Kenangan
Story by: Fidhil Rahyan
(Terinspirasi dari lagu Conan Gray berjudul “Memories”)
Sudah beberapa bulan. Itu waktu yang cukup bagiku untuk berhenti menangis ketika kulihat semua foto itu. Foto yang menunjukkan wajah bahagia kami saat masih menjalin hubungan indah. Foto yang masih saja tersimpan di galeri ponselku.
Sekarang, aku agak tersenyum. Sudah lama aku tidak merasakannya. Kala kutatap barang-barangnya yang tertinggal atau sengaja ditinggalkan di rumah kontrakanku ini, tak ada lagi air mata yang keluar. Tak ada lagi rasa sesak di dada, meski itu membuatku teringat dengan hubungan manis terdahulu.
Berbeda dengan diriku di masa lalu. Waktu dia memutuskan hubungan kami dan berkata bahwa aku bukanlah orangnya. Aku bukanlah orang yang akan menemaninya hingga hari tua nanti. Tetapi, aku meyakinkannya bahwa aku bisa menjadi orang yang seperti itu. Namun, dia tetap bersikeras dengan nalurinya, hingga berakhir dengan kata, “Lebih baik kita berteman saja.”
Sejak saat itu, aku tenggelam ke dalam danau kesedihan. Lebih menyebalkan lagi, belakangan aku mengetahui bahwa ia sudah bersama dengan pria lain. Aku semakin tenggelam. Walaupun kami tetap berteman dekat dan tak hengkang dari saling berkomunikasi, aku yakin ia takkan berani untuk ikut menyelam dan menyelamatkanku dari danau kesedihan. Namun, aku yakin masih ada harapan untuk kami bisa bersama kembali.
Setiap kali kulihat barang-barangnya yang tertinggal atau semua kenangan yang tersisa dari hubungan kami, air mataku mulai menetes. Aku tak bisa menahannya setiap kali kulihat barang-barang itu: beberapa buku novel yang ia tinggalkan di rak buku dalam kamarku, arloji yang ia hadiahkan di hari ulang tahunku, parfum yang kupakai setiap hari yang sama dengan parfum pemberiannya di awal-awal hubungan, serta ratusan foto kami yang masih tersimpan di ponselku.
Memang, membiarkan semua itu tetap terpajang merupakan hal yang salah untuk seseorang yang berusaha move on. Bahkan, teman serumahku, Rey, sampai menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menyebut-nyebut namaku, “Dani... Dani...”
Ia juga menyuruhku, “Buang saja semua barang-barang dari dia!” Namun, seolah ada rasa di hatiku yang menghalangiku untuk melakukan itu. Mungkin aku tak mau kenangan ini sirna begitu saja. Tak mau menghilangkan kenangan indah yang masih ku rindu. Hanya bisa berharap suatu saat aku akan terbiasa.
Hingga, hal itu pun terwujud.
Tidak berinteraksi dengannya selama beberapa bulan dan menghilangkan harapan untuk bisa bersama kembali, berhasil menghapus rasa rindu itu. Aku sudah jarang memikirkannya. Aku sudah jarang teringat akan hubungan indah kami.
Di malam Minggu ini, aku hanya duduk di atas kasurku, memainkan game Mobile Legends sendirian. Rey sedang berkunjung ke rumah temannya dan akan menginap di sana mengingat kondisi malam ini yang hujan deras.
Saat sudah larut dan puas dengan game yang kumainkan, aku mematikan ponselku lalu berniat untuk tidur. Tidur dengan diiringi hujan adalah salah satu hal ternyaman di dunia. Namun, baru saja kepalaku menyentuh bantal, terdengar pintu rumahku yang diketuk. Siapa kira-kira yang datang larut malam begini?
Dengan berat kaki, aku melangkah menuju pintu depan dan membukanya. Terlihat seorang wanita dengan mata cokelatnya yang indah. Ya, siapa lagi kalau bukan mantan pacarku, Rinjani. Wajahnya telah dibasahi air hujan, tetapi aku bisa melihat air mata yang sudah membasahi pipinya. Jantungku seolah berhenti sejenak saat melihatnya. Tak ada sepatah kata pun yang mampu keluar dari mulutku. Sudah lama aku tidak melihatnya langsung, apalagi dalam keadaan menangis.
