Jangan Sampaikan Padaku Berita Buruk

Story by: Fidhil Rahyan

Mataku terbuka, mendapati diriku berada di sebuah kamar rumah sakit. Duduk di sebuah kursi dengan kepala dan kedua tanganku berada di atas kasur yang ditempati oleh ibuku. Sejak sebulan yang lalu, ia tak sadarkan diri usai mengalami insiden nahas di jalanan dengan motornya. Sehingga, ia harus menjalani rawat inap di rumah sakit ini sampai ia siuman.

Aku menoleh ke arah suara yang membangunkanku: musik heboh dari video TikTok yang ditonton oleh adikku, Adinda, dengan menggunakan ponsel Ibu. Ia berbaring menatap ponsel tersebut dengan terlena, di atas sofa panjang yang berada di belakangku.

“Adin!” seruku kepada adikku, “Tidur! Udah malem nih. Besok kan sekolah.”

Mata lelahnya lalu menatapku bersama dengan wajah datarnya. Aku pun mengulurkan tanganku seraya berkata, “Sini HP-nya!”

Ia menyerahkan ponsel, kemudian membalikkan badannya seraya menguap. Aku berdiri dari kursi sambil ikut menguap, dan menaruh ponsel Ibu di atas lemari kecil samping kasur. Aku beranjak menuju pengatur suhu ruangan yang ada di dekat pintu kamar, dan sedikit menaikkan suhu ruangan sebab malam yang sudah terasa agak dingin. Aku juga mematikan beberapa lampu di ruangan ini, menyisakan satu buah lampu untuk menyala.

Aku menghamparkan sebuah tikar di antara sofa Adinda dan kasur Ibu, kemudian berbaring di atasnya seraya menatap seisi ruangan yang remang. Sebelum tidur, aku sering kali berucap di dalam hati tentang harapanku untuk membawa Ibu keluar dari sini. Namun, setiap pagi, harapanku hanya sekadar mimpi.

Dokter Satono—selaku dokter yang memeriksa dan merawat ibuku—sering kali berkata bahwa Ibu pasti akan bangun pada waktunya. Namun, setiap kali kami datang ke ruangan ini, Ibu masih saja memejamkan matanya. Membuatku bertanya, kapan waktu yang dimaksud Dokter Satono? Apakah saat kami sudah bolak-balik ke rumah sakit ini sebanyak 1000 kali?

“Doakan saja ibumu supaya segera pulih, Aditya,” ucap Dokter Satono kepadaku, di hari kala aku nyaris putus asa.

Hanya Tuhan yang tahu kapan Ibu bisa kembali seperti sediakala. Sementara, manusia sepertiku hanya bisa meminta agar harapanku bisa menjadi kenyataan.

***

Seperti biasa, di pagi hari, aku akan mengantar adikku satu-satunya ini ke sekolahnya dengan mengendarai sepeda motor. Adinda masih menempuh kelas 6 SD. Terpaut jauh denganku yang baru saja menyelesaikan kuliahku pada beberapa bulan yang lalu.

Dengan gelar sarjana ilmu komunikasi, aku diterima di pekerjaan yang baru kudapatkan beberapa hari yang lalu. Pekerjaan sebagai penulis berita di sebuah akun Instagram yang bernama Tellmenews Indonesia: akun yang menyampaikan berita-berita terkini lewat postingannya. Hari ini adalah hari pertamaku bekerja di kantor tersebut, setelah kemarin melewati proses perkenalan.

Dalam perjalanan menuju sekolah Adinda, aku lalu mendengar suara ponsel di belakangku. Agak resah rasanya. Anak itu sungguh tak bisa lepas dari yang namanya gadget, bahkan sampai dibawa ke sekolah. Beruntung, sekolahnya tidak melarang penggunaan gadget di luar jam pelajaran.

Setibanya di sekolah, Adinda turun dari motor sambil masih fokus menatap ponsel.

“Jangan dimainin pas jam pelajaran ya! Ingat, itu HP ibu lho!” ujarku, mengingatkan.

“Ya,” ucapnya, datar, seraya bersalaman denganku.

