Stalking

Story by: Fidhil Rahyan

Dengan luka lebam di mata kiri, memar di pinggir bibir yang tersenyum, perut yang masih nyeri, dan seragam sekolah yang kumuh dan berantakan, aku berjalan menuju ruang BK. Sungguh tidak mencerminkan anak IPA yang patuh, rapi, kalem, dan jauh dari yang namanya perkelahian. Tetapi, inilah yang terjadi padaku sekarang.

Aku, seorang siswa bernama Refrano dari kelas 12 IPA 2, mencetak rekor sebagai anak IPA pertama di tahun ajaran ini yang tertangkap basah sedang berkelahi dengan brutalnya di lingkungan sekolah. Ditambah lagi, lawanku adalah salah satu anggota dari Geng Naga, geng paling nakal dan paling disegani oleh seluruh siswa di sekolah. Ironisnya, anggota Geng Naga hanyalah siswa-siswa dari kelas 11 IPS 2.

Aku mengetuk pintu ruang BK dan dipersilakan masuk. Di dalam, sudah ada si Bejat dari Geng Naga dengan wajah yang juga penuh dengan luka lebam. Ia mencoba meyakinkan Bu Lia selaku guru BK, bahwa bukan ia yang memulai perkelahian tersebut. Aku yang masih tersenyum lalu duduk di bangku yang ada di sampingnya sambil mendengarkan perbacotan duniawi.

“Beneran, Bu. Kali ini aku nggak bohong. Dia yang nyerang aku duluan. Ibu ini, nggak percayaan banget sih!” ucap si Bejat kepada Bu Lia yang duduk di depan kami.

Untuk ke sekian kalinya, Bu Lia lalu memakinya, “Kamu dan geng kamu itu sudah banyak buat ulah. Sedangkan Refrano hampir sama sekali nggak pernah berbuat kenakalan seperti kalian. Baru kali ini. Apa lagi kalau bukan karena kamu yang memulai.”

Bocah di sampingku itu kemudian membantah, “Tapi, Bu... beneran memang dia yang nyerang aku duluan. Lihat aja dia dari tadi senyum-senyum gitu.” Bu Lia lalu menolehku. Aku langsung menghilangkan senyum di wajahku.

“Refrano. Bisa beritahu Ibu, kenapa perkelahian itu bisa terjadi?” tanya Bu Lia.

Itu adalah pertanyaan yang sulit, karena jawabannya melibatkan sebuah rahasia yang hanya aku dan teman dekatku saja yang tahu. Selain itu, aku juga tidak mau membongkarkan privasiku begitu saja kepada Bu Lia. Itu sangat memalukan.

Karena sebenarnya, semua ini dapat terjadi dari sebuah kegiatan bernama stalking.

***

Semua berawal dari beberapa minggu yang lalu. Saat itu, istirahat pertama, aku sedang makan di kantin sekolah bersama dengan dua teman dekatku, Ricky dan Zul. Selama mereka asyik mengobrol, aku tak bisa melepaskan pandangan dari seorang gadis di kantin sebelah yang sedang makan bersama teman-temannya satu geng.

Gadis itu bernama Nayma, seorang siswi dari kelas 10 IPS 2. Sudah lama aku berkenalan dengan dia. Aku juga sudah berteman dengan dia di Facebook, saling follow di Intagram, bahkan aku sudah berhasil mendapatkan nomor WhatsAppnya, dan lumayan sering menghabiskan waktu untuk chattingan dengan dia.

Semakin lama aku mengenalnya, semakin rasa di hatiku ini membesar, dan semakin rindu aku setiap kali tak melihat dirinya. Aku ingin sekali menatap wajahnya, hanya untuk menghilangkan rasa rindu di dalam dada ini. Tapi, itu sulit.

Semua media sosial miliknya sama sekali tidak memiliki foto profil. Ia tidak pernah mengunggah foto di Facebook maupun Instagram. Ia juga tidak pernah mengunggah fotonya ke story Instagram atau status WhatsApp miliknya, kecuali hanya foto-fotonya bersama dengan teman sekelasnya atau teman satu gengnya. Itu pun kadang wajahnya tertutup oleh tangannya. Selain itu, ia tidak memiliki unggulan di Facebook dan sorotan di Instagram. Memang, aku bisa saja meminta foto dari dia secara langsung, tapi aku bukan jenis pria yang seperti itu. Ada rasa malu yang menegahkanku untuk mengirimi dia pesan, “Pap dong, Nay!

