berhasil menggantikan Fitri yang sebelumnya ada di hatinya.

***

Sudah dua minggu berlalu sejak Rizky mengunduh game Mobile Legends. Hari itu, di kantin sekolah, teman-temannya senang sekaligus heran melihat Rizky yang selalu bersemangat setiap kali mereka membicarakan tentang game dari Moonton tersebut.

“Tuh kan. Apa gue bilang. Lu bakal senang main Mobile Legends,” tutur Akmal pada Rizky yang hanya menanggapinya dengan tawa serta senyum, lalu menyeruput es tehnya.

“Kenapa? Lu lagi senang main hero apa?” tanya Reky.

Rizky yang masih tersenyum lalu menjawab, “Sebenarnya, ini bukan tentang hero-nya, tapi tentang player-nya (pemainnya).”

“Hah? Maksudnya?” tanya Rendi, tidak paham.

“Jadi... gue ketemu player yang keren banget. Ngebantu gitu mainnya.”

“Cewek?” tanya Akmal.

Yoi. Kami juga sering chatingan di game.”

“Widih. Udah ada orang baru nih,” goda Akmal membuat Rizky tertawa, “cantik nggak?”

“Ya gue nggak tau. Profile picture-nya bukan gambar mukanya. Terus pas gue minta pap, dia nggak ngasih, bahkan nggak ngejawab.”

Mendengar itu, teman-teman Rizky terdiam dan saling pandang.

Reky bertanya, “Siapa namanya?”

“Julie1315.”

Lalu Reky menjelaskan, “Bro. Sebelumnya maaf nih ya. Tapi lu nggak mikir kalo dia itu... bisa aja cowok?”

“Maksudnya?” tanya Rizky dengan dahi yang mengerut.

“Ya di profilnya ngaku cewek, padahal aslinya—di dunia nyata—dia sebenarnya cowok.”

Rizky tertawa, “Nggak mungkin lah. Kenapa lu bisa mikir gitu, buktinya apa?”

“Gini ya, Ky,” Akmal menyahut, “pertama, dia nggak mau ngasih fotonya, karena dia nggak punya foto cewek yang meyakinkan untuk ia kirim ke elu agar lu nggak curiga. Kedua, namanya Julie1315. Siapa tahu itu Julianto.”

“Nah, bener. Juliansyah?” timpal Reky.

“Itu mah nama bapak gua,” sahut Rendi.

“Nah, siapa tahu itu bapaknya Rendi.”

“Apaan sih kalian? Ada-ada aja,” bahtahku, “lagian, namanya ada huruf E di akhir dan itu udah pasti nama cewek. Kalian pernah dengar kan artis yang namanya Julie Estelle?”

“Nah, siapa tahu dia ngambil namanya dari situ,” balas Reky yang malah semakin kekeh.

“Ah. 'Serah lu dah!” ucap Rizky, kesal.

Akmal menerangkan, “Kami bukannya mau buat lu sedih, Ky. Tapi jaga-jaga aje nih ye. Soalnya pernah kejadian juga gitu: orang ketemu player yang ngaku cewek, minta top-up diamond, eh ternyata mamang-mamang. Dan kalo itu terjadi pada lu, takutnya lu bakal tambah sedih, Ky. Jadi, kami cuma mau ngasih peringatan agar lu hati-hati atau selidiki aja dulu.”

“Gue udah seminggu main dan chattingan ama dia, tapi nggak ada tuh tanda-tanda kalo dia itu abang-abang. Kalo cuek sih iya, tapi itu bukan berarti dia cowok. Cowok mah gak peka, bukan cuek.”

“Siapa tahu di balik kecuekannya itu ada cowok yang tertawa melihat chat lu ke dia.”

“Ah kalian ini nggak percayaan banget sih,” ucap Rizky, masih kesal.

Rizky lalu menghabiskan es tehnya, “Oke. Nanti pulang sekolah, kita nongkrong di kafe biasa. Gue bakal ngeliatin chat-an kami,” Rizky berpikir sekejap, “tapi nggak semuanya.”

“Oke. Nanti sore, abis Ashar,” ucap Akmal dibarengi dengan persetujuan Reky dan Rendi.

***

Tepat pada jam 15:30 WIB, Rizky datang ke kafe yang sudah ditempati oleh Akmal, Reky, dan Rendi. Ia langsung menghampiri mereka dan membuka game Mobile Legends di ponselnya.

“Nih, gue bakal liatin chatingan kami,” ucap Rizky pada mereka bertiga.

Akmal dan Reky yang awalnya fokus dengan ponsel mereka, langsung mematikannya dan menaruhnya di meja. Sementara Rendi masih fokus menyelesaikan pertandingan Mobile Legends sendiri di ponselnya. Rizky lalu duduk dan menunjukkan kolom percakapannya dengan Julie1315 di Mobile Legends.

“Nih. Coba kalian analisa!” suruh Rizky seraya menyerahkan ponselnya kepada Akmal.

Akmal lalu memegang ponsel Rizky, bersama dengan Reky yang ikut melihat. Lalu, wajah mereka seolah kaget. Akmal dan Reky lalu saling pandang.

“Gimana?” tanya Rizky. Mereka lalu memandang Rizky dengan tatapan iba.

“Kenapa?” Rizky heran, “dia bukan cowok kan?”

Kemudian, mereka saling pandang seolah sedang bertelepati. Lalu saling mengangguk.

Akmal mulai membuka suara, “Rizky. Sebelumnya maaf nih ya. Bukannya kami mau buat kamu sedih atau gimana, tapi lo harus tahu kalo... Julie1315 ini... sebenarnya bot.”

