Basah
Story by: Fidhil Rahyan
Hari
sudah larut malam, disertai hujan yang masih deras. Dayat tengah menikmati
waktu berdua saja bersama seorang gadis yang ia sukai selama ini.
Malam ini adalah malam yang paling bahagia bagi anak laki-laki kelas 12 ini. Tugas kelompok membuat makalah mempertemukannya dengan gadis pujaan hatinya, yang bernama Yura. Dia adalah gadis tercantik di kelas IPS 3, setidaknya menurut para lelaki di kelas, termasuk Dayat. Awalnya, ia pikir tak ada yang bisa lebih membahagiakan dirinya selain berpasangan dengan Yura dalam kelompok tersebut, hingga ia tiba di rumah Yura untuk mengerjakan tugas tersebut, lalu mendapati gadis itu hanya sendirian di rumahnya. Kedua orang tuanya sedang pergi ke rumah nenek di luar kota, dan kakak laki-lakinya sudah lama tinggal di Jogja perihal kuliah. Di rumah ini, hanya ada dua orang manusia: Dayat dan Yura, serta seekor kucing anggora putih.
Sejak petang, Dayat sudah tiba di rumah Yura, tetapi tugas mereka baru selesai menjelang tengah malam. Dayat tak bisa memberikan jawaban cepat dan bagus seperti Mas Dayat, kata Yura kala mereka mengerjakan bersama.
Hujan yang turun sejak pukul 9 malam, semakin lebat saja. Dayat yang tak membawa jas hujan, kemudian menanyakannya kepada Yura: “Lu ada jas hujan gak?”
“Yah, gak ada,” jawab Yura, “Kayaknya dibawa ayah sama bundaku.”
Dayat mengangguk-ngangguk, lalu “pura-pura” memikirkan cara untuk pulang, sebab sebenarnya ia nyaman duduk di ruang tamu bersama Yura. Gadis itu lalu menaruh seekor kucing miliknya di pangkuan, dan mengelus-elus kepalanya. Dayat ikut mengusap lehernya seraya menanyakan namanya.
“Ciro,” jawab Yura.
“Setidaknya kamu ada teman tidur,” ucap Dayat.
“Enggak juga,” sanggah Yura. “Biasanya dia tidur di luar kalo malam, soalnya dia suka poop sembarangan. Tapi, sekarang kan hujan.”
Yura mulai menguap dan matanya terlihat sudah letih. Yura menyarankan agar Dayat tidur di rumahnya saja malam ini. Apalagi besok hari Sabtu, sekolah libur. Tentu saja, Dayat tidak bisa menolak kesempatan emas ini. Siapa yang tidak senang bisa tidur serumah dengan orang yang disukai? Seperti latihan menjadi suami-istri saja.
Yura lalu menunjukkan sebuah kamar untuk Dayat tempati. Yura berkata bahwa kamar tersebut dahulu ditempati oleh kakak laki-lakinya, sehingga penampakannya seperti kamar lelaki pada umumnya: terdapat sebuah lemari yang ditempeli stiker-stiker random, beberapa poster band-band terkenal yang tertempel di dinding, dan sebuah tempat tidur yang hanya cukup untuk satu orang.
“Serius? Gapapa nih aku tidur di rumah lu? Gimana kalau dilihat warga, terus kita diarak?” tanya Dayat, mencoba untuk sungkan.
“Gapapa. Gak bakal kok. Lu gak liat di gang ini cuma ada rumahku doang?” sanggah Yura.
Dayat hanya bergumam.
Yura lalu bilang kalau ia mau tidur, kemudian beranjak keluar dari kamar, serta menutup pintu. Dayat tersenyum, mengangkat tangan kanannya, dan mengucapkan selamat malam, padahal Yura sudah tak terlihat lagi dari pandangannya.
Dayat merebahkan tubuhnya di atas kasur yang terasa sangat lembut dan sejuk tersebut. Meski ukurannya hanya cukup untuk satu orang, tapi rasanya luas. Ditambah seprainya yang berwarna krem, ia seolah berbaring di atas hamparan pasir pantai yang indah di malam hari. Dengan hanya sebuah bantal sebagai sandaran kepalanya, ia tersenyum sambil berkhayal-khayal tidak jelas tentang dirinya dan gadis idamannya itu. Bersama dengan suara tetesan hujan yang menenangkan, membuat dirinya perlahan memejamkan mata, bersiap untuk tidur, dan menemui mimpi indah.