Sehingga, satu-satunya cara agar aku bisa melihat wajahnya yang indah adalah dengan cara melihatnya langsung di sekolah. Aku sering izin ke toilet saat jam pelajaran berlangsung, hanya untuk melihat dia di dalam kelas. Aku juga sering memperhatikannya di kantin kala ku berhasil menemukannya. Seperti yang kulakukan sekarang.

“Woy!” seru Ricky. Aku tersadar dari tenggelam memperhatikan pesona Nayma. Ricky dan Zul menoleh gadis di belakang mereka yang dari tadi kuperhatikan, lalu kembali menolehku dan tertawa kecil.

“Merhatiin aja gak bisa bikin dia jatuh cinta sama lu, Ref. Perjuangin dong,” ucap Ricky.

“Udah dari sebulan yang lalu kali, Rick,” ucapku lalu melahap sesendok nasi kuning.

“Gue tahu,” sahut Zul, “lu pasti berharap kalo dia duduk sendiri di sana, nggak sama temen-temennya. Biar lu bisa duduk di sampingnya terus ngobrol dengan leluasa. Ya ‘kan?”

“Hehe.. Iya.”

Memang menyebalkan rasanya, tapi mau bagaimana lagi? Nayma adalah satu di antara banyak siswi yang memiliki geng di sekolah. Gengnya tidak memiliki nama, tapi yang jelas, jumlahnya ada empat orang, termasuk Nayma. Sehingga, di meja makan sana terisi empat orang: Nayma dan ketiga temannya yang tidak kuketahui namanya.

“Eh, itu gue tahu namanya: Sari, anak 10 IPS 2,” ucap Ricky, seolah membaca kalimat terakhir dari paragraf sebelumnya di cerpen ini.

Wait. Sari Hartini? Pacarnya Henri itu?” tanya Zul.

“Iya,” jawab Ricky sambil mengunyah nasi kuningnya.

Henri merupakan ketua dari Geng Naga. Ia adalah yang paling sangar dan ditakuti di antara ketiga temannya di geng itu. Bahkan nama gengnya saja diambil dari nama belakangnya: Sinaga. Ia sangat senang berkelahi. Ia tak segan-segan menantang kakak kelas yang berani macam-macam dengan dia. Tetapi, yang paling ia sukai adalah menanamkan ketakutan di dalam diri seseorang. Ia sering melakukan itu beberapa menit sebelum mulai berkelahi.

“Yang mana?” tanyaku, penasaran akan tampang pacar cowok ternakal di sekolah.

“Itu yang gendut, hidung pesek, rambut keriting, terus wajahnya item tapi ditutupi sama bedak yang tebelnya bukan main,” jelas Ricky.

Anjir. Jelek banget,” ucap Zul dengan sangat tidak berperikemanusiaan, “kenapa Henri mau ya sama dia?”

Ricky mengangkat kedua bahunya, kemudian berbisik, “Ya mungkin seleranya bad boy itu yang bad looking.”

Aku dan Zul lalu tertawa kecil. Zul menambahkan, “Atau yang mukanya kayak singa. Dia aja udah nyeremin kayak singa.”

Aku dan Ricky lalu tertawa kecil. Tak mau kalah, aku juga ikut menambahkan, “Atau yang bedaknya setebel buku sejarah. Kan mereka berdua sama-sama... IPS.”

Ricky dan Zul terdiam.

Sepulang sekolah, aku kelelahan dan langsung berbaring santai di sofa sambil memainkan ponsel. Seperti biasa, aku membuka WhatsApp, Facebook, dan Instagram, lalu menengok akun Nayma, hanya untuk melihat apakah kali ini ia mengunggah foto. Namun, seperti biasa, tidak ada foto-fotonya di sana.

Aku lalu menaruh ponselku di dada dan teringat dengan Nayma bersama teman-temannya satu geng di kantin tadi. Kemudian, muncul ide cerdik di kepalaku: untuk mencari akun media sosial teman-temannya, yang mungkin saja ada Nayma di sana.

Aku lalu membuka WhatsApp dan menelpon Ricky.

Ya, Ref?” ucap Ricky.

“Rick. Selain Sari, lu kenal siapa lagi di gengnya Nayma tadi?” tanyaku, to the point.

