Asmara Arwah
Story by: Fidhil Rahyan
Part 1: Asmara
Theo sudah tiba di rumah sahabatnya, Rina. Ia berjalan menuju pintu rumah, melewati banyak orang yang berkumpul di halaman depan. Saat ia tiba di teras, ia bertemu dengan sahabatnya yang lain, Faizal. Pipinya sudah dibasahi oleh air matanya sendiri, tetapi ia sudah tidak lagi menangis. Ia hanya menatap Theo dengan iba, lalu mereka berpelukan. Disaksikan oleh bendera kuning yang terpasang di depan rumah Rina.
Mereka masuk ke dalam dan melihat tubuh Rina telah terbaring dengan ditutupi oleh kain batik warna cokelat di kamarnya. Di sekitarnya sudah ada orang-orang yang duduk membacakan Surah Yasin, termasuk ibunya yang masih berurai air mata. Faizal masuk ke kamar tersebut, bersalaman dengan orang-orang di dalam, dan mengeluarkan ponselnya. Ia juga ikut duduk dan membacakan Surah Yasin di ponselnya.
Sementara itu, Theo yang bernama lengkap Matheo Sidabutar itu hanya bersedih, menatap potret wajah Rina yang tergantung di dinding kamar. Wajahnya yang gempal itu terlihat ceria dan berseri walau warna kulitnya selalu gelap. Tak lupa juga ciri khasnya yang memiliki hidung pesek dan rambut setinggi leher.
Theo masih tidak menyangka sahabatnya itu bisa membunuh dirinya sendiri dengan mengikat dan menggantung lehernya menggunakan seutas tali yang kuat. Apa yang mengganggu dirinya, sehingga ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri?
Theo duduk di teras rumah Rina bersama dengan keluarga, tetangga, dan sejumput teman Rina yang masih berkumpul. Ia juga tak habis-habisnya mendengar orang-orang yang membicarakan tentang cara matinya Rina, bahkan ada yang tak segan-segannya menghakimi perbuatan Rina. Theo hanya bisa mengalihkan perhatiannya atau berpura-pura tidak mendengar, padahal amarah di dalam hatinya sudah meningkat.
Di antara banyak orang-orang di teras dan halaman depan rumah Rina, ada sekumpulan orang-orang yang tak terlihat, atau lebih tepatnya, sosok-sosok tak kasat mata yang bisa dilihat Theo. Sosok yang orang-orang sebut hantu atau arwah gentayangan. Theo merupakan salah satu anak yang memiliki keahlian khusus untuk bisa melihat, menyadari, dan berinteraksi dengan mereka.
Perhatian Theo pun berhasil teralihkan saat melihat sekelompok hantu di halaman depan rumah Rina. Terdapat lima sosok yang saling berbicara dan satu per satu dari mereka menyadari seorang lelaki berumur 18 tahun yang sejak tadi menatap mereka. Hingga, mereka semua menoleh ke arah Theo.
Ada sesosok pocong dengan wajahnya yang agak gosong dan bermata merah menyala. Ada pria dewasa dengan wajah pucat, berambut rapi, dan memakai seragam jas. Ada dua orang wanita dengan memakai kebaya berwarna cokelat dan merah, tetapi wajah mereka dihalangi oleh rambut panjang sehingga sukar terlihat.
Namun, yang paling mencuri perhatian Theo adalah sesosok wanita cantik dengan memakai gaun putih. Mereka saling menatap, membuat Theo terpana untuk sementara. Sebab pipinya yang tirus, kulitnya yang putih bersinar, hidungnya yang mancung, bulu matanya yang lentik, dan rambutnya yang lurus, sangat sesuai dengan tipe wanita idamannya selama ini.
Hantu itu lalu tersenyum pada Theo yang sedang berduka itu, tetapi ia tidak bisa menuntut wajah cantik tersebut untuk berhenti melakukannya. Setidaknya, hati Theo sedikit terobati dari ditinggal sahabatnya.
Theo hadir di pemakaman Rina. Para penggali kubur sudah mulai menutup kuburan dengan tanah. Theo berdiri tepat di samping Faizal, sambil menatap papan nisan bertuliskan nama lengkap Rina beserta tanggal lahir dan kematiannya.
Usai pembacaan doa dan penaburan bunga di atas makam, orang-orang lalu pergi meninggalkan kuburan, termasuk Theo dan Faizal. Sambil berjalan kaki meninggalkan kuburan, mereka berdua masih saja mengungkapkan rasa tidak percaya dan heran atas kematian sahabat mereka itu.
“Padahal dia terlihat baik-baik aja loh, terutama saat kita bertiga ngumpul,” ujar Faizal.
Theo mengangguk dan berkata, “Tapi, kadang kita tuh nggak tahu, orang itu terlihat ceria, bahagia, padahal di dalam hatinya sedang memendam rasa sakit.”
“Tapi kita sahabatnya, Yo. Masa’ dia nggak mau ngomong sih?” bantah Faizal dengan masih sedikit tersedu-sedu. Mereka lalu terdiam. Hanya berjalan di jalan setapak kuburan.
Faizal lalu memecah kesunyian dengan bertanya, “Kamu lihat dia tadi?”
Theo menoleh Faizal, lalu menggelengkan kepalanya.
Faizal menghela napasnya dan berkata, “Aku yakin, dia masih belum meninggalkan dunia ini. Dia pasti ada di sekitar, Yo.”
“Aku juga yakin. Pasti ada alasan di balik kematiannya,” balas Theo.
Faizal memegang bahu Theo, dan berkata, “Kamu harus cari dia, Yo! Kita ini satu-satunya sahabat yang ia miliki.”
Theo mengangguk dan menjawab, “Pasti, Zal. Aku pasti akan mencarinya.”
***
Setibanya di rumah, Theo langsung berbaring di atas kasur demi menghilangkan letih dan sedih. Namun, otaknya masih memikirkan ke mana perginya arwah Rina. Apakah akhirat adalah tempat yang tepat untuk seseorang yang membunuh dirinya tanpa sebab yang diketahui pasti?
Theo lalu menghela napasnya, dan menyingkirkan sejenak pemikiran berlebihannya itu. Saat ia sadar ia masih memegang kunci motornya, ia pun menaruh kunci tersebut di atas lemari kecil samping kasurnya. Tiba-tiba, dirinya dikejutkan oleh kehadiran sosok wanita cantik yang sebelumnya ada di halaman rumah Rina. Ia berdiri dengan malunya di pojok kamar Theo dengan masih mengenakan gaun putihnya.
“Kamu yang tadi?” tanya Theo, dibalas dengan anggukan kepalanya. Ternyata, selama ini ia telah mengikuti Theo. Tak heran terasa hawa dingin di punggungnya selama mengendarai sepeda motor sepanjang jalan tadi.
“Kenapa ngikutin aku?” tanya Theo, lagi.