“Dani. Boleh aku masuk? Aku mau ngomong sesuatu,” ucapnya dengan kedua tangan yang bersilang memegang kedua bahunya. Ia menggigil sebab bajunya yang basah kuyup. Jika sekarang adalah siang yang cerah, mungkin aku takkan mengizinkannya masuk. Tetapi melihat kondisinya sekarang, tentu, aku tak bisa menolak seekor anjing yang basah.
Ia lalu duduk di sofa ruang tamu. Aku menyerahkan handuk kering dan ia—yang masih menggigil—menutup tubuhnya dengan handuk itu. Aku juga membuatkannya segelas cokelat panas dan langsung dipegang olehnya saat kuserahkan.
“Ada apa, Rin, larut malam begini?” tanyaku sembari duduk di arah jam sembilan dari hadapannya. Ia diam. Hanya menghirup cokelat panasnya lalu ditaruh di atas meja di depannya. Kemudian, ia menangis dengan menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.
Sulit untukku hendak melakukan ini. Khawatir jika hatiku akan mengembalikan harapan yang sudah kusingkirkan. Gelisah pada perjuanganku untuk move on akan sia-sia dan harus diulang. Tetapi, rasa iba membuatku beranjak dari sofaku dan duduk di sampingnya, memegang bahunya agar ia bisa tenang.
Dengan tersedu-sedu, ia lalu berkata, “Kamu benar, Dan. Dia bukan pria yang baik untukku. Benar katamu. Dia fakboi.”
“Memangnya ada apa? Apa yang udah dia lakukan?” tanyaku.
“Dia ninggalin aku demi wanita lain. Mungkin saja dia udah selingkuh selama kami masih pacaran.” Aku mengusap-usap bahunya, mencoba untuk membuatnya sedikit tenang.
“Harusnya aku ngedengerin ucapan kamu waktu itu,” ucap Rinjani, lalu perlahan memelukku. Tentu saja, aku terkaku. Sialnya lagi, harapanku seolah kembali dan perjuanganku untuk move on seolah tak berarti.
Di lubuk hati yang terdalam aku sangat sangat murka. Aku takut ia datang hanya untuk merusak segalanya. Tolong, jangan buat ini jadi lebih sulit dari yang sudah ada. Aku mencoba untuk melupakannya.
Ini bukanlah yang pertama kalinya. Beberapa bulan sebelumnya—sekitar dua bulan setelah hubungan kami berakhir—ia datang ke rumahku di siang yang cerah dengan air mata di pipinya. Tentu, aku yang masih mengharapkan cintanya, mengizinkan ia masuk dan menceritakan apa yang telah terjadi.
Rinjani menceritakan tentang kekasihnya yang telah memutuskannya tanpa alasan yang pasti. Aku sebagai teman laki-laki terdekatnya, ditanya oleh dia tentang kenapa pria melakukan hal itu. Aku lalu menjawab sekadar dengan kalimat penenang sambil berharap agar hatinya berpaling ke diriku.
Rinjani juga menceritakan tentang mantannya itu yang tidak mencintainya dengan tulus. Terlihat dari cara ia memperlakukan Rinjani selama berhubungan. Sekali lagi, aku menjawab dengan kalimat penenang, sampai akhirnya berhasil membuatnya tenang.
Kedatangannya ke rumahku saat itu benar-benar berhasil menggagalkan usahaku untuk melupakannya. Ia berhasil membuatku kembali berharap akan cintanya. Sehingga, keesokan harinya, aku meyakinkannya bahwa akulah pria yang tulus mencintainya. Namun, ia menggelengkan kepalanya dan berkata bahwa sebaiknya kami berteman saja. Ia bahkan berkata bahwa ia selamanya akan menganggapku teman.
Belakangan, aku mengetahui bahwa selama ini, ia sudah dekat dengan pria lain dan kemudian menjalin hubungan dengan pria itu. Sejak saat itulah, aku benar-benar bertekad untuk move on.