Hah? Kenapa?” tanya balik Ricky, heran.

“Jawab saja! Yang lu kenal.”

Semuanya sih,” jawab Ricky, aku langsung tersenyum ceria, “selain Sari, ada Tina, terus... Anggun.

“Wah.. Mantap. Kok lo bisa kenal sih? Gue nggak pernah loh ngeliat lo ngobrol sama mereka.”

Sudah ya. Bye!” ucap Ricky, lalu segera mematikan telepon.

Tanpa berlama-lama lagi, aku langsung mencari nama-nama itu di berbagai media sosial. Agar pencariannya lebih mudah, aku mencari nama mereka di pertemanan Facebook dan following Instagram Nayma. Setelah menemukan mereka satu per satu, aku mulai membuka akunnya, dan mencari Nayma di situ.

Aku membuka unggulan Facebook mereka: terlihat Tina yang berfoto dengan keluarganya, Anggun yang berfoto dengan pacarnya, dan Sari yang berfoto sendiri dengan filter yang sangat kentara. Untungnya, di antara semua itu, aku berhasil menemukan Nayma di unggulan mereka masing-masing. Sayangnya, dia kutemukan di foto dan video bersama teman-temannya, yang diambil dari jarak jauh. Sehingga wajahnya kurang kelihatan, ditambah kualitas foto dan video di unggulan Facebook yang agak buruk seperti video klip jadul di YouTube.

Berbeda dengan Instagram. Sorotan di Instagram terlihat lumayan jelas. Aku juga berhasil menemukan Nayma di sorotan-sorotan mereka. Namun, lagi-lagi ia berfoto dengan wajah yang  ditutupi dengan tangannya atau sebuah emotikon. Sekali lagi, aku gagal membayar rasa rindu ini.

By the way, kenapa lo nanyain nama-nama temannya Nayma kemarin?” tanya Ricky di kantin sekolah pada esok harinya.

“Sebenarnya, gue mau stalking sosmed mereka aja,” jawabku.

Zul menyemprotkan es teh dari mulutnya dan berkata, “Lu suka sama temannya sekarang? Ref, perjuangin dong cinta lo. Jangan liat yang bening dikit aja udah langsung pindah hati!”

“Enggak. Siapa yang suka sama temannya?” sanggahku, “Lagian stalking sosmed orang, bukan melulu karena suka.”

“Ya, biasanya kan gitu.”

“Gue tuh, sebenarnya nge-stalking sosmed mereka cuma buat nyari Nayma. Siapa tahu dia ada di situ,” jelasku.

“Terus? Ada?” tanya Ricky.

“Ada. Di sorotan Intagramnya Tina, Anggun, terus di unggulan Facebooknya mereka bertiga.”

“Termasuk Sari?”

“Iya.”

Ricky menyemprotkan es teh dari mulutnya dan bertanya, “Lu ngeliat unggulan Facebooknya Sari?”

“Iya. Kenapa emang?” tanyaku sambil menyeruput es tehku.

“Kan bisa ketahuan.”

Aku nyaris menyemprotkan es teh dari mulutku yang berhasil kutelan, “Serius?”

“Iya, Ref,” sahut Zul, “Gue juga punya unggulan Facebook dan memang benar kita bisa ngeliat siapa yang diam-diam ngeliat unggulan kita.”

Aku terkaku. Sadar bahwa ketiga teman Nayma sekarang mengetahui bahwa aku sudah men-stalking Facebook mereka. Lebih menakutkannya lagi: “Lu ketahuan nge-stalking Facebook Sari. Pacarnya Henri,” ucap Ricky.

Tanganku mulai gemetar, jantungku berdebar-debar, dan keringat mulai keluar dari pori-pori wajahku.

“Ah. Gapapa kali,” ucapku, mencoba untuk optimis.

“Ref,” Zul mendekatkan dirinya dan berkata dengan pelan, “Gue denger-denger, Henri itu posesif banget lho. Dia nggak segan-segan buat ngehajar orang yang suka sama ceweknya, walaupun sebenarnya enggak.” Aku menelan ludah.

“Kamu ingat dengan Sihul?” tanya Zul.

“Yang giginya tongos itu?”

“Nah. Dia waktu itu dihajar sama Henri karena di belakangbukunya ada tulisan ‘Sihul love Sari’. Padahal bukan dia yang nulis.”