“Aku penasaran,” jawabnya dengan halus, “soalnya tadi kamu seperti bisa melihatku.”
“Bukan hanya kamu. Aku juga bisa melihat teman-teman kamu tadi,” jelas Theo. Suasana lalu hening sejenak, hingga Theo bertanya, “Nama kamu siapa?”
Ia lalu terdiam, berpikir, kemudian menjawab, “Angeline.”
Theo tersenyum dan berkata dalam hati, “Nama yang indah.” Kemudian, ia bertanya lagi, “Kamu kenapa bisa jadi begini?”
Angeline terdiam lagi, seperti mencoba mengingat sesuatu, kemudian menjawab, “Setahun yang lalu, aku kecelakaan. Tabrak lari.”
“Di mana?”
“Di Jalan Indra L. Yusrin,” jawab Angeline. Itu memang jalan yang rawan kecelakaan.
Kemudian, Theo teringat tentang Rina, sehingga ia bertanya, “Kamu kenal dengan Rina?”
Angeline menggelengkan kepalanya.
“Terus kenapa kamu ada di halaman rumahnya tadi?” tanya Theo untuk kesekian kalinya.
“Aku....” lagi-lagi arwah itu terdiam sejenak, “aku penasaran aja. Kudengar dari orang-orang, ia gantung diri, dan aku mau lihat wajahnya.”
“Kamu ngeliat arwahnya gentayangan?”
Angeline menggelengkan kepalanya. Theo lalu menghela napas panjang dan mengelap wajahnya, tanda sedikit frustrasi. Angeline yang sadar akan hal itu, kemudian bertanya, “Memangnya kenapa?”
Theo tertegun, kurang mengerti dengan pertanyaan itu.
Angeline pun melanjutkan, “Kok kamu yakin kalau dia jadi arwah gentayangan?”
Theo menjawab, “Karena aku yakin, Rina meninggal dengan tidak tenang. Masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya sesaat sebelum ia...” Theo menghentikan perkataannya, lalu menghela napas.
Ia lalu melanjutkan, “Dan kamu sendiri tahu, ‘kan? Jika seseorang meninggal dengan hati yang tidak tenang—entah ada sesuatu yang belum terselesaikan, atau ada hal yang membuatnya penasaran dan dendam—arwahnya akan terjebak di dunia, setidaknya sampai semua itu sudah terbayarkan atau terselesaikan.”
Usai penjelasan tersebut, Angeline pun merespons dengan mengangguk-ngangguk.
Theo mengernyitkan alisnya dan bertanya, “Kamu juga gitu, ‘kan? Makanya kamu jadi seperti ini.”
Ia mengangguk.
Theo menghela napasnya sekali lagi, “Aku harus mencari arwah Rina. Aku harus tahu kenapa ia bisa melakukan itu, apa yang membuatnya berani bertindak seperti itu.”
Angeline menatapnya dengan iba dan bertanya, “Kenapa kamu mau mencarinya? Dia sespesial itukah?”
“Dia sahabatku. Dan mungkin satu-satunya sahabat yang ia punya,” jawab Theo. Angeline pun mengangguk dengan pelan. Theo lalu beranjak tidur tanpa menyuruh arwah cantik itu untuk pergi.
Awalnya, Theo pikir Angeline akan pergi begitu saja. Namun, ia masih tetap di kamarnya, bahkan ketika Theo bangun dari tidur. Ia juga duduk bersama Theo saat makan malam, dan duduk di kursi belajar saat Theo hendak tidur. Lebih mengherankannya lagi, ia ikut masuk ke dalam kamar mandi saat Theo hendak mandi. Theo hanya berdehem sebagai isyarat agar ia pergi dari dalam kamar mandi tersebut.
Esok harinya, hantu cantik itu masih tetap di dekat Theo. Tanpa ia sadari, Angeline juga ikut bersamanya sepanjang perjalanan ke sekolah. Ia baru sadar saat turun dari sepeda motor di tempat parkir SMA-nya. Theo pikir, ia hanya ingin berkeliling di sekolah untuk mencari suasana baru, tetapi ternyata ia mengikuti Theo hingga ke kelasnya. Ia bahkan duduk dengan santainya di bangku belakang Theo yang kosong sebab sebelumnya ditempati oleh Rina.
Memang, Theo tidak mengusirnya setiap kali ia sadar sosok itu masih di dekatnya, sebab wajah cantiknya itu yang menenangkan hati Theo. Namun, lama-lama ia jadi semakin heran. Ia pun izin ke toilet saat jam pelajaran berlangsung untuk bicara dengan hantu itu empat mata. Theo pergi ke toilet tanpa memberikan Angeline isyarat untuk ikut, karena ia yakin ia akan diikuti. Benar saja, saat keluar dari bilik toilet Angeline sudah tercegat di depan cermin, tersenyum memandang Theo.
“Kenapa sih, kamu ngikutin aku?” tanya Theo, langsung. Sebelumnya, ia segan untuk menanyakan ini, tetapi apa boleh buat.
“Sebenarnya...” jawab Angeline sambil menundukkan kepala. Theo menunggu jawaban sambil membasuh tangannya di wastafel. “Sebenarnya, aku...” ia terlihat malu-malu, “sebenarnya, aku suka sama kamu.”
Seketika mata Theo terbelalak dan pipinya memerah. Ia langsung salah tingkah dengan mematikan keran air yang membasahi tangannya. Tak disangka wanita secantik Angeline ini memiliki rasa suka dengan Theo. Memang, Theo digelari sebagai siswa yang tampan dengan wajahnya yang mirip anggota boyband Korea. Sehingga, ia digemari oleh siswi-siswi di SMA-nya. Namun, ia tidak menduga bahwa wanita cantik tipe idealnya bisa mengungkapkan rasa suka kepadanya. Ya walaupun ia hanya sesosok arwah.
“Kamu gak masalah?” tanya Angeline.
Theo dengan pipi yang masih memerah, lalu membalas pertanyaan itu dengan senyuman.
***
Sepulang sekolah, Theo mampir ke rumah Rina untuk mencari arwahnya, ditemani oleh Angeline yang mungkin saja bisa membantu.
Sesampainya di rumah Rina, mereka disambut oleh Ibu Rina yang kemudian mencurahkan kesedihannya di ruang tamu. Ia mengatakan bahwa ia masih sangat terpukul atas kematian anaknya itu. Ia juga mengatakan kalau Rina sering sekali membicarakan tentang Theo. Tentu saja, mengingat mereka adalah sahabat karib.
Ibu Rina juga bicara pada Theo sambil bercucuran air mata. Theo cukup kuat untuk tidak ikut menangis, tetapi Angeline tidak bisa menahan air matanya. Ia memang sesosok hantu, tetapi ia masih memiliki perasaan.