Ia menemukan dirinya berbaring di atas hamparan pasir pantai. Suara ombak yang terhempas terus terdengar di telinganya, sampai muncul suara seorang gadis memanggil namanya. Ia segera bangkit dan mencari sumber suara itu, hingga seseorang menyentuh pundaknya. Ia menoleh orang itu: Yura, yang tersenyum lantas berlari di sepanjang pesisir pantai. Dayat berdiri dan segera mengejar gadis tersebut. Batu pantai yang besar membuat gadis tersebut menghentikan langkahnya, begitu juga dengan Dayat. Gadis itu tersenyum menatap Dayat. Tiba-tiba, Dayat membuka celananya, dan kencing di air laut yang berada tepat di sampingnya.
Entah kenapa, suhu yang dingin menjadi hangat di antara kedua pahanya. Kemudian menjalar ke area perut. Hingga, ia tersadarkan dari mimpinya, terbangun dari tidur dengan kondisi celana dan baju bagian bawahnya, basah. Matanya terbelalak kala menyadari kalau ia sudah mengompol di kasur yang bukan miliknya. Ia mengompol di rumah gadis yang ia sukai.
Dayat segera berdiri, dan melihat kasur beserta seprainya yang juga ikut basah. Ia pun berulang kali mengucapkan “mati gue” dengan pelan. Mencoba memastikan, ia lalu mencium area basah di kasur. Baunya pesing. Lantas ia memegang kepalanya dengan kedua tangan sambil berjalan mondar-mandir.
“Gawat, gawat, gawat! Mati gue!”
Ia lalu sadar masalah ini tidak bisa diatasi sendiri. Ia perlukan bantuan. Ia pun menelpon sahabatnya, Edy.
“Wahahaha. Serius?” ujar Edy di telepon, setelah Dayat menjelaskan masalahnya.
“Ya, serius. Gue butuh bantuan lo nih, please!” mohon Dayat. Edy pun tertawa terbahak-bahak terhadap kekonyolan yang telah dilakukan sahabatnya itu. Dayat hanya bisa terdiam dengan muka datar.
Setelah puas tertawa, Edy bertanya apa yang harus ia lakukan. Dayat lalu meminta Edy untuk datang ke rumah Yura, membawakan pakaian lengkapnya yang ada di rumah sahabat mereka satu lagi: Yusril. Dayat ingat ia pernah menginap di rumah Yusril selama beberapa hari dan tak sengaja meninggalkan baju, celana, serta kolornya.
Saat Edy hendak menutup telepon dan melaksanakan permintaan tersebut, Dayat mengingatkan Edy untuk tidak datang melalui pintu depan rumah Yura, melainkan jendela sampingnya. Agar Yura tidak mengetahui kekonyolan yang coba ia sembunyikan ini, terutama jika ia melihat Edy dan bertanya perihal kedatangannya.
“Ya kalau dia nanya, gue jawab yang sejujurnya lah: kalo lo itu ngompol,” goda Edy.
“Sialan!” Telepon lalu ditutup.
Dayat menghela napasnya, mencoba untuk tenang. Ia lalu berjalan secara perlahan menuju pintu kamar, membuka pintu tersebut, dan berjalan keluar dengan kaki yang berjinjit menuju kamar Yura. Pintu kamarnya terlihat sedikit terbuka. Dengan keberanian ekstra, ia membuka pintu tersebut perlahan demi mengecek apakah Yura sudah bangun atau belum. Tiba-tiba, keluar seekor kucing dari dalam kamar membuat Dayat nyaris berteriak. Ia lalu mengusap-usap dadanya.
Setelah tenang, ia lantas mengintip ke dalam kamar. Terlihat Yura yang masih tertidur dengan lelapnya. Ia pun tersenyum seraya berkata dalam hati, “Waduh, cantiknya.” Ia lalu segera menggelengkan kepalanya karena merasa fokusnya sedikit teralihkan, dan beranjak kembali ke kamar.
Sesampainya di kamar, ia langsung mengunci pintu, dan dikagetkan oleh kedua kepala sahabatnya yang nongol dari jendela, “Baaaaa...!!”
“GOBLOK!!” kaget Dayat. Edy dan Yusril tertawa terbahak-bahak melihat Dayat dengan celana dan bagian bawah baju yang basah.
“Iya, iya, ketawain aja gue,” ucap Dayat, pasrah, seraya menghampiri kedua sahabatnya itu.
