Sebuah Cerita Pendek

Story by: Fidhil Rahyan

Aku duduk di depan laptopku, kemudian membukanya. Sembari menunggu laptopku menyala, aku memikirkan ingin menulis cerita apa.

Putus asa?

Sekarang, tidak juga.

Kesal?

Hhmm... Ya.

Sepertinya, aku sudah mendapatkan ide cerita.

Sepuluh jari pun mendarat di atas keyboard: menari-nari demi merangkai kata-kata. Aku mulai dengan menulis premis dari cerita pendek ini, menuangkan ide yang berasal dari kepalaku ke dalam bentuk tulisan di Microsoft Word. Selanjutnya, aku mulai mengembangkan premis tersebut menjadi plot atau alur cerita. Perlu waktu beberapa menit, hingga akhirnya aku selesai menulis alur cerita pendek ini.

Punggungku kaku, sehingga aku berdiri sebentar, dan beranjak ke dapur untuk menyeduh secangkir kopi.

Tak lama, aku kembali dari dapur dengan membawa secangkir kopi panas, dan kembali duduk di depan laptopku. Aku menghela napas, dan tersenyum tipis.

Siap untuk menulis sebuah cerita pendek.

***

Hari itu, upacara Senin, kepala sekolah kami menyampaikan bahwa SMP ini akan mengadakan berbagai macam lomba dalam memperingati bulan bahasa. Lomba-lombanya terdiri dari menyanyi, pidato, membaca puisi, melukis, hingga yang paling mengejutkanku: lomba menulis cerita pendek.

“Kamu mau ikut lomba apa, Fajar?” tanya Rino, teman dekatku. Tentu, aku seketika tahu jawabannya.

Sudah lama aku giat di bidang menulis cerita ini. Sejak kecil, ayahku sering sekali membelikanku buku cerita untuk kubaca, sehingga aku jadi terinspirasi untuk menulis cerita karangan sendiri. Di kelas 3 SD, aku sudah mulai menulis cerita pendek di buku tulis bergaris. Aku juga meminta orang tuaku membaca cerita pendek tersebut, tetapi mereka kesulitan membaca tulisanku yang seperti aksara jawa kuno.

Suatu hari, aku iseng menulis cerita pendek di komputer ayahku. Perlu waktu berjam-jam untukku menyelesaikan cerita pendek tersebut, sebab belum terbiasa menekan-nekan tombol penuh huruf ini. Hingga akhirnya cerpen yang kutulis di komputer tersebut selesai. Ayahku membacanya dan merasa bangga padaku. Menurutnya, aku bisa membuat cerita yang bagus layaknya penulis hebat.

Melihat bakatku, Ayah kemudian membelikanku sebuah laptop saat aku menduduki bangku sekolah menengah pertama. Aku pun mulai menulis berbagai macam cerita di laptop tersebut. Aku juga mencari ilmu-ilmu dalam menulis cerita: entah itu cerita pendek, novel, hingga naskah film. Semua kupelajari, sampai kurasa kemampuan menulisku sudah tak bisa diragukan lagi.

Tentu saja, lomba menulis cerita pendek di sekolah adalah kesempatan emas bagiku untuk menyalurkan bakatku. Namun, perkataan kepala sekolah membuatku sedikit ragu untuk ikut:

Lomba menulis cerita pendek ini, ditulis secara langsung pada saat perlombaan, dengan menggunakan bolpoin dan kertas folio bergaris.”

Yang benar saja, pakai tulis tangan? Akankah aku mengikuti lomba ini, sementara tulisan tanganku ini berantakan seperti goresan acak di tanah oleh seekor ayam yang buta?

“Aku aja kesulitan bacanya,” ucap Rino tentang kekhawatiranku.

“Jadi bagaimana ya? Aku harus ikut atau tidak?” tanyaku.

“Ya terserah. Aku mah ogah. Capek.”

Aku lalu mengalihkan pandanganku ke arah bangku di dekat jendela kelas. Terlihat Melinda, teman sekelasku, yang membicarakan perihal lomba bersama temannya.

“Aku mau ikut lomba apa ya?” tanya Melinda.

“Kamu ikut lomba menulis cerita pendek aja, Lin! Tulisan kamu kan bagus,” saran temannya.

“Tapi, aku gak tahu cara bikin cerita.”

