Pada Akhirnya

Story by: Fidhil Rahyan

Aku takkan pernah lupa hari saat aku akhirnya bisa berada di belakangmu, tepatnya di atas sepeda motormu di jalanan desa. Saat itu, larut malam, kita baru saja pulang dari rumah teman sekelas kita untuk mengerjakan sebuah tugas kelompok. Namun, meskipun saat itu aku merasa senang, tetap saja ada rasa yang mengganjal di hatiku. Mungkin itu adalah rasa berharap akan kepastian dan balasan perasaan. Serta pertanyaan yang kerap muncul di benakku, “Apakah cerita ini akan berakhir dengan sedih atau bahagia?”

Ceritaku denganmu ini dimulai sejak setahun yang lalu, pada 2021. Kita baru saja memasuki kelas 11, merasakan bangku kelas secara langsung, setelah sebelumnya kita hanya melaksanakan pembelajaran di rumah secara online di kelas 10. Semua pasti tahu, pandemi virus yang menyebalkan ini membuat kita semua tak bisa berjumpa di kelas, sehingga banyak teman-teman sekelasku yang tidak kukenal, dan sudah terlanjur diganti di kelas 11.

Pada pembelajaran tatap muka ini, kukira akan mudah untuk mengenal satu sama lain, tetapi ternyata sulit. Sebab, kami semua mengenakan masker. Hanya para lelaki yang kebanyakan tidak menggunakan masker. Selain itu, dilaksanakan pembelajaran dengan dua sesi. Sesi pertama berisi separuh pertama kelas dari urutan absen, masuk pada pukul 7 sampai 9 pagi. Sesi kedua berisi separuh sisanya, masuk setelah sesi pertama selesai hingga pukul 12 siang. Kedua sesi tidak memiliki jam istirahat.

Untungnya, khusus di hari pertama, kita semua masuk kelas tanpa menggunakan dua sesi.

Di hari pertama itu, Pak Rino, selaku wali kelas kita, menyuruh kita semua untuk memperkenalkan diri di depan seluruh teman sekelas. Dia menyuruh kita untuk menyebutkan nama lengkap, tempat tinggal, dan hobi. Dimulai dari absen pertama, huruf A, hingga absen terakhir, huruf N.

Singkat cerita, kamu lalu maju di urutan absen nomor 8. Dengan tidak memakai masker, kamu mengenalkan dirimu dengan percaya diri.

“Hai, semua. Nama saya Aril Yudistian, dari Desa Usrat. Hobi saya...” kamu berpikir sejenak, “bernyanyi.  Karena sebenarnya, nama lengkap saya... Ariel Noah,” ucapmu lalu tertawa kecil. Kami semua pun ikut tertawa di balik masker.

Kamu lalu menoleh Pak Rino dan ia berkata, “Kalau gitu coba nyanyi satu lagu. Menghapus Jejakmu, coba!”

“Haha, jangan dong! Malu saya, Pak. Lanjut saja, next next!” ucapmu seraya berjalan kembali menuju bangku.

Aku menatapmu hingga kau tiba di bangkumu. Hatiku seolah berkata, “Siapa itu? Ganteng juga, ya?” tetapi pikiranku berkata, “Iya, benar, dia ganteng. Terus apa? Suka? Dia juga tidak mungkin suka dengan kamu juga. Belum pernah ada cowok yang menyatakan perasaannya ke kamu. Sadar diri, Hey! Kamu itu cantik, tapi tidak menarik.”

Saat itu aku setuju dengan pikiranku, karena aku hanyalah gadis yang belum pernah pacaran sebelumnya. Belum pernah ada seorang lelaki yang memperlihatkan rasa sukanya kepadaku. Pernah sekali sewaktu SD, itu pun tidak jelas, dan sepertinya hanya tindakan bodoh anak kecil.

Pak Rino lalu memanggil absen selanjutnya, hingga tiba giliranku di absen nomor 17. Entah kenapa rasanya agak deg-degan, padahal yang lainnya terlihat santai. Untungnya, aku menggunakan masker, jadi tidak begitu merasa grogi.

