Sesayat Rindu untuk Jiwa Yang Sepi

Story by: Fidhil Rahyan

Hanya rumahmu yang terlihat dari rumahku di ujung gang ini. Rumahmu yang sekarang pintunya selalu tertutup, lampunya tak menyala pada malam hari, dan insan yang tak kunjung terlihat di dalam sana. Aku hanya bisa berpangku tangan di depan jendela kaca kamarku dan menatap rumahmu itu sambil bertanya-tanya: “Ke mana kamu pergi?”

Sudah lebih dari seminggu aku tidak melihat senyummu yang kauberikan kepada tetangga-tetangga sekitar. Walaupun kau tak pernah tersenyum padaku, aku tak pernah merasa sedih, selama aku masih bisa melihat senyum itu.

Kamu juga tak pernah terlihat lagi keluar dari rumahmu, sekadar berangkat ke kafe tempat kau bekerja, atau pergi ke masjid yang ada di depan gang. Aku rindu melihatmu keluar dari rumah dengan memakai baju koko, sarung, dan kopiah hitam setiap kali azan selesai dikumandangkan.

Sejak setahun yang lalu, aku, seorang gadis SMA, sudah tertarik padamu, seorang pria berusia 20an. Saat itu, tepatnya di bulan Ramadhan tahun lalu, aku tenggelam pada sorot matamu untuk pertama kalinya, usai pulang dari salat tarawih. Tatapanmu yang hanya sekejap, terasa lebih baik dibanding tatapanku padamu selama berjam-jam. Seperti malam Lailatul Qadar: satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan.

Namun, Ramadhan tahun ini terasa berbeda tanpa hadirnya sosok dirimu. Tak hanya rasa lapar dan haus, tetapi juga rasa rindu selalu menyayat hatiku setiap harinya. Ingin sekali aku bertemu kamu kali ini dan menggunakan kesempatan untuk berkenalan denganmu. Tidak seperti tahun lalu, aku hanya bisa membayangkannya. Hanya di dalam pikiranku, aku bisa menyebutkan namaku, Risa, dan kamu memberitahukan namamu, Taufik. Ya. Aku sudah terlanjur tahu namamu dari tetangga lain yang memanggilmu.

Bukan tanpa alasan aku tidak bisa mendekatimu dengan leluasa, tetapi sikap over-protective ayahku yang membuat langkahku tertahan. Ia tidak membiarkanku untuk mendekati atau didekati lelaki mana pun. Bahkan yang dipandang sopan, baik hati, dan ramah oleh siapapun, seperti dirimu. Ia pernah berkata bahwa setiap pria punya maksud tertentu saat berbuat baik pada seorang wanita, dan setiap wanita tidak sepantasannya mendekati seorang pria. Itu sebabnya sulit bagiku untuk meraihmu.

Sikap over-protective ayahku juga membuatku merasa sepi. Tidak punya teman dekat atau sahabat yang senang berkunjung ke rumahku setiap harinya. Tidak memiliki hubungan yang cukup erat dengan tetangga-tetanggaku, selain hanya tegur sapa dan memberikan senyuman saat bertemu. Alhasil, aku selalu menghabiskan waktu sendiri tanpa ada seorang untuk bercerita.

Ayahku sering sekali melarangku untuk keluar dari rumah, terutama saat teman-temanku mengajakku keluar di malam hari untuk jalan-jalan atau nongkrong di kafe. Bahkan meskipun itu hanya sementara, ia tetap saja mengekangku.

Ya, memang tak heran jika orang tua melarang anaknya untuk keluar dari rumah karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan padanya. Namun, apa yang dilakukan ayahku ini sudah sangat berlebihan. Bagaimana tidak? Ia saja ragu membolehkanku keluar rumah pada malam hari untuk kerja kelompok. Butuh berkali-kali bujukan hingga akhirnya ia mau. Itu pun harus pulang sebelum jam 8 malam.

