Meneduh
Story by: Fidhil Rahyan
Langit malam sudah bergemuruh. Mengalahkan suara riuh kendaraan di
perhentian lampu merah.
Di sinilah aku. Sendiri. Berdesakan bersama pengendara lain menunggu lampu
hijau menyala. Dua puluh detik lagi. Namun, ada saja orang-orang yang tidak
berteman baik dengan kesabaran. Mereka berdiri di atas, bahkan di depan zebra cross. Muak rasanya. Apa yang menanti
mereka atau mereka nantikan di tempat tujuan, sampai rela melanggar peraturan
agar bisa segera tiba?
Lampu hijau. Mereka memelesat pergi. Klakson tak sabaran sudah berbunyi di
belakangku. Mereka mungkin orang-orang yang gagal menempati zebra cross di depan.
Aku pun lanjut berkendara, pulang menuju kamar kosku yang sempit. Nasib
seorang perantau. Hanya mahasiswa dari desa nan jauh. Tak ada keluarga di kota
ini. Hanya teman. Malam ini, aku baru saja pulang dari rumahnya, mengerjakan
tugas kelompok sejak pukul tiga sore. Padahal, seharusnya mulai pukul dua,
tetapi apalah daya, semua pada telat.
Tik. Setetes air jatuh di atas pipiku kala kaca
helmku terbuka. Langit mulai terus-terang pada niatnya. Perlahan satu tetes itu
mulai membanyak, dan berubah menjadi rintik. Kurasai hujan dengan telapak
tangan kiriku yang menadah. Perlahan rintik mulai mempercepat jatuhnya. Pipiku
terasa dijatuhi banyak jarum, sehingga kuturunkan kaca helmku.
Masih berjuang menerobos hujan yang perlahan menjadi deras. Aku segera
mencari tempat berteduh. Kuikuti dua buah motor di depanku yang perlahan menepi
dan singgah ke sebuah ruko yang sudah tutup.
Aku turun dari kendaraanku, sedikit menyapu basah di hoodie hijau tuaku. Dua orang yang datang bersamaku lalu melepas
helm mereka, terlihat wajah seorang bapak-bapak berkumis tebal dan pria dewasa
berkacamata.
Aku ikut melepas helm, terlihat beberapa orang yang sudah ada di ruko ini.
Ada sepasang kekasih muda yang sepertinya baru pacaran, duduk berdampingan di
atas sebuah motor. Sepasang suami-istri beserta anak laki-lakinya yang
digendong oleh sang istri. Dan seorang pria gemuk yang sedang mengenakan jas
hujan.
Kali ini, langit menyatukan beberapa orang di sebuah tempat, untuk meneduh.
Aku membuka jok motor. Kosong. Aku lupa membawa jas hujan. Sepertinya masih
menggelepai pada tali jemuran depan kos.
Pria berkacamata juga ikut membuka jok motornya. Beruntung, ia membawa jas
hujan.
Saat kututup jok motorku, terlihat dari kejauhan seorang perempuan berlari
ke arah ruko ini, dengan membawa tas ransel di punggungnya. Ia ikut meneduh di
ruko, menyapu badannya dari basah kala ia tiba. Dari perawakannya yang kecil,
sepertinya ia masih SMA. Mungkin baru pulang dari kerja kelompok rumah
temannya.
Si pria gemuk dan pria berkacamata sudah mengenakan jas hujan mereka.
Mereka lalu lanjut berkendara, menerobos hujan, meninggalkan orang-orang yang
tersisa di ruko ini tanpa kepedulian sedikit pun. Tentu saja.
Aku berdiri tepat di tengah orang-orang ini. Menatap hujan deras di depan
kami, yang menghentikan perjalanan untuk sementara.
Di tengah hujan deras, muncullah sesosok lelaki seumuranku, yang juga ikut
meneduh di ruko ini. Ia turun dari motornya dengan basah kuyup. Kasihan sekali
peneduh terlambat ini. Bahkan wajahnya penuh dengan gusar, selain dipenuhi air
hujan. Ia segera mengeluarkan ponselnya dari saku, mengelapnya sedikit, dan
mengetik sesuatu.