Yaelah. Tulis aja cerita drakor yang kamu tonton. Yang penting kan tulisan kamu bagus.”

Melinda lalu berpikir, kemudian menjawab, “Iya juga ya. Ya udah, ikut deh.”

Loh? Bisa-bisanya.

“Aku ikut deh,” ucapku pada Rino.

“Selamat berjuang, dan siap-siap tangan pegal!” ujar Rino, memberikan semangat yang aneh.

Hari perlombaan pun tiba. Aku sudah duduk di ruangan, dengan kertas folio bergaris, sebuah pulpen, dan tipe-x di atas mejaku. Sebelum mulai, aku memperhatikan para siswa yang ikut lomba ini: mereka terlihat bingung. Bahkan, tak sedikit yang mengeluh dan pasrah sebab dipaksa ikut oleh ketua kelas. Aku tersenyum, merasa ada harapan yang tinggi. Mungkin hanya aku yang benar-benar tulus mengikuti lomba ini.

Aku pun bersiap menulis. Tak seperti mereka yang ada di dalam ruangan ini, aku mulai dengan memejamkan mata terlebih dahulu, mencoba mengingat premis dan alur cerita yang semalam sudah kurancang di rumah dengan menggunakan laptopku. Sebab, kedua hal tersebut merupakan tahapan awal dalam menulis sebuah cerita pendek.

Premis sebenarnya adalah inti cerita dalam satu atau dua kalimat singkat. Biasanya, rumusnya berupa karakter yang mempunyai tujuan, namun teradapat halangan. Sebagai contoh, cerita pendek yang akan kutulis ini karakternya adalah seorang anak SMP yang merasa memiliki kemampuan penyelidikan layaknya detektif. Tujuannya adalah membuktikan ke teman-temannya bahwa ia bisa menyelesaikan suatu kasus dengan mencoba menyelidiki kasus hilangnya uang kas kelas sebelah. Halangannya adalah kasus tersebut melibatkan nominal uang yang tidak diketahui oleh pemegang uang kas, dan harus dihitung terlebih dahulu, tetapi karakter utamanya ini sangat payah dalam hal matematika. Sehingga, premis dalam cerita ini adalah:

Seorang anak SMP ingin membuktikan bahwa ia bisa menjadi detektif dengan menyelidiki kasus pencurian uang kas di kelas sebelah. Namun, kasusnya melibatkan hitungan matematika dan ia sangat payah dalam hal itu.

Dari premis tersebut, dikembangkan lagi menjadi alur cerita atau plot. Di dalam cerita pendek, terdapat beberapa bagian alur cerita, yaitu orientasi, komplikasi, klimaks, dan resolusi. Orientasi adalah pengenalan karakter, latar, serta tujuan si karakter tersebut. Komplikasi adalah perjuangan atau petualangan karakter dalam mencapai tujuannya dengan menghadapi halangan atau masalah yang ada. Klimaks adalah keadaan saat si karakter utama berada di titik terendah atau tersulit, bisa karena masalahnya semakin memuncak atau terjadi hal buruk yang tak terduga. Terakhir, resolusi adalah bagian akhir dari cerita, saat masalahnya sudah selesai, atau langkah selanjutnya yang dilakukan si karakter utama setelah mendapat kesadaran terhadap sesuatu.

Aku mulai menulis bagian orientasi dari cerita pendekku ini:

Seorang anak SMP yang bernama Fikri, merasa dirinya ahli menyelidiki sesuatu layaknya seorang detektif. Ia suka membaca cerita-cerita detektif hingga menonton serial atau film detektif, sehingga ia terinspirasi ingin menjadi detektif. Ia juga belajar dari semua hiburan tersebut. Bahkan, ia membuktikan kehebatannya dengan berhasil menyelesaikan kasus-kasus yang ada di rumahnya, seperti hilangnya sendal ayah, misteri pencurian ikan di dapur, hingga motor kakaknya yang disabotase secara misterius. Seluruh keluarganya di rumah mengakui kehebatannya.