Pernah waktu itu aku kerja kelompok di rumah temanku yang perempuan dan jam hampir menunjukkan pukul 9 malam. Aku ingin sekali pulang duluan, tetapi tugasnya yang rumit dan mendekati deadline membuat kami harus bekerja lebih lama. Aku juga sudah izin kepada ayahku, tetapi ia tetap menyuruhku untuk segera pulang. Tentu aku menolak, sampai ia dengan beraninya datang ke rumah temanku itu untuk menjemputku pulang. Rasa malu, tidak nyaman, dan merasa bersalah pada teman sekelompokku, menyatu menjadi satu.

Sulit untukku keluar dari rumah. Sulit untukku bisa berkumpul bersama teman-teman. Terlebih lagi, aku jadi terbiasa untuk langsung menolak ajakan temanku untuk keluar dari rumah, bahkan sebelum aku meminta izin pada ayahku. Karena aku yakin, ia takkan mengizinkanku. Hingga, teman-temanku lelah mengajakku keluar dan pertemananku dengan mereka jadi renggang. Satu per satu ajakan dari mereka hilang.

Aku berakhir menjadi gadis yang antisosial. Gugup saat berinteraksi dengan orang lain, bahkan tetanggaku sendiri. Aku menjadi anak rumahan, menghabiskan masa remaja di dalam rumah dan jarang melihat dunia luar. Tetapi, aku tidak mempermasalahkannya sejak hadirnya dirimu, seorang pangeran tampan yang menjadi tetangga baruku kala itu. Namun, itu pun sulit karena larangan ayahku perihal berinteraksi dengan seorang lelaki.

Aku yakin jika seandainya waktu itu kita sudah saling mengenal, aku dan kamu menjadi teman dekat sekarang. Aku juga bisa tahu ke mana perginya dirimu dan kita masih bisa berkomunikasi walau terpisah oleh jarak. Ditambah lagi, takkan ada sesayat rindu di hatiku untuk jiwa yang sepi ini. Rindu yang membuatku gelisah dan kembali merasa terbelenggu di dalam rumah yang awalnya terasa baik-baik saja karena kehadiranmu.

Saat inilah aku ingin sekali keluar dari rumah ini, walau hanya sementara. Maka dari itu, dengan keresahan yang menggebu di dalam hati, entah kenapa kutulis status di WhatsApp: “Bosan juga di rumah mulu.”

***

Saat ini adalah bulan suci Ramadhan. Selain membantu ibuku menyiapkan makanan untuk berbuka puasa, aku hanya menghabiskan waktu di dalam kamar: menonton drama Korea favoritku, scrolling berbagai media sosial, atau sesekali menunggu kehadiranmu dari balik jendela kaca.

Saat matahari mulai naik ke atas kepala, aku yang sedang asyik scrolling Instagram, dihentikan oleh panggilan WhatsApp dari teman sekelasku, Tasya. Aku langsung berdiri dengan tertegun, menaruh ponselku di atas kasur, dan membiarkannya terus berdering. Aku tidak terbiasa menerima panggilan dari seseorang, sebab aku yang jarang ditelepon.

Ponselku kemudian lelah berdering dan menghentikan dirinya. Aku kembali memegangnya dan baring di atas kasurku. Lalu, kubuka WhatsApp dan mengirimkan pesan ke Tasya yang barusan menelpon.

“Kenapa, Tas?” tanyaku.

“Bukber yuk!” ajaknya.

Aku terkejut. Ini adalah ajakan buka puasa bersama yang pertama kalinya kudapat tahun ini. Tak kusangka ia mau mengajakku yang sudah sering menolak ajakan mereka.

“Sorry, Tas. Nggak bisa. Kamu tahu sendiri ‘kan ayahku gimana,” jawabku yang sepertinya sudah ia duga.

“Ayolah, Ris. Sekali-sekali. Gue tahu lo mau. Dari status lo udah ngejelasin,” balas Tasya.

