Semua Orang di Dunia Ini Aneh

Story by: Fidhil Rahyan

“Dia itu aneh.” “Iya. Takut aku sama dia.” “Udah, gak usah peduliin dia! Gak usah temenin!” “Siapa juga yang mau temenan sama orang kayak gitu.” “Sumpah, freak banget tuh orang.” “Iya juga ya. Setelah kalian ngomong gitu, aku baru ngeh.”

Itulah perkataan teman-teman sekelasku tentang diriku. Kala itu, aku hendak menghampiri mereka di lorong, namun terhenti sebab tali sepatuku yang terlepas. Sehingga, aku mengikatnya sebentar seraya tak sengaja mendengar semua perkataan mereka tentangku di balik tembok koridor kampus.

Tadinya, aku ingin ikut mereka mengerjakan tugas bersama-sama di kafe langganan mereka. Namun, setelah apa yang kudengar, aku pun mengurungkan niatku. Seterusnya, tak ada sapaanku kepada mereka dengan tampang senyum palsu. Hanya membalikkan badanku, melangkah keluar dari gedung kampus, tanpa berpapasan dengan satu pun dari mereka.

Tiba aku di parkiran, langsung duduk di atas motorku. Sendirian. Merenungkan perihal kebiasaanku yang ternyata membuatku terlihat aneh di mata mereka. Seaneh itu sampai tak ada yang mau menerima, apalagi menganggapnya wajar.

“Namamu Ardit ‘kan?” tanya seorang pria tepat di sampingku, juga duduk di atas motornya. Aku tak menggubris pertanyaan darinya, hanya mengernyitkan alisku. “Aku sudah lama memperhatikanmu. Aku tahu kau dianggap aneh oleh teman-temanmu, dan hari ini kau baru menyadarinya.”

Alisku semakin mengerut. “Lu ngomong apa sih?” tanyaku tentang cara bicaranya yang aneh. Walaupun apa yang ia katakan itu benar.

Orang itu tersenyum sambil membetulkan posisi kacamatanya. “Aku berniat membantumu, Ardit.”

Tanpa beranjak dari atas motor, ia mengeluarkan kendaraannya itu dari parkiran. Memosisikan motornya tepat di belakangku yang masih terkaku di atas motor, mencerna kelakuannya.

Ia lalu menyerahkan sebuah kartu nama kepadaku. “Apa ini?” tanyaku.

Ia tersenyum lagi, “Supaya kamu tahu, bahwa kamu tidak sendiri.” Lantas ia memelesat pergi dengan motornya. Sungguh manusia yang aneh.

Tanpa terlalu memikirkan apa yang barusan terjadi, aku kembali fokus ke tujuan awalku: menyelesaikan tugas kuliah. Setelah tak jadi mengerjakan bersama teman-teman sekelasku itu, aku memutuskan untuk mengerjakannya sendiri di kuburan. Ya. Kuburan. Tempat yang menjadi penenang jiwa dan ragaku. Penghilang stres. Aroma khas kuburan membuatku tenang. Campuran tanah, pandan, dan berbagai macam bunga. Bahkan, aku memakai aroma parfum yang sama persis.

Aku heran dengan mereka yang menganggapku aneh. Ini hanyalah kebiasaanku. Hal yang kusukai. Apa salahnya dengan semua ini?

Setibanya di kuburan, aku menghampiri salah satu makam yang ditempatkan di dalam sebuah gazebo. Sepertinya dia orang penting atau sekadar orang kaya. Aku tak tahu dan tak terlalu menghiraukannya. Yang jelas, gazebo ini cukup luas dan berada di tengah-tengah area pemakaman. Di sinilah aku biasa menempatkan diri. Duduk dengan tenang, mengerjakan tugas atau sekadar menenangkan jiwa. Hirup. Hembuskan. Sungguh aroma yang menenangkan hati. Sunyi dan tenang. Situasi yang selalu kudambakan.

Aku mulai duduk di gazebo, menaruh laptop di depanku, dan membukanya. Tidak apalah mengerjakannya sendiri.  Setidaknya, ada ketenangan bersamaku.