Hingga suatu hari, terdapat kasus hilangnya uang kas di kelas sebelah. Satu kelas heboh. Fikri pun berinisiatif untuk menyelidiki kasus tersebut. Ia bertanya kepada pemegang uang kas, yang bernama Rini, tentang berapa jumlah uang yang hilang. Rini lalu menjawab bahwa itu adalah hal yang rumit. Sebab uang kas dikumpulkan setiap seminggu sekali sebesar 2000 rupiah. Di minggu pertama, hanya terdapat seperempat siswa yang mengumpulkan uang kas. Di minggu kedua, sekitar tiga per empat siswa mengumpulkan uang kas. Di minggu ketiga, semuanya mengumpulkan uang kas bahkan ada tiga orang yang sudah melunasi untuk empat minggu ke depan. Di minggu terakhir sebelum uang kas tersebut hilang, hanya ada setengah siswa yang mengumpulkan uang kas. Fikri yang payah dalam matematika hanya bisa tercengang mendengar jawaban itu.

Kira-kira seperti itulah bagian orientasi yang kutulis di laptopku. Aku pun menulis cerita pendek berdasarkan bagian orientasi tersebut. Tentunya, akan lebih detail dan panjang ketimbang itu.

Selanjutnya, masuk ke bagian komplikasi:

Fikri mengesampingkan terlebih dahulu perihal hitungan matematika ini dan menanyakan tentang catatan kas. Namun, Rini berkata kalau catatannya juga ikut hilang. Sehingga saat ini, ia benar-benar tidak tahu berapa nominal uang kas yang hilang. Objektif utama Fikri dalam kasus ini adalah catatan uang kas beserta uang yang ada di dalamnya. Ia mulai penyelidikan dengan mendengarkan kronologi hilangnya uang kas tersebut dari Rini.

Selanjutnya, ia mulai menginterogasi orang-orang yang mencurigakan, seperti teman sebangku Rini, anak ternakal di kelas, orang yang sepertinya memiliki dendam dengan Rini, hingga siswa yang tidak pernah membayar uang kas. Namun, semua tersangka yang ia interogasi seperti menyembunyikan sesuatu, sehingga membuat Fikri jadi bingung.

Masalah jadi semakin bertambah saat terdapat orang lain dari kelas Rini yang juga ikut menyelidiki kasus ini. Orang itu bernama, Meldy. Fikri merasa tersaingi dengan Meldy, apalagi ia merupakan siswa tertampan di kelas, sementara Rini merupakan siswi tercantik. Ditambah lagi, ada rumor yang mengatakan kalau mereka saling suka satu sama lain. Walaupun saat penyelidikan, Fikri memperhatikan Meldy yang sama sekali tidak masuk akal dalam menganalisa kasus tersebut melalui bukti-bukti yang ada. Pendapatnya seolah berbanding terbalik dengan Fikri yang cukup rasional. Hal tersebut membuat Fikri tidak menyerah dalam kasus tersebut dan tetap melanjutkannya.

Berikutnya, bagian klimaks. Biasanya, terdapat plot twist atau alur yang tidak terduga di bagian ini:

Fikri semakin kesal ketika Rini sepenuhnya mendengarkan perkataan Meldy ketimbang dirinya. Bahkan, teman-teman sekelasnya mendukung pendapat Meldy. Fikri yang semakin kesal lalu keluar dari kelas tersebut sebentar. Hingga ia dikejutkan dengan teman-teman sekelas Rini yang ternyata sengaja menyembunyikan uang kas tersebut. Sebab, hari itu adalah hari ulang tahun Rini.

Aku tersenyum menulis bagian klimaks ini. Menurutku, bagian ini cukup tak terduga bagi para pembaca, sehingga akan meningkatkan kualitas cerita pendek ini.

Masuk ke bagian terakhir, resolusi:

Fikri mendapat kejelasan dari teman sekelas Rini. Ia merasa sedikit malu atas koar-koarnya sebagai anak yang berusaha menjadi detektif. Ia lalu berniat minta maaf dan menjelaskan segalanya ke teman-teman sekelas Rini. Namun, mereka tengah asyik berbahagia dengan kejutan ulang tahun Rini, sementara Fikri sama sekali tak dipedulikan.

Fikri pun kembali ke kelasnya dan merasa sedikit putus asa terhadap perjuangannya dalam menjadi detektif. Ia bersedih sepanjang sisa waktu pelajaran di kelas hari itu. Hingga, saat pulang sekolah, salah seorang temannya memberitahu kalau botol air minumnya hilang. Awalnya, ia tak mau mengatasi masalah tersebut, tetapi setelah berpikir panjang, ia mulai menyelidiki kasus baru tersebut.

Cerita pun berakhir.