“Tapi, aku tahu ayahku pasti nggak bakal ngebolehin. Apalagi kalau ada cowok. Dia tuh nggak mau aku didekati oleh cowok mana pun.”

“Cuma kita berempat kok: aku, kamu, Lesti, sama Sara.”

“Hhmm.. Di mana?”

“Di restorannya Audrey.” Audrey adalah salah satu teman sekelas kami yang ayahnya memiliki sebuah restoran bernama Regalo Resto.

“Bukannya di situ mahal-mahal ya?” tanyaku yang uang jajannya saja habis untuk kuota internet dan langganan streaming drakor.

“Tenang aja. Gue yang bayarin. Lu pergi dengan dompet kosong juga gapapa.”

Aku mempertimbangkannya. Kapan lagi makan di restoran secara gratis?

“Tapi, Tas.. Ayahku...” ucapku disertai emotikon tertawa cengengesan berkeringat.

“Aduh. Bilang aja ke ayahmu, temen-temen cewek lu ngajak bukber. Bilang aja cuma kita berempat, dan nggak ada cowok.”

“Percuma, Tas. Dia ga bakal percaya.”

Tasya membaca pesanku. Perlu waktu yang cukup lama untuknya menanggapi pesanku hingga akhirnya ia membalas:

Yaudah. Kami aja yang izin ke dia.”

Aku lalu mengirimkan emotikon tertawa.                               

“Gue serius,” jelas Tasya.

Benar saja. Pada sore harinya, Tasya bersama dengan Lesti dan Sara, datang ke rumah. Itu berhasil membuatku merasa takjub.

“Mana ayahmu?” tanya Tasya.

“Eee.. Ada di dalam,” jawabku, kikuk.

Mereka bertiga lalu masuk ke rumahku dan kuantar mereka menemui ayahku yang sedang berada di ruang tengah. Kami melihat dia yang sedang duduk di atas kursi kayu, memakai kacamata, dan fokus dengan ponsel di tangan kanannya, tetapi televisi menyala di depannya.

“Yah,” panggilku, “Ini.. mereka mau ngajak Risa bukber. Boleh ‘kan?” tanyaku.

Ayahku menoleh mereka dan melepas kacamatanya. Ketiga temanku lalu menyalaminya yang masih tidak beranjak dari kursi. Ia menatap Tasya, Lesti, dan Sara satu per satu dengan tatapan tajam.

“Boleh ya, Om, kami ngajak Risa bukber. Cuma kami berempat kok,” ucap Tasya dengan berani.

“Kalian ini... teman sekelas Risa atau gimana?” tanya ayahku. Mereka lalu menjawabnya.

Selanjutnya, ayahku terus bertanya kepada mereka. Mulai dari mempertanyakan lokasi bukbernya, hingga siapa orang tua mereka masing-masing dan apakah sudah izin. Kemudian dijawab oleh mereka dengan jujur.

Tak hanya itu, ayahku juga menanyakan sesuatu yang membuatku seakan menepuk jidat, seperti: “Punya pacar nggak?”, “Pernah dateng ke klub malam?”, “Pernah mabok?”. Beruntung pertanyaannya tidak sampai menanyakan “masih perawan?”

Ketiga temanku lalu menjawab dengan sangat cerdik, walaupun aku tahu ada jawaban yang tidak benar alias bohong. Sehingga, ayahku jadi beranggapan bahwa mereka adalah anak baik-baik dan aku akan aman bersama mereka. Ditambah, tidak ada anak laki-laki di antara kami. Namun, tetap saja masih ada prasangka buruk yang ia tujukan kepadaku.

“Jadi, boleh nggak Om, Risa bukber bareng kami?” tanya Tasya pada akhirnya.

Ayahku lalu menghela napas panjang, dan menjawab, “Yaudah, boleh.”