Setelah itu, Theo berjalan ke penjuru rumah Rina bersama dengan Angeline. Namun, sama sekali tidak ada arwah Rina bergentayangan. Theo juga masuk ke kamarnya, dan hasilnya nihil. Hanya ada barang-barang milikinya yang sudah ia tinggalkan. Selain itu, ada juga barang milik Theo yang pernah dipinjam Rina dan belum ia kembalikan: sebuah topi berwarna putih. Topi itu tergantung di dinding kamarnya. Theo pun mengambilnya dan Angeline mendekatinya untuk ikut melihat topi itu.
“Ada apa dengan topi itu?” tanya Angeline.
“Ini topiku yang ia pinjam beberapa hari yang lalu,” jawab Theo. Ia lalu membalik topi itu untuk melihat dalamnya. Terdapat sehelai rambut. Karena yakin kalau itu adalah rambut Rina, ia pun mengambilnya, dan menyimpannya di dalam selembar kertas. Mungkin saja sehelai rambut itu bisa berguna untuk mendeteksi arwah Rina.
Sepulang dari rumah Rina, Theo melihat Angeline yang termenung dari kaca spion. Ia lalu berkata kalau ia merasa terharu dengan Ibu Rina, sebab ia jadi teringat tentang ibunya sendiri. Ia bercerita tentang dirinya yang bertengkar dengan ibunya beberapa menit sebelum ia kabur dari rumah dan mengalami kecelakaan.
Theo lalu menawarkan Angeline untuk bertemu dengan ibunya, tetapi ia hanya terdiam. Theo pun meyakinkannya kalau ia takkan keberatan untuk membantu Angeline bertemu dengan ibunya saat ini, sejauh apa pun. Namun, Angeline masih tetap diam. Hingga, ia mengakui kalau ibunya sudah meninggal karena serangan jantung yang ia dapatkan setelah mendengar berita tentang dirinya yang kecelakaan. Lebih menyedihkannya lagi, Angeline tidak bisa menemukan ibunya dalam bentuk arwah. Mungkin saja, ia telah mati dengan tenang.
Theo pun jadi ikut bersedih mendengar cerita tersebut. Kemudian, dengan wajah sendunya, Angeline memeluk Theo dari belakang dan menyandarkan kepalanya di pundak. Senyum kecil Theo lalu muncul dengan sendirinya dan terasa hawa dingin di tubuhnya yang bersentuhan dengan Angeline.
“Kamu bisa merasakan sentuhanku seperti manusia pada umumnya?” tanya Angeline, tiba-tiba.
Theo lalu menjawab, “Enggak,” membuatnya terdiam. Kemudian, Theo melanjutkan, “Aku bisa saja menyentuhmu, jika aku berkonsentrasi penuh.”
“Serius?”
“Iya. Tapi ya resikonya aku jadi sesak napas, dan harus segera menggunakan inhaler.”
Mendengar itu, Angeline mendengus kecewa sambil masih menyandarkan kepalanya dan memberikan Theo pelukan dingin.
***
Di hari-hari berikutnya, Theo menghabiskan waktunya dengan ditemani oleh Angeline. Ke mana pun ia pergi, Angeline selalu berada di dekatnya. Perlahan mereka mulai dekat dan semakin saling mengenal.
Angeline tinggal bersamanya di rumah, bahkan mereka tidur bersama. Tidak ada larangan untuk manusia tidur bersama makhluk halus, bukan?
Mereka juga sering jalan-jalan bersama berkeliling kota, ke mal, atau sekedar makan bersama di restoran. Tak ada yang sadar atau peduli jika Theo terlihat bicara dengan sosok yang tidak bisa orang lain lihat. Bahkan, di sekolah, tak ada yang menyinggung tentang dia yang terlihat bicara sendiri.
Mereka juga sempat menonton film horor di bioskop. Theo memesan dua tiket di kursi yang berdampingan dan membiarkan kursi satunya kosong. Sepanjang film, tak ada yang sadar kalau kursi itu ditempati oleh sesosok hantu yang sesungguhnya ketimbang yang ada di layar bioskop. Bahkan, pada beberapa kursi yang kosong, Theo melihat hantu-hantu yang juga ikut menonton.
“Enak banget mereka nonton nggak bayar. Kamu aja bayar,” ucap Theo pada Angeline di sampingnya.
“Ya salah kamu, kenapa dibayarin?” jawab Angeline.
“Ya kalau nggak dibayarin, nanti kursinya diambil orang. Terus kamu nggak bisa duduk di sampingku.”
“Ya udah. Kita duduk di kursi yang sama.”
Theo tertegun, “Maksudnya kamu aku pangku, gitu?”
Angeline menjawab dengan polosnya, “Nggak ada yang liat juga, ‘kan?”
Theo pun tertawa mendengar jawaban Angeline, hingga beberapa orang memperhatikannya. Mungkin orang-orang menganggap Theo sudah gila karena tertawa pada film horor.
Setelah filmnya berakhir, mereka lalu keluar dari bioskop, dan Theo bertanya pada Angeline, “Tadi filmnya serem nggak?”
“Kamu nggak liat aku sampai meluk-meluk kamu tadi? Apa karna nggak kerasa?” tanggap Angeline.
Theo tertawa, “Kamu ini hantu kok takut melihat hantu? Kalah sama yang manusia,” ucap Theo seraya menunjuk dirinya dengan jempol.
“Aku kan dulu pernah jadi manusia,” jawab Angeline, “lagian, kok kamu bisa sih gak takut gitu? Apa karna udah biasa ngeliat hantu? Ada nggak sih hantu yang kamu takuti?”
Theo berpikir sejenak, lalu menjawab, “Ada.”
“Apa?”
“Dulu waktu kecil, aku pernah ngeliat hantu yang wajahnya putih pucat, rambut basah berantakan, dan matanya biru. Aku sampai tidur sama ibuku setelah melihat hantu itu. Bahkan, kami sampai pindah rumah dari Bandung ke Jakarta ini,” jelas Theo.
“Aku pernah ketemu sama hantu itu. Dia temanku. Mau aku panggilin?” goda Angeline.
“Eh, jangan dong!” pujuk Theo, ketakutan.
“Panggilin nih...”
“Jangan, please!”
“Oke, aku panggilin. Hantuuuuu...!!”
Theo lalu panik. Ia mencoba menutup mulut Angeline, tetapi malah tembus, dan menjadi bahan tertawaan Angeline.
Tidak hanya di hari itu, mereka sering bercanda bersama setiap hari. Lebih-lebih lagi, arwah seperti Angeline memiliki kemampuan untuk berubah wujud. Ia bisa berubah menyerupai siapa saja, dan ia menggunakan kemampuannya itu untuk mengejek orang-orang yang Theo kenal.
Di kelas, ia pernah merubah dirinya menjadi guru yang menyebalkan dan meniru gelagat guru tersebut. Membuat Theo lelah berusaha menahan tawa, terutama ia yang melakukan itu saat guru tersebut sedang mengajar. Theo hampir saja ditegur oleh guru itu. Beruntung, ia segera menghilangkan senyumnya, sesaat sebelum guru tersebut menolehnya. Sedangkan, Angeline hanya bisa tertawa terbahak-bahak tanpa diketahui oleh siapa pun, kecuali Theo.