Aku lalu memperkenalkan diri, “Nama saya Indriani Puspita, dari Desa Setia, dan hobi saya membaca.” Semua orang hanya terdiam. Mungkin suaraku tidak begitu terdengar karena terhalang oleh masker. Aku lalu menoleh Pak Rino dan ia memberikan anggukan sekali.

Aku pun kembali ke bangkuku, menghampiri teman sebangkuku, Nur Amira, atau biasa dipanggil Amira. Ia adalah sahabatku dari kecil, mengingat rumah kami yang saling berdekatan. Kami juga selalu pergi bersama ke sekolah menggunakan satu sepeda motor. Kadang menggunakan sepeda motor miliknya, kadang menggunakan milikku.

Anyway, waktu sekolah hari itu lumayan singkat. Kita sudah diperbolehkan pulang pada pukul setengah sepuluh pagi. Aku dibonceng oleh Amira menggunakan sepeda motornya dari SMA kita di Desa Sintebang, ke desa asalku, Desa Setia. Itu berarti di perjalanan, kami melewati tiga desa dan sempat membicarakan banyak hal di atas sepeda motor.

“Kenapa ya cowok pada nggak pakai masker?” tanya Amira.

“Nggak sempat beli kali,” tebakku.

“Mau dibilang bandel, tapi anak IPA,” ucap Amira tanpa menghiraukan tebakanku, “gapapa juga sih. Cuci mata. Setidaknya ada beberapa yang ganteng,” lanjut Amira lalu tertawa kecil.

“Siapa?” tanyaku.

“Menurutmu siapa?”

“Aril?” ucapku, tiba-tiba. Memang mulutku suka mengeluarkan isi hatinya begitu saja, terutama kepada sahabatku yang satu ini.

“Hah? Aril? Ooh.. yang ngaku-ngaku Ariel Noah itu. Iya iya, ingat ingat. Lumayan sih,” ucap Amira. Aku hanya tersenyum di balik masker yang masih kupakai ini.

Aku agak kecewa dengan sistem pembelajaran menggunakan dua sesi ini, sebab kita yang berbeda sesi: kamu di sesi pertama, dan aku di sesi kedua. Namun, aku tidak begitu mempermasalahkannya, sebab aku yang belum begitu mengenalmu. Setidaknya, aku sudah bisa merasakan suasana kelas, dan ada Amira yang menemaniku di sesi tersebut.

Banyak dari teman-teman yang berbeda sesi tidak mengenal satu sama lain, seperti berbeda kelas saja. Bahkan, ada yang tidak sadar kalau mereka sebenarnya satu kelas, tetapi beda sesi.

Oleh sebab itu, sekitar 3 bulan kemudian, salah satu teman sekelas kita mengusulkan untuk mengadakan acara bersama sekelas, demi mengenal satu sama lain. Acara yang disepakati waktu itu adalah bakar-bakar daging ayam dan sosis di pantai.

Pada Sabtu pagi, kita semua pun berkumpul di rumah salah satu teman sekelas kita, Amel. Aku melihat teman-teman sekelas satu per satu. Semua laki-laki terlihat tidak menggunakan masker, dan setengah dari para gadis masih tetap memakainya. Aku termasuk ke dalam golongan orang yang masih ingin menggunakan masker.

Tak lama, setelah beberapa candaan, keributan, dan perdebatan ringan, kita semua lalu berangkat bersama ke pantai. Aku dibonceng oleh Amira dengan menggunakan motor scoopynya, mengikuti rombongan menuju pantai yang sudah ditentukan.

Kita semua lalu tiba di pantai dan mulai berbenah. Ada yang menyiapkan perapian dan ada yang sudah menghamparkan tikar yang akan menjadi alas untuk kita semua makan bersama. Kemudian, ada yang sibuk membakar makanan, ada yang sibuk memotret dan merekam aktivitas, dan ada juga yang duduk bermalas-malasan menunggu makanan siap. Aku termasuk yang hanya bermalas-malasan. Hehe.