Mereka bertiga langsung kegirangan. Ayahku kaget dan menatap tajam mereka yang langsung terdiam.

Kemudian, ayahku bicara padaku, “Tapi ingat, Ris! Pulang sebelum Isya! Jangan lupa sholat Maghrib!” ucapnya sambil menunjukkan jari telunjuk.

“Iya, Yah,” balasku. “Aku siap-siap dulu ya,” ucapku kepada ketiga temanku.

***

Tiga puluh menit sebelum waktu berbuka puasa, kami sudah tiba di Regalo Resto yang berada di lantai dua suatu bangunan. Anehnya, saat memasuki restoran milik Ayah Audrey ini, aku melihat wajah-wajah yang sepertinya tidak asing. Kebanyakan yang ada di situ adalah anak muda seusiaku dan teman-teman sekelasku. Hingga akhirnya, Tasya mengklarifikasi:

“Selamat, Risa, lo kena prank. Sebenarnya enggak cuma kita berempat, tetapi semua teman sekelas kita dan teman-temannya Audrey.”

“Bener, Ris,” sahut Lesti, “Sebenarnya ini acara ulang tahunnya Audrey.”

“Hah?” aku benar-benar syok dan tak habis pikir dengan apa yang telah mereka lakukan, “serius?”

“Ya serius, Ris,” jawab Sara sambil memegang punggungku, “Lihat aja mereka!”

Aku melihat orang-orang di restoran ini. Salah seorang laki-laki menyapa kami dan kami balas dengan senyuman.

“Tenang aja, ini prank yang menguntungkan kok. Kita bisa makan-makan gratis di sini,” ucap Tasya.

“Kalian sadar nggak sih? Kalian nggak cuma nge-prank aku, tapi juga ayahku!” jawabku, sedikit panik.

“Ya memang. Makanya kami yang minta izin, karena gue tahu lo nggak bakal berani. Haha..”

“Hai, girls!” sapa Audrey dari kejauhan dan berjalan menghampiri kami.

“Aduh. Aku nggak bawa kado lagi. Gimana nih?” tanyaku sambil meraba-raba saku celanaku.

Tasya lalu membuka sling bag-nya dan menunjukkan empat kado berukuran kecil. Sungguh, anak ini sudah mempersiapkan segalanya yang aku khawatirkan.

Audrey tiba di depan kami dengan mengangkat kedua tangannya dan berwajah ceria. Ia lalu cipika-cipiki mereka seraya berkata, “Lesti, Sara, Tasya, makasih ya udah dateng.”

Kemudian, ia menolehku dengan heran dan berkata, “What a surprise. Risa? Lu dateng juga ternyata.”

“Hehe.. Iya nih,” balasku dengan cengengesan.

Wow! I can’t believe it,” ucapnya seraya cipika-cipiki denganku, “Gue pikir lu nggak bakal dateng lho. Makasih ya,”

“Ya,” jawabku, kikuk.

Tasya lalu menyerahkan empat kado dari dalam sling bag-nya kepada Audrey, “Nih. Dari kami berempat.”

Audrey menerimanya dan memperhatikan kado-kado tersebut, “Wow! Kompakan ya kalian.” Mereka bertiga lalu tertawa.

Thanks, ya,” ucap Audrey, “Eh, by the way, silakan duduk di mana aja. Bebas kok. Cuma malam ini semuanya gratis, kalian bebas mau makan apa aja.”

Audrey lalu pergi menaruh kado-kado yang Tasya beri. Tasya lalu mengajak kami untuk duduk di salah satu meja di restoran ini. Incarannya adalah meja yang tempat duduknya berupa sofa yang saling menyatu membentuk huruf U dan di tengahnya terdapat meja. Sambil berjalan menuju meja tersebut, kulihat di sekitar, meja-meja telah dipenuhi berbagai takjil dan menu-menu dari restoran ini. Selain itu, ada juga beraneka ragam makanan dan minuman di atas meja berukuran besar yang berada di tengah-tengah restoran. Di depan semua meja-meja tersebut, terdapat sebuah panggung yang biasa menjadi tempat orang untuk bernyanyi.