“Sialan lu,” bisik Theo pada Angeline yang masih asyik tertawa.
“Hah? Kenapa, Yo?” tanya Faizal yang duduk di sampingnya.
“Enggak. Gapapa,” jawab Theo yang kadang lupa dengan keberadaan teman sebangkunya itu.
***
“Theo!” panggil Faizal ketika Theo sedang berjalan menuju tempat parkir sekolah untuk pulang. Angeline sudah menunggu di sana.
Theo menoleh Faizal yang kemudian bertanya, “Kamu gapapa?”
Theo mengernyitkan alisnya dan berkata, “Iya, gapapa. Kenapa emang?”
“Apa pencarian arwah Rina yang membuat kamu jadi gelisah?”
“Enggak..? Kenapa sih?”
Faizal menghela napasnya dan berkata, “Belakangan ini kamu aneh, Yo. Terutama semenjak Rina pergi.”
“Hah?”
“Kamu terlihat ngomong sendiri, Yo. Aku sadar itu. Aku kan duduk di sampingmu,” jelas Faizal.
Theo merasa ingin menepuk jidatnya sendiri. Entah kenapa ia tidak terpikir kalau Faizal akan menyadari tingkahnya yang aneh. Ya sudah. Ia pun memilih untuk mengaku, menjelaskan segalanya tentang Angeline, daripada Faizal berpikir yang bukan-bukan nanti.
“Serius?” tanya Faizal, usai mendapat penjelasan.
Theo mengangguk, “Sekarang dia lagi nunggu di parkiran.”
Faizal bertanya kembali, “Beneran dia secantik seperti yang kamu bilang? Sesuai tipemu dong?”
“Tepat sekali.”
“Wah, aku jadi penasaran,” ujar Faizal, “kamu ada fotonya nggak? Mau liat dong!”
“Gimana caranya motoin makhluk halus, Zal?” balas Theo sambil tertawa kecil.
Faizal memegang keningnya, “Kamu ini indigo, tapi bego. Kan ada fotonya sewaktu dia masih hidup. Tinggal cari aja di sosmed, Angeline... Siapa nama belakangnya?”
Theo mengangkat bahunya, “Namanya cuma satu kata.”
Faizal memegang dagunya, berpikir sejenak, “Ooh.. Gini aja. Tanggal berapa dia kecelakaan?”
“Tanggal 8 April 2022,” jawab Theo, sesuai dengan yang dikatakan Angeline tempo hari, “kenapa emang?”
“Ada lah,” ucap Faizal, lalu minggat sambil tersenyum misterius.
Tak lama kemudian, Theo dan Angeline sudah tiba di rumah. Mereka masuk bersama ke dalam kamar Theo, seraya tertawa terbahak-bahak karena candaan yang baru saja Theo lontarkan. Angeline langsung terbaring di atas kasur, sedangkan Theo perlahan melepas tasnya dan duduk di atas kasur itu.
Theo menatap Angeline yang tersenyum indah. Sejak pertama kali bertemu, sudah ia sadari bahwa Angeline adalah wanita tercantik yang pernah ia temui. Setidaknya fisiknya sangat sesuai dengan tipenya.
Angeline berhenti tertawa dan ikut menatap Theo. Mereka saling menatap dalam.
“Aku cinta kamu, Angeline,” ucap Theo, tiba-tiba. Angeline terdiam, seolah kaget.
Ia lalu tersenyum dan membalas, “Aku juga.”
Theo termenung sebentar, “Tapi....’’
Angeline lalu melihat dirinya yang bukan manusia, melainkan sesosok arwah. Theo pikir, Angeline akan manyun, tetapi ternyata ia malah tersenyum. Kemudian, ia mengangkat telapak tangan kanannya tepat di depan Theo, menunggu untuk disambut. Theo pun mengangkat tangan kanannya dan menyentuh tangan Angeline. Namun, tangannya malah menembus tangan Angeline.
Theo menghembuskan napasnya, tanda pasrah. Namun, Angeline masih tersenyum dan menunggu Theo untuk mencoba lagi. Theo lalu mengangkat tangan kanannya lagi, dan mendekatkannya ke tangan Angeline. Terasa sedikit sentuhan. Ia dorong tangannya, tetapi malah tembus lagi.
“Konsentrasi,” ucap Angeline.
Theo kembali melakukan hal yang sama. Perlahan ia sentuh tangan gadis itu. Kembali terasa sedikit sentuhan. Dengan konsentrasi yang tinggi, ia lalu berhasil merasakan jari-jemari mereka yang saling bertaut. Ia bisa merasakan sentuhan yang terasa amat nyata.
Di atas tempat tidur itu, akhirnya, mereka bisa saling bersentuhan, berbagi senyuman, dan tatapan yang dalam.
***
Part 2: Arwah
Angeline terbaring di atas kasur sambil tersenyum puas dan memejamkan matanya. Sementara itu, Theo mengap-mengap sambil berusaha membuka laci paling bawah dari lemari kecil di samping kasurnya. Ia pun berhasil membuka laci tersebut dan mengambil inhaler yang sudah lama ia simpan di sana. Ia segera menggunakan inhaler tersebut agar bisa bernapas dengan lega.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Angeline. Theo lalu mengangguk sambil tersenyum.
“Kalau udah begini, aku harus selalu membawa ini,” ucap Theo sambil menunjukkan inhaler yang baru saja ia gunakan. Angeline hanya membalas dengan senyuman.
Theo lalu meletakkan inhaler tersebut di atas lemari kecil dan hendak menutup kembali laci yang tadi ia buka. Namun, matanya tak sengaja tertuju pada sebuah keris berwarna cokelat gelap yang ada di dalam laci. Ia pun mengambil keris tersebut dan menatapnya.
“Itu apa?” tanya Angeline.
“Keris,” jawab Theo lalu membuka keris tersebut. Sontak, bilah keris tersebut seolah mengeluarkan sedikit asap hitam. Theo melanjutkan, “Ini aku dapat dari seorang dukun. Katanya, hantu atau arwah apa pun kalau ditusuk menggunakan ini, ia akan terperangkap di dalamnya.”
Angeline terlihat ketakutan dan sedikit menjauhkan dirinya.
Theo menoleh Angeline dan tertawa kecil, “Kamu kok takut gitu? Aku nggak bakal gunain ini loh, apalagi ke kamu.”
Angeline terdiam dan menatap keris tersebut. Theo lalu menutup kerisnya dan berkata, “Jadi waktu itu, sebelum aku pindah ke rumah ini, ada hantu yang selalu menggangguku setiap malam. Udah aku suruh buat pergi, dia masih tetap mengganggu. Sampai akhirnya aku beli keris ini buat ngancem dia, eh belum sempat aku gunain, kami udah pindah ke rumah ini.”