Aku bersandar di bangkuku, meregangkan tubuhku dari segala rasa pegal menulis cerita pendek ini di atas kertas. Pengawas lomba lalu menghampiriku, kemudian memperhatikan tulisanku di kertas folio.

“Buset. Ini tulisan apa tanda tangan?” ujar si pengawas.

Aku hanya bisa menahan rasa kesalku, berharap juri yang menilai cerita pendekku tidak akan beranggapan hal yang sama.

“Sudah selesai?” tanyanya, kubalas dengan anggukan. “Judulnya mana?”

Hampir saja lupa. Hal terakhir dalam menulis cerita pendek yang biasa kulakukan adalah menentukan judul. Walaupun sah-sah saja apabila judul sudah ditentukan sebelum cerita pendek ditulis.

Aku berpikir sekejap, kemudian menuliskan judul di bagian paling atas kertas folio ini: Sebuah Kasus.

Saat keluar dari ruangan lomba, terlihat orang-orang dari ruangan tersebut yang pusing dan mengeluh usai mengikuti lomba. Bahkan, tak sedikit yang bilang kalau mereka menulis cerita secara asal. Melinda sendiri berkata padaku kalau ia diam-diam menuliskan cerita dari serial drama Korea yang ia tonton tempo hari. Aku mempertanyakan tentang keabsahan dalam melakukan hal itu, tetapi Melinda berkata kalau ia sedikit memodifikasi cerita dari drama Korea terebut. Saya ulangi. Se-di-kit.

Aku juga bertanya pada peserta lainnya, dan sejauh yang kutahu, tak ada yang benar-benar mengerti perihal menulis cerita pendek. Sehingga, aku bisa berjalan dengan senyuman indah, yakin bahwa diriku akan memenangkan lomba yang menjadi impianku ini.

Seminggu kemudian, tepat saat upacara Senin, kepala sekolah berdiri di depan seluruh siswa, mengumumkan para pemenang lomba dari kegiatan bulan bahasa hari itu. Dimulai dari lomba menyanyi. Kepala sekolah mengumumkan juara 3, 2, dan 1, serta memanggil para juara tersebut untuk maju ke depan. Mereka menerima piagam dan hadiah berupa uang tunai berkisar antara 40 hingga 100 ribu. Seluruh siswa memberikan tepuk tangan kepada para juara.

Selanjutnya, kepala sekolah mengumumkan lomba-lomba yang lain. Aku semakin deg-degan.

Tibalah saat ia mengumumkan pemenang lomba menulis cerita pendek. Aku  menggenggam kedua tanganku, berharap bisa menjadi juara. Ia mulai mengumumkan juara tiga, yang jatuh kepada seorang siswi perempuan dari kelas 7. Aku mulai mengernyitkan alisku. Aku ingat kalau siswi inilah yang mengeluh sebab dipaksa ikut oleh ketua kelasnya. Tapi, aku tidak begitu mempermasalahkannya, mengingat itu juara tiga. Lanjut juara dua, yang jatuh kepada siswi kelas sebelah. Aku semakin heran, sebab aku juga ingat kalau siswi inilah yang berkata kalau ia menulis ceritanya secara asal. Namun, aku mencoba untuk tetap berprasangka baik. Mungkin saja ceritanya sangat bagus walau ditulis secara asal.

Tibalah di pengumuman juara pertama: “Dan juara satu lomba menulis cerita pendek, jatuh kepada....”

Jantungku berdegup kencang. Rino menggoyang-goyangkan kedua pundakku, yakin namaku akan disebut. Aku hanya tersenyum, menanti jawaban dari kepala sekolah.

 “Selamat kepada......

Melinda!”

Senyum di wajahku seketika hilang. Melinda maju ke depan, menyertai para pemenang lomba yang lain. Sementara itu, aku terkaku: tercengang sambil memegang kepalaku dengan kedua tangan. Aku sama sekali tidak mengerti mengapa hal ini bisa terjadi. Melinda dan kedua pemenang lomba menerima piagam dan hadiah dari para guru, disertai pujian dari kepala sekolah yang berkata kalau mereka bertiga memiliki tulisan yang indah.

“Sabar ya, Jar,” ucap Rino sambil menepuk pundakku.

Aku mencoba menutupi kesedihanku dengan berkata “tidak apa-apa” dan tertawa kecil. Walaupun sebenarnya, mataku berkaca-kaca kala melihat para pemenang di depan sana.