Sejam lebih berlalu, tak kurasa sudah hampir selesai. Sayang, tak ada colokan listrik di sini sementara baterai laptopku tinggal sedikit. Mungkin waktunya untuk rehat. Aku pun meregangkan tubuhku, mencoba membunyikan punggung dan leher yang kaku. Hirup dan hembuskan napas.

Kusandarkan tubuhku di tiang gazebo dan taruh tangan di atas paha. Terasa sesuatu yang sejak tadi menetap di dalam saku celanaku. Sebuah kartu nama. Orang aneh itu. Rasa gabut menuntunku untuk membaca tulisan di atas kartu nama tersebut.

Bukannya sebuah nama seseorang atau institusi yang kudapat, melainkan sebuah alamat situs web: lakujanggal.com.

Penasaran. Kuraih laptopku dan masuk ke alamat situs tersebut. Muncul sebuah laman berwarna hitam dengan sebuah kolom bertuliskan “Password” disertai tombol enter di sampingnya. Aku kembali melihat kartu nama itu. Tak ada apa-apa lagi selain alamat situs ini. Oh, wait. Ada angka 6174 yang tertera di belakang kartu ini.

Kumasukkan empat digit angka tersebut di kolom password, lalu menekan tombol enter. Masuklah ke sebuah laman situs web yang berhasil membuat mulutku terbuka lebar. Laman tersebut berisikan banyak video-video “aneh” yang kelihatannya direkam secara amatir. Seperti YouTube, namun isinya bukan video yang sepertinya layak untuk ditonton.

Aku menekan satu video berjudul Talking to A Cockroach. Video tesebut menampilkan seorang pria yang berbicara dengan seekor kecoak di tangannya. “Nama kamu siapa? Apa? Gak punya nama? Oh, gitu. Kalo gitu aku kasih kamu nama Coro, ya? Apa? Sudah banyak? Ya udah, kamu maunya nama apa?” Sementara si kecoak malah terlihat sedang berusaha melepaskan diri.

Video lainnya berjudul Makan Siang Gratis, menampilkan sesosok pemuda yang berada di dalam hutan, dan dengan lahapnya memakan “sesajen” yang ditaruh di bawah pohon. Ia juga menilai rasa makanan tersebut bak seorang food vloger.

Aneh. Aku sampai tak habis pikir. Ada video seorang wanita yang mencoba memasukkan seluruh tangannya ke dalam mulut, seorang pria yang tidur bersama dengan sembilan bungkus margarin, hingga sepasang kekasih yang saling bertukar pakaian dalam.

Semakin aneh. Bahkan aku sampai mau muntah. Ada video orang yang makan kotorannya sendiri, pria yang bersetubuh dengan seekor kambing, wanita yang membersihkan benda-benda kotor dengan lidahnya, hingga seseorang yang memakan kuku jarinya sendiri.

Sungguh aneh. Bahkan aku sampai bergidik ngeri. Ada video orang yang menjahit jari-jari tangannya sendiri, wanita yang menggigit rambutnya sendiri hingga putus, pria yang mencopot giginya satu per satu, hingga orang yang menyayat lengannya dengan pisau yang berbeda-beda untuk menguji ketajaman masing-masing pisau. 

Situs web yang aneh. Kenapa ada situs yang seperti ini? Untuk apa? Agar orang-orang aneh sepertiku bisa menemukan teman? Dan apa aku harus membuat video juga untuk situs ini? Seorang  pria bersantai di kuburan misalnya. 

Perhatianku lalu teralihkan ke sebuah video berjudul A Child Enjoys Being Abused. Video tersebut menampilkan seorang anak laki-laki berumur sekitar tujuh tahun yang merekam dirinya di dalam kamar. Ia tersenyum, menaruh kameranya di tempat tersembunyi. Ia lalu menunjukkan sebuah jam tangan yang kemudian ditaruhnya di lantai. Lantas, ia ambil sebuah palu besi, dan memukul-mukul jam tangan tersebut dengan kencang hingga hancur lebur.