Aku memasukkan beberapa barang-barangnya yang tertinggal dan kenangan-kenangan yang tersisa ke dalam sebuah kotak sebesar kotak sepatu. Kemudian, kutulis dengan spidol “Stay in my memories” (Tetap dalam kenanganku) di bagian samping kotak tersebut, berharap ia tetap di dalam kenanganku saja, ketimbang muncul kembali dan membuat kenangan yang baru.
Seperti yang ia lakukan saat ini. Memelukku di atas sofa dengan baju yang basah kuyup.
Aku beranjak ke kamarku, melepas bajuku yang dibuatnya basah dan membuka lemari pakaianku. Aku lalu mengambil sebuah sweater warna hijau army dan mengenakannya. Setelah itu, aku menuju lemari kecil di samping kasurku dan mengambil sebuah parfum. Usai menatap parfum itu sekejap, aku pun menyemprotkannya ke sekujur tubuhku.
Tak lupa, aku mencarikan Rinjani baju di lemari pakaianku agar ia tidak memakai baju basah sepanjang malam. Kemudian, mataku tertuju pada sebuah kaos putih bertuliskan “We love each other” (Kami saling mencintai) yang dahulu kubelikan untuk kami masing-masing satu. Kuambil kaos itu, menutup lemari pakaianku, dan kembali ke ruang tamu menghampiri Rinjani.
Ia terdiam sejenak saat melihatku menyerahkan kaos tersebut.
“Nih. Pakai aja! Keliatannya kamu udah nggak tahan dengan baju basah itu,” ucapku yang masih menyodorkan kaos.
“Kamu masih simpan kaos ini?” tanyanya. Kubalas dengan anggukan.
“Pakai aja! Gapapa kok,” titahku. Ia lalu berdiri dari sofa, mengambil kaos tersebut, dan beranjak ke kamar mandi. Aku duduk di sofa dan melihat gelas kosong dengan bekas-bekas cokelat di dalamnya. Aku lalu membawa gelas itu ke dapur dan menaruhnya di wastafel.
Saat aku kembali dari dapur dan duduk di sofa, ia keluar dari kamar mandi dengan baju kaos yang sudah dikenakan. Ia tersenyum menatap kaos tersebut, lalu berkata, “Aku jadi ingat masa-masa pacaran kita.”
Aku terdiam. Tidak mengerti apa maksud dan tujuan dari ucapan itu. Ia lalu duduk tepat di sampingku dan menatap ke atas sambil tersenyum.
“Aku ingat, waktu itu, aku minta kamu beliin baju kaos couple dengan niatan bercanda. Eh, ternyata kamu beliin beneran. Walaupun kamu sendiri nggak suka dengan konsep baju couple gini,” ucap Rinjani yang kubalas dengan senyuman kecil, “terus suatu hari, kita mau jalan-jalan ke mall dan aku bela-belain supaya kita make kaos ini. Tapi kamu nggak mau karena malu. Yaudah deh, aku pujuk aja kamu. Dan anehnya, hanya dengan kata ‘please’ yang panjang, kamu akhirnya mau dan kita jalan ke mall dengan kaos couple ini.”
Rinjani tertawa kecil, “Sepanjang jalan, muka kamu merah. Bahkan kamu sampe beli topi karena malu, takut diliat temen.”
Mendengar kisah masa lalu itu, aku hanya bisa tersenyum dan membayangkan masa-masa indah itu.
Rinjani lalu menolehku, mendekatkan hidungnya ke bahuku, dan menciumnya. Aku memperhatikannya dengan heran. Ia memejamkan matanya dan tersenyum indah. Sudah lama aku tidak melihat wajahnya sedekat ini.
Ia lalu bertanya, “Kamu masih pake parfum itu?”
Aku mengangguk.
“Kenapa?” tanya Rinjani lagi.
“Sulit nyari parfum yang aromanya pas. Dan parfum itu adalah yang pas menurutku. Aku juga suka banget sama wanginya,” jawabku.
Ia tersenyum dan menjawab, “Aku juga. Itu adalah parfum cowok yang wanginya paling aku suka sepanjang masa.”