Aku lalu berangkat menuju pekerjaan baruku. Secara teknis, pekerjaanku ini adalah menulis ulang berita-berita terbaru dengan gaya bahasa yang dirangkai sendiri, menjadi tulisan yang bagus dan mudah dimengerti. Namun, dikarenakan aku yang masih pemula, aku diminta untuk memilih berita yang hendak kutulis terlebih dahulu. Tim riset akan menunjukkan satu per satu berita terbaru yang mereka temukan, serta membacakan ringkasan berita tersebut padaku untuk kutentukan apakah berita tersebut menarik apabila ditaruh di akun Instagram Tellmenews Indonesia.

Setibanya di kantor, aku pun disapa oleh rekan-rekan kerjaku di bagian riset. Aku membalas sapaan mereka satu per satu: ada Putri, Nur, dan Rendi. Selain itu, di ruangan yang sama juga ada Ericko, rekan kerjaku yang juga merupakan seorang penulis berita. Bedanya, dia sudah bekerja di kantor ini selama setengah tahun. Ia sama sekali tak mengacuhkan kedatanganku sebab sedang fokus menulis berita.

Aku pun duduk di meja kerjaku, dan menyalakan komputer. Setelah basa-basi sedikit dengan rekan-rekan di tim riset, mereka kemudian menghampiriku untuk menyampaikan berita-berita yang mereka temukan.

Putri mulai membacakan berita pertama: “Seorang Anak Pejabat Diduga Aniaya Pacar hingga Tewas di Surabaya.

Seketika, bibirku yang awalnya melengkung ke atas menjadi lurus, dan alisku yang awalnya naik mejadi turun.

“Seorang perempuan janda 29 tahun, beranak satu, tewas diduga usai dianiaya di salah satu klub malam di Surabaya oleh kekasihnya sendiri yang merupakan anak anggota DPR RI. Sebelumnya, mereka terlibat cekcok satu sama lain. Diduga, pelaku kemudian menendang korban hingga terjatuh. Tak sampai di situ saja, pelaku juga memukul korban dengan botol kaca tequila, dan melindasnya dengan menggunakan mobil hingga terseret sejauh lima meter.”

Mendengar hal sekejam itu, aku langsung terkaku layaknya sebuah patung.

“Setelah itu, pelaku lalu membawa korban ke apartemen dengan menggunakan mobil. Dari rekaman CCTV, terlihat kalau pelaku mengeluarkan korban dari mobil dengan menggunakan kursi roda, dan masih sempat-sempatnya tersenyum.”

Aku menaikkan alisku, “Serius? Orang macam apa itu?”

Putri lalu menunjukkan sebuah rekaman CCTV di ponselnya yang sama persis seperti yang disampaikannya: pelaku itu benar-benar tersenyum. Aku berdehem dan menelan ludahku.

Selanjutnya, Nur membacakan berita yang ia temukan: “Menolak Dipalak, Siswi SD di Gresik Ditusuk Matanya Menggunakan Tusuk Bakso oleh Seorang Kakak Kelas.”

Aku langsung bergidik, mulutku terbuka hingga gigiku terlihat.

“Korban merupakan seorang anak perempuan berusia 8 tahun, kelas 2 SD di Gresik. Saat ini, ia mengalami buta permanen akibat ulah kakak kelasnya yang mencolok matanya dengan menggunakan tusukan bakso, hanya karena korban menolak menyerahkan uangnya.

Saat hendak menyelidiki kasus ini, pihak keluarga merasa dipersulit oleh pihak sekolah, sebab kepala sekolah yang tidak mengizinkan untuk menunjukkan rekaman CCTV dan memilih untuk bungkam perihal kasus tersebut.”

Aku langsung mengernyitkan alisku, “Kenapa begitu?”

Nur hanya menaikkan bahunya, tetapi Rendi menyeletuk, “Denger-denger sih, pelakunya itu punya hubungan dengan kepala sekolah. Anaknya kalau nggak salah.”

“Jangan sok tahu lu! Ini gue yang riset lho,” ucap Nur sambil menyikut Rendi.