Saat makanannya sudah siap, kami lalu melepas masker, dan menyantap hidangan. Saat itulah beberapa dari teman-teman sekelas seolah baru mengenal satu sama lain. Yang membuatku agak heran adalah beberapa orang dari sesi 1, seolah memperhatikanku terus. Tak peduli yang perempuan atau laki-laki. Namun, aku mencoba untuk tidak menghiraukan mereka, dan memilih untuk memainkan ponsel saja.

Tak sedikit juga candaan-candaan yang dilontarkan oleh teman-teman, terutama yang laki-laki, apalagi kamu. Kamu banyak sekali melontarkan candaan. Aku juga jadi sedikit ge-er karena kamu sering sekali mencuri pandang ke arahku. Terutama saat kamu tertawa, matamu malah menolehku. Aku jadi ikut tertawa, padahal candaan yang dilontarkan tidak begitu kudengar.

Selain itu, saat sesi foto bersama, kamu melakukan tindakan yang berhasil membuat hatiku seolah menari-nari. Saat itu, kita semua sudah siap untuk difoto. Aku sudah duduk tenang di tempat yang sejak awal kutempati, kemudian didatangi oleh kamu yang duduk berlutut tepat di sampingku.

“Nah, di sini aja,” ucapmu, seraya sedikit menolehku. Kita saling bertatapan singkat, tetapi berhasil menempel kuat di pikiranku.

Saat akan difoto, aku pun terdiam, mencoba tersenyum, dan membiarkan jantungku berdetak kencang saat kau di sampingku. Setelah beberapa jepretan foto, kamu lalu segera berlari ke rombongan laki-laki dan bercanda ria.

Di hari itu, aku jadi sedikit mengenalmu. Kamu yang selalu ceria, sering melawak, dan sering berperilaku tidak jelas. Aku senang dengan sikapmu di hari itu. Aku ingin sekali berteman denganmu, bila perlu lebih dari teman.

“Kamu suka ya dengan dia?” tanya Amira di perjalanan pulang dari pantai.

“Siapa? Aril?” tanyaku, pura-pura tidak mengerti.

“Iya. Ayo ngaku!”

“Ah, apaan sih? Enggak,” jawabku, gengsi.

“Kamu ngomongin dia terus lho dari tadi. ‘Aril lucu ya? Ganteng lagi. Terus dia merhatiin aku terus,’ gitu katamu. Aku sampai heran dengernya.” ucap Amira sambil meniru gelagatku.

Aku lalu tertawa dan berkata, “Bercanda, Mir.. Kamu ini.”

“Bercanda sih bercanda. Entar suka beneran lagi.”

“Gapapa juga sih.”

“Heh?” respons Amira, sedikit kaget. Aku lalu tertawa dan menepuk kedua pundaknya.

***

Sekitar setahun kemudian, kita naik ke kelas 12. Ruang kelas yang baru dengan orang-orang yang masih sama. Kali ini, kita tidak lagi menggunakan sesi, melainkan sekolah normal seperti sebelum pandemi. Aku sangat senang sekali, terutama saat kusadar kalau kita masih tetap sekelas.

Di hari pertama masuk sekolah, para teman sekelas kita memilih bangku untuk mereka tempati. Aku sangat ingin duduk di depan atau belakangmu bersama Amira tentunya. Namun, saat melihat kalian—para laki-laki—duduk sebarisan, aku pun sadar kalau tidak ada ruang untukku bisa duduk di dekatmu. Sehingga, aku hanya memilih bangku yang dipilih oleh Amira: bangku bagian belakang di dekat jendela. Sedangkan kamu berada di barisan para laki-laki yang ada di dekat pintu masuk kelas.

Gagal sudah niatku untuk bisa mendapat kesempatan agar kita bisa dekat. Tetapi tidak masalah. Aku masih bisa melihatmu dengan jelas dari bangkuku. Terkadang, saat bosan dengan pelajaran atau tidak ada guru di kelas, aku sesekali memperhatikanmu dari kejauhan yang sedang menulis atau bercanda dengan teman-temanmu.

Di awal-awal kelas 12, aku masih memakai masker, tetapi lama-kelamaan aku melepasnya. Seiring dengan teman-teman yang satu per satu melepas masker. Entah kenapa sejak aku melepas masker, kamu sering terlihat mencuri pandang ke arahku.