“Pantesan sekarang giginya udah nggak tongos lagi, ternyata ditonjok sama Henri,” sahut Ricky.

Aku terkaku, lemas, dan keringat membanjiri tubuhku. Sekarang, aku mungkin bermasalah dengan ketua dari geng paling ditakuti di SMA. Bukan anggotanya, tetapi ketuanya langsung. Gawat.

Itu membuatku ngeri setengah mati. Terlebih lagi, nama akun Facebookku yang sama dengan nama asliku yang langka: Refrano Andrava. Sehingga, sangat mungkin untuk bisa mencariku dengan mudah di sekolah. Henri bisa saja bertanya ke seseorang di sekolah tentang namaku dan tentu saja, orang itu langsung mengarahkannya ke diriku. Ah, andai saja namaku Budi.

Di hari-hari berikutnya, tak ada yang bisa kurasakan, selain ketakutan dan rasa cemas. Aku jadi tidak berani untuk pergi ke toilet di jam pelajaran, karena takut berjumpa dengan Geng Naga. Aku juga tidak berani untuk pergi ke kantin di jam istirahat dan memutuskan untuk membawa bekal sendiri. Aku memilih untuk selalu berada di dalam kelas.

Tetapi, meskipun aman, hal ini cukup meresahkanku, karena aku jadi semakin sulit melihat Nayma. Aku jadi semakin rindu dengan dia. Terlebih lagi, aku sudah jera men-stalking sosmed teman-temannya, terutama pacar si Begundal itu.

Untungnya, semakin lama aku berlindung, semakin aku merasa bahwa sepertinya Geng Naga tidak akan mencariku. Sehingga, aku berani untuk keluar dari kelas. Namun, sialnya, aku bertemu mereka yang duduk bersantai di depan kelas 10 IPS 4. Langkahku terhenti. Salah satu anggota Geng Naga melihatku dan memberitahu Henri. Ia melihatku dan langsung berdiri dengan gagahnya.

Aku gemetar. Untungnya, Pak Sutarno, guru sosiologi, keluar dari kelas tersebut dan aku berjalan di sampingnya seraya berbincang dengan dia. Itu berhasil membuat Geng Naga menahan pukulan mereka.

Tentu saja, aku tidak mungkin berpura-pura bicara dengan Pak Sutarno. Itu akan dianggap aneh. Sehingga, aku benar-benar mengajak dia bicara dengan memberinya pertanyaan yang muncul begitu saja dari kepalaku: “Untuk tugas praktek dari Bapak itu gimana ya, Pak?”

Pak Sutarno mengenyitkan alisnya, “Kamu kan kelas IPA. Saya nggak ngajar kamu.”

Aku terdiam.

Rasa takutku lalu semakin membesar saat Ricky dan Zul memberitahuku bahwa Henri sedang mencariku. Mereka berkata jika aku tidak menemui Henri, maka Geng Naga sendiri yang akan menemuiku. Rasanya aku ingin pindah sekolah, tetapi terhalang oleh perasaan cintaku ke salah satu murid di sekolah ini.

Hingga pada suatu hati, aku merasa ingin kencing dan memberanikan diri untuk pergi ke toilet. Di jam pelajaran matematika itu, aku pun izin ke toilet dengan ditemani oleh Zul yang mengaku merasa bosan melihat angka-angka dan huruf-huruf yang saling bercengkerama.

Aku berjalan di koridor sekolah sambil melihat kiri-kanan dan Zul memperhatikanku dengan heran. “Tenang aja, Ref. Kita nggak bakal ketemu sama Geng Naga. Mereka lagi di kelas kali,” ucap Zul.

Aku menghembuskan napasku dan berkata, “Semoga.”

Kami lalu tiba di depan toilet dan aku membuka pintu toilet. Betapa terkejutnya aku saat melihat di dalam toilet, ada tiga orang pria dengan wajah yang sangar. Ya. Mereka adalah Geng Naga.

Mereka menolehku dengan serempak, membuat kami terkaku. Seseorang lalu keluar dari salah satu bilik toilet di dalam. Ia tidak lain dan tidak bukan adalah Henri Sinaga. Ia langsung menolehku saat keluar dari bilik toilet tersebut.

“Ref, ayo pergi!” ajak Zul sembari memegang lenganku dan mulai melangkahkan kaki.