Berita-berita ini terasa sungguh menyayat hatiku. Padahal, baru dua berita yang mereka sampaikan. Aku pun menghela napasku dan berharap berita selanjutnya adalah berita yang menyenangkan.

Kecelakaan Maut di NTB Menewaskan Satu Keluarga.” ucap Rendi membacakan beritanya.

Aku sedikit tercengang dan semakin terkaku saat Rendi melanjutkan, “Sang Ibu Terseret Sejauh 4 Km.

Hatiku seolah nyaris terbelah.

“Terjadi tabrakan maut antara mobil truk jungkit dan sepeda motor di Nusa Tenggara Barat. Kecelakaan tersebut menewaskan tiga orang yang merupakan pasangan suami-istri beserta anaknya. Salah satu korban, yang merupakan sang ibu, tersangkut di kolong truk dan terseret sejauh 4 kilometer.

Saat kecelakaan berlangsung, truk langsung melaju. Diduga, sang supir melarikan diri karena takut diamuk warga, dan ia tak sadar ada korban yang tersangkut di kolong truk.”

Mataku langsung berkaca-kaca. Ingin sekali aku berteriak di depan mereka: “Berita macam apa ini!? Tolonglah, jangan sampaikan padaku berita buruk!”

“Oke, berita terakhir ini dari internasional,” ujar Putri. “Sebanyak Lebih dari 25.000 Warga Palestina Tewas akibat Serangan Israel di Gaza.

Putri lalu menunjukkan sebuah video di ponselnya. Terlihat video yang menampilkan warga-warga Palestina—yang mayoritas anak-anak—dikeluarkan dari reruntuhan bangunan. Tubuh mereka sangat kumuh, berlumuran debu dan darah. Salah seorang anak laki-laki menangis sambil memanggil-manggil nama seseorang.

Tak sampai sepuluh detik, aku langsung menjauhkan video tersebut dari pandanganku. Sungguh tak kuat rasanya menyaksikan video itu sampai habis.

“Jadi, Dit, gimana? Lu mau pilih berita yang mana nih?” tanya Putri. Aku hanya terdiam sambil masih membatu menutup mulutku. Kemudian, kutatap wajah mereka bertiga satu per satu yang menunggu jawabanku.

“Aku ke toilet dulu ya,” izinku seraya berdiri dan pergi meninggalkan mereka.

Di dalam toilet, aku duduk termenung di atas kloset yang tertutup. Semua berita buruk itu seolah teraduk-aduk di dalam pikiranku, berimbas menyayat-nyayat hatiku. Selama ini, setiap kali melihat berita buruk di media sosial, aku selalu memilih untuk tidak melanjutkan menyimak berita tersebut. Karena aku tahu, aku tak akan kuat.

Namun, ini adalah pekerjaanku. Aku harus menguatkan diriku demi dua orang yang tersisa di keluargaku.

Aku pun keluar dari toilet dan kembali ke meja kerjaku. Namun, sebelum aku sampai, Rendi datang menghampiriku dan memberitahu kalau berita-berita tadi sudah diambil oleh Ericko.

“Tenang aja, Dit. Just leave it to me. This is your first day, right?” ucap Ericko dengan santai seraya tos tangan mengepal denganku. Aku lalu tersenyum kikuk dan kembali ke meja kerjaku dengan sedikit perasaan kecewa pada diri sendiri.

Saat istirahat jam makan siang , aku menyempatkan diriku untuk menjemput Adinda pulang dari sekolah. Aku duduk di atas motor, menunggunya keluar dari kelas. Anak-anak yang lain sudah berkeluaran menemui orang tua mereka yang sedang menunggu. Tak lama, Adinda lalu tiba menghampiriku. Wajahnya cemberut dan matanya sinis menatapku.

Sepanjang jalan, ia hanya diam. Tak ada suara cerewetnya seperti hari-hari biasa. Sementara itu, aku terbesit terhadap berita tadi. Khawatir jika hal yang sama menimpa gadis kecil di belakangku ini. Hingga, saat sudah setengah jalan, gadis itu seketika bersuara:

“ABANG TOLOL!” Aku langsung mengernyitkan alisku. “Kenapa sih, Abang nggak nge-cas HP Ibu?” tanyanya dengan nada tinggi.