Ia kumpulkan serpihan-serpihannya lalu berteriak memanggil “AYAAAHH!!” Seorang pria dewasa membuka pintu kamarnya lalu melihat serpihan jam tangan tersebut di lantai.

Pria dewasa itu melongo seraya masuk ke dalam kamar. Perlahan pandangannya mengarah ke anak kecil itu dan berubah memerah. Ia berteriak, “ANAK SETAN!”

GEPLAK! Ia tampar anak kecil itu hingga tersungkur ke lantai. Yang menampar lalu lanjut menendang perut anak kecil itu. Yang ditendang bukannya teriak merintih malah tertawa tersendat-sendat. Pria dewasa itu semakin kesal, mengangkat kerah belakang baju si anak kecil, lalu memukul kepala mungil tersebut dengan tangan kanannya. Satu pukulan. Dua. Tiga. Empat. Lima. Berhenti sejenak.

Darah mengalir dari kening si anak kecil dan dari dalam mulutnya. Ia menatap ke arah kamera dan tersenyum.

Aku yang menonton hanya bisa terkaku. Tangan gemetar. Jantung berdegup sepuluh kali lebih cepat. Pupil mata membesar selebar mulutku yang terbuka. Pria dewasa tersebut melepaskan anak kecil itu. Lalu hendak keluar dari kamar. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat sebuah palu tergeletak di lantai.

Perlahan ia dekati palu tersebut dan mengambilnya. Anak kecil itu tersenyum memperhatikan. Si pria dewasa membalas dengan tatapan beringas. Perasaanku semakin cemas. Pria dewasa itu lalu membawa palu tersebut keluar dari kamar, menutup pintu dengan kencang.

Bukannya menangis kesakitan, si anak kecil malah tertawa terbahak-bahak seolah menikmati semua itu. Lantas kututup laptopku. Mencoba mengatur napas. Hirup. Hembuskan. Namun, sepertinya aroma di kuburan ini bahkan tak bisa membantu.

***

Ponsel di kupingku. Gemetar di tangan masih tersisa. Di kamar kos yang sederhana, aku menunggu jawaban dari sebuah lembaga perlindungan anak. Tuuttt. Berdering.

Panggilan lalu dijawab oleh seorang wanita. “Selamat malam. Ada yang bisa kami bantu?”

Terbata-bata kujawab, “Sa...saya, mau me...melaporkan penyik... pengan...penganiayaan anak, Bu, Kak.” Beginilah, perasaan panik bercampur dengan sifat introvert.

“Sebelumnya dengan bapak siapa, dan bisa dijelaskan lebih rinci terkait laporan tersebut?”

Terdiam. Kutatap laptopku yang terbuka, menampilkan video anak kecil itu yang di-pause. Ia tersenyum dengan lebam di wajah, serta darah yang telah mengalir.

“Halo?”

Tut. Kumatikan telepon. Kembali mengatur napasku. Aku lalu merogoh tas ranselku, mengeluarkan parfumku, menyemprotkannya ke pergelangan tangan kiri, dan menghirupnya. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Hingga napasku kembali normal.

Aku tak bisa melakukannya sendiri.

Esoknya, setelah mata kuliah berakhir, kuhampiri salah seorang temanku. Yang sepertinya paling mau berteman denganku di antara mereka yang membicarakanku kemarin. Kalimat setelah kalian ngomong gitu, aku baru ngeh itu keluar dari mulutnya.

“Ada apa, Dit?” tanyanya. Tanpa basa-basi, aku langsung to the point, meminta bantuan padanya untuk melaporkan kasus kekerasan pada anak. “Lu ngomong apa sih? Ini serius?” Agar ia cepat mengerti, langsung saja kutunjukkan video anak kecil tersebut di ponselku. “ANJING! GILA LU YA!” teriaknya kala melihat video pria dewasa menendang-nendang anak kecil.

Nyaris satu kelas menoleh kami. Aku langsung menaruh jari telunjuk di mulutku. “Gue tau ini menakutkan, tapi harus—“

“Ternyata memang benar ya. Lu aneh, Dit!” ujarnya, memotong perkataanku sambil sedikit menjauh.