Pernah suatu hari, Guru PKN sedang menjelaskan tentang hubungan diplomatik negara Indonesia dengan negara luar. Aku yang bosan mendengarnya lalu meletakkan kepalaku di atas kedua lenganku yang kutaruh di atas meja, dan mengarahkan wajahku ke arahmu. Kamu yang juga terlihat bosan dengan pelajaran tersebut lalu berpangku tangan, dan tiba-tiba menolehku. Pupil mataku seolah membesar seketika dan jantungku memberikan beberapa ketukan kencang. Kamu lalu bercanda dengan berlagak seolah sedang mengantuk. Aku hanya menganggapinya dengan tersenyum dan tertawa kecil. Kemudian, kamu ikut tersenyum.

Sungguh momen yang sangat indah bagiku dan ingin selalu kualami setiap hari. Namun, itu tidak terjadi begitu sering. Bahkan, aku terkadang jadi pilu ketika melihatmu dekat dengan gadis lain di kelas, terutama Bella. Beberapa kali terlihat kamu yang asyik berbincang dengannya.

Aku pun mencoba untuk tidak tahu dan tidak mau tahu. Namun, aku pernah membaca kata-kata di Twitter yang tertulis: “Memilih untuk tidak tahu adalah penundaan rasa sakit.” Aku tak merasa itu sepenuhnya benar. Jadi, aku tetap memalingkan wajahku, dan memilih untuk tidak mau tahu.

***

Beberapa bulan setelah hari pertama masuk kelas, kita lalu mendapat tugas kelompok untuk pelajaran bahasa Indonesia. Tugasnya adalah menentukan nilai-nilai kehidupan pada suatu novel. Tiap kelompok akan mendapat novel yang berbeda, dengan anggota yang terdiri dari enam orang. Tugas yang lumayan sulit dan butuh ketelitian yang tinggi, tetapi aku sangat senang, karena takdir menyatukan kita di kelompok yang sama.

Rasa bahagiaku tak cukup sampai di situ. Sepulang sekolah, aku mengecek ponselku, dan melihat kamu yang mengetes WhatsApp-ku: “Test. Ini Aril.”

Oh my God! Apa ini? Kenapa dia tiba-tiba nge-tes WA-ku? Akhirnya, setelah sekian lama.

Aku lalu membalas pesanmu, “Iya. Save Indri.

Oke,” balasmu.

Saat itu, aku seakan ingin menari-nari di atas rasa kebahagiaan yang berjatuhan dari hatiku. Hingga, pada akhirnya kusadar bahwa tujuanmu mengetes WA-ku hanya karena kamu ingin menyimpan kontakku agar kamu bisa memasukkanku ke dalam grup kelompok bahasa Indonesia yang kaubuat.

Hadeehh. Ya sudah, tidak apa-apa. Yang penting kita sudah saling menyimpan nomor WhatsApp.

Setelah beberapa perbincangan dan sedikit perdebatan di grup, ditentukanlah waktu dan tempat akan dilaksanakannya kerja kelompok. Waktunya ialah besok, sepulang sekolah, dan bertempat di rumah salah satu anggota kelompok kita, Naya di Desa Sirih, yang terletak di antara Desa Sintebang dan satu desa sebelum Desa Setia.

Sehingga, pada esok hari sepulang sekolah, kita sekelompok pun berangkat ke rumah Naya. Berhubung Amira tidak sekelompok denganku, ia pun memutuskan untuk pulang bersama dengan yang lain, sedangkan aku mengendarai motor sendirian ke rumah Naya.

Singkat cerita, kita pun mulai mengerjakan tugas kelompok tersebut. Kita semua sudah duduk di atas sofa ruang tamu Naya, membuka file PDF novel untuk kelompok kami yang sudah ada di ponsel kami masing-masing. Selain itu, kamu juga menyiapkan laptopmu yang akan digunakan untuk mengerjakan tugas tersebut. Kita semua lalu mencari contoh nilai-nilai kehidupan pada novel tersebut, dan jika sudah ditemukan, kamu akan mengetiknya di laptop.