“Owh, pantesan dari tadi diam,” ucapku.

“Aku bosan tahu tadi di kelas! Semua teman-temanku pada main HP!”

“Ckckck,” responsku sambil menggeleng-gelengkan kepala, “anak jaman sekarang ya, udah gak bisa lepas dari yang namanya gadget.”

“Ya Abang, HP Ibu nggak di-cas! Aku kan jadi bosan!” Sudah mulai kecerewetan adikku ini keluar. “Tahu nggak, kalau bosan aku cuma ngapain? Main sama kucing di halaman sekolah!”

“Ya baguslah, kamu jadi peduli sama hewan.”

BRAK! Ia langsung memukul helmku dengan kencang.

“ADIN! GA BOLEH GITU!” teriakku, memperingatinya.

Ia memukul helmku sekali lagi lalu bertanya, “Kenapa sih, aku nggak dibeliin HP? Giliran Abang aja, punya HP, laptop! Aku? Satu pun nggak ada!”

“Kamu kan tahu kondisi keluarga kita saat ini gimana, Din. Lagipula Abang punya laptop itu buat kerja. Buat ngasih makan kamu, tahu nggak?!”

“Tapi setidaknya, Adin punya HP dong!”

“Kamu masih kecil. Ada kepentingan apa sih punya HP? Lagian itu ada HP Ibu.”

“Ishh!!” ucapnya geram sambil melipat tangan di dada. “Harusnya aku ikut Ayah aja waktu itu.”

“JANGAN KAMU SEBUT-SEBUT ORANG ITU!” teriakku. Kini, aku yang bernada tinggi.

“Mungkin dia bakal beliin aku HP.”

“Kamu mau ikut orang yang udah ninggalin kita demi wanita lain?” tanyaku, semakin kesal. “Ingat, Din! Dia dengan Ibu aja udah nggak peduli, apalagi dengan kamu!”

Adinda pun terdiam sepanjang sisa perjalanan menuju rumah sakit.

Setibanya di depan rumah sakit, ia langsung turun dari motor, berjalan menuju rumah sakit tanpa sedikit pun menolehku. Aku lalu memanggilnya untuk menyerahkan nasi padang yang sudah kubelikan untuknya tadi, serta uang untuk ia jajan. Ia lalu membalikkan badannya dan mengambil nasi padang serta uang tersebut dengan cepat tanpa melirik ke wajahku sedikit pun. Ia berjalan dengan kaki yang menghentak menuju rumah sakit. Sementara itu, aku memperhatikan dia dari atas motor, menghela napasku, dan menyalakan motorku untuk kembali ke kantor.

Semenjak Ayah pergi meninggalkan kami, akulah yang menjadi tulang punggung keluarga. Terutama sejak Ibu jatuh koma, akulah satu-satunya yang bisa diharapkan untuk membuat keluarga ini tetap bertahan. Maka dari itu, aku sangat bersyukur dengan pekerjaan baruku ini, dan sangat berharap bisa berjalan dengan lancar sebagaimana mestinya.

Sesampainya di kantor, Putri langsung memberitahuku bahwa aku dipanggil oleh Bos untuk ke ruangannya. Lantas, kuurungkan niatku untuk duduk di meja kerjaku dan melangkahkan kaki menuju ruang Bos. Untuk apa ia memanggilku? Apakah ini tentang aku yang tak menulis satu pun berita di hari pertama ini?

“Kenapa kamu nggak nulis satu pun berita?” tanya Bos di ruangannya. Kekhawatiranku ternyata benar.

Aku yang sudah duduk tepat di depannya lalu menjawab, “Maaf, Pak. Setelah ini, saya akan beru...”

Bos memotong ucapanku, “Enggak-enggak saya pengen tahu kenapa?

Aku terdiam.