“Lah, kok?” Aku kembali mendekatinya.

“UDAH!” seru dia agak nyaring, sambil menyodorkan telapak tangannya tanda untuk jangan mendekat. Bahunya naik bergidik dan pergi menjauhiku dengan raut wajah ngeri. Ia hampiri teman-teman sekelas yang berkumpul dan mereka langsung pergi dari ruang kelas sambil membicarakan sesuatu. Sudah pasti membicarakanku.

Aku pun pergi dari ruangan bersama rasa maluku, sebisa mungkin untuk tidak berpapasan dengan mereka. Kubuang diriku di tempat parkir. Duduk diam di atas motorku sambil menunggu seseorang. Orang aneh kemarin. Mungkin dia bisa membantu, atau setidaknya memberikan penjelasan tentang situs web tersebut.

Lama kutunggu di parkiran fakultas ini, tak kunjung terlihat batang hidungnya. Satu per satu orang kutatap, sampai membuat mereka seolah mempertanyakan diri mereka sendiri. Ada apa denganku? Ada apa dengan penampilanku? Ada yang aneh?

Tak lama, dari jarak sepuluh meter, terlihat tampang si orang aneh itu. Aku segera menghampirinya dan langsung bertanya, “Situs apa yang lu kasih ke gue?”

“Wow wow wow wow! Tenang, kawan!” ujarnya dengan kedua tangan di depan.

“Kenapa isinya orang-orang aneh? Orang-orang yang mentalnya terganggu?” tanyaku, kesal.

Dia malah tersenyum. “Mereka itu sama seperti kamu, Ardit.”

Langsung saja kutunjukkan video anak kecil tersebut di ponselku. “Ada anak kecil yang disiksa sama ayahnya. Kita gak boleh biarin ini!” ucapku dengan suara pelan. “Kalo lo masih punya hati nurani, lo harus bantu gue!”

“Oh iya. Aku tahu video ini.” Si orang aneh tersebut mendekatkan ponsel yang kupegang ke wajahnya. Ia lalu menanggapinya dengan “Oouuuhh..” Reaksi yang sama saat seseorang menyaksikan sepasang kekasih yang saling memberikan kata-kata romantis.

Mataku melotot, mulutku melongo. “Gila lu ya! Lu gak kasihan apa?”

Dengan santainya dia menjawab, “Apa yang perlu aku kasihani? Anak kecil itu menikmatinya. Coba lihat!” Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku. “Sepertinya video ini paling menarik perhatianmu ya, Ardit. Kamu juga bisa kok, mengunggah videomu sendiri ke situs itu.”

“Maksud lo apa!” Aku mendekatinya. Sedikit menantangnya, walau ia jauh lebih tinggi dariku. “Gue gak mau jadi bagian dari orang-orang gila ini. Yang gue pikiran sekarang adalah gimana caranya gue bisa nyelamatin nih bocah!” ucapku dengan nada agak tinggi. Amarahku nyaris membeludak.

Namun, si aneh ini malah tersenyum. “Emang dia butuh?”

Tak habis pikir. Aku menggosok wajahku dan enyah dari situ. Tak ada gunanya meminta bantuan jika yang dipinta bahkan tak punya hati.

“Tanya aja orangnya!” teriak si aneh setelah beberapa langkah kuambil.

Kembali menghampirinya, aku yang masih emosi, bertanya padanya bagaimana caranya. Tak ada kolom komentar di situs sialan tersebut, dan semua nama akun pengunggah yang anonim.

Ia lalu menjelaskan, untuk bisa melihat komentar dan akun pengunggah video tersebut adalah dengan cara berlangganan situs web.

“Bullshit!” ujarku.

“Ya sudah, kalau tidak tertarik,” balasnya. Masih tersenyum.

Putus asa. Aku terpaksa mengikuti saran bodoh itu. Kukeluarkan isi dompetku, hitung, cukup, dan serahkan kepadanya. Ia lalu merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah kartu kecil. Isinya kode sebelas digit.