Tak kusangka, tugas bahasa Indonesia ini lumayan rumit, membingungkan, dan menguras tenaga. Selain karena mencari nilai-nilai kehidupan di sebuah novel yang panjangnya lebih dari 200 halaman, kita juga masih belum mengerti dengan nilai-nilai kehidupan yang dimaksud. Alhasil, kita mengerjakannya hingga matahari sudah terbenam.

Tetapi, meskipun begitu, suasana yang lelah menjadi menyenangkan, karena kehadiran dirimu. Kamu yang selalu bercanda, membuatku tak bisa berhenti tertawa dan tersenyum. Seperti saat kamu menjahili Narto, teman kamu yang kerap kali dijadikan objek bercandaan.

Saat itu, kamu berbisik, menyuruh kami semua untuk memperhatikan dia yang sedang melamun, menatap jendela kaca. Kami lalu memperhatikannya, dan kamu perlahan mendekatinya. Seketika kamu menepuk kedua pundaknya dan berteriak, “DOR!!”

“AYAM AYAM AYAM!” ucapnya, latah, sambil mengangkat dan menggoyang-goyangkan kedua tangannya. Kita semua lalu tertawa. Bahkan, kamu sampai tertawa terguling-guling di lantai.

“Jangan gitu lah, Ril!” ucapnya dengan wajah kasihan.

Kamu lalu mengelap air matamu yang keluar karna tertawa, dan menepuk-nepuk pundaknya dengan pelan seraya berkata, “Iya iya, sorry sorry.”

Kamu lalu berniat kembali ke tempat dudukmu. Namun, tiba-tiba, kamu membalikkan badanmu ke arahnya lagi dan berteriak, “WAA!!”

“HAAAAA!” Ia kaget lagi. “TOLOL!” serunya padamu yang malah tertawa lagi. Aku hanya memperhatikan kalian sambil tertawa menutup mulutku.

Kita juga asyik berbincang berdua, membuatku merasa bahwa itu adalah momen yang sangat berharga. Kamu menceritakan tentang kamu yang waktu kecil menabrak kakek-kakek saat sedang balap sepeda dengan temanmu. Aku pun tertawa mendengarnya, dan bertanya, “Serius?”

“Iya,” jawabmu.

“Terus kakeknya gapapa?”

“Gapapa. Cuman terpental dan nyangkut di genteng doang,” ucapmu.

Aku lalu tertawa kencang sambil memukul-mukul bahumu.

Selain itu, kamu begitu perhatian padaku. Seperti saat kamu melihatku kelelahan dan segera menuangkan segelas minuman, tepat sebelum aku hendak menyuruhmu. Tidak hanya itu. Saat aku berbaring di lantai, kamu segera mengisi tasmu dengan jaket yang kaupakai sebelumnya, dan menyerahkannya kepadaku untuk dijadikan bantal. Bagaimana aku tidak gagal rasa terhadap sikapmu yang begitu?

Sayangnya, seusai kerja kelompok, aku pulang sendirian dengan motorku. Padahal, aku sangat ingin diantar olehmu. Terlebih lagi saat kulihat kau juga pulang sendiri dengan motor N-Max-mu itu.

Fix. Dia suka sama kamu,” ucap Amira di ruang tamuku setelah kuceritakan kejadian di rumah Naya tadi.

“Yang bener?” tanyaku, memastikan.

“Iya. Si Rian juga perhatian begitu padaku sebelum kami jadian,” jelas Amira sambil menyebutkan nama pacarnya sebagai contoh.

Mendengar itu, aku tersenyum malu-malu dan tertawa kecil sendiri.

“Kamu harus kasih kode!” titah Amira.

“Kode? Gimana? Aku nge-chat dia gitu?”

“Ya itu boleh juga, tapi saranku gini...” ucap Amira sambil mengambil ponselnya, “Tadi, aku nemu video TikTok yang kayaknya relate banget ke kamu.”

“Gimana videonya?”

“Entar, aku kirim.”