“Kamu beli dari dukun mana sih?” tanya Angeline.
“Itu.. Mbah Bakir, yang ada di Hutan Barat,” jawab Theo, kemudian matanya terbelalak dan alisnya naik seketika.
“Ada apa?”
“Mbah Bakir!” seru Theo, “Mungkin dia bisa ngebantu kita buat nyari Rina.”
Angeline memegang dagunya dan berkata, “Yakin dia bisa ngebantu?”
Theo yang masih tersenyum lalu segera melepas seragam SMA-nya dan mencari baju di lemari pakaiannya. Sambil menjelaskan tentang Mbah Bakir kepada Angeline, ia memakai baju kaos bermotif garis-garis hitam putih, lalu menutupnya dengan jaket jeans hitam. Tak lupa, ia mengambil tas selempangnya dan memasukkan inhaler ke dalam.
“Gimana caranya dia melacak arwah Rina?” tanya Angeline.
“Ya nggak tau. Tapi aku yakin ia bakal gunain ini,” ucap Theo seraya menunjukkan bungkusan kertas yang di dalamnya terdapat rambut Rina. Ia lalu memasukkan benda itu ke dalam tas selempangnya yang sudah ia pakai.
“Tapi, kamu percaya sama dia? Kamu yakin dengan dia?”
Theo tersenyum, mengambil kerisnya di atas kasur, dan berkata, “Kalo nggak dicoba, kita nggak bakal tahu,” lalu memasukkan keris tersebut ke dalam tas selempangnya.
Dengan menggunakan sebuah motor, Theo dan Angeline memasuki sebuah hutan yang dinamai Hutan Barat. Tak ada satu pun rumah yang mereka lewati di jalan setapak itu. Hanya pohon-pohon berdaun rindang di kanan dan kiri. Hingga terlihat sebuah gudang yang cukup besar, terbengkalai di hutan tersebut. Theo lalu menghentikan motornya dan turun seraya menyuruh Angeline untuk ikut turun.
“Kenapa?” tanya Angeline.
“Shhhtttt..!” ucap Theo seraya menaruh jari telunjuk di depan mulutnya. Ia lalu mengisyaratkan Angeline untuk menoleh ke arah gudang tersebut. Terdapat sesosok makhluk berbadan besar dan rambut keriting berantakan. Ia menatap mereka dengan tajam melalui mata merahnya.
Dengan masih berbisik, Theo pun menjelaskan, “Itu genderuwo penjaga daerah sini. Dia menetap di gudang itu. Siapa pun kalau lagi di hutan ini, terutama dekat gudang itu, tidak boleh berisik. Dia nggak suka dengan suara berisik, dan gak segan-segan buat ngehabisin nyawa siapa pun yang berbuat bising.”
Angeline mengangguk-ngangguk. Theo melanjutkan, “Dia juga nggak seperti kamu, atau kebanyakan hantu pada umumnya. Karena dia bisa dengan mudahnya menyentuh dan menggerakkan barang-barang, layaknya manusia.”
Angeline pun bergidik, sedangkan Theo hanya tersenyum melihat tingkahnya.
Mereka lalu sampai di rumah seorang dukun yang dipanggil Mbah Bakir. Rumahnya kecil, sederhana, dan dibangun dari papan kayu yang kini sudah agak lapuk. Theo mengetuk pintu rumahnya, lalu keluarlah seorang lelaki tua dengan memakai pakaian serba hitam. Ia juga memasangkan blangkon hitam di kepalanya sehingga tertutuplah rambutnya yang berwarna putih keabu-abuan, panjang, dan agak kusut itu.
“Permisi, Mbah,” sapa Theo, “masih ingat dengan saya?”
Mbah Bakir menurunkan alisnya sambil menatap Theo. Ia lalu menunjuk Theo dengan jari telunjuknya kemudian berkata, “Dek Theo?”
“Iya, Mbah,” ucap Theo sambil tersenyum, lalu mencium tangan Mbah Bakir.
“Wah, sudah lama Mbah tidak melihat kamu,” ujar Mbah Bakir. Matanya lalu teralihkan ke Angeline yang tersenyum dan sedikit membungkukkan badannya. Mbah Bakir menurunkan alisnya lagi, membuat Angeline sedikit gelisah. Bukan karena kakek tua itu bisa melihatnya, tetapi karena tatapannya yang sinis.
“Ini Angeline, Mbah. Dia sama saya,” ucap Theo.
Mbah Bakir lalu menoleh Theo, dan masuk ke dalam rumahnya seraya berkata, “Kamu boleh masuk, dia tidak boleh!”
Theo lalu bertanya pada Angeline, “Gapapa ‘kan, kamu tunggu di luar?”
Angeline pun membalas dengan anggukan dan senyuman. Theo ikut tersenyum dan masuk ke dalam rumah Mbah Bakir, sekalian menutup pintunya.
Theo duduk di depan meja Mbah Bakir yang penuh dengan barang-barang mistis beserta ramuan-ramuan perdukunan. Ia menjelaskan ke Mbah Bakir tentang kematian Rina dan masalahnya dalam menemukan arwah Rina yang mungkin saja sedang tidak tenang. Mbah Bakir lalu mengkonfirmasi bahwa kemungkinan besar Rina memang mati dengan tidak tenang dan menjadi arwah gentayangan.
“Tapi kalau memang benar begitu, ke mana dia sekarang, Mbah? Adakah cara agar saya bisa menemukannya?” tanya Theo.
Mbah Bakir yang sedang duduk bersila itu terdiam sambil memejamkan matanya.
Theo lalu segera mengambil sesuatu dari tas selempangnya: sehelai rambut Rina yang dibungkus dengan selembar kertas. Ia membuka bungkusan kertas tersebut dan menunjukkannya ke Mbah Bakir.
“Ini saya dapat di topi saya yang ia pinjam waktu itu, Mbah,” jelas Theo.
Mbah Bakir memegang sehelai rambut tersebut dan bertanya, “Yakin ini rambutnya? Bukan rambut kamu?”
“Yakin, Mbah. Rambut saya nggak sepanjang itu.”
Mbah Bakir sedikit mengangguk, dan menaruh rambut tersebut ke dalam piring kecil. Ia lalu mengambil beberapa ramuan dan mencampurnya ke wadah yang agak besar. Setelah itu, ia memasukkan bahan-bahan aneh lainnya beserta sehelai rambut Rina tersebut sambil membaca-bacakan sesuatu. Theo hanya membiarkan dukun itu bekerja.