“Buat akun, tekan ‘berlangganan’, masukkan kode ini, dan voyla! Selamat datang di Laku Janggal.”

***

Setelah resmi berlangganan, akhirnya aku berhasil melihat nama akun pengunggah video tersebut. Sebenarnya, namanya tidak begitu penting. Yang penting di sini adalah IP address dari akun tersebut, yang bisa digunakan untuk melacak alamat si pengunggah. Ternyata, ilmu yang kupelajari semasa pandemi ada gunanya juga.

Di salah satu gazebo fakultas, aku menunggu laptopku melacak IP address yang telah kuinput. Beberapa menit kemudian, bingo! Lokasi pengunggah berhasil kutemukan. Tanpa banyak ba-bi-bu, aku langsung menuju lokasi yang berjarak cukup jauh. Kurang-lebih setengah jam dengan menggunakan sepeda motor. Bahkan semakin jauh dari tempat tinggalku. Tetapi tak apa. Kuharap semua ini sepadan.

Setibanya di sekitar lokasi, aku memasuki sebuah pekarangan rumah yang sepi. Hanya ada satu-dua rumah di antara banyak pepohonan. Tak heran jika si pelaku santai melancarkan aksi gilanya.

Aku turun di depan lokasi, sebuah rumah sederhana dengan dinding berwarna kuning keruh. Halamannya cukup luas, tetapi rumput-rumput liar memenuhinya. Sepertinya si penghuni malas untuk merapikan halaman depannya. Sadar akan pagar yang tak ditutup, aku pun memasuki halaman rumah. Terasnya dipenuhi oleh daun-daun kering. Pintu depannya tertutup.

Tok tok tok. “Permisi,” ucapku. Tok tok tok. “Permisi.” Tak ada jawaban.

Berulang kali terus kuketok pintu dan ucapkan permisi. Namun, masih tak ada jawaban. Aku terpaksa menaruh kepalaku di kaca jendela untuk melihat situasi di dalam. Terlihat ruang tamu rapi, walau minim barang. Aku berniat mengetok lagi, dan tiba-tiba—

“Cari siapa, Dek?” Kubalikkan badan. Seorang wanita paruh baya berdiri di halaman rumah ini. Ia menatapku, menunggu jawaban.

“Eee... anu. Eee... ini orangnya ke mana ya, Bu?” Aku sedikit panik, sebab kepergok, takut disangka maling.

“Cari siapa?” tanyanya lagi, dingin.

Entah kenapa sulit untukku berkata-kata. Bodohnya aku yang tidak berani untuk terus terang. Hanya terdiam dengan mulut yang gemetar. Hingga aku menyadari sebuah spanduk yang tergeletak di tanah. Menampung sedikit air hujan dengan lekukannya. Bagian depan menghadap ke bawah, namun salah satu pojok yang melekuk membeberkan tulisan di spanduk tersebut: “DIJU—“

Aku buru-buru mendekati wanita paruh baya itu dan bertanya, “Maaf, Bu. Kalo boleh tau, pemilik rumah ini pindah ke mana ya?”

Wanita paruh baya itu menatap rumah di belakangku. Ia lalu menghela napasnya. Kepalanya menunduk sekejap, lantas ia menjawab, “Udah dipenjara, Dek?”

Pupil mataku membesar. “Si...si ayah itu?” Wanita paruh baya mengangguk. Aku bertanya lagi, “Te...terus? Anaknya?”

Kulihat ekspresi wajah wanita itu. Ia kembali menghela napas, dan menundukkan kepala. Seolah berat ingin mengatakan sesuatu. Sesuatu yang kutakutkan akan dialami anak kecil tersebut: kematian.

Kupegang kepalaku dengan kedua tangan, usai mendengar pernyataan dari wanita tersebut. Berjalan modar-mandir, sambil berusaha mengatur napas. Kedua mataku semakin basah, walau angin yang bertiup di luar sini seharusnya membuat kering.

Wanita paruh baya terlihat prihatin. “Memangnya, Adek siapanya?”