Pesan WhatsApp dari Amira lalu masuk ke ponselku dan langsung kulihat. Ia mengirimkan sebuah video TikTok yang menampilkan seorang wanita berseragam SMA dengan teks yang tertulis: “Pokoknya gua ga akan naksir sama yang sekelas.” Kemudian belanjut, “Crush gua teman sekelas,” dilengkapi dengan tiga emotikon nangis.

Aku pun memposting video tersebut di story WA dan tak lupa memprivasikannya hanya padamu, agar hanya kamu yang bisa melihatnya. Kemudian, aku menunggumu melihat dan membalasnya. Namun, harapan sering kali tidak sesuai dengan kenyataan. Kamu hanya melihatnya saja, tanpa sedikit pun memberikan balasan. Aku pun menghela napasku, dan menghapus story tersebut.

***

Di hari Minggu, kita lalu memutuskan untuk kerja kelompok lagi di rumah Naya, sebab tugas bahasa Indonesia yang kita kerjakan hari itu masih kurang benar. Apalagi dalam memahami nilai-nilai kehidupan yang dimaksud. Rencananya, kerja kelompok kita dimulai pada pukul 2 sore. Namun, kita semua baru berdatangan ke rumah Naya pada pukul setengah 4 sore, tepatnya setelah Ashar.

Aku datang dengan diantar oleh Amira, setelah kuberitahu dia niatku untuk bisa diantar olehmu saat pulang nanti. Amira sangat mendukung perihal sahabatnya yang sedang menjalankan masa PDKT ini.

Kita lalu mulai mengerjakan tugas kelompok itu lagi seperti hari itu. Kamu duduk di atas sofa dengan laptop di atas meja depanmu, dan aku di seberangmu. Kita duduk berhadapan di antara sebuah meja kayu berkaki empat. Naya sesekali juga duduk di sampingku, sedangkan teman-teman yang lain asyik rebahan di atas karpet yang sudah dihamparkan Naya di ruang yang sama.

Saat matahari hampir terbenam. Kamu sibuk mengetik dengan laptopmu dan aku sibuk membaca novel di ponselku. Kita sama-sama duduk di lantai dengan kedua kaki di bawah meja. Aku meluruskan kakiku, kemudian terasa kakimu yang menyenggol kakiku. Aku pun menolehmu dan kamu hanya bersiul sambil menatap ke atas. Aku balas menyenggol kakimu. Kamu lalu menolehku, berlagak seolah merasa tertantang, dan melipat kedua tanganmu di dada. Kamu lalu membalasku. Aku pun ikut membalasmu lagi. Akhirnya, kita pun senggol-senggolan kaki dan tidak sadar sedang diperhatikan oleh teman-teman sekelompok.

“Kalian ngapain?” tanya Naya. Kita lalu berhenti, saling tatap, dan tertawa bersama.

Tugas tersebut masih saja belum selesai hingga malam hari tiba, membuat beberapa di antara kita sudah lesu. Untungnya, kamu menyalakan lagu di ponselmu, sehingga kita semua bisa sedikit bersemangat. Walaupun agak kurang fokus karena sibuk ikut nyanyi.

Lagu yang sangat senang kamu putar adalah lagu-lagu dari Pamungkas. Salah satunya adalah lagu yang berjudul Monolog. Saat lagu itu terputar, kamu ikut bernyanyi dengan sangat indah, membuatku bertanya “Apa judul lagu itu?”

Namun, kita tidak bisa terus memutar lagu-lagu tersebut dengan nyaring, mengingat malam semakin larut.

Sudah pukul setengah sepuluh dan kamu masih sibuk mengetik tugas tersebut di laptop. Aku hanya memperhatikan layar laptop tepat di sampingmu. Malam itu, kita duduk berdua, berdekatan, di atas sofa yang sama.

Dengan mata yang sudah berat, aku melihat teman-teman yang lain sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Ada yang masih berusaha mencari nilai-nilai kehidupan novel di ponsel mereka masing-masing, sambil rebahan di atas karpet. Ada yang mencoba mencari di internet tentang penulis novel. Ada juga yang tidak berguna, hanya tidur dengan lelapnya di atas sofa satunya.