Mereka berdua masuk ke dalam kamar melalui jendela. Seketika, Yusril langsung tergeletak di lantai sambil tak bisa menahan tawanya. Dayat dengan muka datarnya lalu mengulurkan tangannya untuk menerima pakaian yang dibawakan Edy.
***
Dayat sudah mengganti pakaiannya, dan memasukkan pakaian yang sebelumnya ke dalam kantong plastik.
“Oke, selanjutnya apa yang harus kami lakukan, Tuan Ompol?” ucap Edy.
“Wahahaha, Tuan Ompol!” sahut Yusril yang masih tergeletak di lantai.
Tanpa menghiraukan hinaan mereka, Dayat langsung melepas seprai yang basah dari kasur dan menyuruh mereka untuk membawa seprai tersebut beserta pakaian kotornya ke laundry. Tak lupa, Dayat memberi mereka uang 20 ribu untuk ongkos. Seketika, Yusril bangkit dari lantai dan mengambil uang tersebut.
“Kalau bisa yang cepet ya!” titah Dayat.
“Waduh. Kayaknya kalo mau yang cepet, lebih mahal deh,” ucap Yusril, membuat Dayat menambah 10 ribu lagi.
“Hhhmm.. Kayaknya masih kurang,” sahut Edy. Ia menambah 10 ribu lagi.
“Udah cukup sih, tapi buat jaga-jaga...” ucap Yusril, membuat uang di tangannya jadi genap 50 ribu. “Oke. Yuk, cabut!”
Mereka lalu keluar dari jendela dengan membawa seprai berbau pesing dan pakaian kotor Dayat di dalam kantong plastik.
Saat kedua sahabatnya itu sudah pergi, Dayat lalu menatap kasur, dan perlahan mendekat. Terlihat dengan sangat jelas noda bekas air kencingnya, ditambah bau pesing yang masih kuat. Ia lalu berjalan mondar-mandir, berpikir apa yang harus ia lakukan. Lalu, ia punya ide untuk menghilangkan noda tersebut dengan cara mengeringkannya menggunakan pengering rambut. Satu-satunya pengering rambut terdekat yang bisa ia dapatkan ialah milik Yura, yang ada di kamarnya.
Dayat pun kembali menuju kamar Yura dengan kaki yang berjinjit. Ia mengintipnya terlebih dahulu melalui pintu yang sedikit terbuka. Terlihat Yura yang masih tertidur dengan lelap. Dayat pun tersenyum dan berkata dalam hati, “Waduh, cantiknya.”
Sial. Fokusnya teralihkan lagi.
Ia lantas menggelengkan kepalanya dan melangkah masuk ke dalam kamar Yura dengan sangat hati-hati layaknya ninja yang berusaha mencuri permata berharga milik sang ratu. Hal pertama yang ia sadari saat berada di dalam adalah wangi kamarnya yang sama seperti wangi orangnya: perpaduan khas antara wangi detergen dan parfum miliknya. Sebelum ia semakin terlena dengan wangi kamar tersebut, ia lalu melihat di sekitar, mencari sebuah pengering rambut. Ia pun menemukannya di atas meja rias, tepat di samping kasur yang ditempati Yura.
Dayat pun mulai melangkah dengan penuh kehati-hatian menuju pengering rambut tersebut, sembari mengawasi Yura supaya ia bisa segera tahu kala Yura membuka matanya. Dengan gerakan bak agen rahasia, ia akhirnya berhasil tiba tepat di depan pengering rambut. Ia menghela napasnya sambil bersorak-sorai di dalam hati, kemudian mengambil pengering rambut tersebut.
Tiba-tiba, jantungnya berdegup kencang saat melihat Yura yang seketika bersuara sambil meregangkan kaki dan tangannya. Sedikit panik, ia langsung menundukkan badannya dan masuk ke kolong tempat tidur Yura dengan sangat mulus.
“Sialan!” umpat Dayat dalam hati, bersembunyi di bawah kasur bersama pengering rambut di tangan kanannya.
Alih-alih membawa seprai dan pakaian Dayat ke laundry, Edy dan Yusril malah berada di rumah Edy, tepatnya di depan mesin cucinya. Ia berkata, “Buat apa kita bawa ke laundry kalau kita punya mesin cuci sendiri.”
“Yoi. Lumayan masing-masing dapat 25 ribu buat jalan nanti malam,” sahut Yusril sambil memain-mainkan uang 50 ribu yang dikasih Dayat sebelumnya. Mereka pun tertawa dan saling tos.