Lalu, ia berdecak kesal. Ia taruh ponsel di atas jok motornya, dan
mengeluarkan sekotak rokok dari balik jaket cokelatnya. Ia menyulut sebatang
rokok, mengisapnya dengan dalam, dan menghembuskannya. Asap rokok membubung
tinggi, mengenai sepasang suami-istri dan anaknya.
Sang suami menyapu asap yang mengenai anaknya dan menegur lelaki tersebut,
“Jangan rokok dekat sini, Dek! Kena anak saya.”
Lelaki perokok itu melirik si anak yang digendong oleh ibunya, kemudian ia
berjalan menjauh ke tepi kanan ruko, menikmati rokoknya di sana, sambil
sesekali mengecek ponsel.
Sepasang suami-istri itu pun bisa bernapas lega. Namun, si anak tiba-tiba
rewel. Sang istri mencoba menenangkannya dengan menimangnya. “Aduh, Pah. Si
Adek kedinginan nih,” ucap si istri.
“Iya, iya, yang sabar yaaa,” balas si suami, sambil memainkan ponselnya.
Sepertinya ia sedang mengurus sesuatu di ponselnya atau mungkin mencari solusi
dengan ponselnya.
“Kenapa anaknya?” tanya si bapak-bapak berkumis kepada sang suami.
“Demam,” jawab si suami, singkat, dengan mata yang masih tidak berpaling
dari ponselnya.
Si bapak-bapak berkumis lalu mengangguk-ngangguk. Sepertinya rada sungkan
untuk melanjutkan bicara.
“SIAL!” teriak lelaki dari arah kananku. Semua yang meneduh seketika
menoleh ke tepi kanan ruko. Lelaki perokok itu. Ia terlihat panik sambil
menatap ponselnya. Setelah mengeluarkan berbagai kata umpatan, ia lalu menaruh
ponselnya di telinga. “Iya, Bos. Halo? Maaf ya, Bos. Ma-aaaaf banget!”
Sepertinya, ia sedang bermasalah dengan pekerjaannya.
“Iya, Bos. Saya tahu ini salah saya. Tapi, saya mohon, Bos... jangan potong
gaji saya.”
Bukannya aku sengaja menguping permasalahannya, dia saja yang berbicara sangat
nyaring. Mungkin agar suaranya tak kalah oleh deras hujan.
“Saya janji gak akan telat. Ta..tapi...”
Satu per satu orang memalingkan wajah mereka dari lelaki tersebut. Namun,
tidak denganku. Aku masih memperhatikannya.
“Baik, Bos. Siap!” Telepon ditutup. Ia turunkan ponselnya dari kuping, dan
kembali mengisap rokoknya. Setelah menghembuskan asap dari mulut, ia tatap
puntung rokoknya yang masih panjang itu. Lalu, ia hempaskan rokok tersebut,
mendarat di atas genangan air, diterpa oleh deras hujan.
Ia langkahkan kakinya menuju motornya, naik, dan ia pakai helm. Motor ia
nyalakan, dan terdiam sejenak menatap hujan yang masih sangat deras. Lampu
depan motornya menyoroti tetes demi tetes hujan yang turun dengan kencang.
Ia menghela napasnya sekejap, menggeleng-gelengkan kepalanya, dan pergi
dari ruko ini. Menerobos deras. Tak peduli dengan basah kuyup yang menyelimuti
dirinya saat tiba di tempat tujuannya nanti.
Kami terheran menatapnya.
“Widih. Giilaaa!” ucap seorang cowok dari sepasang kekasih yang duduk berdampingan
di atas sebuah motor. “Sayang. Kalau kamu sedang ada masalah di rumahmu, terus
kamu butuh aku di sampingmu. Aku akan rela menerobos hujan kayak gitu, Sayang.”