Tak lama, jadilah sebuah ramuan yang dimasukkan ke dalam botol kaca kecil bekas minuman. Mbah Bakir menyerahkannya ke Theo seraya menjelaskan:
“Ramuan Mata Arwah. Kamu teteskan ramuan itu ke air yang jernih. Nanti, setelah beberapa menit, pantulan air yang terkena tetesan akan menunjukkan ke mana arwah Rina saat ini. Tetapi, jika tidak ada perubahan yang terjadi setelah beberapa menit, berarti kamu tidak perlu khawatir lagi. Arwah Rina sudah tenang di atas sana.”
Theo mengangguk-ngangguk, kemudian berterima kasih kepada Mbah Bakir. Ia lalu menyerahkan uang ke Mbah Bakir sebagai bayaran. Tak lupa, ia juga mengembalikan keris yang ia dapatkan darinya dahulu, karena sekarang ia merasa tidak membutuhkannya lagi.
Namun, Mbah Bakir malah berkata, “Simpan saja! Kamu akan perlu itu.”
“Tapi, Mbah..” bantah Theo, tetapi Mbah Bakir semakin mendorong tangan Theo yang sedang memegang keris tersebut. Kini, ia menggenggam keris pembunuh arwah itu.
“Baiklah kalau begitu,” ucap Theo yang akhirnya menyerah dan memasukkan keris itu ke dalam kantong celananya.
Usai berpamitan dengan Mbah Bakir, Theo lalu keluar dari rumahnya dan mengajak Angeline untuk pergi ke sungai yang ada di hutan tersebut. Di perjalanan menuju sungai, tak lupa Theo menjelaskan tentang Ramuan Mata Arwah itu kepada Angeline.
“Yakin itu beneran bisa?” tanya Angeline, sedikit meragukan.
“Kita lihat saja,” jawab Theo.
Mereka sudah sampai di pinggir Sungai Hutan Barat. Airnya sangat jernih, hingga dapat terlihat kerikil di dasarnya. Theo lalu duduk jongkok di dekat sungai itu seraya membuka tutup botol ramuan tersebut. Kemudian, ia menuangkan ramuan yang berwarna ungu gelap itu ke sungai di depannya.
Theo lalu berdiri seraya menutup kembali botol itu dan melihat ramuan itu perlahan menyebar di atas permukaan sungai. Ajaibnya, meskipun sungai tersebut sedang mengalir, sebaran ramuan tersebut tetap berada di tempat ia dituangkan. Hanya saja semakin luas, tetapi tidak sampai menutupi seluruh permukaan sungai.
“Kok nggak terjadi apa-apa?” tanya Angeline.
“Belum. Reaksinya perlu beberapa menit,” jawab Theo. Mereka lalu terdiam, menatap ramuan di atas permukaan sungai itu. Hingga tiba-tiba, dering ponsel Theo berbunyi.
Theo sedikit terperanjat, kemudian langsung mengambil ponselnya di saku celananya. Ia menoleh layar ponselnya: panggilan telpon dari Faizal. Angeline lalu menghela napasnya, sedikit menjauh dari sungai itu untuk duduk di atas batang pohon yang sudah tumbang. Theo juga ikut menjauh dari sungai itu sebentar hanya untuk menjawab telpon.
“Ya, Zal? Ada apa?” tanya Theo pada Faizal yang menelponnya.
“Yo. Ini aku yang salah atau bagaimana ya?” ujar Faizal yang sedang duduk di depan sebuah komputer.
“Kenapa emang?”
“Ini... Aku lagi di warnet, buka situs berita-berita di Jakarta. Tapi kok gak ada ya berita tentang kecelakaan di Jalan Indra L. Yusrin pada tanggal 8 April tahun lalu? Padahal tiap kecelakaan di jalan itu pasti ada beritanya, tapi kenapa cuma di tanggal itu yang gak ada?”
“Ah, nggak mungkin,” balas Theo seraya membalikkan badannya, berjalan kembali menuju sungai, “kamu nyarinya kurang teliti kali.”
“Udah tiga kali aku ngeceknya, Yo. Tetep aja gak ketemu. Bahkan gak ada sama sekali berita tentang kecelakaan yang menewaskan seorang gadis cantik, padahal itu kan bisa jadi berita yang sangat menarik,” jelas Faizal, membuat Theo menjadi bingung.
Theo lalu membantah, “Mungkin...” tetapi ia terhenti saat melihat ramuan di atas permukaan air itu mulai bekerja. Airnya perlahan berubah menjadi warna cerah dan pantulan aslinya perlahan berubah menjadi sebuah penglihatan.
Betapa kagetnya Theo saat melihat ramuan tersebut menampilkan wujud dirinya saat ini: seorang Theo yang sedang menempelkan ponsel di telinganya. Ia semakin tidak mengerti, hingga akhirnya ia sadar bahwa citra tersebut menunjukkan sudut pandang dari arwah Rina. Theo pun terkaku, ponselnya jatuh seketika ke tanah. Ia perlahan membalikkan badannya dan menoleh Angeline yang sedang duduk memperhatikannya sejak tadi.
“Sudah?” tanya Angeline.
Theo masih terkaku, mulutnya terbuka, dan matanya melebar. Angeline mengernyitkan alisnya dan tertawa kecil, “Kenapa?”
“Helo, Yo? Yo?” seru Faizal dari telpon yang masih terhubung.
Theo menatap Angeline dan berkata, “Rina?”
“Maksud kamu apa?” balas Angeline.
Theo menoleh kembali permukaan air sungai. Jelas sekali kalau itu sedang menampilkan sudut pandang Angeline.
“Jujur padaku, Rina. Perlihatkan diri kamu yang sesungguhnya!” perintah Theo.
“Kamu ngomong apa sih?”
“Rina, please! Aku sudah tahu.”
Wajah Angeline yang awalnya tersenyum, kemudian menjadi datar. Ia berdiri, lalu berjalan menuju sungai tersebut untuk melihat citra yang ditampilkan sebuah ramuan ajaib. Kemudian, ia tersenyum, dan perlahan dirinya berubah menjadi sosok gadis yang dahulu bersahabat dengan Theo, tetapi meninggal karena bunuh diri. Angeline berubah menjadi Rina, wujud aslinya.
“Ternyata ramuannya bekerja,” ucap Rina sambil tersenyum.
Theo yang masih sangat syok, menggeleng-gelengkan kepalanya saat menatap wujud asli Angeline, “Aku benar-benar tidak menyangka. Kenapa, Rin? Kenapa kamu melakukan ini?”
“Ada apa, Yo? Helo! Kamu gapapa ‘kan?” tanya Faizal dari dalam ponsel Theo yang masih tergeletak di tanah. Sambungannya lalu terputus seketika tanpa disadari oleh Theo yang masih mencerna sesuatu yang baru saja ia ketahui.
Rina lalu bersuara, “Kamu sadar nggak, Theo, kalau aku adalah perempuan yang jatuh cinta padamu sejak pertama kali kita bertemu di kelas. Aku terpesona akan tatap matamu, dan kagum akan sifatmu. Perlu waktu yang lama bagiku menjadi pengagum rahasiamu, sampai akhirnya aku berhasil menjadi teman dekatmu. Kita dekat, dan semakin dekat, hingga aku menjadi sahabatmu.