Mesin cuci terus berputar, mengucek habis noda air kencing pada seprai dan pakaian Dayat.
“Nanti malam lu ke mana emangnya?” tanya Edy kepada Yusril.
“Biasalah, Bro.” jawab Yusril seraya menaikan alisnya. Edy yang paham, lalu tersenyum sambil mengangguk-ngangguk.
“Kalo lu, gak jalan sama cewek lu nanti?” tanya balik Yusril.
Edy menggelengkan kepalanya, “Dia lagi ke rumah pamannya bareng keluarga. Acara nikahan kalo gak salah.”
“Yah, kasihan,” ejek Yusril seraya tertawa kecil.
Mesin cuci berhenti, Edy pun membilas seprai dan pakaian Dayat, seraya menjawab, “Yaelah, gue mah kagak kasihan. Teman kita noh, Dayat, berusaha dapetin cewek idamannya sampai jadi begini.”
Yusril pun kembali tertawa. Ia benar-benar tak bisa menahan tawanya terhadap apa yang telah diperbuat Dayat.
Edy memindahkan seprai dan pakaian Dayat ke bagian pengering pakaian, seraya berkata, “Entar kita masukin 10 kali nih ke sini, biar kering total.” Mereka pun tertawa.
Dayat yang masih berada di kolong kasur Yura, tiba-tiba dikagetkan oleh bau tak sedap. Hidungnya seolah diserang oleh bau yang sangat bertolak belakang dengan aroma kamar Yura. Ia pun menutup hidungnya, dan berasumsi kalau ini adalah bau kotoran binatang. Tidak lain dan tidak bukan ialah kucing Yura.
Sialan kau, Ciro!
Dayat berjuang mati-matian menahan aroma kotoran Ciro sambil mencari tahu di mana kucing itu meninggalkan wasiatnya. Belum sempat ia temukan, Tuhan lalu memudahkan jalannya dengan membuat Yura keluar dari kamar, menuju kamar mandi yang ada di dekat dapur.
Dayat segera keluar dari kolong kasur tersebut dan mengambil napas panjang usai menahannya selama beberapa saat. Ajaibnya, bau kotoran Ciro sama sekali tidak tercium saat ia berdiri di situ. Entah karena jangkauan baunya tidak begitu jauh, atau karena aroma kamar Yura yang menutupinya.
Tiba-tiba, terdengar pintu kamar mandi yang dibuka, disambut oleh suara nyanyian Yura. Dayat pun panik lagi dan segera kembali ke kolong kasur.
“Bajingan!” umpat Dayat dalam hati.
Sambil menahan napas, ia yang sedang tiarap lalu memutar arah tubuhnya menghadap pintu. Terlihat Yura yang masuk ke dalam kamar dan duduk di atas kasur. Sekarang, kedua kakinya terpampang tepat di depan wajah Dayat.
Ia lalu merogoh saku celana, mengambil ponselnya, dan mengirimkan pesan WhatsApp ke Edy untuk segera menyelesaikan tugas mereka. Edy lalu menjawab kalau mereka sudah selesai dengan pakaian Dayat, tetapi kain seprainya masih belum begitu kering. Dayat tidak mau tahu, mereka harus segera membawa seprai dan pakaiannya itu ke rumah Yura.
“Tapi, gimana ya? Seprainya nih,” tanya Edy kepada Yusril.
Yusril yang awalnya diam, tiba-tiba tersenyum sebab ia mendapatkan ide yang brilian:
Dalam perjalanan ke rumah Yura, Yusril dibonceng oleh Edy, sambil mengangkat dan membentangkan seprai itu menggunakan kedua tangannya. Sehingga, seprai itu berkibar-kibar terkena angin.
“Ini yang namanya hair dryer alami, Bro,” ucap Yusril.
“Keren!” puji Edy.
“Tambah kekuatan, Bro!” Edy pun melaju kencang dengan motornya.
“Waduh, waduh, kekencengan, Bro!” teriak Yusril, sedikit panik. “Gua mau jatoh, njir!”
Tiba-tiba, seprai tersebut terlepas dari tangannya, melayang ke belakang mereka.
“SIAL!” seru Yusril sambil menepuk-nepuk pundak Edy.