Ceweknya tersenyum. “Oowwwhh.
Bisa aja kamu, Yang,” balasnya sambil mencolek hidung si cowok. Aku hanya bisa
memutar bola mataku bila melihat pemandangan seperti itu. Bukan melulu karena
kemesraan mereka, tetapi karena si cowok yang memanfaatkan kesulitan orang lain
untuk kisah romansanya.
Pandanganku kemudian teralihkan ke anak SMA di depan kananku. Ia sedang
menerima sebuah telepon, “Iya, Pah?”
Pasti ayahnya.
“Shelyn kehujanan, Pah. Ini lagi neduh.”
Namanya sesuai dengan wajahnya yang putih mulus: keturunan Tionghoa. Sama
seperti sepasang suami-istri beserta anaknya di depan kiriku ini.
Si Perempuan Shelyn ini lalu menoleh ke arah belakang. Sedikit melirikku,
lalu mendongak ke atas. Ia kembali menatap ke depan dan bicara ke telepon. “Di
toko listrik bekas Koh Ajung, Pah. Yang udah tutup itu.”
Aku memandang teras ruko ini. Jadi, ini dulu toko listrik. Kenapa tutup ya?
Padahal, listrik itu penting di era modern ini. Ah, sudahlah. Peduli apa aku.
“Iya, Pah,” ucap Si Shelyn, sebelum ia turunkan ponsel dari telinganya.
Dering telepon berbunyi. Kali ini dari arah kananku: si bapak-bapak
berkumis. “Waalaikum salam. Kenapa, Seng?”
ucapnya. Pada beberapa orang, panggilan sayang
dapat terdengar seperti seng.
Bapak ini mengenakan jaket hitam seperti bapak-bapak pada umumnya. Kumisnya
masih basah terkena hujan bagai rumput di pagi hari.
“Iya. Ini lagi neduh. Dekat kok. Bentar lagi juga reda nih.”
Hujan sederas ini? Sepertinya masih lama redanya.
“Eca? Eca belum tidur?”
Sepertinya anaknya.
“Waduh, Ayah kehujanan, Sayaang. Eca yang sabar ya. Bentar lagi reda kok.”
Terlihat sekantong plastik di tangan bapak-bapak ini. Sebuah kotak. Aku tak
yakin apa itu. Sementara di gantungan motornya tergantung beberapa kantong
plastik. Belanjaan. Ada beberapa bungkus nasi padang, buah jeruk, dan beberapa
bahan masakan.
Si bapak-bapak tertawa, “Jadi, Eca nungguin Ayah apa mainan nih?” Lalu
terdengar samar-samar suara teriakan melengking anak kecil dari ponsel
bapak-bapak itu.
Ternyata, di tangan kirinya itu merupakan sebuah mainan untuk anak
perempuannya. Aku tak tahu pasti apa itu. Mungkin boneka barbie atau mainan masak-masak.
“Iya. Eca tunggu yaaa. Assalamualaikuum.” Telepon dimatikan.
“Hahahaha.” Terdengar suara tawa dari arah kiriku. Sepasang kekasih itu.
Mereka masih saja bermesra-mesraan di atas sebuah motor. Duduk menyamping di
atas jok motor, saling berdempet.
Si cowok melepas jaketnya, lalu ia pasangkan di badan si cewek. Sebuah
tindakan klise yang sering kali ditemukan di adegan film-film romantis. Aku
yakin, si cowok ini pernah mengelap noda di mulut si cewek saat kencan makan
malam, juga minta maaf ke si cewek padahal dia enggak salah. Sungguh tipikal
pacaran anak muda.
“Suasananya enak banget ya, Sayang. Sejuk gitu,” ucap si cewek.
“Iya,” balas si cowok. Sepertinya hanya mereka yang beranggapan demikian di
antara semua orang ini.
“Aku ngebayangin, kalo kamu nembak aku di situasi seperti ini sebulan lalu.
Pasti so sweet banget ‘kan, Yang?”