Aku lalu menunduk-nundukkan kepalaku karena semakin mengantuk. Lalu tiba-tiba, kepalaku mendarat di pundakmu. Sungguh, ini lebih nyaman ketimbang bantal di rumahku. Terlebih lagi, kamu yang hanya diam saja sambil mengetik dengan tenang.

Saat setengah jam lagi menuju tengah malam, tugas kita akhirnya selesai. Kita semua keluar dari rumah Naya, menuju kendaraan masing-masing, kecuali aku yang tidak membawa kendaraan.

“Ayo, Indri! Kuantar,” serumu pada diriku yang langsung terbelalak, padahal sedang mengantuk.

Aku perlahan mendekatimu dan bertanya, “Kamu tahu rumahku?”

“Enggak,” jawabmu sambil merangkulkan tasmu di depan, “Ya, nanti kasih tahulah. Gimana sih? Efek ngantuk nih.”

Aku lalu tersenyum dan memukul bahumu.

Pada malam Senin yang sunyi itu, aku akhirnya bisa dibonceng olehmu di jalanan desa yang sudah sepi itu. Aku duduk tenang dengan kedua tangan di bawah perutku, dan kamu membawa motormu dengan sangat pelan, membuatku semakin mengantuk.

“Kamu ngantuk, pegangan! Entar jatoh lagi,” ucapmu.

“Enggak ah, gini aja. Nggak jatoh kok,” ucapku dengan suara yang sudah berat.

Kamu lalu mengegas motor dengan kencang, membuatku sedikit berteriak, dan spontan memelukmu dari belakang agar tidak jatuh. Kamu hanya tertawa dan aku terlanjur nyaman dengan pundakmu.

Kamu lalu menyanyikan kembali lagu Pamungkas berjudul Monolog, membuat suasana menjadi semakin indah.

Gelap... di dalam tanya.. menyembunyikan rahasianya.

Perlahan, mataku menutup, hingga hanya tersisa gelap dan suaramu yang merdu.

Letih, kehabisan kata.. dan kita pada akhirnya diam.

Aku hanya terdiam, mendengar lantunanmu yang seperti diiringi oleh musik.

Suasana sangat tenang dan damai, hingga kamu seketika berteriak menyanyikan lagu tersebut.

ALASAN MASIH BERSAMAAA BUUKAN KARENA TERLANJUR LAMAAAA!!”

Seketika, aku tersentak, melepas pelukanku, dan memukul pundakmu.

Kamu malah lanjut bernyanyi, “Tapi rasanya... yang masih sama.”

“Ngagetin banget sih,” ucapku, kesal.

Kamu lalu tertawa, “Sengaja, biar kamu bangun. Bentar lagi sampai soalnya.”

“Loh kok kamu tahu rumahku?”

“Enggak,” jawabmu, “Makanya aku bangunin kamu, biar kamu bisa ngasih tahu.”

Aku lalu membalas dengan senyuman dan menjawab, “Hhmm.. Oke, siap, Bang Ojek.”

Kamu lalu tertawa dan lanjut bernyanyi.

***

Fix. Dia juga nyaman sama kamu. Kasih dia kode lagi, supaya dia nggak ragu buat nembak kamu!” ucap Amira di atas sepeda motor menuju sekolah, setelah kuceritakan kejadian semalam.

Aku yang dibonceng olehnya lalu berkata, “Enggak usah ah. Entar juga dia nembak sendiri kok.”

Amira memutar bola matanya dan berkata, “Haduuh, Indri. Pede banget sih. Cowok mah gak bisa kalo nggak dikasih kode. Dan bisa jadi nanti kalian malah berakhir dengan hubungan tanpa status.”

Aku terdiam, mempertimbangkan kata-kata Amira.

Di sekolah, kita lalu bertemu seperti biasanya, seolah tak ada hal spesial semalam. Saat jam pelajaran bahasa Indonesia, kita pun melakukan presentasi tugas kelompok di depan kelas, dan berjalan dengan lancar. Usai presentasi, kita kembali duduk di bangku masing-masing, sambil kutatap dirimu dan bertanya dalam hati, “Apakah nanti kita bisa sekelompok lagi?”