Aku lalu menatap dia yang tersenyum dan memberiku tatapan dalam. Sekarang, kami saling tatap-tatapan.
Rinjani lanjut berkata, “Jujur, kamu itu mantan terindah yang pernah kumiliki. Kamu itu... Di antara semua mantanku, kamu itu yang paling baik, paling perhatian, paling peka, dan terlihat paling sayang denganku.”
Mendengar kata-kata itu, jantungku seolah berhenti berdetak untuk sesaat, seolah jiwaku melayang di udara, seolah hujan yang turun malam ini berhasil menghapus rasa putus asaku, seolah hujan yang turun malam ini membawakan kembali harapanku.
“Andai aku bisa mengembalikan semua itu, Dan. Andai aku bisa menjalani itu lagi bersamamu. Andai aku bisa....” ucap Rinjani terhenti seolah tenggelam ke dalam sorot mataku. Ia perlahan mendekatkan wajahnya menuju wajahku, dan sungguh mengejutkan, ia menciumku.
Dengan diiringi hujan yang semakin deras, kami berciuman selama beberapa detik sebelum akhirnya aku tersadar bahwa semua ini tak seharusnya terjadi. Aku langsung menghentikannya, memegang pipinya dengan tangan kananku dan menjauhkannya perlahan dari wajahku. Rinjani membuka matanya dan memandangku dengan heran.
“Rinjani, aku...” ucapku tanpa tahu arah omonganku. Ia lalu memegang tangan kananku menggunakan kedua tangannya dan perlahan melepaskannya dari pipinya. Sekarang, kedua tangannya memegang tangan kananku.
Aku lalu berkata, “Kayaknya kamu sudah ngantuk.”
Ia lalu terdiam dan menganggukkan kepalanya.
“Tidur di sini aja. Gapapa kok,” ucapku, lalu menarik tanganku dari kedua tangannya dan berdiri dari sofa. Aku lalu pergi ke kamarku, mengambil sebuah bantal dan selimut yang ada di dalam lemari, lalu menyerahkannya ke Rinjani. Ia lalu merebahkan tubuhnya di sofa tersebut, meletakkan bantal di belakang kepalanya, dan menutup sekujur tubuhnya dengan selimut.
Sekali lagi, ia tersenyum padaku, lalu mengarahkan tubuhnya ke samping dan memejamkan matanya. Aku mendekati sakelar lampu dan mematikan lampu ruang tamu itu, sehingga ia bisa tidur dengan lelap. Perlahan, aku lalu masuk ke kamarku dan menguncinya.
Di dalam kamar, aku akhirnya bisa dengan leluasa melepas apa yang kurasakan malam ini. Aku langsung berjalan mondar-mandir, mengacak-acak rambutku, mengepalkan kedua tanganku, lalu mendekat ke arah kasur, menutup seluruh wajahku dengan bantal, dan berteriak. Beruntung, teriakanku tidak membuat tuan putri terbangun dari tidurnya. Terima kasih kepada hujan deras yang ikut menyamarkan suaraku. Aku lalu membanting bantal itu yang berhasil membentur dinding.
Kemudian, aku berjalan menuju jendela kaca kamarku, menatap hujan yang masih deras. Gagal lagi perjuanganku untuk melupakannya. Padahal, tadinya aku sudah berhasil move on dari dia, tetapi semua berubah sejak ia datang. Aku lalu menggosok wajahku dengan kedua tanganku, lalu bersandar di dinding yang ada di bawah jendela. Petir menyambar sekejap layaknya flash dari kamera yang memotret seorang pria yang sedang dilema.
Aku menatap parfum yang bertengger di atas lemari kecil samping kasurku, lalu teringat momen indah saat Rinjani membelikanku parfum dengan merek yang sama di awal hubungan. Tidak hanya itu. Saat kuhirup aroma dari parfum tersebut, kembali teringat masa-masa indah kami: berjalan-jalan di mall, menonton film di bioskop, berkeliling kota dengan motor sederhanaku, atau sekedar berkunjung ke rumahnya. Semua itu terjadi bersama aroma parfum itu.