Tepat beberapa menit kemudian, ketika sudah mendekati waktu berbuka dan seluruh tamu telah hadir, Audrey naik ke atas panggung tersebut dan memberikan kata sambutan:

“Selamat malam, semuanya. Puji Tuhan dan terima kasih untuk kalian semua yang telah hadir di acara ulang tahun gue kali ini, sekaligus jadi acara buka bersama buat temen-temen yang muslim.” Selanjutnya, ia menyampaikan berbagai hal tentang dirinya di tahun ini, dilanjutkan dengan peniupan kue ulang tahun yang bertepatan dengan waktu berbuka puasa. Kami semua lalu menyantap makanan dan minuman yang ada usai memberikan Audrey tepuk tangan.

Suasananya sangat meriah dan menyenangkan, tetapi entah kenapa aku masih saja memikirkan tentang dirimu, Taufik. Ketika kulihat seluruh tamu yang hadir, selalu saja kuharap ada kamu di antara mereka. Namun, hasilnya nihil. Bahkan, saat iqomah Maghrib sudah dikumandangkan, aku tidak melihatmu di antara beberapa laki-laki yang izin ke Audrey untuk pergi dari sini sementara demi melaksanakan salat Maghrib di masjid yang berada tepat di depan restoran ini.

Kemudian, aku juga ikut terpanggil untuk melaksanakan ibadah. Namun, entah kenapa aku merasa malu jika harus pergi sendiri ke masjid. Oleh karena itu, saat sedang menikmati makanan, aku mengajak teman-temanku untuk salat Maghrib.

“Lagi makan, Ris. Entar aja di rumah,” jawab Tasya. Padahal, makanan mereka sudah tinggal sedikit.

“Tapi...”

“Gapapa kali, Ris. Kita kan cewek, gapapa sholat di rumah,” jelas Lesti.

“Iya. Habisin tuh makanan lu. Enak tau,” sahut Sara.

“Udah habis,” jawabku dengan polos.

“Yaudah, tambah lagi.”

Aku hanya terdiam, sambil berharap masih ada waktu untuk salat Maghrib saat pulang nanti.

Beberapa menit kemudian, bukannya mengajakku untuk pulang, ketiga temanku itu malah asyik berfoto bersama teman-teman sekelas kami di meja lain. Tadinya, mereka mengajakku untuk ikut berfoto, tetapi aku menolak mereka. Aku bukan tipe perempuan yang bisa percaya diri saat dihadapkan dengan kamera. Rasa insecure selalu saja menghampiriku usai kulihat foto-foto itu.

Tinggallah aku sendiri di meja ini sambil menghabiskan es capucino cincauku dan memperhatikan mereka yang asyik berfoto ria dengan percaya dirinya. Sesekali aku menyalakan ponselku hanya untuk menggeser-geser beranda.

Sekumpulan laki-laki lalu kembali dari salat Maghrib di masjid depan, pertanda waktu Maghrib hampir berakhir. Aku lalu menoleh jam di ponselku yang menunjukkan pukul 17:25 WIB. Ingin sekali aku menghampiri sekumpulan muda-mudi yang tengah asyik berfoto itu dan mengajak ketiga temanku itu untuk pulang, tetapi tentu saja aku tidak berani, bahkan untuk berdiri dari tempat dudukku ini.

Tiba-tiba, salah seorang lelaki yang baru saja kembali dari masjid, datang menghampiriku. Aku menolehnya dengan canggung. Kemudian ia bertanya, “Boleh aku duduk di sini?” sambil menunjuk sofa yang kududuki.