“Kamu ini anak yang berbakat, Aditya. Ingat, alasan saya menerima kamu di posisi ini karena tulisan-tulisan kamu di Twitter yang bagus itu. Yang saya rasa cocok dengan tulisan di Tellmenews.”

Aku senang dengan pujian itu, tetapi sedihnya rasanya telah mengecewakan seseorang sebab tak mengandalkan kemampuanku seratus persen.

“Maaf, Pak,” ucapku, “Saya sebenarnya nggak tega baca berita-berita yang menyedihkan. Saya seolah ikut merasakan kesedihan yang menimpa mereka. Tapi, habis ini, saya akan berusaha mengesampingkan perasaan saya, Pak.”

Bos mengangguk-ngangguk dan merespons, “Saya mengerti. Saya juga pernah berada di posisi kamu dulu.”

Ia lalu mengeluarkan sesuatu dari laci mejanya dan menyerahkannya kepadaku: sebuah kartu nama terapi psikiater.

 “Mungkin ini bisa membantu kamu,” ucap Bos. Aku terdiam, menatap kartu tersebut.

Di hari petang, tepat saat azan magrib berkumandang, semua karyawan sudah keluar dari gedung kantor dan berjalan menuju parkiran. Aku sampai di sepeda motorku dan berdiri menatap kartu nama yang dikasih Bos. Apakah sepadan untuk mengeluarkan uang demi ini?

Tepat di sampingku, terlihat Putri yang sedang menelepon seseorang. Dari cara dia bicara, sepertinya ia sedang menelpon ibunya.

“Iya, Ma. Martabak? Mama kan baru sembuh, masa’ udah mau makan martabak. Yaudah, nanti Kakak beliin jeruk aja ya? Ya, waalaikum salam.” Putri menurunkan ponselnya lalu menolehku. Ia tersenyum dan memberitahu kalau ia baru saja menelepon ibunya.

Ia lalu menoleh Rendi yang berjalan menuju motornya sambil fokus menatap ponsel.

“Loh, HP lo baru, Ren?” tanya Putri.

“Lah, baru nyadar?” tanya balik Rendi.

“Ha’ah,” jawab Putri sambil memakai helm. “Terus HP lo yang lama ke mana?”

Rendi tiba di motornya dan mengambil helmnya, “Gue kasih ke adek gue.”

Aku yang masih memegang kartu nama kemudian menggelengkan kepalaku dan melempar kartu nama tersebut ke dalam laci motor. Putri pun pamit pulang padaku seraya memberiku semangat agar bisa bekerja dengan lancar besok. Rendi yang sudah naik di atas motornya lalu menghampiriku dan mengajakku untuk makan malam. Aku pun setuju.

Saat jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, aku tiba di rumah sakit. Di dalam kamar, terdapat Adinda yang sudah tertidur pulas di sofa dengan ponsel di dadanya. Aku lalu mengambil ponsel tersebut dengan perlahan dan menaruhnya di atas lemari kecil. Kemudian, kutatap Ibu yang masih saja tak bangun. Dokter Satono pernah berkata kalau biasanya orang koma karena kecelakaan itu akan siuman setelah satu bulan. Besok adalah tepat satu bulan Ibu menjalani rawat inap di sini. Kuharap perkataan Dokter Satono itu benar.

***

Keesokkan paginya, aku mengantar Adinda ke sekolahnya lagi. Kali ini, kesunyian menemani kami sepanjang jalan. Sepertinya ia masih marah padaku. Setibanya di sekolah, ia turun dari motor, dan bersalaman denganku tanpa menoleh sedikit pun. Aku memperhatikannya berjalan menuju kelasnya.

Dalam perjalanan menuju tempat kerja, aku meyakinkan hatiku untuk menguatkan diri dalam menerima berita-berita buruk. Sepanjang jalan, berulang kali aku berkata “Aku siap menerima berita buruk.”

Sesampainya di kantor, bukannya langsung duduk di meja kerja, aku malah beranjak ke toilet dan duduk di atas kloset. Aku membuka berita-berita buruk di Instagram Tellmenews Indonesia yang kemarin ditulis oleh Ericko. Perlahan kubaca satu demi satu berita, satu demi satu kata. Mataku sedikit berkaca-kaca, tetapi aku yakin hatiku perlahan membangun sebuah benteng untuk menghadang panah-panah empati yang datang.