Aku menoleh ke arah rak buku, berdiri, dan mendekatinya. Di antara banyak buku novel yang kumiliki, ada beberapa buku novel milik Rinjani yang tak ia ambil hingga sekarang. Aku mengambil salah satu buku novel itu dan menatapnya. Teringat saat ia datang ke rumahku dan membawa sebuah novel. Namun, setiap kali ia selesai membaca satu buku, ia malah meninggalkannya di sini dan membawa buku-buku yang lain. Katanya agar aku bisa membacanya juga, tetapi semua itu bukan jenis novel yang kusukai.
Aku lalu menoleh ke arah lemari, mendekatinya, dan membukanya. Tepat di bagian bawah lemari, terdapat kotak berisi kenanganku dengan Rinjani. Aku duduk bersila dan mengambil kotak tersebut, kemudian membukanya. Terlihat barang-barang dari hubungan kami dahulu: jam tangan pemberiannya, gelang bertuliskan nama kami, tiket-tiket film yang kami tonton, hingga foto-foto polaroid kami berdua yang dipotret oleh temannya dengan kamera polaroidnya.
Semua itu membuatku teringat kembali akan segala momen indah kami yang sekarang sudah menjadi kenangan. Membuatku teringat kembali betapa indahnya hubungan yang dahulu kami miliki. Namun, juga membuatku bingung tentang apa yang harus kulakukan selanjutnya.
Haruskah aku kembali padanya? Atau mencampakkannya dan mengulang lagi perjuanganku untuk move on dari dia?
Aku menatap semua barang-barang itu satu per satu. Kulihat jam tangan pemberiannya yang masih berfungsi dan menunjukkan pukul 2:08 WIB. Sudah sangat larut. Aku harus segera memutuskan apa yang akan kulakukan.
***
Pagi hari yang cerah tiba. Tak ada setetes air hujan yang turun lagi di pagi ini. Aku bangun lebih dulu dari Rinjani yang tidur dengan lelapnya di sofa ruang tamuku. Aku pun menghampirinya dan membangunkannya dengan lemah lembut.
Ia bangun, melihatku, dan memberikan senyuman. Aku lalu menyuruhnya untuk membasuh muka terlebih dahulu. Ia pun pergi ke kamar mandi, membasuh mukanya sembari mengambil pakaian basahnya yang ia taruh di sana semalam. Ia memasukkan pakaian basahnya ke dalam kantong plastik yang tersedia di dalam dan mengikat kantong plastik tersebut.
Setelah itu, ia keluar dari kamar mandi dan melihatku dengan sebuah kotak besar berisi barang-barang dari hubungan kami dahulu. Di dalam kotak itu ada buku-buku novel miliknya, parfum, jam tangan, dan semua yang ada di dalam kotak kenangan yang kubuat.
“Ini barang-barang yang kamu tinggalkan di rumah ini. Selain itu, ada juga barang-barang milik kita bersama sewaktu masih pacaran,” jelasku.
Ia mendekat dan bertanya, “Kamu mau mengenang masa-masa kita dulu, atau gimana?”
Aku menggelengkan kepalaku dan berkata dengan berat hati, “Sekarang waktunya kamu pergi dari hidupku dan jangan pernah kembali lagi!” lalu kuserahkan kotak itu kepadanya.
“Dani? Maksud kamu apa?” tanya Rinjani seraya kudorong dia menuju pintu keluar. Ia terus-menerus memanggil namaku, tetapi aku tak mengacuhkannya. Ia lalu tiba di teras, kemudian menunjukkan wajah prihatin.
“Kenapa harus gini, Dan? Aku nggak mau gini,” ucapnya dengan air mata yang nyaris keluar.
Aku menggigit bibir bawahku dan menjawab, “Harus begini, Rin. Aku nggak bisa berharap penuh padamu lagi. Aku nggak bisa jadi temanmu, aku nggak bisa jadi kekasihmu, dan aku nggak bisa jadi alasan kita saling menahan untuk tidak jatuh cinta pada orang lain selain aku. Aku harus benar-benar melupakanmu.”