Satu-satunya harapanku adalah ungkapan rasa yang sama darimu kepadaku. Tapi, semakin aku mengenalmu, semakin aku sadar bahwa aku bukanlah gadis yang kamu mau. Aku sangat jauh dari gadis impian yang sering kamu ceritakan kepadaku: seorang gadis cantik dengan pipinya yang tirus, kulitnya yang putih bersinar, hidungnya yang mancung, dan rambutnya yang lurus panjang. Sangat sangat berbeda dariku yang jelek ini.”
Rina mulai meneteskan air mata, “Cintaku sangat kuat untuk bisa menyerah darimu. Aku bisa saja pergi, tetapi semakin kita dekat, semakin kuat rasa cinta yang membuatku bertahan ini. Aku jadi putus asa. Ingin sekali rasanya disayangi olehmu sebagai kekasih. Dan jika dengan mati bisa mewujudkan semua itu, maka aku takkan segan-segan untuk membunuh diriku sendiri.
Saat aku mengetahui keahlianmu yang bisa berinteraksi dengan hantu atau arwah, aku mulai mempelajari dunia itu sedikit demi sedikit, dan merencanakan pembunuhan diriku. Hasilnya, seperti yang kubayangkan,” Rina tersenyum, “aku menjadi sesosok arwah, yang bisa merubah diriku menjadi siapa pun yang kumau. Dan aku memilih menjadi Angeline, gadis impianmu.”
Theo menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu teriak, “Gila kamu!”
Mendengar itu, senyum Rina hilang. Theo melanjutkan, “Kamu nggak mikirin perasaan keluarga kamu? Ibu kamu? Temen-temen kamu? Hah? Kamu nggak mikirin betapa sedihnya mereka melihat kamu yang meninggal dengan cara seperti itu?”
Rina lalu menjawab, “Kamu nggak mikirin perasaan aku?”
Theo terdiam. Saat ini, hatinya dipenuhi oleh rasa marah dan kecewa kepada Rina, yang bisa saja membuat dadanya retak menahan penuhnya rasa tersebut.
Rina melanjutkan, “Ini aku lakukan agar hatiku bisa bahagia.”
“Gak gini caranya, Rin! Kamu hanya perlu hidup jadi dirimu sendiri.”
Rina malah tertawa. Kemudian, ia berkata, “Sekarang aku tanya. Kamu bisa mencintaiku seperti kamu mencintai Angeline dengan wujud asliku yang seperti ini?”
Lagi-lagi, Theo terdiam.
“Jawab!” seru Rina.
Theo yang sedang dikuasai oleh amarah dan rasa kecewa lalu melepas ucapan yang sangat sangat memukul hati Rina. Ia berkata, “Aku merasa jijik dengan kamu saat ini.”
Rina terdiam. Air matanya mulai menetes lagi, tetapi wajahnya dipenuhi oleh amarah yang menggebu. Tanpa menoleh Rina, Theo menghela napasnya, menggosok wajahnya, dan mengambil ponselnya yang sejak tadi tergeletak di tanah.
“Kita ini sudah cukup sebagai teman, Rin. Harusnya kamu...” ucapan Theo lalu terhenti saat ia menoleh Rina yang wajahnya berubah menjadi sosok yang menyeramkan. “Rin?” panggil Theo.
Namun, emosi Rina semakin membesar, membuatnya berubah menjadi satu-satunya hantu yang ditakuti oleh Theo. Wajahnya menjadi putih pucat, rambutnya tumbuh memanjang dan berantakan, serta matanya yang berubah menjadi biru.
Sekujur tubuh Theo terasa dingin. Ia langsung menjauhkan tubuhnya dari Rina dan terjatuh ke tanah. “Jangan, Rin! Please, jangan lakuin ini!”
“Setelah apa yang sudah kukorbankan, kamu malah merasa jijik denganku?” ucap Rina dengan suaranya yang menjadi berat.
“Aku bisa jelasin, Rin. Kamu tenang dulu.”
Rina lalu tertawa layaknya kuntilanak. Suaranya bahkan menggema di hutan itu. Jantung Theo semakin berdebar dan tubuhnya super gemetar. Tawa Rina semakin nyaring, hingga tawa itu seketika hilang bersama dengan dirinya.
Theo terengah-engah sambil melihat di sekitar, mencari ke mana perginya Rina. Ia lalu buru-buru menyalakan ponselnya dan menelpon Faizal. Ia pun menempelkan ponselnya di telinga, menunggu temannya itu mengangkat telpon.
Tuuuttt... Tuuuttt.. Tuuuttt...
Karena masih panik, ia pun melihat lagi di sekitar. Tiba-tiba, saat ia menoleh ke arah sungai, keluarlah Rina dalam sungai tersebut dengan wujud yang masih ia takuti. Theo berteriak, spontan melempar ponselnya, dan berlari dari sungai tersebut.
Ia terus berlari, berlari, dan berlari. Hingga ia berhenti di depan sebuah gudang yang terbengkalai. Ia lalu menoleh ke belakang, terlihat Rina dari kejauhan yang melayang mendekatinya. Mulutnya tersenyum hingga giginya terlihat dan matanya yang biru terbelalak sambil mengeluarkan air mata. Theo menoleh gudang tua itu, lalu bergegas masuk ke dalam.
Theo menutup pintu gudang tersebut dan mencari tempat bersembunyi. Ia lalu melihat kotak-kotak kayu yang tersusun tinggi, lalu bersembunyi di balik itu. Ia duduk dengan terengah-engah, berusaha untuk tidak bersuara agar tidak diketahui Rina. Selain itu, ia juga tidak mau mengganggu genderuwo yang tinggal di gudang tersebut, mengingat ia yang sangat tidak menyukai keributan.
Theo lalu merogoh kantong celananya, mencoba mencari ponselnya. Betapa paniknya ia tadi, hingga ia tidak sadar tentang ponselnya yang terlempar. Satu-satunya benda yang ada di kantong celananya hanyalah sebuah keris. Ia mengambil keris tersebut dan menatapnya.
BRAK! Pintu gudang dibuka dengan sangat kencang oleh Rina, mengagetkan Theo. Tanpa mereka sadari, genderuwo yang tidak jauh dari situ langsung menoleh gudang tempat tinggalnya. Dengan muka masamnya, ia lalu berdiri dan berjalan menuju gudang tersebut.
Theo yang masih bersembunyi mencoba menahan napasnya. Tangannya yang memegang erat keris tersebut tidak dapat menahan gemetar. Rina berjalan ke penjuru gudang sambil memanggil-manggil nama Theo. Sambil mendengar suara Rina, Theo menatap keris tersebut, dan terus menatapnya, hingga ia terlena. Tiba-tiba, wajah Rina muncul tepat di depannya. Seketika ia berteriak.