Edy menghentikan motornya dan menoleh ke belakang. Terlihat seprai tersebut melayang-layang di belakang mereka. Edy lalu putar balik, segera menuju seprai tersebut. Mereka berhenti dan melihat seprai tersebut sudah mendarat. Sialnya, seprai tersebut mendarat di tempat yang tidak mereka inginkan. Sehingga, mereka hanya bisa tercengang sambil memegang kepala mereka dengan kedua tangan.
Menurut Edy, ini adalah hari tersial Dayat.
Sementara itu, Dayat mendengar Yura yang sedang menerima telepon dari sahabatnya, Iren. Dayat mendengarkan ajakan Iren kepada Yura untuk keluar di Sabtu pagi yang tak begitu cerah ini.
“Kayaknya gak bisa kalo sekarang,” jawab Yura, “soalnya masih ada Dayat di rumah gue.”
“Dayat tidur di rumah lo? Kok bisa?” tanya Iren.
“Iya, soalnya semalam abis ngerjain tugas, di luar masih hujan. Dia gak bawa jas, gak bisa pulang, terpaksa nginep deh di sini.”
“Lo gak diapa-apain ‘kan?”
Mendengar pertanyaan itu, muka Dayat berubah menjadi datar. Memangnya lu pikir gue bakal ngapain, kampret?
Dayat terus mendengar percakapan mereka, sampai Iren berkata, “Ra. Bayangin, kalo seandainya yang nginep di rumah lo saat ini Bryan. Beh! Pasti lu seneng ‘kan?”
Bryan? Ia adalah anak kelas sebelah, idaman para wanita. Wajahnya macho dan badannya atletis.
“Kalo itu mah, sekamar juga boleh,” jawab Yura sambil senyum malu-malu.
Mendengar itu, Dayat hanya bisa tercengang di bawah kasur. Tak disangka, gebetannya selama ini ternyata memiliki gebetan juga yang kriterianya jauh di atas dirinya. Selanjutnya, Dayat hanya mendengar betapa sukanya Yura dengan manusia bernama Bryan ini. Seandainya ia bisa menutup telinganya saat ini, ketimbang menutup hidung atas bau kotoran kucing sialan Yura. Namun, ia tidak mampu. Ia hanya berusaha menutup kesedihan di dalam hatinya.
Selesai berbincang dengan sahabatnya, Yura lalu keluar dari kamar menuju dapur. Tanpa berlama-lama lagi, Dayat segera keluar dari kolong tempat tidur, bergegas kembali ke kamar tempat ia tidur. Ia segera menutup pintu, bersandar di pintu tersebut, sambil terbayang-bayang ucapan penuh sanjungan Yura kepada Bryan. Hatinya seolah retak kala teringat setiap kata yang diucapkan Yura.
Kesialannya bertambah saat ia menyadari bahwa terdapat kotoran kucing di pakaiannya. Ternodai dari dada hingga paha. Dayat hanya bisa terkaku melihatnya.
Tak berhenti sampai di situ saja. Semua menjadi tambah buruk saat ia mendapat telepon dari Edy yang berkata kalau seprai yang sudah mereka bersihkan, kini terjatuh ke dalam selokan. Dayat hanya bisa terkaku mendengarnya.
Ia hanya terdiam, sambil bertanya-tanya dalam hati, apa lagi yang bisa lebih buruk dari semua ini?
Tik, tik, tik. Perlahan terdengar bunyi rintik hujan yang mengenai genteng. Kemudian, rintik tersebut semakin cepat dan berubah menjadi deras. Sepertinya alam juga tidak berpihak padanya.
“Waduh. Hujan, Yat!” ucap Edy, tepat sebelum telepon dimatikan oleh Dayat.
Yusril lalu tercengang saat teringat bahwa mereka meninggalkan pakaian Dayat yang sudah dicuci di atas motor. Mereka menoleh ke belakang, dan melihat pakaian tersebut kini diterpa hujan. Mereka tidak memasukkan pakaian tersebut ke dalam kantong plastik, sebab tak ada lagi yang mereka punya, dan kantong plastik sebelumnya bekas pakaian kotor.
Dengan putus asa, Dayat berjalan menuju jendela kamar, menatap hujan deras di luar. Wajahnya pasrah, matanya seolah ingin mengeluarkan air mata. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Tok tok tok. Yura mengetuk pintu kamar. “Bangun, Yat! Gue udah bikinin kopi nih,” ujarnya
“Ya,” jawab Dayat, lalu perlahan tersenyum.
Ia melihat kasur bernoda air kencing, pakaiannya dengan hiasan kotoran kucing, dan hujan dengan derasnya yang nyaring. Kemudian, ia berteriak, melepas semua kekesalan yang sudah ia pendam dari tadi.