“Woy!” seru Henri, membuat kami berhenti. “Refrano Andrava,” ucapnya dengan perlahan, membuatku menelan ludah. “Sini kamu!” titahnya.

Aku menoleh Zul dan berbisik, “Help me!

Namun, Zul malah melepaskan tangannya dan berkata, “Maaf, Ref. Aku suka matematika,” lalu berlari pergi.

“Temen bangsaaaaatt...” ucapku dengan pelan.

Tiba-tiba, kerah seragamku digenggam dan aku ditarik masuk ke toilet. Pintu ditutup. Henri yang mencengkeram kerah seragamku lalu mendekatkan wajah garangnya ke wajahku.

“Apa maksud lo nge-stalking Facebook cewek gue? HAH!” bentak Henri. Jantungku berdebar kencang, tanganku gemetar, keringat mulai keluar, ditambah lagi, aku masih merasa ingin kencing.

Kulihat sekitar, teman-temannya mendekat sambil mengepalkan tangan dan membunyikan jari-jemari mereka. Baru kali ini aku melihat Geng Naga sedekat ini. Ada yang wajahnya seperti preman dengan luka di pipi. Ada yang berkumis tebal dengan muka yang nyaris mirip guru. Terakhir, ada yang paling kecil, badannya kurus, dan muka sok sangar.

“JAWAB, NJING!” gertak Henri.

Aku lalu menjawab dengan tergagap-gagap, “Gu..gu..gu..guee...”

“Lu suka ya sama pacar gue!?” terka Henri dengan suara menggelegar.

“Eng.. enggaaak..” jawabku dengan kikuk.

“Terus kenapa lu nge-stalking Facebook cewek gua!? Pake ngeliat fotonya yang pake tanktop segala lagi!”

“Udah Bos. Sikat aja!” ajak si Muka Preman.

“Iya, Bos. Hajar!” sahut si Kumis.

“PUKUUULLL!!!” teriak si Kurus.

“Bentar bentar bentar. Gu..gue bakal jelasin,” ucapku sambil mengangkat kedua tangan ke arah mereka.

“Mau jelasin apa lagi!?” tanya Henri sambil mendorongku, melepas cengkeramannya. “Udah jelas-jelas kalau lu itu suka sama cewek gue, karena gue liat nggak ada tuh cowok lain yang ngeliat unggulan Facebooknya, kecuali elu: si Bejat dari kelas cupu!”

“Gini ya. Jujur, gue nggak suka sama cewek lu,” bantahku, mencoba untuk berani.

Henri tertawa kecil dan menunjukku sambil berkata kepada ketiga temannya, “Nggak mau ngaku.”

“Beneran. Siapa juga yang suka sama dia. Orang jelek gitu. UPS!” kelewatan. Mencoba untuk berani tapi malah membuatku semakin takut. Ketiga teman Henri langsung terkesiap. Mereka menoleh Henri yang menatap ke bawah sambil menggigit bibir bawahnya.

“Lu bilang apa tadi?” tanya Henri dengan pelan, tapi terasa mencekam.

Aku menelan ludah dan mencoba menjelaskan, “Enggak enggak. Maksudnya.. dia.. dia cantiikk.. ta..tapi.. bukan selera gue.. Ja..jadi gitu..”

“Lu ngatain pacar gue jelek?”

“Enggak. Tadi.. maksudnya itu.. anu.. itu...” sial, mulutku langsung kaku.

“Udah Bos. Sikat aja!” ajak si Muka Preman.

“Hajar!” sahut si Kumis.

“PUKUUULLL!!!” teriak si Kurus.

Henri mengepalkan kedua tangannya dan menatapku dengan sinis. Napasnya keluar dengan sangat kencang dari hidungnya. Jantungku semakin gemetar, tanganku semakin berdebar, bahkan kata-kata yang kutulis malah tertukar. Keringat bercucuran, untungnya aku tidak mengompol padahal dari tadi menahan kencing.

Henri lalu mengangkat tangannya yang gagah. Aku memejamkan mataku dan mengangkat kedua tanganku di depan wajah. Kemudian, bel sekolah berbunyi. Belum ada pukulan yang mendarat di wajahku. Aku lalu membuka mataku, terlihat ia yang menghentikan niatnya untuk memukul.

“Kenapa, Bos?” tanya si Muka Preman.