Rina lalu mengayunkan tangannya ke depan, membuat Theo dan kotak-kotak kayu yang tersusun itu terpental ke depannya. Keris yang Theo pegang terlepas dan ia terguling di atas tanah. Theo lalu bangkit dengan kesakitan dan Rina semakin mendekat.
“Rina, please, balik ke wujud aslimu! Kita bicarakan ini baik-baik,” pujuk Theo. Namun, Rina hanya menjawab dengan tawa yang melengking.
Ia terus mendekat, matanya semakin bersinar, dan mulutnya yang tersenyum perlahan terbuka, menampakkan gigi-giginya yang tajam. Theo yang tergeletak di atas tanah hanya bisa mundur dan berteriak dengan sangat kencang.
Tiba-tiba, dari arah belakangnya, tepat di pintu gudang, datanglah sesosok genderuwo yang berdiri dengan gagahnya dan bermata merah. Ekspresi wajahnya sangat sadis seperti tak segan-segan akan merobek daging manusia.
Kehadirannya membuat Theo sangat kaget dan semakin ketakutan. Genderuwo itu lalu menggeram dan mengambil sebuah tongkat kayu besar dengan permukaannya yang tidak rata. Ia mengangkat tongkat tersebut dan berjalan mendekati Theo. Mata Theo langsung membesar dan ia segera melompat ke arah kiri, berusaha menghindari serangan genderuwo itu dengan tongkatnya.
Genderuwo itu mengangkat tongkatnya kembali. Terlihat tanah bekas tubrukan tongkat tersebut yang hancur lebur dan retak. Sungguh kuat sekali tenaga genderuwo tersebut. Theo yang masih tergeletak di tanah lalu menoleh genderuwo itu yang berjalan lagi ke arahnya. Kali ini, ia mengangkat tongkat tersebut dengan kedua tangannya.
Theo lalu segera berdiri dan melompat ke kanan. Serangan dari genderuwo tersebut berhasil dihindari lagi. Namun, pinggangnya kesakitan karena ia tidak sengaja menimpa sebuah benda padat. Ia pikir itu batu, tetapi setelah ia lihat, ternyata itu keris miliknya tadi.
Genderuwo itu semakin mengamuk dan berlari mendekati Theo sambil mengangkat tongkatnya lagi. Dengan sigapnya, Theo langsung mengambil keris tersebut dan membukanya. Ia menghindari serangan genderuwo itu dan langsung menusuk pinggang genderuwo yang sadis itu.
“AAARRRGGGHHH!!” teriak genderuwo itu dengan sangat nyaring hingga burung-burung di pohon berterbangan. Ia langsung terisap ke dalam keris itu dalam bentuk asap hitam, hingga seluruh tubuhnya masuk ke dalam keris tersebut tanpa tersisa sedikit pun. Keris sakti dan tongkat genderuwo itu lalu terjatuh ke tanah, menyisakan kesunyian di antara Theo dan Rina di dalam gudang tersebut.
Rina yang melihat kejadian itu langsung tak bersuara, dan merubah dirinya ke wujud aslinya. Theo yang terengah-engah lalu mengambil keris tersebut dengan tenang.
“Please! Jangan bunuh aku, Theo,” ucap Rina, memohon.
Theo pun menatap Rina dan bilah keris tersebut secara bergantian. Lalu ia menghela napasnya, kemudian menutup keris tersebut, dan melemparnya. Rina terdiam menatap keris yang Theo lempar tergeletak di atas tanah.
“Aku takkan melakukan itu padamu,” ucap Theo pada Rina, “karena aku sayang dengan kamu, Rin.”
Rina pun tertegun, “Tapi kenapa kamu berani bilang kalau kamu jijik sama aku?”
“Aku... aku emosi tadi,” jawab Theo, “Aku sayang sama kamu. Tapi aku kecewa, Rin. Aku senang berada di dekatmu sewaktu kamu masih hidup. Namun, bagaimana aku tidak kecewa saat menyadari kenyataan kalau kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku, tetapi sudah menyerah dengan hidupmu karena mengira cintamu bertepuk sebelah tangan.”
Rina mulai meneteskan air mata, “Kamu serius, Theo?”
Theo mengangguk, “Aku juga sebenarnya suka sama kamu, Rina. Waktu itu aku ingin menyatakan perasaanku, tetapi kamu sudah...” Theo menghela napasnya.
Rina pun menangis sekencang-kencangnya. Theo lalu mendekati Rina dan perlahan memeluknya dengan sangat erat.
“Maafkan aku, Yo. Maafkan aku,” ucap Rina di dalam dekap Theo.
“Iya. Aku juga minta maaf,” ucap Theo. Ia memegang kepala Rina dengan kedua tangannya dan tersenyum padanya, “Terima kasih telah menjadi sahabatku, Rin. Kamu akan selamanya kukenang dan taruh di dalam hatiku.
I love you.”
“I love you too,” ucap Rina yang masih menangis dengan sangat kencang, tetapi mulutnya tersenyum. Mereka lalu berpelukan lagi.
Perlahan, tubuh Rina bersinar. Theo tidak menghiraukan itu. Tubuh Rina semakin bersinar, hingga ia perlahan memudar dari pelukan Theo. Perlahan, sinar itu menghilang dan Rina pun sirna dari dunia ini. Menyisakan Theo seorang diri.
Tiba-tiba, napasnya sesak. Ia segera mengambil inhaler dari dalam tas selempangnya dan menghirupnya. Kemudian, napasnya pun kembali lancar.
Theo berjalan keluar gudang menuju sungai tadi untuk mengambil ponselnya. Ia lalu menatap langit biru, membayangkan Rina yang perlahan naik ke atas menuju tempat di mana ia seharusnya berada.
***
Theo duduk jongkok, meletakkan satu buket bunga mawar berwarna kuning di atas makam Rina, ditemani oleh Faizal yang sudah mendengar seluruh cerita Theo.
“Sekarang, dia sudah tenang di atas sana,” ucap Theo.
Faizal lalu bertanya, “Tapi, memangnya harus ya kamu bohong ke dia tentang perasaan kamu?”
Theo lalu berdiri dan menjawab, “Yup. Dengan begitu dia bisa dapat jawaban dari pertanyaan yang membuatnya tidak tenang. Yang merubahnya menjadi arwah gentayangan. Meskipun jawabannya itu bohong, tetapi setidaknya itu adalah jawaban yang ia inginkan. Itu jawaban yang bisa membuat ia tenang, pergi dari dunia ini untuk selamanya.”
Faizal menghela napasnya, “Baiklah. Setidaknya ia sudah tenang sekarang.”
Theo lalu menepuk pundak Faizal, mengajaknya untuk pergi dari situ. Mereka lalu berjalan meninggalkan makam Rina dan membiarkan sahabat mereka itu istirahat untuk selamanya.
***
Komentar
Posting Komentar