***
Hujan masih turun dengan derasnya. Di dalam kamar, Edy berdiri di dekat jendela dengan pakaiannya yang basah kuyup. Ia sibuk menguras seprai yang basah dan bernoda hitam, tergantung di jendela. Di sisi lain, Yusril duduk di lantai dengan pakaian yang juga basah kuyup. Ia hanya berpasrah sambil memangku pakaian Dayat yang juga ikut basah. Sementara itu, Dayat duduk di atas kasur, dengan tangan kanan menyangga dagunya dan tangan kiri sibuk memegang pengering rambut yang mengarah ke noda bekas air kencingnya di kasur. Ia baru saja selesai menceritakan apa yang ia dengar kala bersembunyi di bawah tempat tidur Yura tadi: rasa suka Yura kepada seseorang yang bukan dirinya.
“Susah kalau sudah begitu,” ujar Edy. “Akan lebih mudah kalo dia memang suka sama kita, ketimbang enggak. Apalagi kalo dia sukanya sama orang lain. Sulit itu. Ujung-ujungnya kita pasti jadi bingung mau gimana lagi.”
Dayat terkaku diam.
Edy lalu memberitahu Dayat tentang noda di kasur yang sudah pudar. Dayat pun menghentikan pengering rambutnya.
“Ini lagi, Yat!” ucap Edy sambil menunjuk seprai di dekatnya.
“Baju lu nih juga, jangan lupa!” sahut Yusril sambil menunjukkan pakaian Dayat di pangkuannya.
Dayat menatap pengering rambut di tangan kirinya, kemudian berkata, “Gak bakal kering, guys.”
Kedua sahabatnya terdiam dan saling pandang. Dayat lalu menghela napasnya, tersenyum, berdiri, dan melempar pengering rambut tersebut ke atas kasur. Tiba-tiba, ia membuka baju beserta celananya yang terkena kotoran kucing tadi. Edy dan Yusril menatapnya dengan heran, sebab kini ia telanjang dengan hanya menggunakan celana dalam. Ia lalu melihat sekitar, kemudian berjalan menuju handuk yang tergantung di dekat pintu kamar, lantas memakainya.
“Loh, loh, Yat. Lu mau ngapain?” tanya Edy.
Dayat memegang gagang pintu kamar, menoleh kedua sahabatnya, dan berkata, “Bawa seprai dan semua pakaian kotor gue itu. Gue tahu harus apa.” Ia lalu membuka pintu dan keluar dari kamar tersebut.
Di depan kamar, terdapat dua cangkir kopi yang telah dihidangkan oleh Yura. Ia lalu mengambil secangkir usai menutup pintu kamarnya. Ia menyeruput kopi yang masih panas tersebut kala ia hanya memakai handuk di pagi hari yang hujan dan dingin ini. Yura keluar dari kamarnya dan seketika tercengang melihat Dayat yang telanjang setengah badan di depannya.
“Lu mau mandi atau gimana?” tanya Yura, dengan alisnya yang mengernyit.
Dayat membalikkan badannya menghadap Yura, dan kembali menyereput kopi panasnya, kemudian tersenyum.
Setelah menjelaskan apa yang telah terjadi dari awal hingga akhir tanpa adanya sedikit modifikasi, Dayat lalu berkata, “Tenang aja. Seprai lo bakal gue bawa balik buat dicuci lagi. Sama ini, handuk, pinjem ya, besok gue balikin.”
“Oo..oke,” jawab Yura, yang saat ini tengah terkaku.
Dayat tersenyum, menaruh secangkir kopi panasnya di atas meja, lalu beranjak untuk pulang, tak lupa mengucapkan terima kasih. Ia keluar dari rumah Yura, berjalan menuju motornya, dan naik dengan perlahan.
Yura yang masih terkaku, memperhatikannya dari pintu rumah. Dayat lalu tersenyum, melambaikan tangannya, dan pergi dari situ dengan tenang menggunakan motornya. Kemudian, mulut Yura semakin terbuka lebar saat melihat kedua sahabat Dayat menyusul dari belakang, membawa seprainya dan beberapa pakaian, menggunakan sebuah motor.
Di tengah hujan yang deras, Dayat mengendarai motornya dengan tenang, pergi dari rumah gebetannya dengan hanya memakai sebuah handuk.
Komentar
Posting Komentar