Saat semua berita buruk sudah kubaca, semua rasa prihatin sudah kusisihkan terlebih dahulu, aku pun berdiri dengan tegak. Sekarang, aku siap menerima berita-berita buruk.

Aku melangkahkan kedua kakiku dengan mantap menuju meja kerjaku. Duduk dengan hati yang siap dan yakin. Ketiga rekan kerjaku datang menghampiri dan mulai membacakan berita-berita terbaru yang mereka temukan.

“Berita pertama ini datang dari kalangan artis,” ucap Putri. “Penyanyi Ditto Harmono Bebas dari Rehabilitasi.

Aku menaikkan alisku. Berita yang bagus.

“Usai ditetapkan sebagai tersangka penggunaan zat-zat terlarang, Ditto Harmono pun mulai menjalani rehabilitasi selama 6 bulan sejak April lalu. Musisi Indonesia bergenre pop-jazz ini baru-baru ini mengumumkan bahwa ia selesai menjalani masa rehabilitasinya melalui akun Instagram pribadinya.”

“Wih.. Gue suka tuh lagu-lagunya. Bebas juga dia akhirnya,” sahut Rendi.

Nur mulai membacakan berita selanjutnya: “Aktor Dery Firmansyah dan Aktris Miya Zahrona Menggelar Acara Pernikahan Mereka di Bali.

Aku tersenyum dan sedikit mengangguk.

“Setelah selesai melaksanakan akad nikah pada bulan Agustus lalu, pasangan Dery-Miya menggelar resepsi pernikahan mereka pada bulan Oktober ini di Bali. Banyak publik figur yang diundang terutama para aktor-aktor terkenal yang kerap kali beradu akting dengan Dery maupun Miya. Selain itu, aktor tampan dan aktris cantik ini menggelar resepsi pernikahan mereka di sebuah pantai di Bali dengan view yang sangat memanjakan mata.”

“Wih.. Aktor favorit gue tuh. Akhirnya nikah juga,” sahut Rendi, lagi.

Putri kembali membacakan berita lain: “Film Budi Pekerti Tayang Perdana di Toronto International Film Festival.”

What? Satu lagi berita bagus?

“Film karya anak bangsa berjudul Budi Pekerti oleh sutradara Wregas Bhanuteja akan tayang di Toronto International Film Festival (TIFF), sebuah fetival film bergengsi di kancah internasional. Dalam festival ini, film Budi Pekerti masuk dalam program khusus yang memperkenalkan dan mengapresiasi karya pertama atau kedua dari para sutradara visioner terkenal. Salah satu sutradara yang karyanya pernah masuk ke dalam program ini adalah Christopher Nolan. Tahun ini, program Discovery menampilkan 26 film dari 25 negara, termasuk film Budi Pekerti.”

Rendi lalu memberikan tepuk tangan. “Gila. Sebagai orang Indonesia, saya bangga,” ucapnya.

“Lu nyaut-nyaut aja. Berita lu mana?” tanya Nur.

“Oh iya,” ucap Rendi, kemudian membacakan berita di ponselnya: “BTS ARMY Indonesia Galang Dana untuk Palestina hingga Mencapai Rp1M hanya dalam Waktu 4 Hari.

Perlahan, bibirku mulai melengkung ke atas. Ada apa dengan hari ini? Aku sudah siap dengan berita buruk, tetapi malah mendapatkan berita-berita yang menyenangkan. Sungguh di luar perkiraanku.

Tanpa kusadari, Rendi sudah selesai membacakan ringkasan beritanya. Mereka lalu terdiam dan menatapku.

“Udah?” tanyaku.

“Iya. Udah,” jawab Rendi.

“Gak ada berita buruk?”

Mereka menaikkan bahu mereka. “I think it’s a good day for the world,” ucap Putri. Perlahan, aku tersenyum dan mulai bekerja dengan memberitahu mereka berita apa saja yang ingin kutulis hari ini.