“Maksudnya?” tanya Rizky sambil menurunkan alisnya.

“Ya bot. Kayak komputer gitu,” jelas Reky, “jadi, akun ini nggak dimainkan oleh siapa pun kecuali program komputer.”

“Jadi maksudnya, semua balasan chat dari dia itu otomatis dari sistem komputer, bukan dari manusia nyata?”

Yup! Kayak Google Assistant,” tutur Akmal.

Rizky terkaku sebentar, lalu segera mengambil ponselnya di tangan Akmal seraya berkata, “Nggak mungkin!”

Rizky lalu melihat kembali chat-nya dengan Julie1315 di game itu.

“Rizky. Gue tahu sulit buat lu nerima, tapi kami yakin seratus persen kalo dia itu bot,” ucap Akmal, “bukti-buktinya udah nunjukin, kayak chat-an lo yang hanya dibalas jika pertanyaannya wajar dan nggak dibalas saat lu nanya sesuatu yang kurang familiar karena sistemnya nggak ngebaca itu.”

“Nggak, nggak mungkin. Gue main sama dia normal-normal aja. Dia nggak noob atau bodoh gitu mainnya, tapi justru ngebantu gua,” kata Rizky, mencoba menyanggah.

“Tapi dia nggak pro juga kan?” tanya Akmal membuat Rizky terdiam.

Sunyi sementara, lalu pecah saat Rendi teriak, “Goblok! Turret nggak dijagain! Kan kalah jadinya.”

Akmal dan Reky menoleh Rendi yang mengalami kekalahan dari pertandingan yang baru saja ia mainkan. Mereka lalu kembali menoleh Rizky yang masih terdiam.

Reky lalu menerangkan, “Lo ingat kan kalo Moonton pernah melakukan update besar-besaran di game ini waktu itu? Nah, salah satunya, mereka nyempurnain fitur bot ini.”

Rizky lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, “Nggak. Gue yakin kalo dia ini bukan bot.”

“Oke, kalo lo nggak percaya, mari kita buktiin,” ucap Reky seraya merampas ponsel Rendi. Dengan polosnya, Rendi hanya diam. Reky lalu mencari akun Julie1315 di game Mobile Legends menggunakan ponsel Rendi tersebut. Setelah menemukannya, ia lalu menunjukkannya ke Rizky.

Ia mengirimkan pesan chat ke Julie1315, “Hai.”

Lalu langsung dibalas, “Hai juga.”

Reky lalu mengirimkan pesan lagi, “Tadi mainnya bagus.

Kemudian, dibalas lagi, “Terima kasih. Kamu juga kok.

“Padahal, Rendi sama sekali nggak pernah main sama dia,” ucap Reky lalu memandang Rizky yang terkaku melihat cara kerja bot itu.

“Sabar ya, Ky. Tapi lo harus tahu, sebelum nanti harapan lu semakin besar dan lu kecewa,” jelas Akmal.

Rizky yang masih terdiam, lalu menatap ponselnya. Menatap percakapannya dengan Julie1315 di game tersebut. Lalu, perlahan ia berdiri, mematikan ponselnya, dan memasukkannya ke dalam kantong celananya.

“Mau ke mana?” tanya Reky saat melihat Rizky mulai melangkahkan kakinya.

Rizky lalu berkata, “Gue pulang aja deh,” kemudian pergi meninggalkan ketiga temannya.

Reky mengembalikan ponsel Rendi seraya bertanya pada Akmal, “Menurut lo, dia bakal tetap nge-chat bot itu nggak?”

Akmal lalu mengeluarkan kata-kata bijaknya, “Sulit buat orang melepas sesuatu yang udah buat dia nyaman. Apalagi, dia kan abis patah hati sebelumnya. Dan jika orang sudah patah hati, ia bisa lari atau memindahkan perasaannya ke siapa pun... atau apa pun.”

“Apa pun?”

“Ya. Apa pun: artis, selebgram, karakter anime, karakter novel, bahkan akun bot sekalipun,” Reky dan Rendi mengangguk-ngangguk. “Rizky pernah sakit hati karena seseorang nyata yang bisa ia jumpai. Jadi, tak heran kalo dia lari ke sesuatu yang ia yakin takkan menyakitinya.”

Reky mengangguk-ngangguk. Mereka terdiam sementara, memberikan kesunyian atas apa yang baru saja terjadi.

Akmal menoleh Reky dan bertanya, “Mabar?”

Yok,” jawab Reky lalu mengambil ponselnya di meja.

Sementara itu, Rizky duduk di atas kasurnya di dalam kamar sambil menatap percakapannya dengan Julie1315. Sudah hampir setengah ia menatapnya, kemudian ia keluar dari game itu dan tanpa pikir panjang langsung menghapus game tersebut di ponselnya.

Rizky teriak seraya menghempaskan ponselnya di atas kasur. Ia menggosok-gosok wajahnya dengan tangan dan perlahan menghela napasnya.

Kemudian, mengambil kembali ponselnya, membuka WhatsApp dan melihat Fitri yang mengunggah sebuah status. Rizky lalu membuka status WhatsApp Fitri, berupa video TikTok dengan kata-kata galau: Kupikir aku istimewa, ternyata hanya pelampiasanmu.

Rizky yang melihat itu langsung menaikkan alisnya dan membalas status tersebut, “Kenapa Fit?

Setelah pesannya terkirim, ia lalu tersenyum dan menunggu balasan dari Fitri.

Menunggu, dan menunggu, seperti yang dulu ia lakukan.

Komentar