Sepulang sekolah, saat aku mengecek ponsel di ruang tamu, grup kelompok bahasa Indonesia kita sudah dibubarkan. Aku seolah merasa kedekatan kita juga ikut berakhir. Aku pun hanya terdiam, menatap percakapanku denganmu di WhatsApp.

Amira lalu menunjukkan video TikTok yang menampilkan seorang wanita beserta teks yang tertulis: “Udah deket, nyaman, sering barengan, eh tapi gak jadian.”

“Gimana?” tanya Amira.

“Ya udah, kirim!” ucapku, setuju.

Aku lalu memposting video tersebut di story WhatsApp dan lagi-lagi menunggumu melihat. Menunggu, dan terus menunggu, hingga malam hari tiba. Sudah pukul 7 malam, tetapi belum ada namamu di daftar penonton story.

Hingga saat hampir pukul 8 malam, kamu akhirnya melihatnya. Namun, lagi-lagi, kamu sama sekali tidak membalas story tersebut. Aku yang sedang berbaring di atas kasur lalu menghela napas sambil menatap layar ponselku. Kemudian, kubuka YouTube, dan memutar lagu Monolog agar aku bisa kembali merasakan momen di malam itu.

***

Seminggu kemudian, tibalah hari yang kusebut sebagai titik balik dalam kisah pendekatan ini. Sebab di hari itu, kita sudah tidak begitu dekat, dan aku malah melihatmu dekat dengan gadis lain, Bella. Sejak seminggu yang lalu, aku sering melihat kalian menghabiskan waktu bersama, dan hari demi hari semakin dekat. Di hari itu juga, kamu tak lepas dari bicara dengannya.

Saat istirahat, aku mengasingkan diriku ke kantin bersama Amira dan teman-teman wanita lainnya. Betapa terkejutnya aku saat mereka membicarakan tentangmu.

“Kalian sadar nggak, si Aril sama Bella kok kayak dekat banget?” ucap Lina, memulai.

“Kayaknya mereka jadian deh?” ucap yang lain, berspekulasi.

Hingga, Amel berkata, “Mereka tuh udah lama dekat tau. Sejak kelas 11. Ya, kemungkinan besar mereka udah jadian.”

JEP! Aku tertegun mendengar hal itu. Amira pun menolehku dan seperti mengerti dengan perasaanku. Aku yang sedang menghabiskan nasi kuningku yang tersisa setengah, seketika kehilangan nafsu makan. Aku pun menyeruput habis es tehku dan beranjak dari situ sambil berkata pada Amira, “Aku duluan.”

“Tunggu, In!” ucap Amira yang ikut berdiri.

Kami lalu kembali ke kelas. Tentu saja, dengan informasi yang baru saja kudapat ditambah dengan menyaksikan pemandangan indah berupa keromantisan kalian, membuat hatiku seakan retak seketika dan serpihannya berjatuhan. Aku hanya bisa memalingkan pandanganku, menghela napas, dan menahan air mataku agar tidak menetes.

Aku duduk di bangku dengan ditemani oleh Amira yang merangkulku dan mengusap bahuku.

“Yang sabar ya, Indri,” ucap Amira.

Semua harapanku sirna seketika. Semua penantianku hilang begitu saja. Kesempatan yang ingin selalu kudapat, direnggut oleh gadis yang lebih cantik dariku. Di saat itu juga, aku mulai berencana untuk tidak berinteraksi denganmu lagi, dan mengakhiri kedekatan kita. Karena seseorang pernah berkata padaku, “Menyukai tak semestinya harus memiliki.”

Di hari-hari berikutnya, yang kurasakan hanyalah sendu dan putus asa. Memang, aku terlihat bahagia di hari esok maupun lusa, tetapi di dalam dada, aku dapat merasakan hatiku yang terluka.

Sekarang, tepatnya beberapa bulan setelah kedekatan kita, semuanya jadi berubah.

Aku sangat jarang berbicara denganmu lagi. Aku bahkan memilih untuk tidak melihat story WhatsApp-mu, dan kamu hanya sekadar menjadi penonton storyku.

Kita tak lagi saling menatap. Kita tak lagi saling tersenyum dan tertawa. Pada akhirnya, kita menjadi asing.

Komentar