Mungkin jika lelaki itu adalah kamu, aku akan mempersilakanmu duduk di sofa ini, tepat di sampingku. Namun, dia bukan kamu. Sehingga, aku bingung dan kaget, kemudian malah menanggapinya dengan “Hah?”

“Teman-temanku pada ngumpul di sana main Mobile Legends,” tuturnya sambil menunjuk sekumpulan pria di meja lain yang sedang asyik dengan ponsel mereka, “terus tempat dudukku diambil.”

Aku lalu mengangguk-ngangguk pelan. “Boleh ‘kan?” tanyanya sekali lagi, memastikan.

“Ya,” jawabku sambil menggeser posisi dudukku, lalu ia duduk di sampingku sambil memainkan ponselnya. Aku terus memperhatikannya. Ia kurus, sedikit putih, berrambut panjang dengan poni ke arah kanan, memakai baju kaos hitam yang ditutupi jaket cokelat, dan celana jeans warna krem. Kemudian, jantungku berdetak kencang segejap saat bola matanya tiba-tiba mengarah ke diriku. Aku langsung mengambil es capucino cincauku di meja dan menyeruputnya. Padahal, sudah tinggal es batu.

Ia lalu memasukkan ponselnya di saku celananya dan bertanya, “Kok sendirian?”

“Ee.. Itu teman-temanku,” jawabku sambil menunjuk mereka yang kali ini sedang membuat video TikTok.

“Nggak ikutan?”

“Enggak,” jawabku, singkat.

“Kenapa?”

“Nggak tertarik.”

Ia tersenyum, kemudian terdiam sejenak, dan menoleh teman-temannya yang asyik berkumpul memainkan game Mobile Legends. Ia lalu berkata, “Sama dong kita. Teman-temanku pada main ML, gua mah kagak ngerti main yang begituan, gak tertarik juga.”

Aku hanya mengangguk-ngangguk pelan.

Ia lalu menolehku, mengulurkan tangannya, dan berkata, “Gue Farhan.”

Aku lalu menjabat tangannya dan menyebutkan namaku, “Risa.”

“Tangan kamu dingin banget,” ucapnya, membuatku tersenyum-senyum kecil dan malu-malu. Aku lalu kembali menoleh jam di ponselku, waktu Maghrib sudah benar-benar akan berakhir. Aku semakin risau. Khawatir ayahku akan memarahiku, terutama jika aku tidak pulang sebelum Isya.

“Kenapa?” tanyanya kala melihat tingkahku yang waswas.

“Aku.. Aku sebenarnya mau pulang, tapi temen-temenku masih pada foto-foto.”

“Ooh..” tanggapnya. Ia lalu mengambil ponselnya dan menolehnya sebentar. Kemudian ia menaruhnya kembali ke saku celana dan bertanya, “Aku juga mau pulang nih. Mau kuanterin?”

Aku tertegun. Ternyata ada juga pria yang bersedia mengantarkanku. Namun, aku juga takut. Seperti yang ayahku bilang, lelaki di luar sana punya maksud tertentu saat berbuat baik dengan seorang wanita. Tetapi daripada aku semakin menunda-nunda waktuku untuk pulang sampai masuk waktu Isya, lebih baik aku menerima tawaran dari lelaki ini. Terlebih lagi, di antara banyak pria yang ada di restoran ini, ia adalah salah satu dari kumpulan pria yang baru saja melaksanakan salat Maghrib di masjid tadi. Mungkin saja ia anak baik-baik.

“Gak bakal ngerepotin kok,” ucapnya, seolah menebak jawabanku.

“Gimana ya?” tanggapku, pura-pura mempertimbangkan.

“Gapapa kok. Rumah kamu di mana?”

Aku lalu memberitahu lokasi rumahku.

“Tuh kan, searah,” balasnya seraya menyebutkan lokasi rumahnya yang memang benar searah. “Ayok!” ajaknya.

Aku masih terdiam.

“Katanya tadi mau pulang.”