“Kok berhenti? Pukul aja udah!” sahut si Kurus.

Henri meletakkan kedua tangannya di pinggang dan berkata padaku, “Gini aja. Lu traktir kami semua makan di kantin.”

Aku menghembuskan napas lega. Beruntung, aku membawa banyak uang hari ini. Henri melanjutkan, “Tapi, abis itu kamu tetap kami hajar.”

Sial.

***

Sambil menahan kencing, aku duduk di kantin bersama dengan Geng Naga yang makan dengan rakusnya. Tentu, aku tidak bisa pergi, bahkan untuk sekadar izin ke toilet. Mereka takut aku akan pergi dari membayarkan makanan dan minuman mereka, atau lari dari pukulan mereka yang menanti. Sehingga, aku terpaksa menetap dan mendengarkan obrolan mereka yang membuat telingaku panas.

Selayaknya anak-anak nakal, tentu mereka akan membicarakan hal-hal yang di luar akhlak. Pembicaraan dengan topik yang liar, tabu, dan kontroversi, juga tak lepas dari kata-kata kasar. Mereka membicarakan tentang rencana clubbing di malam Minggu sambil mabuk-mabukan. Mereka juga membicarakan tentang rencana perkelahian dan balap liar mereka dengan sekolah lain. Dan yang lebih mengerikan, mereka membicarakan tentang rencana untuk kepuasan seksual mereka kepada gadis-gadis yang mereka incar, yang mereka sebut dengan istilah “bungkus cewek”.

Mereka akan mendekati seorang gadis terlebih dahulu dengan iming-imingan cinta dan kasih sayang. Mereka juga akan membohongi gadis itu dengan mengatakan bahwa dia belum pernah melakukan ini dan itu sebelumnya—entah itu nge-chat atau memberikan pujian kepada gadis tersebut—atau mengatakan bahwa hanya dia gadis yang mereka cintai, padahal ada banyak yang mereka simpan di kontak.

Saat makanan mereka sudah mau habis, si Muka Preman, yang ternyata namanya Gani, bertanya kepada si Kurus, yang ternyata namanya Kery. Ia bertanya perihal “bungkus cewek” yang sebelumnya sudah ia tanyakan ke si Kumis, yang namanya Anton, yang berhasil membuatku terkaku saat mendengarnya.

“Ker. Gimana cewek yang lu incar itu? Udah bisa lu ‘bungkus’ entar malem?” tanya Gani.

Dengan muka cabulnya, Kery menjawab, “Nggak tahulah, Bro. Susah orangnya. Kayaknya dia agak risik dengan gua.”

“Siapa sih? Yang adik kelas itu kan?” sahut Anton, “Siapa namanya? Nayma?”

“Ya. Nayma. 10 IPS 2,” jawab Kery. Betapa terkejutnya aku saat mendengar nama itu. Gadis yang selama ini kusukai sedang berada dalam zona bahaya. Badanku langsung lemas saat mendengarnya, bahkan lebih lemas dari saat Henri menggertakku.

Kery si Bejat melanjutkan perkataan mesumnya, “Nggak banyak orang yang tahu kalo dia itu salah satu adik kelas yang lumayan. Karena gini, foto profilnya di semua sosmed-nya itu nggak ada, terus dia jarang keluar kelas gitu, cuma ke kantin doang bareng temen-temennya. Gue coba minta pap dan dia nggak mau. Tapi, setelah beberapa kali bujukan dan kata-kata bullshit penuh pujian dari gua, dia akhirnya ngirim satu fotonya.”

Apa ini? Seolah ada rasa terbakar di dalam dadaku. Seolah ada amarah yang terisi di seluruh tubuhku layaknya bahan bakar kendaraan. Membuat rasa lemasku sirna dari tubuh.

Si Bejat itu tertawa kecil seperti seorang antagonis di film-film yang kutonton. Dia lalu mengatakan kata-kata yang sangat cabul, liar, dan penuh dengan tindakan-tindakan bejat yang akan ia lakukan ke Nayma. Aku bahkan tidak mampu untuk menuliskan ucapannya. Hanya bisa memendam amarah yang kini telah terisi penuh di pembuluh darahku.

Setelah makanan mereka habis, aku lalu membayarkan mereka dan kembali dibawa ke toilet untuk dihajar. Mereka membawaku masuk ke toilet dan menutup pintu toilet. Dengan membelakangi pintu, Henri berdiri di depanku dan berkata,

“Kembali ke masalah kita tadi: lu udah nge-stalking Facebook cewek gua dan lu ngatain dia jelek. Sekarang, lu akan....”