“Tapi, Dan.. Bagaimana dengan semalam?” tanyanya, menghentikan niatku untuk menutup pintu, “Kamu lupa dengan apa yang kukatakan semalam? Aku serius tentang itu.”
Aku tertawa kecil seraya menggeleng-gelengkan kepalaku, “Tidak. Kamu tidak benar-benar serius, Rin. Kamu bisa mengatakan hal itu atau bertindak seperti itu semalam, karena rasa sakit yang baru saja kamu alami. Aku ini hanyalah pelarian dari rasa sakit itu.”
Rinjani terdiam. Aku melanjutkan, “Dan yang namanya pelarian, itu hanya sementara, takkan bertahan lama. Ditambah, aku takkan pernah lupa saat kamu bilang bahwa aku bukanlah orang yang akan menemanimu hingga hari tua nanti.”
“Itu dulu, Dan. Sekarang, aku sudah berubah,” sanggah Rinjani.
Aku lalu berkata dengan lantang, “Aku takkan tertipu lagi dengan harapan palsu yang kamu berikan.”
“Tapi, Dan.. Please... Jangan gini!” pujuknya dengan air mata yang perlahan menetes. Aku mencoba untuk kuat menghadapinya. Air mataku bisa saja ikut menetes, tetapi aku menahannya untuk keluar dari kelopak atas mataku.
“Dengar, Rin. Waktu itu, aku udah ngeyakinin kamu. Berulang kali aku mencoba meyakinkanmu, tapi kamu nggak percaya, atau bahkan mungkin nggak peduli,” ucapku, lalu menghela napasku.
“Tapi, Dan. Please...”
“Tidak, Rin,” aku menggeleng-gelengkan kepalaku, “tidak.”
Rinjani menghapus air matanya dengan bahunya, kemudian menatap barang-barang di dalam kotak yang kuberikan. Ia lalu mengambil parfum milikku yang ada di dalam kotak itu dan memperhatikannya.
Aku pun berkata, “Katanya kamu suka dengan wanginya.” Ia terdiam, dan menaruhnya kembali ke dalam kotak tersebut.
Aku yang dari tadi memegang pintu rumah lalu mengucapkan, “Goodbye, Rinjani.” Ia menolehku dengan tersentak. Aku menatapnya dengan dalam, kemudian berkata dengan tulus walau sedikit merasa berat hati, “Semoga kamu bisa menemukan orang yang tepat suatu hari nanti.”
Mendengar itu, ia menelan ludah seraya menutup matanya. Setelah helaan napas yang dalam dan hembusan napas yang panjang, ia mengucapkan, “Goodbye... Dani,” lalu mulai melangkahkan kaki dari rumahku. Perlahan kulihat ia semakin menjauh.
***
Aku masuk ke dalam rumah, mengambil ponselku, dan menghapus semua foto-foto kami di galeri. Foto-foto yang dahulu enggan kuhapus. Sekarang, semua foto itu telah lenyap sepenuhnya. Aku tak mau tahu ke mana perginya file yang telah dihapus permanen.
Kemudian, tanpa sengaja aku menghirup aroma parfum yang masih melekat di sweater yang kupakai ini. Tentu, membuatku kembali teringat momen-momen indah bersama dia.
Sambil diiringi lagu “Memories” dari Conan Gray yang terputar di playlist Spotifyku, aku memasukkan sweater tersebut ke dalam mesin cuci. Aku mengisinya dengan air lalu menambahkan detergen ke dalam. Kemudian, ia berputar searah jarum jam dan juga berlawan arah jarum jam. Perlahan, aroma parfum itu hilang, tergantikan oleh wangi detergen.
Aku memperhatikan sweater itu yang berputar-putar di dalam mesin cuci, sambil menyanyikan lagu “Memories” yang nyaris mirip dengan kisahku semalam.
“I wish that you would stay in my memories.” (Aku harap kamu akan tetap di dalam kenanganku)
Ya. Jangan datang lagi ke dalam hidupku dan membuat kenangan yang baru. Just stay in my memories. (Tetap saja di dalam kenanganku)
Komentar
Posting Komentar