“Yaudah,” jawabku sambil memakai sling bagku yang sejak tadi kutaruh di sampingku, “tapi kamu duluan. Tunggu aku di parkiran.” Tentu saja, aku tidak mau kami terlihat pulang bersama-sama. Malu jika nanti sampai dilihat oleh teman-temannya maupun teman-temanku dan kami diledek.

Okay,” jawabnya sambil berdiri, “aku yang pake Ferrari ya.”

“Hah?” responsku, kaget.

“Bercanda,” ucapnya sambil tertawa kecil. “Nanti aku panggil,” imbuhnya, lalu pergi menghampiri Audrey untuk izin pulang. Aku memperhatikannya yang kemudian izin ke teman-temannya dan keluar dari restoran ini.

Tak memerlukan waktu yang lama, aku juga ikut keluar dari restoran. Aku turun dari lantai dua bangunan tersebut dan pandanganku langsung mengarah ke arah langit yang sudah tak lagi tampak cahaya merahnya di ufuk barat. Aku lalu menghela napas bersamaan dengan seorang pria yang memanggilku. Kutoleh dia yang sudah berada di atas motor matic-nya dan helm tanpa kaca yang sudah ia kenakan. Aku lalu menghampirinya.

Ia menyalakan motornya dan mengeluarkannya dari parkiran. Saat aku sudah berada di dekatnya, ia langsung menurunkan kedua pijakan kaki belakang motornya dengan menggunakan tangannya dan menyilakanku untuk naik. Aku melihat di sekitar terlebih dahulu, kemudian naik ke atas motornya dengan perlahan, dan duduk tepat di belakangnya.

Dalam perjalanan, aku menatap punggungnya serta belakang lehernya yang nyaris ketutupan kerah jaketnya, dan membayangkan jika seandainya itu adalah kamu. Ya, hanya bisa membayangkan. Meskipun saat ini aku sedang bersama dengan laki-laki lain, aku tetap saja memikirkanku. Mengapa sulit untuk melepasmu dari pikiran?

Saat hampir tiba di gang rumahku, aku mengarahkan jalan kepadanya, serta tidak lupa untuk berkata, “Sampe depan gang aja ya?”

Ia lalu bertanya, “Kenapa?”

Tentu saja, dengan sifat ayahku yang penuh dengan rasa curiga, aku tidak bisa membiarkan lelaki ini terlihat olehnya. Bisa-bisa nanti ia ditatap dengan sinis dan diancam untuk tidak berurusan dengan anaknya ini. Padahal, lelaki ini sudah baik denganku.

“Sampe depan gang aja,” kataku, mengulang perintah tanpa memberitahu alasannya. Kami lalu tiba dan berhenti di depan gang rumahku. Aku pun turun dengan perlahan, kemudian mengucapkan terima kasih kepadanya.

“Santai,” balasnya sambil tersenyum. Aku juga ikut tersenyum, lalu memutar badanku, dan pergi menuju rumahku.

Saat kakiku sudah mengambil beberapa langkah, ia lalu memanggil namaku: “Risa!”

Aku menghentikan langkahku dan membalikkan badanku. Terlihat ia yang melepas helmnya dan tersenyum malu-malu. Tanpa menolehku, ia menggaruk-garuk belakang kepalanya seraya bertanya, “Boleh minta nomor WA nggak?”

Aku sedikit tertegun, kemudian menggerakkan bola mataku ke kanan dan ke kiri. Ia terdiam menunggu jawabanku, sedangkan aku hanya bergumam.

Mungkin karena tidak mau keheningan ini berlangsung lama, ia pun tertawa dan berkata, “Enggak. Bercanda..”

Aku pun menanggapinya dengan tersenyum. Ia lalu kembali memakai helmya dan menyalakan motornya. Aku kembali memutar badanku, kemudian pergi meninggalkannya, tanpa memberikan sepatah kata pun.