Selanjutnya, aku tidak bisa mendengar perkataan Henri dengan jelas. Suaranya seolah tertimpa oleh perkataan Kery si Bejat saat di kantin tadi. Niatnya untuk melakukan hal itu kepada orang yang kucintai dengan tulus, berhasil membuatku marah semarah-marahnya, sampai aku berani untuk mengepalkan tangan kananku dengan kuat. Aku menoleh dia di depan kiriku yang sedang tersenyum keji. Entah kenapa aku merasa itu adalah senyum terkeji yang pernah kulihat sepanjang hidupku. Bahkan mengalahkan senyum jahat dari seorang psikopat yang telah membunuh banyak orang.

“JAWAB!!” bentak Henri kepadaku. Entah apa yang ia bicarakan dari tadi.

Kemudian, dengan amarah yang menggebu, aku melepaskan pukulan yang sangat kuat dengan tangan kananku ke pipi kiri Kery si Bejat. Sontak, ia tergeletak di lantai. Tentu, seseorang akan lumpuh dengan mudahnya saat menerima serangan yang tidak terduga. Aku langsung mendekatinya dan menendang perutnya berkali-kali dengan brutal menggunakan kaki kananku. Ketiga temannya yang juga tidak menduga akan serangan itu, hanya bisa terkaku sejenak dengan mulut yang terbuka.

Tak memerlukan waktu yang lama, Henri lalu membantu temannya itu dengan memukul wajahku hingga aku terdorong ke belakang dan terjatuh ke lantai. Mereka bertiga lalu mendekatiku dan melakukan hal yang sama dengan yang kulakukan kepada Kery: menendang-nendangku berkali dengan brutal menggunakan kaki kanan mereka. Aku mencoba untuk bertahan, melindungi kepala dengan kedua tangan dan perut dengan kedua kaki.

Bel masuk kelas berbunyi. Mereka berhenti memukulku dan Henri mengajak mereka untuk segera pergi dari sini. Henri dan Gani lalu menghampiri Kery yang terbaring di lantai, sedangkan Anton membuka pintu toilet dan bersiap untuk meninggalkan TKP. Kery terbangun. Ia duduk sambil memegang perutnya yang nyeri dan meludahkan darah ke arah kanan. Ia memandangku dengan beringas dan segera berdiri menghampiriku.

Ia menggenggam kerah seragamku dan mengangkatku dengan kedua tangannya yang kurus. Ia lalu berteriak, “Lu ngapain nyerang gua, Anjing!? Masalah lu itu dengan Henri. Kenapa malah gua yang lu pukul!?”

Tanpa memperdulikan sepatah kata darinya, aku langsung memukul perutnya dengan tangan kananku. Cengkeramannya terlepas dan ia terdorong ke belakang. Aku lalu menerjang area di bawah perutnya, membuatnya tersungkur ke belakang, dan tergeletak ke luar toilet.

Aku berlari mendekatinya dan dicegah oleh teman-temannya, tetapi aku berhasil melepaskan diri. Tepat di depan toilet, aku langsung naik ke badannya dan memukul-mukul wajahnya dengan brutal menggunakan kedua tanganku. Ia lalu menahan seranganku dan mencoba untuk membalas. Kami lalu berguling menjauhi toilet dan disaksikan oleh banyak siswa.

Kami berkelahi dengan liarnya di lantai dan disoraki oleh siswa-siswi yang asyik menonton. Dan entah kenapa mereka malah bersorak, “IPA! IPA! IPA!” sehingga membuatku semangat dan berhasil mengapit badannya di lantai serta memberikan banyak pukulan di wajahnya.

Tak berlangsung lama, perkelahian kami dihentikan oleh Pak Sutarno. Ia memisahkan kami yang sedang bergelut dan mengangkat kami dengan memegang kerah belakang seragam kami. Aku di sebelah kanannya dan si Bejat yang telah babak belur itu di sebelah kirinya. Pak Sutarno lalu menyeret kami ke ruang BK diiringi dengan sorakan dan tepuk tangan para siswa.