Berita-berita menyenangkan itu seolah mengubah hariku yang penuh kegelapan jadi bersinar terang. Seolah ada banyak bintang yang bertebaran di sekitar pundakku kala kurangkai kata-kata penuh rasa riang. Kata demi kata kurangkai, kalimat demi kalimat kususun. Semua berita pun telah selesai kutulis.

Aku merebahkan tubuhku di kursiku. Hari pertamaku menulis berita di sini. Semua rekan kerjaku tersenyum memandangku. Sungguh hari yang menyenangkan. Aku merasa bersinar sepanjang hari.

Hingga, tibalah saat jam istirahat. Aku hendak makan siang terlebih dahulu sebelum menjemput adikku. Namun, tiba-tiba, ponselku berdering: panggilan telepon dari Dokter Satono. Melihat layar ponsel, perasaanku seketika berubah: dari yang terang benderang, menjadi gelap penuh kekhawatiran.

Kuangkat telepon, “Ya, Dok?”

Dokter Satono lalu berbicara di telepon. Sekujur tubuhku seakan lemas seketika. Rekan-rekan kerjaku menatapku dengan tercengang. Mendengar ucapan dokter membuat hatiku seolah terbelah.

“Dit?” seru Putri.

Telepon lalu ditutup. Kutoleh ketiga rekan kerjaku dengan air mata yang menetes di pipiku, dan berkata pada mereka: “Aku harus ke rumah sakit.”

Di koridor rumah sakit aku berlari dengan tergesa-gesa. Terlihat Dokter Satono yang keluar dari sebuah ruangan. Aku menghampirinya dan mengintip ke dalam ruangan yang baru saja Dokter masuki. Di dalam, terlihat Adinda yang terbaring di atas kasur dengan kepalanya yang sudah diperban.

Saat Dokter Satono menelponku, ia berkata bahwa Adinda ditabrak oleh mobil pikap di depan sekolahnya. Menurut keterangan para saksi, ia berlari tanpa menoleh kanan-kiri demi menangkap seekor kucing.

Dokter Satono memegang pundak kananku. Aku lalu membalikkan badanku menghadapnya.

Sambil bercucuran air mata, aku memegang kedua bahunya dan berkata, “Saya nggak siap, Dok. Saya nggak siap!” Dokter menenangkanku dengan menepuk-nepuk pundakku. “Saya nggak siap menerima berita buruk, Dok. Ternyata saya nggak siap!”

Perlahan, Dokter Satono lalu memelukku dan mengelus-elus punggungku. Aku membasahi jas putihnya dengan air mata.

***

Aku masuk ke kamar rawat inap Ibu. Aku mendekatinya, berdiri tepat di samping kasurnya. Aku terus memperhatikan matanya yang tertutup kemudian perlahan terbuka. Aku pun tersenyum sambil meneteskan air mata dan memeluknya. Sebelumnya, Dokter Satono juga memberitahu bahwa Ibu sudah siuman.

Ibu lalu melepas pelukannya, memandangku seraya bertanya, “Mana Adin?”

Mendengar itu, aku hanya bisa merespons dengan senyuman.

Di dalam ingatanku, aku masuk ke dalam ruangan Adinda dan menghampirinya yang terbaring di atas kasur. Aku duduk tepat di sampingnya menatap matanya yang tertutup.

“Aku memang tolol. Aku tolol!” ucapku, kemudian menundukkan kepalaku, menempelkan wajah ke kasurnya. Aku terus mengatakan betapa tololnya diriku atas kegagalanku dalam menjaga keluarga yang tersisa.

Tiba-tiba terdengar suara lemah yang tak asing di telingaku. Ia tertawa sambil membenarkan perkataanku. Perlahan, kuangkat kepalaku dan melihat tepat di depanku: Adinda, yang telah tersenyum dan membuka matanya.

“Abang tolol,” ucapnya sambil tertawa. Dengan air mata yang masih membasahi wajah, aku pun ikut tertawa.

Di dalam ruangan yang remang itu, kami berdua tertawa bersama.


Komentar