“Yang itu juga so sweet kok.”
“Hidih, apaan? Orang kamu ngomongnya aja gelagapan waktu itu.”
Si cowok tertawa, “Kamu ini, Sayang.” Ia mencolek hidung kekasihnya, lalu
merangkulnya.
Mereka lalu saling berpegangan tangan. Aku segera memalingkan wajahku, dan
tak lupa memutar bola mataku seperti sebelumnya.
Sementara itu, sepasang suami-istri masih terlihat khawatir terhadap anak
mereka. Apalagi si istri. “Papah. Gimana?” tanya dia.
“Sabar ya, Mah. Ini, GoCar-nya, katanya sebentar lagi sampe.” Sang suami
sesekali mengecek ponselnya, juga menengok ke arah jalanan. Ponsel, jalanan,
ponsel, jalanan. Ia tak kunjung diam. Ia juga mendekati anaknya yang masih
digendong oleh sang istri. Menyentuh kening, lalu mengusap kepala sang anak.
Sebuah mobil lalu tiba di depan ruko. Perlahan mobil itu mendekat dan
berhenti tepat di depan ruko. Sang suami menghampiri mobil dan si pengemudi
menurunkan kaca mobilnya. “GoCar ya, Pak?” tanya si suami.
Si pengemudi melambaikan tangannya, tanda untuk jawaban bukan. Ia lalu menoleh si anak SMA,
Shelyn, seraya memanggil namanya. Si Shelyn bergegas menuju mobil, membuka
pintu, dan masuk ke dalam. Si pengemudi tersenyum dan sedikit menundukkan
kepalanya kepada si suami itu, sebelum beranjak pergi dari ruko ini.
Si suami kembali ke tempat berteduh dengan kondisi pakaian yang sudah agak
basah. Ia kembali mengecek ponselnya dan mengetik sesuatu. Sementara, sang istri
masih mencoba menenangkan anaknya, sambil menutupi rasa kecewa terhadap harapan
palsu barusan.
Tak lama setelah itu, tibalah sebuah mobil lainnya. Kali ini, sang suami
sangat yakin itu taksi online yang
mereka tunggu. Mobil itu berhenti tepat di depan ruko dan menurunkan kaca
mobilnya. “Maaf, Pak. Tadi saya nyasar ke ruko sebelah,” ucap si pengemudi.
Tanpa menghiraukan perkataan pengemudi tersebut, si suami langsung
membukakan pintu belakang mobil untuk anak-istrinya. Setelah mereka berdua
masuk, sang suami menutup pintu mobil tersebut dan segera kembali ke tempat
berteduh.
Ia berjalan menuju motornya, menatap mobil tersebut yang perlahan pergi
meninggalkan ruko ini. Wajahnya terlihat lega. Ekspresi yang sama saat seorang
siswa dinyatakan lulus sekolah, atau saat seorang karyawan baru saja menerima
gaji bulanan.
Satu per satu kutoleh orang-orang di sekitar. Sepasang kekasih itu. Si
cewek terlihat terenyuh, sementara si cowok hanya terdiam datar. Bapak-bapak
berkumis tersenyum tipis, lalu menatap mainan anaknya lamat-lamat.
“Sayang. Kalo kita udah nikah nanti, kamu bakal kayak gitu nggak?” tanya si
cewek kepada cowoknya.
Si cowok malah tersenyum kikuk, lalu menjawab, “Oh, te..tentu saja, Sayang.
Aku akan rela melakukan apa saja demi kamu. Aku akan... selamanya terus berada
di dekat kamu, Sayang.”
Yaelah. Sok-sok-an, ucapku dalam hati. Sebab, aku pribadi
kurang percaya dengan kata-kata. Aku lebih percaya dengan aksi nyata, seperti
yang dilakukan si suami ini kepada anak-istrinya.
Sekarang, si suami ini tengah membuka jok motornya, mengeluarkan sebuah jas
hujan. Hanya satu. Itulah sebabnya mereka tak bisa menerobos hujan deras ini.