Sesampainya kami di ruang BK, Pak Sutarno langsung menaruh kami di depan Bu Lia. “Bikin masalah aja kalian ini!” bentak Pak Sutarno seraya pergi dari ruangan.

Bu Lia memperhatikan dua orang siswa babak belur yang duduk di depannya, lalu menggelengkan kepalanya. Ia menatap Kery dengan sinis seraya mengucapkan, “Astaghfirullah.” Kery yang masih terngengah-engah lalu menatapku dengan beringas kemudian langsung mendekatiku dan memberikan pukulannya.

Untungnya, Bu Lia langsung mengadangnya dan memukul-mukul badannya dengan buku paket geografi yang ada di situ, seraya berseru, “Sudah, Kery! SUDAH!”

Kery pun menghentikan dirinya. “MASALAH LU APA ASUUU!!?” teriaknya kepadaku, tepat di depan Bu Lia. Di mana kira-kira sopan santunnya terjatuh saat kuhajar tadi?

“SUDAH! KAMU INI, KERY!” bentak Bu Lia.

“Tapi, dia yang mulai, Bu!!”

“Kamu ini nuduh yang bukan-bukan. Udah ngehajar anak baik-baik, ngefitnah pula. Kamu harusnya malu sama diri kamu sendiri, sama geng sok keren kamu itu!”

Kery lalu duduk dan berkata padaku dengan masih emosi, “Beruntung lu jadi anak IPA. Dianggap baik di mata guru. ANJING!”

“CUKUP!” teriak Bu Lia, kesal.

Aku lalu mengangkat tangan kananku dengan perlahan. Bu Lia memandangku, menghela napasnya, dan mempersilakanku untuk menyampaikan sesuatu. Aku mendekatkan kepalaku dan berkata, “Maaf Bu. Sebelumnya, boleh saya izin ke toilet sebentar?”

Bu Lia mengurut keningnya dan berkata, “Oke. Tapi jangan lama-lama ya.”

Aku lalu berjalan ke toilet dengan kaki yang agak pincang dan memegang perut yang masih nyeri. Beberapa orang memperhatikanku dan memberikan tepuk tangan saat aku melewati mereka. Salah satu orang yang kukenal juga menggodaku dengan berkata, “Refrano sudah pandai..”

Setibanya di toilet, aku bertemu dengan Ricky dan Zul di dalam.

“Ref!” ucap mereka, kaget.

“Lu gapapa?” tanya Ricky.

“Lu gak liat muka gue?” balasku sambil menunjuk wajah babak belurku.

“Ref. Sorry banget ya, tadi gue udah lari ninggalin lo,” ucap Zul.

“Udah, gapapa,” kataku seraya membuka ritsleting celana dan mendekati urinoar untuk kencing.

“Ref. Gue beneran merasa bersalah nih,” ucap Zul seraya mendekatiku, “untuk menebus kesalahan gue, gue punya berita baik buat lo.”

“Apa?”

“Kasih tahu, Rick!” titah Zul.

Ricky lalu memberitahu, “Jadi, tadi, gak lama abis lo berantem, gue ketemu sama Tina, temennya Nayma. Dia bilang kalo Nayma senang banget sama lu, karena udah ngehajar orang yang selama ini udah ngeganggu dia. Walaupun dia nggak tahu apa sebenarnya masalah lu dengan Kery. Tapi, intinya, dia senang banget lu udah ngelakuin itu.”

“Serius nih?” tanyaku. Mereka lalu mengangguk. Aku pun tersenyum dengan muka yang memerah, tapi bukan karena babak belur.

Kami lalu keluar dari toilet. Ricky dan Zul beranjak kembali ke kelas, sedangkan aku berniat kembali ke ruang BK. Tak jauh di depanku, terlihat Nayma bersama ketiga temannya di depan kelas mereka. Ia menatapku dengan tersenyum dan kubalas senyuman. Ia kemudian tertawa kecil sambil menutup mulutnya, kemudian mengeleng-gelengkan kepalanya. Aku membalasnya dengan tawa kecil juga.

Teman-temannya lalu mengajaknya masuk ke kelas. Ia pun masuk ke kelasnya dengan masih memandangku dan memberikan senyuman yang memukau. Aku pun mulai melangkah menuju ruang BK dengan hati yang penuh rasa gembira, sambil membayangkan senyumannya.

Itulah senyuman yang akan selalu kuingat setiap kali ku rindu akan dirinya.

Komentar