Langkahku terhenti. Lantas, kuhirup dan hembuskan napas. Setetes air mataku turun bak genteng rumah yang melepas rintik selepas hujan semalam.

***

Tak jauh dari rumah si anak kecil yang terlambat kuselamatkan, terdapat sebuah area perkuburan. Kali ini aku datang tidak untuk bersantai, melainkan untuk mengunjungi tempat si anak kecil itu istirahat untuk selamanya. Wanita paruh baya itu sempat memberitahuku segalanya tentang yang kucari.

Satu doa kupanjatkan untuknya di depan sebuah batu nisan bertuliskan namanya. Sangat disayangkan, kuburannya masih sangat kecil. Hal yang membuatku semakin geram adalah nama si ayah yang tetap tertulis di batu nisan sang anak. Sungguh sungguh tak layak.

Seorang pria—terlihat lebih tua dariku—ikut mengunjungi makam si anak kecil. Ia menyapaku dengan alisnya yang sedikit naik. Membawa sekantong plastik hitam dan sebuah botol berisi air. Ditaruhnya botol air tersebut di samping makam, dan ia tabur bunga-bunga dari dalam kantong plastik. Setelah itu, ia tuangkan air di atas makam, membasahi tanahnya. Mataku terpejam. Oh, aroma ini.

Perlahan kubuka mata, dan melihat si pria itu menyodorkan botol yang masih tersisa sedikit air. Aku lalu menerimanya, berdiri dari jongkok, dan ikut menyirami kuburan.

“Kamu siapanya?” tanya pria itu dengan lesu. Aku menoleh heran. Ia menunjuk makam dengan gerakan alis dan matanya.

Aku pun menggeleng, menaikkan bahu, dan menjawab, “Hanya orang yang prihatin terhadap apa menimpa anak ini.”

Pria itu perlahan duduk jongkok, dan berkata, “Ada yang bilang, anak ini tidak merasakan sakit atas apa yang dialaminya. Justru, ia menikmatinya. Sampai nyawanya terengut, dan... itu puncak kenikmatan yang ia rasakan.”

Aku menghela napas, dan menanggapi, “Aneh.”

Si pria tertawa kecil, “Aneh?” Aku kembali menatapnya heran. “Apa sih itu aneh?” tanyanya, dengan nada bicara yang sama sekali tidak didasari oleh kebingungan.

“Ya, gak wajar?” jawabku, dengan nada bicara seolah ragu dengan jawaban sendiri.

“Termasuk, sesuatu yang dilakukan atau disukai oleh seseorang, namun tidak oleh ‘kebanyakan’ orang?”

Sulit untukku mencerna ucapannya, hingga akhirnya aku paham. “Iya. Kurasa.”

“Kalau begitu, artinya semua orang di dunia ini aneh. Karena ‘pasti ada’ suatu hal yang dilakukan atau disukai oleh setiap orang, namun tidak oleh kebanyakan orang. Terlepas ia sadar atau tidak, sengaja atau tidak,” jelasnya. Aku mengernyitkan alisku. “Ada bermiliar-miliar orang di dunia ini. Tidak mungkin semuanya melakukan atau menyukai berbagai hal yang sama. Pasti ada, setidaknya satu hal yang berbeda. Dan... itu aneh?”

Dengan alisku yang masih mengernyit, aku ikut jongkok, memperhatikannya dengan dalam, dan menyimak.

“Menjadi aneh itu, sebenarnya tidak salah. Wajar untuk setiap orang memiliki keanehannya masing-masing. Yang masalah adalah saat kamu mendengar omongan orang lain tentang dirimu. Tentang keanehanmu. Tentang nilai-nilai atau prinsip yang kamu yakini dalam hidup.” Dia terdiam sejenak. “Dan... menjadi fatal jika kamu merugikan orang lain, bahkan dirimu sendiri.” Dia menyentuh kuburan si anak kecil di depannya.

Aku menatap dengan penuh prihatin. “Kalo boleh tau, Abang ini siapanya dia?”

Matanya melirikku tajam. Ia menjawab, “Hanya orang yang menonton videonya setiap hari.”



Komentar

Posting Komentar