Saat berjalan di gang ini, hal yang selalu kulakukan adalah menoleh ke arah rumahmu. Sekadar melihat pintumu yang terbuka lebar atau memandang seseorang di dalam lewat jendela kaca rumahmu yang terlihat sebab diterangi oleh lampu. Namun, kali ini, pintu rumahmu tertutup dan suasana di dalam gelap. Satu-satunya lampu yang menyala hanyalah di teras.

Aku memperlambat langkah kakiku tepat di depan rumahmu. Kemudian, betapa terkejutnya aku saat melihat sebuah papan bertuliskan “DIJUAL!” yang terpampang di pagar rumahmu. Merasa kurang yakin, aku mendekati papan itu dan melihatnya lebih jelas. Mataku terbelalak dan tanganku menutup mulutku yang terbuka lebar. Sungguh tak kusangka. Jadi, ini penyebab kamu menghilang selama ini? Ini penyebab aku tak melihat dirimu selama beberapa hari?

Aku mencoba menyangkal dengan memegang papan itu. Terasa sangat nyata. Aku pun segera berlari menuju rumahku dan langsung masuk ke dalam saat sampai. Tak lupa kuucapkan salam dan menutup pintu rumahku itu dengan sandaran tubuhku. Mataku mulai berkaca-kaca dan dadaku mulai sesak.

Kemudian, ayahku datang menghampiri dan menatapku dengan muka masamnya. “Baru balik?” tanyanya.

Aku menolehnya sekejap dan ia melanjutkan, “Kamu sudah sholat Maghrib?”

Aku terdiam. Berpikir bahwa semua jawaban jujurku hanya akan membuatnya marah dan berubah menjadi mesin yang tak berhenti mengeluarkan kata-kata. Namun, apa boleh buat? Ia sudah hafal dengan wajahku saat berbohong, sehingga aku hanya bisa membalasnya dengan menggelengkan kepalaku.

“Astaghfirullahaladzim. Kan sudah Ayah bilang, jangan lupa sholat Maghrib! Gini nih kalau kamu sudah keluar rumah: lupa waktu. Lihat, sekarang sudah mau Isya.” Air mataku mulai menetes. Aku tidak menggubris perkataan ayahku itu, dan segera berjalan menuju kamarku sambil diiringi oleh mulutnya yang terus mengoceh.

Aku masuk ke dalam kamarku dan mengunci pintu rapat-rapat. Kemudian, bersandar di pintu tersebut sambil bercucuran air mata. Ayahku masih tak menghentikan ocehannya hingga azan Isya berkumandang. Ia pun mengakhirinya dengan berkata “Astaghfirullah. Lihat, sudah Isya ‘kan. Mau jadi apa kamu, Ris... Ris..?” dan mengetok pintu kamarku dengan satu ketukan kencang.

Aku duduk bersandar di pintu kamarku sambil berusaha menahan suara tangis.

Usai azan Isya selesai dikumandangkan, aku sudah berhenti mengeluarkan air mata dan beranjak menuju jendela kaca kamarku. Aku kembali menatap rumahmu sambil berharap bisa melihatmu lagi, bahkan untuk yang terakhir kalinya. Namun, sepertinya itu mustahil. Papan yang terpampang di pagar rumahmu sudah menjelaskannya.

Satu-satunya yang bisa kulakukan kali ini hanyalah membayangkan dirimu keluar dari rumahmu dan berjalan menuju masjid. Kemudian, aku segera berlari keluar rumah, menghampiri, dan memanggil namamu: “Taufik!”

Kamu pun menghentikan langkahmu, lalu perlahan membalikkan badanmu, dan menolehku.

Aku pun tersenyum malu-malu dan bertanya padamu, “Boleh minta nomor WA nggak?”

Kemudian, aku bisa membayangkan hening yang cukup panjang, dan langkah kakimu yang pergi meninggalkanku, tanpa memberikan sepatah kata pun.


Komentar