Hari-hari berikutnya kuhabiskan dengan sedikit putus asa dan mencoba introspeksi diri: Apa yang kurang dari ceritaku? Apa yang dinilai dari lomba tersebut? Apa semua ini adil?

Aku seolah meragukan bakatku dalam menulis cerita, membuatku resah dan gelisah, hingga mempengaruhi kegiatan belajar di kelas. Rino yang sadar akan hal itu lalu mencoba memberiku semangat dan kata-kata penenang, seperti “Lombanya gak adil,” atau “Padahal ceritamu itu bagus lho, Fajar!”

Saat pulang sekolah, Rino datang menghampiriku dan menunjukkan poster lomba menulis cerita pendek secara online. Ia berkata kalau lomba menulis cerita pendek ini tidak dengan tulisan tangan, melainkan diketik dan dikirim dalam bentuk file dokumen.

“Hm,” balasku.

“Mau ikut gak?” tanya Rino. “Lumayan lho, hadiahnya empat juta. Berbanding jauh dengan hadiah lomba di sekolah waktu itu. Tapi, deadline-nya besok nih.” Aku pun pasrah dan menyuruhnya untuk mengirimkan saja poster tersebut kepadaku.

Saat tiba di rumah, aku hanya baring di atas tempat tidurku, menatap poster lomba tersebut di layar ponselku. Aku lalu terdiam sebentar, menatap langit-langit kamarku. Kemudian, aku  memejamkan mata, dan menghela napas panjang. Aku bangkit dari tempat tidur, memantapkan hatiku untuk mengikuti lomba cerita pendek ini.

Aku duduk di depan laptopku, kemudian membukanya. Sembari menunggu laptopku menyala, aku memikirkan ingin menulis cerita apa.

Putus asa?

Sekarang, tidak juga.

Kesal?

Hhmm... Ya.

Sepertinya, aku sudah mendapatkan ide cerita.

Sepuluh jari pun mendarat di atas keyboard: menari-nari demi merangkai kata-kata. Aku mulai dengan menulis premis dari cerita pendek ini. Selanjutnya, aku mulai mengembangkan premis tersebut menjadi plot atau alur cerita. Perlu waktu beberapa menit, hingga akhirnya aku selesai menulis alur cerita pendek ini.

Punggungku kaku, sehingga aku berdiri sebentar, dan beranjak ke dapur untuk menyeduh secangkir kopi.

Tak lama, aku kembali dari dapur dengan membawa secangkir kopi panas, dan kembali duduk di depan laptopku. Aku menghela napas, dan tersenyum tipis. Siap untuk menulis sebuah cerita pendek.

***

Cerita pun berakhir.

Aku bersandar di kursiku, meregangkan tubuhku dari segala rasa pegal menulis cerita pendek ini di laptop. Kutoleh secangkir kopiku yang kini sudah kering, sebab sudah habis beberapa jam yang lalu ketika aku menulis.

Tak terasa, hari sudah malam. Cerita pendek untuk lomba menulis cerita pendek secara online sudah selesai kutulis. Aku lalu mengambil ponselku dan menelpon Rino untuk mengucapkan terima kasih kepadanya karena telah menawarkanku lomba ini. Tak lupa, aku juga minta izin kepadanya perihal karakternya yang kutulis di cerita pendek ini.

“Kenapa ada gue? Memangnya ceritanya tentang apa?” tanya Rino saat kutelepon.

Aku pun menjelaskan, “Tentang anak SMP yang ingin menyalurkan bakatnya mengarang cerita dengan mengikuti lomba menulis cerpen yang diadakan di sekolahnya. Tapi, lomba tersebut mengharuskan pesertanya menulis dengan tangan mereka, sementara tulisan tangan anak SMP ini jelek.”

“Buset. Itu mah kisah nyata,” balas Rino.

Aku lalu tertawa seraya bertanya, “Ya, boleh gak karakter lu ada di cerpen ini?”

“Ya udah, boleh. Tapi kalau menang, bagi-bagi!” ucap Rino, membuatku tertawa. “Judulnya apa?”

Aku lalu bepikir sekejap. Kemudian, kutaruh kedua tanganku di atas keyboard laptop, dan mulai menulis judul cerita pendek ini: Sebuah Cerita Pendek.

Komentar