Selain karena anak mereka sedang demam.
Jas hujan telah dikenakan, ia langsung naik ke atas motornya,
menyalakannya, dan memelesat pergi dari ruko ini. Rasanya aku ingin memberikan
tepuk tangan kepada pria sejati yang rela kehujanan demi anak dan istrinya ini.
Walaupun sebenarnya ia bisa saja menunggu sampai hujannya reda.
***
Hujan sudah tak deras lagi. Walaupun tak rintik juga. Aku tahu pasti sebab
baru saja kurasai hujan dengan telapak tangan kananku yang menadah.
Supaya tidak basah kuyup, aku pun segera kembali meneduh, dan malah tak
sengaja menyenggol si bapak-bapak berkumis. Lebih tepatnya menyenggol tangan
kirinya yang memegang mainan untuk anaknya. “Maaf,” ucapku.
Ia tersenyum kepadaku dan berkata, “Gapapa.” Lalu, ia angkat dan memperhatikan
mainan itu.
Ragu rasanya bertanya tentang mainan itu. Seolah berat rasanya mulutku
untuk mengeluarkan sepatah kata.
Namun, si bapak-bapak ini seolah membaca pikiranku. Ia menunjukkan sebuah
mainan boneka yang bisa berbicara. “Ini cuma mainan buat anakku.”
Banyak opsi untuk menanggapi hal itu, tetapi aku malah berkata, “Widih.
Mahal loh itu, Pak. Saya lihat di mall-mall
harganya ratusan gitu.”
Si bapak-bapak berkumis pun tertawa. Ia lalu menatap mainan tersebut sambil
tersenyum, kemudian berkata “Ya, gapapalah. Sekali-sekali.” Ia menghela
napasnya sekejap. “Lagi pula, seseorang bisa jauh lebih berharga, daripada
barang semahal apa pun.”
Ucapan itu membuatku terenyuh, dan secara otomatis terukir senyuman di
wajahku.
“Kayaknya udah nggak begitu deras nih.” Bapak-bapak tersebut menadahkan
tangan kanannya pada hujan yang turun. Ia lalu membuka jok motornya dan
memasukkan mainan anaknya tersebut ke dalam. “Duluan ya,” ujarnya seraya
memakai helm. Ia lalu naik ke atas motor dan pergi meninggalkanku.
Agak heran rasanya, sebab hujan masih belum reda. Walaupun sudah tidak
sederas tadi, tetapi tetap saja ini dapat membuat pakaian basah kuyup saat tiba
di tempat tujuan.
Tersisalah aku dan sepasang kekasih yang masih saja anteng di atas motor
mereka. Seolah tak peduli hujan ini akan reda atau tidak. Sama halnya dengan
aku. Sebenarnya, aku juga tak begitu mempermasalahkan apabila perjalananku
menuju tempat tinggalku terhambat karena hujan. Tak ada yang kunanti di sana.
Tak ada yang menantikan juga. Tak ada alasan untukku segera kembali ke kosanku
yang sempit dan rada berantakan. Malah, aku cukup senang menikmati hujan di
ruko tutup ini. Terlepas dari sepasang kekasih yang asyik bermesraan di tepi
kiri sana.
Tak lama, hujan pun mereda. Menyisakan rintik. Aku naik ke atas motorku,
menyalakannya, dan pergi meninggalkan sepasang kekasih yang entah kapan mau
enyah dari situ.
Setibanya di kamar kos, aku langsung membersihkan diriku, kemudian
mengenakan baju tidur
Aku lalu berbaring di atas kasur. Hanya diam, menatap langit-langit kamar,
sementara pikiran melayang entah ke mana. Perlahan, terdengar suara hujan
mengenai genteng. Satu-dua tetes menjadi rintik. Rintik menjadi deras. Hujan
kembali mengguyur kota.
Sepertinya, langit kembali menyatukan beberapa orang di sebuah tempat,
untuk meneduh.
Komentar
Posting Komentar